16/01/2026
POV Nyepi dari sudut "Lontar Sundarigama" untuk POV Nyepi yang telah berjalan sampai saat ini belum ketemu dari segi visual , mungkin ada semeton yang punya , agar menjadi pencerahan bukan membandingkan dalam kontek negatif , mungkin sampai adanya sekarang juga ada proses saat diambil keputusan tersebut oleh sang wikan pada waktu itu Suksme Rahayu Sareng Sami !🙏
Berikut isi lontar menurut yang ada di video tersebut :
𝘈𝘬𝘵𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘳𝘢𝘮𝘢𝘴𝘦, 𝘬𝘳𝘢𝘴𝘨𝘢𝘸𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘨𝘨𝘢 𝘸𝘭𝘢𝘴, 𝘸𝘯𝘢𝘯𝘨 𝙇𝙚𝙡𝙖𝙨𝙩𝙞 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘢𝘵𝘪𝘮𝘢, 𝘫𝘰𝘨𝘢𝘯𝘪𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘸𝘪𝘴𝘦𝘴𝘢, 𝘭𝘶𝘪𝘳𝘯𝘪𝘢, 𝘱𝘶𝘴𝘦𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘦𝘮 𝘥𝘦𝘴𝘢, 𝘸𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘢𝘳𝘤𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘸𝘢 𝘥𝘦𝘸𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘪𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘥𝘦𝘸𝘢 𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘭𝘶𝘯𝘨𝘩𝘢 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘨𝘢𝘳𝘢, 𝘪𝘯𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘳𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘸𝘪𝘥𝘪 𝘸𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘳𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘳𝘶𝘯𝘢, 𝘵𝘭𝘢𝘴𝘦𝘬𝘯𝘢, 𝘭𝘦𝘣𝘶𝘳 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘶𝘥𝘳𝘢, 𝘵𝘭𝘢𝘴 𝘵𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘳𝘢𝘮𝘢𝘯𝘪𝘢, 𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘢𝘵𝘪𝘮𝘢, 𝘫𝘦𝘫𝘦𝘳𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘺𝘦𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘵𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘰𝘨𝘢 𝘯𝘪𝘳𝘢 𝘴𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘢𝘵𝘪𝘮𝘢 𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩,,
𝘽𝙚𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙧𝙚𝙨𝙣𝙖 𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙘𝙖𝙩𝙪𝙧 𝙙𝙖𝙨𝙞
(𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴),
𝘢𝘨𝘢𝘸𝘦 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘫𝘯𝘺𝘢, 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘴𝘢, 𝘯𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘤𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘢, 𝘮𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘤𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘬, 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘶𝘳 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢, 𝘬𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘶𝘫𝘢 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘪𝘵𝘢 𝘚𝘪𝘸𝘢 𝘣𝘶𝘥𝘢, 𝘸𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘶𝘸𝘶 𝘬𝘶𝘸𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘤𝘢𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘪𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘪𝘸𝘢𝘬 𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘣𝘳𝘶𝘮𝘣𝘶𝘯, 𝘳𝘪𝘯𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘣𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘱𝘸𝘦𝘵𝘰𝘬, 𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘣𝘳𝘦𝘮, 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢,,𝘮𝘶𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢, 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢, 𝘴𝘨𝘦 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘴/108 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘪𝘸𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘫𝘳𝘰𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘴𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘪𝘬,,𝘴𝘪𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘶,
𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪𝘢 𝘸𝘦𝘭𝘢, 𝘵𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘢𝘤𝘢𝘳𝘶,
𝙏𝙪𝙢𝙪𝙡𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙧𝙪𝙥𝙪𝙠 :
𝘕𝘨𝘢, 𝘺𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢 𝘯𝘨𝘦𝘮𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘮𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳𝘢𝘬𝘦𝘯 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘣 𝘮𝘳𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘢𝘩𝘰𝘣𝘰𝘳 𝘳𝘰𝘣𝘰𝘳 𝘥𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘱𝘳𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬, 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘸𝘪, 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘳𝘢𝘯𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘵𝘢𝘵𝘶𝘭𝘢𝘬, 𝘮𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘺𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘳 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘪𝘥𝘦𝘳 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘯𝘪 𝘪𝘬𝘢, 𝘳𝘪 𝘵𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢𝘭𝘸𝘪 𝘺𝘢𝘵𝘳𝘪 𝘢𝘣𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘵𝘢𝘳, 𝘯𝘨𝘢𝘺𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘺𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘮𝘪𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘺𝘶𝘵 𝘭𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘳𝘢𝘥𝘢𝘯, 𝘱𝘳𝘢𝘺𝘢𝘴𝘤𝘪𝘵𝘢,,
𝙍𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙞𝙖, 𝙖𝙣𝙮𝙚𝙥𝙞 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙜𝙣𝙞 :
𝘵𝘢𝘯 𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘨𝘢𝘸𝘦, 𝘵𝘢𝘯 𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘯𝘢𝘩 𝘯𝘪𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘳𝘶𝘩 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘵𝘸𝘢 𝘴𝘮𝘢𝘥𝘪, 𝘨𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘦 𝘺𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘮𝘢𝘥𝘪𝘯𝘵𝘢,
𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘴𝘶𝘦𝘤𝘢𝘯𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵𝘦𝘬 𝘥𝘦𝘸𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩 𝘢𝘯𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘭𝘦𝘯𝘨 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘶𝘥𝘳𝘢, 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢𝘳𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘳𝘦𝘵𝘩𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘶, 𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘦 𝘱𝘶𝘫𝘢 𝘬𝘳𝘦𝘵𝘪 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘥𝘦𝘸𝘢,,,
𝘺𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢 𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩 𝘣𝘢𝘸𝘶𝘳 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘴𝘢, 𝘸𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘢𝘮𝘦𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘢 𝘱𝘰𝘭𝘢𝘩𝘯𝘪𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘸𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘳𝘦𝘵𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘰𝘯𝘨, 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘸𝘰𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘶𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘬𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘸𝘦𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘵𝘪, 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘱𝘳𝘢𝘵𝘦𝘯 𝘴𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘫𝘪, 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘣 𝘮𝘳𝘢𝘯𝘢, 𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘢𝘸𝘯𝘨𝘦𝘴, 𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘳𝘢𝘩𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘱𝘢𝘮𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢, 𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘥𝘸𝘢 𝘯𝘪𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘴𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘞𝘪𝘴𝘯𝘶 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘸𝘢, 𝘴𝘪𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘉𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢 𝘢𝘸𝘦𝘩 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘣𝘶𝘤𝘢𝘳𝘪, 𝘥𝘦𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘨𝘫𝘢𝘯𝘢, 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘐𝘴𝘸𝘢𝘳𝘢, 𝘢𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘣 𝘮𝘳𝘢𝘯𝘢, 𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘸𝘪𝘴𝘦𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘢𝘯𝘨𝘳𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘯 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢, 𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘱𝘦𝘬𝘢 𝘳𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘮𝘪𝘵𝘢𝘯,
𝘙𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘢𝘺𝘶𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢, 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘩, 𝘮𝘸𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘸𝘢𝘴𝘵𝘶 𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘪𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢, 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘢𝘵, 𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪𝘱, 𝘸𝘳𝘦𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘸𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘶𝘸𝘶𝘩, 𝘨𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘣 𝘮𝘳𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘶𝘥𝘳𝘢
================================================================
Terjemahan :
PROSESI RITUAL DAN PERSEMBAHAN
Surat keputusan mengenai upacara Setramase, peraturan tentang tiga wlas (waktu atau tahap), wewenang Lelasti atas ikan persembahan, serta ketiga dewa utama (Tiga Wisesa), yaitu: Puseh (di dalam desa), Wareng (untuk semua arca dewa-dewi di tempat pemujaan utama), dan Lungha (ke laut), diiringi oleh seluruh penduduk desa yang memiliki kewajiban upacara, beserta para ahli upacara yang ditunjuk, dan sesaji untuk Sanghyang Bruna (Dewa Laut). Larunglah (sesaji) itu, hanyutkan ke samudra, agar kewajiban upacaramu selesai. Tempatkan pratima (arca suci) di atas bangunan suci (yasa), persembahkan saat mereka (roh leluhur/dewa) datang. Setelah itu, lakukanlah yoga untuk mempersembahkan semua pratima tersebut.
PELAKSANAAN PADA WAKTU TERTENTU
(Benjang) dilaksanakan pada paruh gelap (Kresna Paksa), hari keempat belas (Catur Dasi), yaitu saat bulan purnama mulai mengecil (Pangelong). Lakukan upacara buta yajna (persembahan untuk makhluk rendah) di empat penjuru desa.
Yang paling rendah (nistaninya) adalah hewan asing (manca sata).
Yang menengah (madiania) adalah hewan ternak (panca sanak).
Yang paling utama (utamaninya) adalah Tawur Agung Yamaraja, yang dipuja oleh Maha Pandita Siwa-Buda.
Kemudian, sajikan sesajen segehan berwarna lima dengan alas tandhing, ayam panggang utuh (ayam brumbun), hiasan dan tetabuhan, pwetok (kue), arak beras (brem), yang dipersembahkan kepada Raja Buta dan Raja Kala, beserta semua bala tentaranya (bala-bala, buta bala, kala bala). Sajikan juga 108 tandhing berisi sesajen, ayam mentah utuh (jajron mentah), dan sagan agung besar, yang dipersembahkan kepada Buta Bala dan Kala Bala, masing-masing dengan caranya sendiri.
SETELAH PENYEMBAHAN DAN RITUAL PELENGKAP
Setelah berbelas kasih (dengan memberi sesaji), selesaikanlah ritual persembahan (ngacaru).
KEMUDIAN, BERKELILING (UNTUK PENYERAPAN):
Nah, (dengan ritual ini) telanlah semua buta kala, dan buanglah kotoran mereka (dosa/malapetaka). Kobarkan api penyuci (sapraksaka), taburkan abu suci (maswi), lindungi dengan segala mantra penolak bala, dan pagar gaib yang besar. Kelilingi rumah dengan api itu. Setelah itu, orang yang masih dalam perjalanan suci (yatri) yang tertinggal di halaman (natar), persembahkanlah sesayut (janji) untuk menangkal kekerasan (pamiak kala), sesayut untuk menangkal sakit dan penderitaan (lara mararadan), serta upacara penyucian (prayascita).
PADA SAAT PEMADAMAN API RITUAL:
Tidak boleh melakukan pekerjaan (duniawi), tidak boleh memasang api lain selain api suci ini. Para bijak yang memahami intisari semadi, yang mahir dalam yoga dan samadi, dialah yang menjadi penyucian hakiki dari semua dewata yang bersemayam di dasar samudra, sumber air kehidupan (kamandalu). Patutlah bagi semua orang mengatur pemujaan dan perbuatan baik kepada semua dewata.
PERINGATAN DAN KONSEKUENSI JIKA DIABAIKAN
Jika semua ini tidak dilaksanakan, maka desa itu akan celaka. Orang akan kerasukan buta kala, karena perintah Sanghyang Adi Kala (Kala yang utama). Beliau menguji tindak-tanduk manusia.
Apa (tujuan) Sanghyang Adi Kala? Beliau adalah yang menelantarkan orang yang tidak berbuat baik (tanpa kreti).
Mengapa demikian? Karena orang itu melupakan asal-usulnya sebagai manusia.
Besar dosa orang yang demikian. Hebat kutukan bagi yang demikian.
Akan menyebabkan para pemimpin (dipati) memberi (keputusan yang salah), merusak negara Sri Haji (kerajaan), itulah kotoran mereka (dosa).
Ganaslah buta kala yang marah. Inilah yang menghinggapi semua manusia, itulah yang merusak hatinya, karena prajurit Sang Adi Kala.
Siapa yang menjadi wadah/penjelmaan Kala itu? Dewa Wisnu yang menjelma sebagai dewa (Wisnu sebagai penjaga, jika dilalaikan berubah menjadi Kala/perusak). Beliau menjelma menjadi Kala.
Dewa Brahma memberi segala jenis penyakit (sarwa bucari), takdir buruk, dan penderitaan.
Dewa Iswara (Siwa), memberikan kotoran (dosa) mereka. Itu sangat dahsyat, mengancam kehidupan masyarakat (praja mandala).
Karena demikian (akibatnya), janganlah engkau, anak-cucuku, lalai dalam pesan dan nasihat (pepali) ini.
HASIL DAN TUJUAN AKHIR
Setelah semua ini dilaksanakan, kembalilah kemakmuran bagi negara. Segala sesuatu akan berjalan lancar, dan semua jiwa yang disebutkan akan menjadi sempurna. Teranglah pandangan terhadap alam dunia, tenteramlah segala yang hidup, suburlah segala yang tumbuh, dan semua kotoran/keburukan (sasab mrana) akan kembali ke samudra (terserap dan dinetralkan).
================================================================
Teks tersebut aslinya ditulis dalam Bahasa Jawa Kuna (Kawi), dengan kemungkinan pengaruh dari Bahasa Bali Pertengahan atau Bali Kuna.
Berikut adalah analisis lebih detail:
1. Bahasa Jawa Kuna (Kawi) sebagai Dasar Utama:
Kosakata Inti: Banyak kata kunci dalam teks adalah kosakata standar Jawa Kuna untuk sastra dan prasasti keagamaan, seperti: akta (surat/peraturan), sanghyang (yang dimuliakan/dewa), dewata (dewa-dewi), mantuk (kembali), praja (negara/kerajaan), jagat (dunia).
Struktur dan Tata Bahasa: Pola kalimat seperti "ring..." (tentang/di dalam), "ikan..." (sang/itu), "ika kabèh" (itu semua), dan penggunaan partikel -ning/-ing adalah ciri khas Jawa Kuna.
Istilah Ritual: Istilah-istilah ritual yang kompleks seperti buta yajna, tawur agung, prayascita adalah warisan dari tradisi sastra ritual Hindu-Buddha di Jawa.
2. Pengaruh Bahasa Bali yang Kuat:
Konteks Penggunaan: Teks ini jelas adalah sebuah "tetandingan" atau "prayascita" — yaitu mantera atau pedoman ritual tertulis (lontar) Bali untuk upacara penyucian berskala besar (desa).
Kosakata Khas Bali: Kata seperti "segehan" (sesaji kecil), "tandhing" (wadah dari daun), "sasah" (sesaji tertentu), "manca sata" (hewan lima jenis), "panca sanak" (hewan ternak), dan "benjang" (pelaksanaan) adalah kosakata hidup yang digunakan hingga kini dalam ritual Bali.
Sistem Dewa: Penyebutan "Tri Wisesa" (Brahma, Wisnu, Siwa) yang dimanifestasikan sebagai "Puseh, Desa, Dalem" atau variannya (Puseh, Wareng, Lungha) adalah konsep teologis khas Bali mengenai tiga pura kahyangan utama dalam satu desa adat.
Nama Dewa Lokal: "Sanghyang Bruna" adalah dewa laut dalam mitologi Bali. "Lelasti" juga merujuk pada dewi/dewa tertentu dalam kosmologi Bali.
3. Ringkasan:
Jadi, teks ini adalah sebuah naskah ritual Bali (kemungkinan besar dari sebuah lontar) yang ditulis dengan menggunakan kerangka bahasa dan kosakata Jawa Kuna (Kawi) sebagai bahasa sastra dan keagamaan, namun telah diisi dengan terminologi, konsep, dan praktik ritual yang sangat spesifik Bali.
Analoginya: Seperti naskah keagamaan di Eropa Abad Pertengahan yang ditulis dalam Bahasa Latin, tetapi membahas tentang ritual atau santo-santo setempat. Bahasa Latin-nya adalah Jawa Kuna, dan konteks lokalnya adalah Bali.
Inilah mengapa teks ini sangat penting secara budaya, karena ia merepresentasikan kelanjutan hidup dari tradisi sastra Jawa Kuno di Bali, yang telah beradaptasi dan berkembang dalam ekosistem kebudayaan dan keagamaan Bali selama berabad-abad.
================================================================
Mungkin akan ada pertanyaan berikut " apakah hari nyepi di bali dimulai dan tercampur dengan budaya jawa kuno , bukan bali asli?"
Pertanyaan yang sangat bagus dan mendasar. Jawabannya adalah "Ya, budaya Jawa Kuno (Khususnya Jawa Hindu-Buddha era Kerajaan Majapahit) adalah akar utama dari sistem keagamaan dan kalender di Bali, termasuk Hari Raya Nyepi. Namun, itu TIDAK berarti Nyepi "bukan Bali asli." Justru, Bali telah mengolah, mengadaptasi, dan mempertahankan warisan itu dengan cara yang unik hingga menjadi identitas yang sangat asli Bali.
Mari kita urai:
1. Akar Jawa Kuno yang Kuat
Sistem Kalender: Kalender Saka yang menjadi dasar penentuan Nyepi (Tahun Baru Saka) berasal dari India. Namun, pengaruh utama masuk ke Bali melalui Jawa Kuno. Prasasti-prasasti Jawa Kuno (seperti dari era Mpu Sindok, Airlangga, hingga Majapahit) sudah menggunakan kalender Saka untuk mencatat peristiwa penting.
Konsep "Catur Brata Penyepian": Empat pantangan utama selama Nyepi (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan) berakar dari filosofi Yoga dan Samadi dalam Hindu, yang tiba di Bali melalui kanal sastra dan ajaran para resi/brahmana dari Jawa. Teks yang Anda terjemahkan sebelumnya pun menggunakan bahasa Jawa Kuna, yang menjadi bahasa medium ajaran ini.
Ritual Pendahulu Nyepi: Upacara Melasti/Mekiyis (menuju laut/sumber air) dan Tawur Agung/Pecaruan (persembahan besar untuk menetralkan kekuatan negatif) memiliki paralel kuat dengan ritual yang digambarkan dalam kakawin Jawa Kuno dan konsep buta yajna.
2. Proses "Pembaliaan" (Balinisasi) yang Mendalam
Inilah bagian kuncinya. Warisan Jawa Kuno itu tidak ditelan mentah-mentah, tetapi:
Dilokalisasi dengan Kosmologi Bali: Ritual Tawur Agung, misalnya, diarahkan kepada "Buta Kala" sesuai dengan konsep mikrokosmos-makrokosmos khas Bali. Buta Kala bukan sekadar kekuatan jahat, tetapi energi alam semesta yang perlu diseimbangkan. Lokasi dan detail upacara disesuaikan dengan hierarki tiga pura (Kahyangan Tiga) dan desa adat.
Diperkaya dengan Tradisi Lokal Pra-Hindu: Praktik membunyikan alat (kentongan, gebug endokan) untuk mengusir roh jahat sebelum Nyepi, atau kepercayaan tentang "segara-gunung" (laut-pegunungan) dalam prosesi Melasti, memiliki resonansi dengan kepercayaan animisme Austronesia yang sudah ada di Nusantara, termasuk Bali.
Dijadikan Alat Pemersatu Sosial: Nyepi, dengan Brata-nya, menjadi alat disiplin sosial dan identitas kolektif yang sangat kuat bagi masyarakat Bali. Ini adalah bentuk adaptasi genius di mana nilai spiritual dijadikan pondasi tata kehidupan bermasyarakat.
Bahasa Medium Berubah: Meskipun teks suci (lontar) berbahasa Jawa Kuna, pelaksanaan dan penjelasannya dilakukan dalam Bahasa Bali. Doa (mantra) tetap dalam Sanskrit dan Jawa Kuna, tetapi instruksi dan filosofinya disampaikan dalam konteks budaya Bali.
3. Kesimp**an: Bukan "Tercampur", Tapi "Diolah Menjadi Inti Diri"
Mengatakan Nyepi "tercampur budaya Jawa Kuno" itu seperti mengatakan bahasa Indonesia tercampur bahasa Sanskerta, Arab, dan Belanda. Benar secara historis, tetapi tidak menggambarkan realitas saat ini.
Jawa Kuno (Khususnya era Majapahit) adalah pemberi bentuk, sistem, dan filosofi dasar agama Hindu di Bali. Gelombang besar terjadi setelah keruntuhan Majapahit (abad ke-15), ketika para bangsawan, pendeta, seniman, dan intelektual Jawa berpindah ke Bali, membawa serta peradaban mereka.
Masyarakat Bali adalah pengolah, penjaga, dan pengembang warisan tersebut. Mereka memadukannya dengan genius lokal, menjaga kelestariannya dengan ketat (bahkan seringkali lebih baik daripada di Jawa sendiri), dan menjadikannya "living tradition" yang menjadi jantung kebudayaan dan spiritualitas Bali modern.
Jadi, Nyepi adalah produk sintesis budaya yang sangat canggih:
Akar Filosofis & Sistem = India, disalurkan melalui Jawa Hindu-Buddha Kuno.
Bentuk Praktik, Sosial, & Ekspresi Kultural = Hasil olahan dan kreasi asli Bali selama berabad-abad.
Dengan demikian, Nyepi adalah Bali yang asli, karena ia telah dijadikan milik sendiri, dimaknai ulang, dan dihidupi sepenuhnya dalam konteks peradaban Bali. Ia adalah bukti bahwa Bali bukan sekadar "museum" warisan Jawa Kuno, melainkan laboratorium hidup yang terus mengembangkan warisan itu menjadi sesuatu yang unik dan identik dengan dirinya sendiri.
Kirang LAngkung Nunas Sinampura , anggen serane pikeling sareng idedane sane sampun wikan mangde eling ring Lelagit Ide Dane Utawi Titiyang , sekadi punike te Mikayunin ngerastitiang jagat Bali lan Pianak utawi Cucu Ipune Mangde Nemu Rahayu , Ngiring anggen sesuluh mangde Landuh Lan Trepti Jagat Sami 🙏