09/06/2025
Sejarah kerajaan Siang
Selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari abad ke-10 hingga abad ke-16, terdapat kerajaan besar lain di semenanjung barat, dikenal dengan nama Siang, yang pertama kali muncul pada sumber Erofah dalam peta Portugis bertarikh 1540. Menurut catatan Portugis dari abad ke-16, Tallo atau kerajaan Tallo pernah ditaklukkan oleh kerajaan Gowa dan Gowa sendiri mengakui kerajaan Siang sebagai kerajaan yang “lebih besar” dan lebih kuat dari mereka. (Andaya, 2004).
Sumber Portugis menyebutkan Siang pernah diperintah seorang raja bernama Raja Kodingareng (Gadinaro, menurut dialek Portugis), sezaman dengan Don Alfonso, Raja Portugal I dan Paus Pascal II.
Pada tahun 1540 atau jauh sebelumnya, pelabuhan Siang sudah banyak dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru kep**auan Nusantara, bahkan dari Eropa. Pengamat Portugis, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545 Siang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa. Penguasanya sangat yakin terhadap sumber – sumber daya dan kekayaan alam yang dimiliki oleh negaranya sehingga menawarkan untuk menyuplai seluruh kebutuhan pangan Kerajaan Malaka (Pelras 1973: 53).
Menurut catatan Portugis dari abad ke-16, Gowa dan Tallo pernah jadi vasal Siang. Tradisi lisan setempat mempertahankan pandangan ini. Penemuan Arkeologi berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah bisa jadi adalah kerajaan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo.
Pada 1542, Antonio de Paiva, menyinggahi pusat wilayah kerajaan Siang dan tinggal di Siang untuk beberapa waktu, sebelum melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju Sulawesi Tengah untuk mencari Kayu Cendana (sandal wood).
Ketika kembali tahun 1544, de Paiva singgah di tiga tempat, yaitu: Suppa, Siang dan Gowa. Catatan de Paiva menyebutkan bahwa Gowa adalah sebuah kota yang besar “yang dulunya merupakan kerajaan bawahan Siang, namun tidak lagi begitu”. Laporan de Paiva ini menunjukkan kemungkinan Siang berada pada puncak kejayaan dan kemasyhuran sekitar abad 14 – akhir abad 16.
Dari penelitian awalnya terhadap sumber dari Eropa dan sumber lokal, menyatakan Siang, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga secara politik antara abad ke-14 – ke-16. Pengaruhnya menyebar hingga seluruh pantai barat dan daerah yang dulunya dikenal kerajaan Limae Ajattapareng hingga ke selatan perbatasan kerajaan Makassar, yakni Gowa-Tallo. Pada pertengahan abad ke-16, kerajaan Siang menurun pengaruhnya oleh naiknya kekuatan politik baru di pantai barat dengan pelabuhannya yang lebih strategis, Pelabuhan SombaOpu. Kerajaan itu tak lain Kerajaan Gowa, yang mulai gencar melancarkan ekspansi pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Persekutuan kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya membawa petaka bagi Siang, sampai akhirnya mati dan terlupakan, di penghujung abad ke-16.
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Siang

09/06/2025
09/06/2025