Next Project!
Baca Novel Yuk
Baca Novel Yuk adalah laman yang dibuat untuk tujuan mempromosikan novel-novel terbaik
01/11/2022
Mana nih yang tim istri pertama?
Yok sini merapat ke novel satu ini!
Judul: AKU ISTRI PERTAMA
(Bisa dibaca di aplikasi Fizzo yaa)
Bab.1 Terhina
Bahkan genggaman tangan hangat suamiku tak bisa menenangkan gemuruh di dalam dada ini. Hunjaman yang kurasakan sungguh menyakitkan, bagai ribuan jarum yang diikat jadi satu kemudian ditusukkan secara bersamaan ke jantungku.
Ibu mertua telah mengatakan kelemahanku dengan begitu gamblang di hadapan keluarga besarnya. Kelemahan yang tak bisa kusangkal karena memang benar adanya. Kelemahan yang tampak jelas seolah itu kesalahanku semata, setelah diutarakan oleh keluarga suamiku.
Kepercayaan diriku seolah runtuh begitu saja. Padahal selama ini aku adalah kebanggaan semua orang, pujaan hati semua kalangan, sang Bintang yang selalu dinomor-satukan.
Kendati hatiku terasa disayat sembilu, ajaran etika yang menempaku menjadi manusia elegan mencegah diri ini untuk menguapkan emosi begitu saja. Sebagai gantinya, aku menolehkan kepala dan menatap wajah suami yang kucintai. “Aku perlu membersihkan make-up dulu, Kay,” gumamku.
Setelah menepuk punggung tangannya satu kali, aku bangkit dari sofa berlapis kulit dan berjalan tegap menuju tangga yang mengarah ke salah satu kamar di lantai dua. Tangan kananku mencengkeram erat railing tangga saat aku menapakkan langkah demi langkah ke atas, sementara jemari kiriku mengangkat helaian gaun panjang yang kukenakan.
Di belakang, aku masih bisa mendengar walaupun secara samar, gerutuan dan celaan mertuaku. Aku hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan perihnya hinaan itu. Aku tahu ada ketidakpuasan dalam diri mereka selama ini, tapi tak kusangka bahwa mereka akan mengambil langkah sebesar itu.
Kuputar handle pintu kamar Kaysar dan masuk ke dalamnya. Seketika air mata ini meleleh begitu kututup pintu di belakang. Dengan langkah lemah kuhampiri tempat tidur king size dan duduk di atasnya. Dadaku begitu sesak dan sakit sekali.
Kutangkup wajah ini dengan kedua tangan, membiarkan diriku melepaskan semua ganjalan menyesakkan dalam hati yang sedari tadi kurasakan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak mungkin menghapuskan keinginan mereka. Aku tak mungkin mengatakannya pada orang tuaku, dan menyakiti mereka. Terlebih ayahku, yang selalu memujaku setinggi dewi nirwana.
Bisa kubayangkan amarah yang pasti akan memenuhi wajahnya jika kusampaikan keinginan mertuaku. Ayahku, Julian Hendery, siapa pun tahu betapa berkuasa dirinya atas segala aspek yang membangun kota ini.
Dan ibuku -Ariana Luke-, sang Nyonya di belakang layar Luke Group, tidak seorang pun akan bisa memadamkan api kemarahan dalam dirinya jika ada orang lain yang mengusik keluarganya.
Tak bisa kuperkirakan seberapa besarnya kekecewaan yang akan ia rasakan melihat kehidupan putrinya akan berakhir sama dengan perempuan-perempuan lain yang tak bisa memperpanjang garis keturunan dari keluarga suami.
Aku tak tahu sudah berapa lama kubenamkan wajah ini dalam tadahan kedua tanganku. Sepuluh menit? Dua puluh menit? Entahlah. Yang pasti mataku mulai terasa pedih, karena leburan maskara dan riasan mata lainnya terperangkap dalam genangan air mata yang membasahi kedua tanganku.
Kuputuskan untuk menyudahi mengucurkan air mata. Membersihkan diri dalam rendaman air hangat yang memenuhi whirlpool bath mungkin bisa memperbaiki suasana hatiku saat ini, walaupun itu mungkin hanya sesaat.
Kedua kaki ini membawa tubuhku menghampiri sebuah pintu yang ada di salah satu sudut kamar Kaysar. Aroma yang lembut dan segar dari pengharum ruangan seketika menyerbu indra penciuman, setelah kubuka pintu bercorak kayu itu.
Aku langsung menuju kolam berendam itu dan menyalakan kran airnya. Sembari menunggu air memenuhi whirlpool bath, kuhampiri lemari kayu yang ada di sisi berseberangan. Kukeluarkan sebotol red wine berikut gelasnya.
Seolah belum cukup, kuraih remote untuk menyalakan audio ruangan. Seketika suara Richard Marx yang dipadukan dengan alunan musik yang menenangkan memenuhi ruangan. Kutuangkan cairan berwarna merah yang ada dalam botol di genggamanku ke dalam gelas.
Kuputar gelas berisi red wine itu dengan perlahan, sehingga aroma anggur yang terfermentasi di dalamnya menyentuh hidung ini. Kusesap minuman beralkohol itu sedikit dan merasakan sensasi campuran rasa yang meledak dalam mulutku.
Saat kukerling air dalam whirlpool bath sudah hampir penuh, aku menaruh gelas wine di permukaan bath tub dan kutanggalkan gaun pestaku yang langsung jatuh ke lantai. Begitu juga dengan Victoria’s Secret yang menutupi bagian-bagian tubuhku yang paling privasi.
Napas panjang seketika lolos dari mulut ini, begitu seluruh tubuhku terendam air hangat. Aroma sabun favorit membuatku melupakan percakapan meyakitkan yang beberapa saat lalu harus kudengar.
Kuraih lagi gelas yang berisi red wine dan menyesapnya penuh kenikmatan. Kupejamkan mata untuk meresapi alunan Right Here Waiting yang sedang memanjakan telingaku.
“Aku selalu menyukai pemandangan seperti ini. Tak peduli berapa kali pun aku telah melihatnya.”
Perlahan kubuka kelopak mata dan menoleh ke asal suara. Kaysar Buana Atmaja telah menanggalkan jasnya dan berdiri tak jauh dariku. Matanya yang dalam tengah menatapku tajam. Tatapan yang selalu bisa membuatku tersipu. Sejak dari dulu.
“Ingin bergabung denganku?” tanyaku sambil tersenyum simpul.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Kaysar malah membuka setiap kancing bajunya. Kami saling memandang dengan isyarat senyum kecil yang hanya bisa dipahami olehku dan Kay sendiri. Senyumku semakin melebar ketika celananya pun terpuruk di lantai begitu saja.
Dengan langkah mantap, ia mendekatiku dan menceburkan diri dalam pelukanku. Kami saling mengeluarkan desahan ketika tubuh kami bertemu dalam satu dekapan erat. Air pun berkecipak dan tumpah karena gerakan agresif kami.
Aku sangat menyukai permainan Kaysar. Orang mungkin takkan mengira jika suamiku yang berperangai lembut itu bisa menjadi seganas singa ataupun semanis anak kucing jika sedang menunaikan tugasnya dalam memenuhi kepuasan batinku.
Kutangkup wajah pria yang telah menemani siang malamku selama delapan tahun terakhir ini. Matanya yang meredup sayu, hidungnya yang besar dengan bagian pangkal yang menukik tajam, bibirnya yang memiliki bentuk penuh, dan sentuhan garis rahang yang kokoh, semuanya terpasang sempurna pada wajah rupawannya.
Aku tak ingin kehilangan dirinya ataupun membaginya dengan wanita lain. Aku ingin kami selamanya bisa bersatu seperti ini.
“Diamlah seperti itu, Kay …,” desahku lirih.
Ia pun menghentikan hunjamannya dalam tubuhku dan menatap mataku. “Lelah?”
Kugelengkan kepala sambil membelai sisi wajahnya. “Aku ingin merasakanmu lebih lama,” bisikku.
Aku tak bisa menahan gejolak dalam dadaku. Memikirkan kemungkinan bahwa aku akan berbagi dengan wanita lain, membuat dada ini terasa sesak kembali. Hingga membuat mataku terasa panas dan dalam sekejap saja mengalirkan air mata.
Mata Kaysar melebar melihatku yang tengah menangis. Dia hendak melepaskan diri dariku, tapi dengan cepat aku menahannya. “Maafkan aku, Kay. Maafkan aku yang tak bisa menyempurnakan hidupmu,” isakku sambil memeluk tubuh kekarnya.
Kaysar menghujani sisi kanan wajahku dengan kecupan yang sangat rapat. “Kamu tak seharusnya mengatakan itu, Chasse. Lupakan semua yang mereka katakan tadi. Aku tak akan membawa wanita lain ke dalam hidup kita.”
“Tapi yang ibu katakan juga tidak salah, Kay. Kita ….” Suaraku tiba-tiba saja tercekat, sulit untuk melanjutkan ucapan. Namun, aku harus menguatkan diri. “…, kamu harus memiliki seorang anak yang bisa meneruskan garis keturunanmu.”
“Persetan dengan garis keturunan!” sergahnya.
Aku sedikit mengerutkan kening ketika merasakan dorongan yang kuat menekan bagian bawah tubuhku. Pria dalam pelukanku itu sepertinya juga sedang merasakan gejolak dalam dirinya. Apakah ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu? Bisakah dia menolak kuasa ibunya?
***
Mau tahu kelanjutan cerita rumah tangga mereka? Cuzz langsung kepoin ke aplikasi Fizzo, cari dengan judul "AKU ISTRI PERTAMA" by Sunny Afena.
Atau bisa dengan klik link berikut:
https://www.fictum.org/page/share/?book_id=7146146820496821250
Happy reading!
30/10/2022
Satu lagi novel epic dengan genre adult romance. Check this out!
INSANE PART
Bab 1. Kekacauan
Tubuhku mulai mengkeret mundur karena ketakutan. Dia pasti akan menggila sebentar lagi. Matanya yang jelalatan ke sana ke mari, bibir yang dikatupkan berkali-kali karena tak menemukan penyangkalan yang jitu untukku, dan tangannya yang menjambak-jambak rambutnya karena frustrasi.
Dengan susah payah kutelan ludah. Aku sendiri juga menoleh ke kanan dan kiri, mencari pertolongan. Aku tak mau menjadi sasaran kemarahannya. Takkan lagi.
Akan tetapi, tak ada siapa pun di dekatku. Basement The Eagle Tower sedang sepi-sepinya di jam seperti ini. Waktu makan siang telah lama usai. Dan para karyawan sedang menekuri pekerjaan dalam kubikel masing-masing di atas sana.
“Felix, kurasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku sudah menggunakan 15 menit yang diberikan oleh atasanku untuk bicara denganmu. Jadi, sekarang aku harus kembali bekerja,” ucapku hati-hati seraya melangkahkan kaki ke samping.
Rasanya aku ingin segera menghilang dari sini. Felix dan temperamennya sangat menakutkan bagiku. Pertengkaran terakhir kami berakibat dengan aku yang dilarikan ke rumah sakit karena hidungku yang berdarah tanpa henti setelah ia menampar dan mendorong tubuhku hingga wajahku terbentur sudut meja.
Sayangnya, mata Felix menangkap gerakan langkahku. Dia menghentikan tingkah kalutnya dan kembali fokus menatap wajahku. Matanya menyipit dengan bengis. “Kamu tidak akan pergi ke mana-mana sampai aku mengizinkanmu untuk pergi, Samara. Aku tak memberimu hak untuk itu.”
Kugigiti bibir ini untuk menekan rasa cemas yang saat ini telah menguasai diriku sepenuhnya. Tubuhku terasa dingin dari dalam. Telapak tangan dan kakiku mulai terasa basah karena keringat. Felix dan perkataan intimidasinya selalu saja memberikan efek seperti itu terhadapku.
Namun, aku sudah lelah. Aku sudah merasa cukup diperlakukan seenaknya oleh laki-laki berpenampilan menarik tapi memuakkan itu. Aku sudah berjanji pada diri sendiri, jika ia melakukan kesalahan sekali lagi, aku tak akan menolerirnya.
Teringat pada janji itu, kembali kutekan rasa takut ini. Aku memberanikan diri untuk berkata, “Felix, aku sudah lelah dengan semua ini. Kamu selalu saja berkata seperti itu untuk menekanku. Mungkin memang ini waktunya bagi kita untuk mengakhiri hubungan ini.”
Dia mendekatiku satu langkah. “Sekali lagi kamu bicara seperti itu, akan kucekik lehermu sampai mati, Sam,” desisnya penuh emosi.
“Tapi kamu tak pernah berubah!” seruku. Akhirnya aku melepaskan ganjalan yang selama ini kupendam. “Sudah cukup, Felix. Kita sudah selesai sejak kamu berada di atas ranjang dengan perempuan itu. Aku tidak akan memperpanjang urusan ini. Silakan lanjutkan hubunganmu dengannya dan―”
Aku tak sempat melanjutkan ucapan karena Felix tiba-tiba mendorong tubuhku ke belakang hingga membentur badan sebuah mobil SUV. Bibirku meringis kecil menahan nyeri yang terasa di punggung bagian atas.
“Aku melakukannya karena kamu selalu tak ada waktu untukku!” teriaknya tepat di depan wajahku. Kedua lenganku menjadi sasaran cengkeramannya yang terlalu kuat.
“Felix, tolong lepaskan!” ujarku sambil berkutat melepaskan diri. Tapi bukannya melepaskan cengkeramannya, dia justru semakin menghunjamkan kukunya di lenganku yang hanya berbalut blouse kain satin tipis.
“Aku tidak akan melepaskanmu. Sampai kapan pun kamu tak akan bisa pergi dariku. Kamu milikku, Sam!”
Sakit yang kurasakan di bagian lengan membuatku semakin muak pada dirinya. Aku mengumpulkan seluruh tenaga yang kumiliki untuk bisa lepas darinya. Percuma berdebat dengan pria tak waras sepertinya. Yang harus kulakukan adalah pergi dari hadapannya secepat mungkin dan tak pernah menemuinya lagi untuk alasan apapun.
Karena merasa percuma mengerahkan tenaga dan aku tak berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya, maka aku memberinya cubitan di bagian perut. Sebuah cubitan kecil yang menyakitkan sampai membuatnya berteriak kesakitan dan melonggarkan cengkeraman, sehingga aku bisa membebaskan diri.
Dengan kecepatan yang bisa dilakukan oleh kaki yang memakai high heels 10 cm, aku berjalan cepat setengah berlari menjauh dari Felix.
“Samara!” teriaknya sarat akan amarah. Tapi aku tak memedulikannya.
Hal berikutnya terjadi begitu cepat. Felix berhasil mengejarku tentu saja, menarik tanganku, dan menyentakkannya hingga tubuhku oleng dan jatuh di atas kap mesin sebuah mobil convertible warna hitam yang seketika alarmnya meraung dengan kencang.
Dan saat aku baru berdiri tegak, kudapati Felix yang telah mengangkat sebuah tong sampah dari besi. Mataku seketika melebar ketika ia mengarahkan benda keras itu ke arahku dan melemparnya. Menuruti gerak refleks, aku menekuk kaki untuk berjongkok dan memejamkan mata. Kedua tanganku melindungi puncak kepala.
Mulutku menjerit keras seiring benda itu yang membentur kaca mobil dan menimbulkan suara retakan teredam. Saat kubuka kedua mata, tong sampah itu telah terpental ke samping dengan suara nyaring dan menggelinding ke bawah mobil lainnya. Kemudian ekor mataku menangkap sebuah gerakan.
“Dasar pembuat onar,” rutukku saat melihat Felix melenggang pergi menghampiri mobilnya sendiri.
Detik berikutnya aku tersadar, bahwa aku dalam masalah besar. Aku berdiri dan seketika ternganga melihat kerusakan pada mobil mewah di depanku. Bagian kaca depan rusak parah dan ada beberapa baret di bagian kap mesin.
Rasanya aku tak bisa berpikir jernih. Sel-sel dalam otakku berteriak menyuruhku untuk segera pergi. Jadi, kakiku berjalan cepat menjauh dari mobil yang masih meneriakkan gerungan alarmnya itu.
***
“Sam, kamu harus pulang sekarang. Kamu sudah minum terlalu banyak.” Suara Nadine masih terdengar jelas di telingaku.
“Tapi aku belum mabuk, Nad,” kilahku bersikeras.
“Kalau begitu, kembalilah ke The Eagle. Pemilik mobil itu pasti sekarang sudah marah besar mendapati mobilnya rusak parah seperti itu. Lebih baik kamu yang mendatangi mereka, atau rekaman CCTV kalian akan tersebar di sosial media.”
Tatapan nanarku tertancap pada wajah Nadine yang berbentuk hati. “Ini sudah pukul delapan malam, Nad. Apa kamu pikir masih ada orang di gedung itu?” Ya, katakan saja aku adalah pengecut yang sedang menghindar dari masalah.
“Setidaknya pasti ada petugas security. Kamu bisa menceritakan hal sebenarnya pada mereka. Itu akan tampak lebih bertanggung jawab daripada tidak memberikan penjelasan sama sekali.”
Nadine sepertinya bersikeras dengan keinginannya. Dia menarik lenganku supaya berdiri dari dudukku. “Ayo, Sam! Jangan membuatku malu karena punya teman sepertimu. Aku tak mau kafeku ini viral karena terseret perilakumu yang tak bertanggung jawab.”
“Ya, ya, baiklah,” ujarku sambil meneguk jus semangka untuk menyegarkan kembali pikiranku dari pengaruh wine. “Pinjami aku ongkos taksi. Tasku tertinggal di kantor,” gumamku.
Nadine merogoh saku apronnya dan mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru dan meletakkannya di tanganku. “Kalau kamu berhasil melaporkan perbuatan Felix kepada pihak The Eagle, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Savannah Beach.”
Kupandangi wajah manis Nadine. “Janji?”
Wanita itu menganggukkan kepala sambil menepuk-nepuk kepalaku. “Sekarang, pergilah! Sebelum Mario pulang dan mendapatimu setengah teler seperti ini. Dia pasti akan membantaiku habis-habisan jika tahu kondisimu begini. Terlebih jika tahu alasan di balik semua kekacauan ini.”
“Jangan katakan apapun padanya, Nad. Aku takut dia akan mendatangi apartemen Felix dan menghajarnya.”
“Sedang kupertimbangkan, Sam.”
Setelah mengembuskan napas panjang, kubalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu Señorita, kafe milik Nadine. Aku langsung menghampiri salah satu taksi yang berderet rapi di pinggir jalan, dan menggumamkan tujuanku pada sopir.
***
Penasaran apa yang bakalan terjadi selanjutnya? Yuk, baca langsung novel INSANE PART di aplikasi NovelMe!
Caranya: download dulu aplikasinya, dan langsung ketik judul novel di kolom pencarian. Novel ini sudah tamat. Jadi, tidak usah khawatir bakalan digantung 😂🙏
Happy reading!
05/10/2022
"Rumah tangga adalah tempat di mana ragam ujian melanda. Cinta saja tidak akan bisa mengatasi segalanya."
AKU ISTRI PERTAMA
Bab 3. Kamu Membuatku Takut
Jujur saja, ditatap seperti ini oleh Kaysar cukup membuat perasaan ini merinding waswas. Sejak mengenal Kaysar, aku tak pernah melihat tatapan angker melesat dari kedua matanya. Dan itu disebabkan hanya karena mendengar bahwa tadi siang aku pergi menemani ibunya bertemu keluarga Leona.
“Apa kamu sudah gila, Chasse?” desisnya penuh kegeraman. Sosoknya yang berdiri menghadapku tampak tinggi menjulang serta begitu mengancam, sementara aku duduk mengerut di sofa yang ada di dalam kamar kami.
“Kay, aku tahu ini sulit. Bukan hanya untukmu, tapi juga untukku. Tapi apakah kamu bisa sebentar saja membayangkan berada di posisiku? Kita sudah menikah selama delapan tahun, berteman selama bertahun-tahun bahkan sebelum kita menikah.
“Keluargamu telah bersikap baik padaku selama ini. Menjadi menantu di keluarga Atmaja membuatku sangat bersyukur, Kay. Karena itulah, aku ingin memberikan yang terbaik bagi keluargamu―” Tenggorokanku tiba-tiba saja seperti tercekat. Rasanya lidah ini seketika menjadi kelu, tak sanggup mengakui kelemahanku sendiri.
Akan tetapi, aku harus menguatkan hati untuk mengatakannya supaya pria yang kucintai itu mengerti hal apa yang menjadi keresahanku. “Aku tahu bagimu garis keturunan tidaklah penting. Tapi aku yakin kamu pun memahami kehadiran seorang pewaris nyatanya sangat dibutuhkan. Jangan menyangkalnya demi aku, Kay. Karena aku pun berpikir demikian.”
Kaysar mendongakkan kepala dan membuang napas kesal. “Kita bisa mendapatkannya tanpa aku harus melakukan pernikahan dua kali. Aku yakin kamu juga lebih bisa menerima cara itu ‘kan, Chasse?”
Rasanya aku ingin menjeritkan jawaban yang sesuai dengan tebakannya. Namun, entah kenapa, pikiran ini seperti mencegah diriku untuk mengatakan yang sesungguhnya. Dan alih-alih mengiyakan pernyataannya itu, aku malah menyanggah, “Tidak, Kay. Yang kuinginkan adalah putra darimu. Darah dagingmu sendiri. Dengan begitu, aku akan bisa menyayanginya setulus hati.”
Netra Kaysar terlihat nanar saat ia kembali memandangku. Wajahnya mengerut seolah tak habis pikir dengan semua kata-kata yang ke luar dari mulutku, berikut dengan sikap yang mungkin ia pikir sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang kupercaya selama ini.
Pandangan kami saling beradu. Jika rautnya menampakkan kesedihan dan kebingungan, maka aku berusaha semaksimal mungkin menampilkan ekspresi datar yang mencerminkan kekerasan hati. Hingga akhirnya ia menyerah dan berlutut di depanku.
Dia menjatuhkan wajah rupawannya di pangkuanku, beberapa kali menghela napas panjang. Detik dan menit berlalu, sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya lagi. Dengan raut putus asa, ia bergumam lirih, “Jika aku melakukan apa yang diminta oleh ibuku, bagaimana aku akan bisa menghadapi orang tuamu? Dan kakakmu? Aku tidak akan sanggup berdiri di hadapan mereka, Chasse. Kumohon ….”
Aku menarik napas panjang seraya menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. “Mereka akan mengerti, Kay. Kamu tak perlu mencemaskan hal itu. Aku akan mengurusnya.”
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, Chasse. Jika aku jadi mereka, aku pun tidak bisa menerima putri kebanggaanku menerima penghinaan seperti itu.”
Dia benar. Pengandaian yang dibayangkannya jelas sama dengan yang ada di dalam kepala orang tuaku, tapi itu bukanlah masalah utamanya. “Ini bukan tentang penghinaan. Ini tentang sesuatu yang lebih besar dari itu,” tegasku.
“Kamu akan tersakiti dalam prosesnya.”
“Aku pasti bisa menahannya.”
Kaysar menggertakkan giginya, kentara sekali tengah menahan geram. “Aku sudah memperingatkanmu, Chasse.”
Dengan susah payah aku menelan ludah. “Aku sangat menginginkan seorang putra darimu, Kay.”
Masih dengan wajah yang mengeras, ia membalas ucapanku. “Baiklah, akan kulakukan apa yang kalian inginkan. Dan karena aku sudah memperingatkanmu, maka jangan mengungkit perihal perasaan suatu hari nanti.”
Mataku berkedip lemah karena ucapannya itu. Aku tidak s**a mendengar kalimatnya. Seakan-akan ia sedang memperingatkan tentang adanya suatu perpisahan. “Aku mencintaimu, Kay. Dan aku yakin kamu juga sama. Sampai kapanpun kita akan tetap seperti ini, bersama-sama selamanya.”
Setelah menarik satu helaan napas panjang, Kaysar berdiri. Dia melonggarkan simpul dasi, menariknya hingga lepas. Dengan gerakan kasar yang jelas masih menyimpan amarah, dia menanggalkan jas dan membantingnya di sampingku.
Aku harus mengatakan poin utamanya sekarang. Jika gunung berapi itu akan meletus, maka biarkan saja letusan amarah itu dimuntahkan sekaligus hari ini.
Masih dengan pandangan yang tertancap pada Kaysar lekat-lekat, aku berdeham dulu sebelum akhirnya berkata, “Kay …, masih ada satu hal yang belum kusampaikan padamu.”
“Apa itu?” tukasnya tajam, seolah-olah ia sudah bisa membayangkan akan ada hal yang lebih menyebalkan dari topik yang beberapa saat lalu kami pertentangkan.
“Perikatanmu akan diadakan minggu depan.”
Bola mata Kaysar seketika menyorot tajam kembali. Jika tadi dia tampak memendam amarah, maka saat ini ia jelas sekali tampak geram. Kedua tangannya sampai terkepal kuat. Rasanya seperti ia akan menelanku hidup-hidup. “Apa katamu?” desisnya penuh ancaman.
“Waktu perikatan kalian sudah ditentukan. Semuanya setuju akan melakukannya minggu depan.”
Tawa sumbang Kaysar pecah berderai. “Ini menggelikan! Sungguh menggelikan! Jika tahu jalan takdirku akan seperti ini, aku tidak akan sudi dilahirkan dalam keluarga Atmaja. Percuma mereka menghujaniku dengan materi yang tak berbatas, jika akhirnya menjerumuskan hidupku seperti ini. Dan yang lebih menyakitkan, istriku pun mendukung kegilaan ini.”
“Jika kamu begitu menolak keputusan ini, lalu kenapa tadi siang kamu malah tidak datang?” timpalku tajam. Rasanya aku mulai tertular oleh kemarahan yang sejak tadi menguar dari dalam diri Kaysar.
“Aku sengaja tidak datang, karena kupikir dengan begitu ibuku akan merasa malu karena putranya tidak sudi hadir. Sayang sekali bahwa pikiran kita berdua tidak sama. Kamu malah dengan bodohnya mengekorinya dan duduk sambil mendengarkan obrolan gila mereka,” kecamnya dengan pedas.
“Aku tak punya pilihan, Kay!” seruku seraya bangkit dari sofa dan berdiri di hadapannya.
“Pilihan akan selalu ada, Chasse! Kamu bisa membantah semua hal itu dan kita fokus menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Pilihan lainnya semudah itu.”
“Seandainya aku bisa bersikap egois seperti itu.”
“Egois jika kamu menentukan bagaimana orang lain akan menjalani hidup mereka sesuai keinginanmu,” sindir Kaysar.
Aku tak tahan lagi. Kedua mataku mulai merembang. Dengan suara bergetar karena menahan tangis, aku menimpali kata-kata tajamnya. “Kita sudah membahasnya, Kay. Kumohon … turuti saja keinginan mereka.
“Jika kamu benar-benar tak bisa menerimanya, pikirkanlah setidaknya semua ini demi diriku. Aku sangat mendambakan seorang anak di antara kita. Lakukan sampai hal itu terwujud.”
Kaysar menatapku seolah-olah aku adalah makhluk asing dengan penampilan yang aneh. “Itu lebih gila lagi, Chasse. Apakah kamu baru saja menyuruhku untuk mengikat diriku dengan wanita lain, membuatnya melahirkan anak yang kamu inginkan, lalu meninggalkannya?”
Kaysar lagi-lagi menggelengkan kepalanya. “Tak kusangka pemikiran sekejam itu akan terlintas di kepalamu, Chasse. Lama-lama kamu membuatku takut.”
Penasaran dengan kisah mereka? Silakan ikuti kisahnya di 👇 baca gratis sampai tamat.
https://www.fizzo.org/page/share/?bid=7792293487239494909&isNew=1&from=copy_link&group=2&d=5828328656907269886&u=7882105164230292734&language=id®ion=ID
Selamat datang di Baca Novel Yuk tempat di mana novel-novel terbaik dari semua platform berkumpul. Tentukan pilihanmu, baca, dan support!
XOXO
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Tarakan
