28/07/2026
Tutor Mendirikan Ormas untuk Bisnis: Modal Kecil, Foto Banyak?
Di zaman serba digital, membangun sebuah organisasi ternyata hampir sama dengan membangun sebuah merek. Bedanya, kalau perusahaan mengejar pelanggan, organisasi lebih sering mengejar... fotografer.
Konon, ada yang berkelakar bahwa mendirikan usaha itu terlalu rumit. Harus menyusun proposal bisnis, mengurus izin, mencari pelanggan, membayar pajak, menjaga kualitas produk, hingga menghadapi persaingan.
Sebaliknya, dalam versi lelucon warung kopi, mendirikan organisasi masyarakat terlihat jauh lebih sederhana. Cukup siapkan nama yang gagah, logo bergambar burung atau harimau, seragam loreng, spanduk besar, lalu unggah kegiatan ke media sosial. Sisanya, tinggal berharap terlihat sibuk.
Tentu saja, ini hanyalah satire.
Seorang "konsultan bisnis" imajiner kemudian membuat simulasi anggaran.
- Pembuatan nama organisasi yang terdengar patriotik: Gratis, hasil musyawarah sambil ngopi.
- Desain logo lengkap dengan simbol keberanian: Rp500.000.
- Seragam yang membuat semua anggota terlihat seperti sedang apel besar: Rp450.000 per orang.
- Bendera ukuran jumbo: Rp750.000.
- Spanduk dan baliho agar dikenal sampai ujung kampung: Rp2.000.000.
- Sound system supaya pidato terdengar hingga radius beberapa RT: Rp3.000.000.
- Dokumentasi foto dan video: justru menjadi anggaran terbesar.
Sebab, dalam organisasi versi satire ini, kegiatan boleh sederhana, tetapi dokumentasinya harus luar biasa.
Memiliki organisasi tanpa media sosial ibarat membuka restoran tanpa papan nama.
Karena itu, dibentuklah "Divisi Media dan Pencitraan".
Tugas utamanya sederhana.
Setiap kegiatan wajib menghasilkan minimal lima puluh foto.
Kalau rapat berlangsung tiga jam, yang diposting bukan hasil rapatnya, melainkan foto saat semua peserta mengepalkan tangan sambil tersenyum.
Kalau ada kunjungan ke kantor pemerintah, judul unggahannya:
"Audiensi Strategis."
Kalau hanya mampir minum kopi:
"Silaturahmi Kebangsaan."
Kalau kebetulan bertemu teman lama:
"Koordinasi Antar-Lembaga."
Tidak lupa setiap unggahan diberi tagar:
Isi rapat boleh membahas jadwal futsal, tetapi caption harus terdengar seperti hasil sidang internasional.
Strategi pemasaran belum lengkap tanpa "pasukan komentar".
Begitu sebuah foto diunggah, dalam hitungan menit muncul komentar-komentar klasik:
"Mantap ketua!"
"Lanjutkan perjuangan!"
"Selalu hadir untuk masyarakat!"
"Kami siap mendukung!"
Padahal yang baru selesai dilakukan hanyalah foto bersama setelah makan siang.
Kalau jumlah "like" menurun, segera unggah lagi foto dari sudut yang berbeda.
Kalau masih sepi, edit menjadi hitam putih agar terlihat lebih heroik.
Kalau tetap sepi, tambahkan musik yang sedang viral.
Laporan Kegiatan
Dalam satire ini berlaku rumus sederhana.
Satu jam kegiatan bisa menghasilkan seratus foto.
Lima belas menit sambutan menjadi tiga puluh video pendek.
Satu kali penyerahan bingkisan berubah menjadi dua puluh unggahan.
Hasilnya, masyarakat yang melihat media sosial akan mengira organisasi bekerja tanpa mengenal hari libur.
Padahal admin media sosiallah yang paling sibuk.
Sayangnya, tidak semua strategi pemasaran bisa menutupi kenyataan.
Kalau organisasi benar-benar ingin dihormati masyarakat, yang dibutuhkan bukan seragam baru setiap tahun, bukan baliho raksasa, dan bukan unggahan setiap jam.
Yang dibutuhkan adalah kegiatan nyata, pelayanan kepada masyarakat, kepatuhan pada hukum, dan integritas.
Sebab citra bisa dibangun dengan kamera.
Tetapi kepercayaan hanya dibangun dengan tindakan.
Pada akhirnya, ini mengingatkan bahwa organisasi apa pun baik ormas, komunitas, yayasan, maupun perusahaan akan dinilai bukan dari banyaknya foto di media sosial, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena algoritma media sosial mungkin menyukai konten yang ramai.
Namun masyarakat selalu lebih menghargai kerja nyata daripada pencitraan semata.