15/08/2021
Al Qur'an dan Hadits ( Ngaji Bareng)
ngaji bareng di sini,,,sampaikanlah walau satu ayat,,,!!!^^
15/08/2021
*Tak Usah Belajar, Agar Tak Berdosa?*
----------------------------------------------
Ust, pernah denger klo yg ngga ngamalin ilmunya nanti diazab sama Allah. Klo orang salah tapi blm tau maka dimaafkan Allah. Nah, terkadang trs jadi muncul inisiatif, ngga usah belajar saja, klo tau trs ngelanggar malah berdosa… Mohon pencerahannya Ust?
Syukron…
Jawaban:
Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.
Seringkali memang setan datang kepada kita menampakkan sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu adalah tipu muslihat agar kita jauh dari kebenaran. Terlebih menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya, karena seorang hamba tak akan bisa menghamba secara profesional kepada Allah, tanpa ilmu. Setan menyadari ini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga menghalangi manusia dari ibadah menuntut ilmu.
Maka, bila mendengar bisikan seperti itu, dan bisikan-bisikan lain yang mendorong kita untuk malas menuntut ilmu, bergegaslah berlindung kepada Allah…
A’udzubillahi minas syaithoonir rojiim
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Tentu kesimp**an seperti itu tidak benar. Alasannya adalah berikut:
Pertama, menuntut ilmu hukumnya wajib.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)
Sehingga dengan enggan belajar agama, padahal mampu dan sarana pun ada, maka dia telah terjatuh pada dosa besar, berupa meninggalkan kewajiban. Inginnya terbebas dari dosa, saat melakukan dosa karena tidak tahu kalau itu dilarang, ternyata justeru dengan sikap enggan menuntut ilmu, sudah jatuh pada dosa. Lihatlah bagaimana kelicikan setan dalam menipu manusia.
Kedua, yang diberi uzur karena kebodohan adalah orang yang tidak ada akses menerima kebenaran.
Seperti dia tinggal di pelosok hutan, atau di puncak gunung, yang tidak ada akses menerima dakwah Islam. Sinyal tak ada, dai yang berdakwah ke sana pun tak ada. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, mereka menganut agama nenek moyang.
Orang seperti ini kondisinya, mungkin mendapatkan pemakluman karena kebodohannya. Karena Allah tak membebani manusia di luar kemampuan,
Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
“Dan Kami tidak akan meng-azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al-Isra’ : 15).
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allāh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ : 165).
Adapun kita yang tinggal di lingkungan banyak pengajian, atau kalau pun jarang sekarang ada internet, parabola dan sarana lainnya, maka tak ada pemakluman atas kebodohan kita.
Ketiga, itu namanya berpaling dari kebenaran (i’rodh).
Saat kemampuan untuk mendengar ilmu ada, namun tetap enggan belajar, ini menunjukkan ada sikap berpaling dari kebenaran atau disebut i’rodh.
Akibat dari sikap ini tak main-main, Allah memperingatkan,
وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Tha-Ha : 124)
Keempat, kufur nikmat.
Allah bekali manusia sarana-sarana menangkap ilmu, berupa pendengaran, penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri.
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78)
Cara mensyukurinya adalah, dengan menggunakannya sebagaimana fungsinya, yaitu untuk menerima ilmu.
Ketika seorang memiliki kemampuan untuk menggunakan penglihatan dan pikiran, untuk disyukuri, artinya tak ada sedikitpun yang cacat, kemudian ia enggan lenuntut Ilmu, maka ia telah kufur nikmat.
Di ayat-ayat selanjutnya, Allah menjelaskan akibat dari kufur nikmat ini.
فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ
Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 82)
يَعۡرِفُونَ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl : 83)
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (p**a) dibolehkan memohon ampunan. (QS. An-Nahl : 84)
وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ
Dan apabila orang zhalim telah menyaksikan azab, maka mereka tidak mendapat keringanan dan tidak (p**a) diberi penangguhan. (QS. An-Nahl : 85).
Demikian, Wallahua’lam bis showab.
Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta
23/09/2018
💌 Kunyah.. sunnah yg telah menjadi asing di tengah-kita kita..
=====
Kunyah adalah panggilan yg berawalan "abu" bagi laki, atau "ummu" bagi perempuan, misalnya: Abu Bakar, atau Ummu Salamah.
Kunyah ini sekarang sangat asing di sekitar kita.. bahkan di zaman ini memakai kunyah diidentikkan dg teroris, atau Islam radikal, atau garis keras!!
Padahal dulu di zaman Nabi -shollallohu alaihi wasallam- kunyah adalah sesuatu yg sangat lazim di masyarakat beliau.. beliau sendiri berkunyah Abul Qosim, bahkan semua isteri beliau berkunyah.. suatu hari Aisyah -rodhiallohu anha- pernah mengatakan:
"Ya Rasulallah, semua isterimu mempunyai kunyah, kecuali aku".
Maka beliau mengatakan kepadanya: "Ambillah kunyah, kamu (berkunyah) 'ummu abdillah'".
Maka Aisyah pun setelah itu dipanggil dg panggilan Ummu Abdillah hingga wafatnya, padahal beliau tidak pernah melahirkan sama sekali. [HR. Ahmad: 25181, dishahihkan oleh Al-Arnauth].
Bahkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah menyapa anak kecil yg sedih karena burungnya mati dg kunyah agar dia terhibur: "Wahai Abu Umair, apa yg dilakukan (burung) 'nughoir' (terhadapmu)?".
Oleh karena inilah, dalam Madzhab Syafii kunyah dianjurkan, hal itu telah ditegaskan oleh Imam Nawawi -rohimahullah-: .
"Disunnahkan memanggil orang yg mulia dg kunyah, baik laki-laki maupun perempuan, baik memiliki anak maupun tidak, baik berkunyah dg nama anaknya atau nama lainnya.
Dan tidak mengapa kunyah bagi anak kecil.
Bila orang yg berkunyah itu memiliki beberapa anak, maka sunnahnya memakai nama anak pertama untuk kunyahnya.
Dan Imam Syafii telah menegaskan akan tidak bolehnya berkunyah dg 'Abul Qosim', baik dia namanya Muhammad atau selainnya, karena adanya hadits shahih dalam masalah itu (yg melarangnya)". [Kitab: Roudhotut Tholibin 3/235].
Nah... sudahkan Anda berkunyah? .
Silahkan dishare, semoga bermanfaat..
📝Oleh: أُسْتَاذُ Musyafa Ad Dariny, MA - حفظه الله تعالى
🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu .
🌸🍁🌸🍁🌸🍁🌸🍁🌸🍁
18/09/2018
Besok,Lusa, dan Besok Lusa
Mari Puasa Sunnah,
*Jadwal Puasa SUNNAH MUHARRAM 1440 H*
⏱🗒🍴⏱🗒🍴⏱🗒
*_Puasa Senin-Kamis_:*
1⃣Kamis, 3 Muharram 1440 H/ 13 September 2018 M
2⃣Senin, 7 Muharram 1440 H/ 17 September 2018 M
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*_Puasa Asyura'_:*
1⃣Rabu, 9 Muharram 1440 H/ 19 September 2018 M (Sehari *sebelum* Puasa Asyura)
2⃣Kamis, 10 Muharram 1440 H/ 20 September 2018 M (Puasa Asyura')
3⃣Jumat, 11 Muharram 1440 H/ 21 September 2018 M (Sehari *setelah* Puasa Asyura')
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*_Puasa Ayyamul Bidh_:*
1⃣Ahad, 13 Muharram 1440 H/ 23 September 2018 M
2⃣Senin, 14 Muharram 1440 H/ 24 September 2018 M
3⃣Selasa, 15 Muharram 1440 H/ 25 September 2018 M
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*_Puasa Senin-Kamis_:*
1⃣Kamis, 17 Muharram 1440 H/ 27 September 2018 M
2⃣Senin, 21 Muharram 1440 H/ 1 Oktober 2018 M
3⃣Kamis, 24 Muharram 1440 H/ 4 Oktober 2018 M
4⃣Senin, 28 Muharram 1440 H/ 8 Oktober 2018 M
🔖 *Keterangan:*
🗞Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
*_“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku s**a jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”_ *
(HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).
🗞Para shahabat berkata:
*_"Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi."_ Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:*
*_"Di tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9."_ Tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.* (HR. Muslim, Abu Daud, Thabary dalam Tahdzibul Atsar, Baihaqi dalam Al-Kubra dan As-Shugra, serta Syu’abul Iman dan Thabrabi dalam Al-Kabir)
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa:
*_"Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya."_*
Al-Hafidz berkata (Fathul Baari):
*_"Puasa Asyura mempunyai 3 tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9, dan tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9 dan 11."_*
🗞Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
*_“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun."_* (HR. Bukhari, no.1979)
*CATAT tanggalnya, amalkan SEMAMPUNYA.*
Pahala ke Masjid
30/08/2018
🔥ORANG YANG MARAH BILA DITIMPA MUSIBAH
Oleh :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya : “Tentang orang yang marah-marah apabila ditimpa suatu musibah ?”
Jawaban beliau,
Manusia terbagi menjadi empat tingkatan dalam menghadapi musibah.
📌Tingkatan Pertama : Marah-Marah
Ini terbagi kepada beberapa macam:
1. Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Rabb-nya karena taqdir buruk menimpanya. Ini haram hukumnya, terkadang bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ
“Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan dan di akhirat.” [ QS. Al-Hajj : 11 ]
2. Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga haram.
3. Dengan anggota tubuh seperti menampar p**i, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya. Semua ini haram karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban.
📌Tingkatan Kedua : Bersabar
Seperti diucapkan oleh seorang penyair ; sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu. Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar.
Allah Ta'ala berfirman :
وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar.” [ QS. Al-Anfal : 46 ]
📌Tingkatan Ketiga : Ridha
Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.
📌Tingkatan Keempat : Bersyukur
Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah satu musibah menimpa seorang muslim kecuali dengannya Allah mengampuni dosa-dosanya sampai sebuah duripun yang menusuknya.”
______
📚 [ Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris ].
🌐 Artikel www.almanhaj.or.id
Semoga kita senantiasa di mudahkan mengikuti dan bangga kepada Sunnah Nabi Muhammad Shollallahu'alaihi Wasallam,
Allah subhanahu wa taala,, di langit
Berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadits
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
Incheon
