MR. ICE CREAM
Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.
Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.
***
3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama
Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.
“Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.
“Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.
“Enaak !!” Seru ku.
Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya.
Ya, Dialah Stefan. Stef dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikum kimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal di laboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.
Stef mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalan nya Stef sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab.
Stef dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Stef adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?
Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, Stef mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Stef termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Stef tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.
Sore itu, Stef dengan sengaja menculikku dari kampus, Stef mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.
Stef bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kes**aannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya s**a sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.
Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan.
“Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.
“Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.
“ini Enaaak, coba deh Stef” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanya sebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Stef lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasi yang enak.
“yeee, enak kan, sekarang Stef ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Stef menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.
Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Stef seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya Stef punya pacar. Stef berpacaran dengan Yuki. Mengenai Stef dan Yuki aku tak tahu banyak karena Stef jarang sekali bercerita tentang hubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran,
“Jeng, kita pulang yuk, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Stef kepadaku sekaligus mengingatkan.
“Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Stef yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu.
***
2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.
Stef tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih.
“Ta daaaa, Happy Birth Day” Stef menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!
Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Stef membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan Ajeng” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.
“Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Stef tersenyum Simpul lagi.
Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Stef dan es Krim tentunya.
“Rio, belum telepon juga?” Stef bertanya singkat.
Rio? Kenapa Stef nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rio adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh, Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yang tidak pernah s**a dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.
“Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.
Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.
“yang penting…” Ujar Stef. Hening sejenak. Aku menunggu Stef melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mend**gak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Stef.
Stef selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Stef yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Yuki? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Stef memperlakukan Yuki? Bukan kah sebelumnya aku tak pernah peduli?
“Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Stef membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.
“Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.
“Pelit” Stef pura-pura ngambek.
“Anyway Stef, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.
“Any time, Ajeng” balas Stef. Tersenyum simpul.
Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.
***
Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.
Dua jam yang lalu, aku dan Stef duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Stef terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum didalam air muka Stef, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.
“Kenapa gak ada kabar Jeng?” Stef menatapku serius. Nada suaranya dingin.
Aku tak sanggup memandang Stef, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.
“Aku sibuk Stef” Aku berbohong. “Maaf Stef, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.
Setelah mendengar kata maaf itu Stef langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Stef pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Stef terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Stef yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Stef yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakan nya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.
Aku mend**gak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Stef sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Stef selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.
“Lalu bagaimana denganmu Stef?” ucapku terbata.
Stef tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan bagi Stef sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Stef menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.
***
Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Stef. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Stef dua jam yang lalu.
Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?
Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Stef kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Stef terluka.
Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.
Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Stef dan Yuki. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.
Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Stef, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?
-The End-
Story Yadong Dan Romance Versi Stefky
Ini story khusus stefky kalo ada yg gak s**a gak usah gabung
CEWEK MATRE
Duit, Duit,Duit
(Wahay Adakah Yang Gratis Di Dunia Ini?)
Hari senin, minggu keempat, tanggal tua. Kombinasi yangefektif untuk mempererat pelukan pada guling dan berlagak lupa sinar matahariadalah pertanda hari sudah pagi.
Maunyasih cuek. Bunyi jam beker tenggelam dalam kemasabodohan. Pura-pura tidakmendengar ternate bukan perkara sulit sepanjang tidak ada orang lain yangmendengar. Dikamar ini hanya ada saya. Seperti biasa, pada tanggal-tanggalseperti ini, saya selalu ingin melupakan segalanya. Amnesia sah-sah sajaterjadi pada seseorang yang mulai gencar terhadap hari.
Tapipelan-pelan derajat kewarasan mulai meningkat. Ini hari senin. Pada hari seninbiasanya dikantor ada rapat mingguan. Pada rapat mingguan biasanya bos datang.Kalau bos datang, biasanya dia akan mengaben semua yang hadir. Kalau sudahdiabsen, maka celakalah yang tidak datang. Setelah kesadaran ini meracuni otakhingga sisa tidur menai bukan kenikmatan lagi, pada titik tetentu bunyi bekerbenar-benar mirip bentakan algojo.
Sayaterpaksa bangun.
Gila.Tujuh lewat lima belas. Cuma punya waktu setengah jam untuk mandi dan dandan.Celaka, semalam lupa memadu padan baju. Ini musibah. Pakai baju enggak matchingadalah prestasi paling buruk kaum perempuan. Kalau rok oke, tapi atasan kusutbagaimana? Duh. Melek belum, problem sudah meneror.
Oke.Nggak periu panik. Kata pakar manajemen,hadapi dulu persoalan yang paling mendesak. Pada kasus saya saat ini, hal yangpaling mendesak adalah mandi. Tujuh lewat lima belas, nek!
Terlambatke Kantor
Saya masi sempat melirik jadwal hari ini di agenda.
Meetingdengan tim promosi Anna Body Spray.Mereka menjadi salah satu sponsor besar rangkaian acara valentine di radiotempat saya bekerja. Kening saya berdraperi sebentar. Maaf. Saya sedang tidakmemikirkan materi meeting. Tapi mikirin penampilan apa yang pantas untuk hadirditengah mereka.
Lisa,Bela, Ariel adalah manusi promosi yang bikin muak. Kalow meeting memilih tempatyg mahal-mahal. Obrolannya menjulang. Penampilan mereka juga selangit. Suatuhari saya perah menatap mata evieta menancap pada tas saya yang memang sengajasaya beli di bursa tas murah di Tajur, Bogor. Tak berapa lama kemudian diamencolek sisil, saling berbisik, sedikit tertawa dan meneruskan mencuri lirik pdatas tangan saya yang malang itu.
Sejakitu, saya membenci mereka.
Danmembenci diri saya sendiri kenapa nggak bisa sekeren mereka.
Kantor ku,Surgaku
Baru datang kekantor sudah ada beban pikiran.
Sayamemandang alam sekitar. Sahabat saya, Chika, tengah asik dimejanya.
Cewekitu asik menggerakkan karet penghapus di lembaran kertas didepannya. Bibirnyamenunjukkan gejala aneh. Kadang senyum-senyum sendiri. Kadang mulutnya terbuka.Hamper meneteskan liur kalau dia tak buru-buru megatupkannya kembali.
Sayajadi penasaran. “Lu lagi ngapain sih chik? Lagi bikin prakarya? Sudah mulaimenemukan pencerahan bahwa berwiraswata adalag solusi lebih masuk akalketimbang jadi karyawan goblok bergaji rendah?”.
Mulutchika manyun. Tapi ia tidak mejawab.
Dalamdua detik daya sudah berada dibalik punggungnya. Astaga. Tak sangka. Diamenggambar baju pengantin. Pakai kerudung, dengan leher Sabrina dan bawahanmodel tumpuk.
“Chiklu mau kawin?” Tanya saya kaget. Tak sangka, akhirnya bidadari yg berulang kalimelontarkan selendang tapi tak ada sebiji pun Jaka Tingkir mencuri selendangini, ternyata bisa juga menggaet jodoh.
“Chik!Woi! Ditanya!” saya jadi sewot.
Kepalamend**gak. “Gangguin orang aja. Gue lagi bikin sketsa baju pengantin.”
“iya,orang gunung juga tau itu baju pengantin. Maksud gue itu, yg mau kawin siapa?”yuki sedikit sewot.
“Gue.”Katannya dengan tarik nafas.
Yukimelongo. Sungguhan, ternyata.
“samasiapa?” Tanya yuki penasaran.
Diamenunjukan wajah jenaka. Mata disipit-sipitkan dengan kedipan dipercepat. Bibirdimanyunkan dengan kuncup terbuka, dagu dipanjangkan ke bawah. Struktur wajahyang setara dengan bentuk dunia. Bumi bulat bundar.
“Jeleklu.” Ledek yuki asal.
“SamaKevin” jwb chika spontan
“Semogalanggeng yah dan lancar acara pernikahan lo nanti.” Ucap yuki tersenyum
Percepat aja yah...
Saya menjadi simpana laki-laki bernama Esa. Yups guesering dibilang cewek matre.. esa pria kaya siapa yg menolak jadi simpanannya.Hidup dijakarta itu gak mudah, butuh duit bannyak.
Tapi semenjak gue jadi model gue kenal cowo bernamaStefan, yaaaps pria gagah tampan dan punya tampang ke bule-bulean. Semenjakkenal Stefan gue akui gue merasa ada sesuatu yg membuat gue merasakan kasihsayang. Bukan karena uang melainkan karena tumbuhnya rasa nyaman dihati guasaat gua dekat dengan Stefan.
Pertama gue ketemu stef dia kerampokan bukan karenapreman tapi ulah sopirnya sendiri karena dendam dengan orang tua stef, priatampan ini terlahir dari anak orang kaya tapi dia sangat mandiri meskipun hartaberlimpah stef tidak pernah meminta kepada orang tuanya.
Semenjak bertemu dengan stef hubungan ku dengan esasemakin menjauh, hingga suatu malam stef ingin mendatangi tempat kos ku tapikularang, aku beralasan pergi ketempat ibu, yah karena esa sedang ada dikossanku. Aku menikmati uang yg esa berikan dan esa pun menikmati tubuhku. Dijakartatidak ada yg gratis. Tidak mungkin esa memberikan uang puluhan juta jika tidakingin tubuhku.
Aku sudah menjalin hubungan dengan stef hampirsebulan.
“Halosayang.” Stef menyapa sambil mencium keningku.
“Kemanakita hari ini.” Tanyaku sambil memeluknya.
“kitapergi ketaman. Aku ingin sekali mengambi gambar bidadari ku yg cantiknya sangatmempesona ini” stef tersenyum
Yahlaki-laki yg kucintai ini memang sangat romantic.
Malam hari nya di kosan.
Aku memberanikan diriku untuk menelpon esa memintauang lima puluh tujuh juta. Besar memang. Aku ingin membelikan stef sebuah kamera, dia sangat s**aphotography.
“Honey ada apa sayang kau menelpon ku semalam ini?Untung saja Karin sudah tertidur” esa berbisik. Karin adalah istri dari esa.
“aku ingin meminta uang padamu” jwabku
“berapa honey yg kau butuhkan” Tanya esa
“aku ingin membeli kamera untuk adik ku lima puluhtujuh juta” jawabku hati-hati dan penuh keraguan.
“baiklah honey besok aku transfer”
Telpon ku akhiri.
Siang itu aku bertemu dengan esa untuk makan siangbersama dan sekaligus berbelanja.
Esa merangkul pinggangku. Kami berjalan di mallsetelah makan tadi, tiba-tiba seorang wanit menghampiriku dan menamparku.
“Dasarkamu pelacur! Beraninya kamu merebut suamiku!” isak tangis sang perempuan ygmenamparku. “ Kau yuki, yg selama ini selalu membuat suamiku tak sudimenyentuhku. Brengsek kau pelacur!”
Dadaku sakit aku berlari menjauhi esa dan Karin yakni istri sah dari Esa laki-lakisimpananku.
Aku menangis. Sungguh menyayat hati kata-katanya.
Keesokan harinya aku menelpon esa untuk tidakmenemuiku, dan aku pun mengakhiri hubunganku denga esa.
Tiba di hari ulangtahunnya stef. Aku berdandansecantik mungkin, karena ini bukan hanya acara ulang tahun kekasihku tapi stefberniat ingin mengenalkan aku pada keluarganya.
Acara pun tiba. Aku tersentak dan mematung ketika Stefmemperkenalkan keluarga besarnya. Yaa ketika stef memperkenalkan om dantantenya. Aku kaget laki-laki yg pernah menyimpanku dan wanita yg pernahmencacimakiku. Astaga tuhan.
Malam hari itupun semua tebongkar tentang aku danmantan yg menyimpanku dahulu.
Aku tidak pernah berkomunikasi lagi semenjak kejadianitu. Mungkin stef sudah membenciku bahkan sangat jijik untuk bertemu dengan ku.
Aku pulang larut malam. Ada dua preman yg sedang mabukdia berusaha memperkosa ku. Aku terus berontak hinggak ketika aku berteriakminta tolong datang sesosok laki-laki. Yaa laki-laki yg sangat kucintai itu. Diamenghajar habis-habisan preman itu. Aku sangat ketakutan. Bajuku sudah sobeksteff memakaikan jasnya pada tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya. Karenameskipun aku seperti pelacur tapi rasanya sangat sakit jika ada orang yg inginmelecehkanku seperti preman itu. Stef terus menenangkanku memelukku erat.
“hey yuki ssayang ada aku. Kau tidak akankenapa-kenapa. Aku menyayangimu yuki”. Stef terus menenangkanku sambil menciumkeningku.
Aku hanya terdiam. Ketakutan. Memeluk laki-laki ygsangat kucintai ini.
“stef maafkan aku sudah membohongimu” yuki mulaiberbicara.
Stef berhenti memelukku melainkan menatapku. “Stt..lupakan. Aku akan selalu menyayangimu” stef menciumku.
Kami menikah dan mempunyai keturunan yg sangat cantik.Dan kami hidup bahagia.
END~
LOVE YOU FULL
Indahnya pemandangan sebuah taman disore hari angin berhembus kencang dengan alunan suara-suara angin berhembus.
"Huaaaaa..." teriak bahagia seorang gadis cantik bernama yuki kato
"ini yang gua s**a kalo jalan sore anginnya sepoi-sepoi hem.. indah, tenang." yuki yang sedang asik sendiri.
Tiba-tiba yuki melihat sesosok pria tampan yg sedang duduk sendirian dipinggir danau. "Ngapain lo liatin gua" Tiba-tiba teguran yg membuat yuki kaget. "Ish pede banget sih lo, gua liatin danau kali!" jawab yuki kesal dan kaget. “Dasar cewek aneh” Balas sang pria tampan, yg langsung pergi begitu saja.
“Heeeeehh.. baru aja gua berasa nyaman eh itu cowo gak jelas main marah-marah kepedean banget lagi” omel yuki.
Malam harinya yuki sedang asik bermain ipad nya dikamar merasa bosan dan suntuk dirumah, akhirnya yuki memutuskan untuk keluar. Yuki pergi ketaman dimana tadi sore dia bertemu dengan pria tampan yg super jutek itu, “huuuff… ganteng sih tapi jutek, eh kenapa gua mikirin dia sih” yuki mulai merasa ingin bertemu dengan pria tadi sore yg ia temui ditaman tepat dipinggir danau. Tiba-tiba “lo mikirin gua yah” pria tampan yg tiba-tiba saja duduk disebelah yuki sambil melontarkan senyum nya yg indah. “loh kok lo ada disini? Apa-apa? Gua mikirin lo?! Ish males banget mikirin cowo sok cool dan jutek kaya lo” balas yuki cuek. “sory-sory deh gua minta maaf gua salah,, kenalin d**g nama gua Stefan William panggil aja gua Stefan” balas pria tampan sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya, “gamau! Gue sebel sama cowo jutek” balas yuki yg diam-diam nyengir-nyengir sendiri. “yah maafin gua d**g, pllissssss” mohon Stefan. “oke-oke deh gua maafin lo”balas yuki tersenyum. “oia nama lo siapa?” Tanya Stefan, “nama gua yuki anggraini kato, lo panggil gua yuki aja”ballas yuki tersenyum. “Lo kenapa sendirian gak ditemenin cowo lo” stef memulai pembicaraan.”gua gak punya cowo,yah gua merasa suntuk aja dirumah jadi gua keluar ketempat favorite gua disini” jawab yuki, “wah ini juga tempat favorite gua lo,, wuih bisa sama gitu yah jangan-jangan kita..” ledek Stefan “kita apa maksudnya kita jodoh hahaha modus taugak lo stef”jawab yuki tertawa , Stefan pun tertawa. “eh udah malem nih cabut yuk” ajak Stefan, “yuk gua juga takut mamah gua nyari” bangkit yuki dari tempat duduknya, “eh tunggu lo gua antar aja yah udah malem bahaya cewe pulang sendirian” ajak Stefan, “boleh deh, yuk!” jawab yuki ssetuju. Yuki di antar pulang oleh stef menggunakan motor ninja merah yg membuat stef semakin sangat cool, stef membawa motornya sangat ngebut sehingga yuki reflek memeluk Stefan, yak Stefan tersenyum penuh kebahagiaan. Sampai dirumah yuki tersadar dia memeluk Stefan, yuki turun dengan wajah memerah “Stefan thanks yah udah antarin gua pulang” yuki tersenyum, “iyah sama-sama” balas Stefan tersenyum “emm… boleh minta nomor telpon lo gak yuk” stef malu-malu, “oh boleh” jawab yuki. Setelah bertukar nomor telpon yuki masuk kedalam rumah dan Stefan pun pullang.
Dipagi hari…..
Aku s**a diaa tapi ku tak tau untuk (suara dering hp yuki), “Halo ?” yuki , “ini yuki yah? Gua stef”jawab stef, “oh iyah ada apa stef” Tanya yuki senang, “gapapa sih, lo sekolah dimana?berangkat bareng yuks” ajak stef, “Gue di SMA 25 stef” seneng, “wah sama yuk, yaudah gue jemput lo sekarang yah, bye” stef langsung mematiikan telpon nya. “Lah nih orang gue belum jawab juga, eh tapi gapa gua berangkat dianter stef hehhe” ketawa senang. 15 menit kemudian “Tiiiiinn..tiiiiin… Yukiiiiii?” Panggil stef, “Weh biasa aja d**g hehe yuk berangkat” yuki senang.
Sampainya disekolah..
Bel pulang pun berbunyi….
Kriiiiiingggg….. “Yeeeeeee” seluruh murid bersorak.
Pada saat yuki sedang berjalan menuju gerbang hendak pulang tiba-tiba ada yg menarik tangan yuki. “Heh” yuki terkaget. “ eh eh santai d**g galak banget sih” ledek stef “ ikut gue ketaman yuks!”menaring tangna yuki tanpa menunggu jawaban yuki.
Sampainya ditaman…..
“Ih stef lo itu nyulik gue tau main tarik tangan gue aja deh” yuki cemberut, “Maaf deh maaf. Adda yang mau gue omongin sama lo” memegang tangan yuki, yuki merasa sangat gugup dan malu. “Yuki gua tau ini terlalu cepat, tapi setiap hari gua selalu kepikiran lo, selalu senang kalo bersama lo, selalu nyaman. Mungkin ini terlalu cepat tapi gak bisa gue pungkiri guue sayang sama lo yuk gue cinta sama lo”memegang tangan yuki sambil berlutut
Mengangkat stef untuk bangun “steff perasaan gua itu sama kaya apa yg lo rasain ke gue, awalnya gue gak yakin tapi gak bisa gue bohongin setiap gua deket lo hati ini terasa nyaman” jawab yuki menatap stef
“tapi gua bohong lo” jawab stef meledek yuki, “ih stef” cemberut yuki, “eh jangan cemberut gitu tambah jelek tau lo” steff semakin meledek, “I LOVE YOU FULL YUKI ANGGRAINI KATO” Teriakk steff. Yuki tersenyum bahagia dan mereka berpelukan.
END~
Click here to claim your Sponsored Listing.
