Kunjungan Konselor JKPPsiKUA Malaysia ke Yayasan Pesantren Al-Kasyaf bersama UIN SGD Bandung
Alhamdulillah, Yayasan Pesantren Al-Kasyaf menerima kunjungan istimewa dari para konselor dari Malaysia yang tergabung dalam Jawatankuasa Perundingan Psikologi KUA (JKPPsiKUA). Kunjungan ini difasilitasi oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai bagian dari program silaturahmi, studi banding, dan kolaborasi dalam penguatan pendidikan karakter dan bimbingan konseling berbasis nilai-nilai spiritual.
Dalam kunjungan ini, para tamu berdiskusi hangat dengan pimpinan yayasan, menyaksikan kegiatan santri, serta mengeksplorasi pendekatan dakwah dan pembinaan akhlak di lingkungan Pesantren Al-Kasyaf. Pertukaran ide dan semangat ukhuwah Islamiyah menjadi inti dari pertemuan yang penuh makna ini.
Semoga sinergi ini menjadi awal kerja sama yang lebih luas antar lembaga, lintas negara, dalam memajukan pendidikan Islam dan layanan konseling yang rahmatan lil ‘alamin
https://youtu.be/TDzMpvUP0jA
Pesantren Yatim Dhuafa - PPYD Al Kasyaf
Pesantren Yatim Dhuafa Al-Kasyaf merupakan lembaga sosial keagamaan dan pendidikan yang menaungi rat
SEKALI LAGI: TENTANG MARTABAT WUJUD
(Tulisan Kesepuluh di Bulan Ramadhan)
1. Sahabat Mang Geo, Tajalli itu intinya adalah “to manifest” pengejawantahan dari yang tersembunyi menjadi tampak. Atau bisa juga lebih dzahirnya sesuatu dari yang lebih batin. Bertajalli bisa juga disebut beremanasi. Tajalli juga disebut pancaran yang suci dari Allah swt. Tajalli itu bisa juga pengejawantahan dari yang Maha Batin sehingga menjadi lebih dzahir. Tajalli juga bisa disebut tanazzul, turun dari yang Paling Batin menjadi Paling Dzahir. Tajalli itu juga sahabat Mang Geo terjadi secara bertahap.
2. Sahabat Mang Geo, untuk memudahkan pembahasan hubungan antara Tuhan dan Ciptaannya, maka para sufi itu menganalogikan seperti hubungan Matahari dan Sinarnya. Namun ini hanya analogi untuk memudahkan pembahasan saja, bukan seperti yang dibayangkan seperti itu.
3. Dalam tradisi kaum sufi, Ketika ada matahari maka ada sinarnya. Tidak pernah sinar matahari itu terpisah dari Matahari. Begitu juga tidak pernah ciptaan Allah itu terpisah dari Allah swt. Namun ketahuilah bahwa tidak ada satu sufipun yang mengatakan bahwa Ciptaan itu identik dengan Penciptanya. Namun yang benar adalah tidak ada satu ciptaan yang tidak diketahui dengan IlmuNya, atau tidak ada satu ciptaanpun yang terlepas dari kehadiranNya.
4. Jadi jangan pernah coba-coba menyamakan antara wujud Allah dengan wujud ciptaanNya! Kalaupun sufi menyatakan “bersatu dengan Tuhan”, itu bukan bersatu dengan wujudNya, melainkan bersatu dengan sifatNya.
5. Ketahuilah sahabat Mang Geo, Pengejawantahan dari Yang Paling Batin menjadi Yang Paling Dzahir ini sangat berlapis-lapis atau bergradasi. Para sufi menyebutnya dengan lapisan-lapisan atau Martabat.
6. Tentunya sahabat Mang Geo, Martabat-martabat ini tidak terbatas, atau lapisan-lapisan ini sangat tidak terbatas. Namun Para sufi untuk memudahkan pembahasan mengenai Martabat ini ada yang membagi secara 5 besar, ada juga 7 besar ada juga 9 begitu seterusnya. Namun catatannya adalah sesungguhnya klasifikasi martabat ini adalah sekedar untuk memudahkan analisis saja. Agar kita mudah dalam mencerna.
7. Sahabat Mang Geo, perlu diketahui bahwa lapisan martabat tersebut “tidak terputus” melainkan ketersinambungan terus menerus dan tidak bisa dipisahkan. Jadi itu adalah “satu paket” yang tidak bisa dipisahkan.
8. Nah sahabat Mang Geo, Bagaimana memahami tajalliyah Allah, Para Sufi mengatakan bahwa untuk memahami tajalliyah Allah, kita perlu memahami tingkatan pancaran atau yang popular dengan Martabat.
9. Martabat yang Pertama adalah Allah sebagai yang tidak bisa didefinisikan apapun oleh siapapun. Para sufi mengatakan Allah sebagai Ghaibul Ghuyub, yaitu Allah yang tersebunyi dari yang apapun atau dalam kalimat lain berada diluar deskripsi. Dalam hal ini Allah Tidak tersentuh apapun, bahkan tidak bisa ditunjuk sebagai “ini” atau “itu”. Dalam Martabat pertama ini Allah sebagai apa adanya atau kalau bahasa sufinya Allah sebagai Tanzih (transenden), yang tidak bisa diserupai dan didefinisikan bahkan tidak bisa kita memberikan “kata apapun”. Allah sebagai tanzih adalah Allah yang tidak bisa kita akses apapun kepadaNya. Akal tidak akan sampai kepadaNya. Sebab kita adalah terbatas, bagaimana yang terbatas memahami yang tidak terbatas?. Ketahuilah bahwa akal kita terbatas dan tidak akan sampai kepada Allah. Disinilah Allah sebagai ghaibul ghuyub dan kita tidak bisa sampai kepadaNya. Kita hanya bisa menegasikan apapun tentang “sebutan” kepadaNya (laisa kamitslihi syai’un) atau teologi negatif. Yaitu selalu harus kita negasikan apapun yang kita sebutkan tetang Tuhan. Maka kita harus menegasikan semua tentangNya. Apapun yang kita tunjuk, yang kita sebut, yang kita fikirkan bukanlah “Allah”.
10. Martabat yang Kedua yaitu Martabat Ahadiyah. Allah mengenalkan diriNya sebagai Ghaibul Ghuyub, yaitu dalam martabat Ahadiyah, dimana Allah sebagai Maha Tunggal yang Esa dan tidak terbagi apapun, Qul Quwa Allah hu Ahad!
11. Martabat yang Ketiga yaitu Martabat Wahidiyah, Dari Martabat Ahadiyah ini kemudian Allah lebih mengenalkan dirinya melalui melalui nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Allah sebagai ghaibul ghuyub tidak bisa didefinisikan, maka Allah dengan kasih sayangNya, mengenalkan diriNya melalui asma dan sifatNya. Disinilah muncul asma dan sifat Allah yaitu Al Rahman, Al Rahim, Al Malik, Al Quddus begitu seterusnya atau yang sahabat Mang Geo kenal sebagai Asma ul Husna. Namun ketahuilah antara sifat dan Dzat tidak terpisah, melainkan tunggal. Inilah yang dimaksud dengan Martabat Wahidiyah yang merupakan Martabat yang Ketiga, dimana disini juga sudah termasuk Al a’yan al tsabitsah (nanti ditulisan berikutnya Mang Geo jelaskan ya..). Dan disini juga dalam keyakinan para sufi diciptakan Nur Muhammad.
12. Oh ya, Sahabat Mang Geo apa bedanya Ahad dan Wahid itu ada bedanya Ahad itu artinya Tunggal, tidak tebagi-bagi, tidak terkali-kali, tidak terbagi bagi, tidak terkurang-kurangi, atau tidak bisa tertambah-tambah. Sementara Wahid itu satu tapi terbagi, maksudnya wujudnya Ahad tetapi sifat-sifatnya “seperti terpisah karena ada 99” tetapi antara sifat dan Dzat tetaplah Ahad.
13. Martabat yang Keempat yaitu Martabat A’yan Tsabitah, yaitu model-model ciptaan tapi dia dalam keadaan tidak pernah berubah. Bisa juga disebut model-model dimana dia belum “mencium wujud”. Martabat ini bisa disebut sebagai “Blue Print” alam semesta.
14. Perlu diketahui, bahwa Martabat Ahadiyah, Wahidiyah dan A’yan al-Tsabisah termasuk ke dalam domain Ilahiyah. Selanjutnya martabat berikutnya adalah martabat ciptaan.
15. Martabat yang Kelima, Alam Ruhani yaitu alam ciptaan yang sifatnya ruhani. Atau yang popular sebagai alam jabarut. Yang berada di alam ini adalah para malaikat. Malaikat inipun posisinya berjenjang. Dari yang paling atas hingga yang paling bawah. Yang paling tinggi adalah malaikat muqarrabin, yaitu malaikat yang paling dekat ke dimensi ilahiyah. Dan pemimpin malaikat muqarrabin ini namanya malaikat karubiyyun. Yaitu malaikat yang paling dekat dengan dimensi ilahiyah. Malaikat ini yang hanya tau bahwa yang ada itu hanya mereka dan Allah swt. Pengetahuannya mereka hanya tau tentang Allah saja. Ada juga malikat level tengah, yaitu malaikat yang tau ada alam dibawahnya, ada juga malaikat yang terlibat dalam alam-alam dibawahnya.
16. Martabat yang Keenam yaitu Alam Malakut, atau yang disebut juga sebagai alam barzakh, atau alam khayal. Jin dan Syetan ini berada dialam ini. Alam mimpi berada di martabat ini. Kalau kita mimpi, seperti ada di alam dunia, tetapi tidak ada bukti kongkrit tiga dimensinya. Alam ini penuh informasi tentang segala imajinasi: Seperti alam dahulu, alam sekarang dan alam yang akan datang. Dalam hal ini disebut sebagai alam kreatif, dimana imajinasi hidup disini. Yang bisa menangkap kejadian-kejadian apapun adalah alam barzakh. Melalui alam ini kita bisa mengakses alam-alam yang lain. Metafisika dan Eskatologi tidak akan tertangkap oleh kita kalau kita tidak bisa berimajinasi. Maka ketika sahabat Mang Geo, mendengarkan ada “siksa neraka” maka yang akan muncul adalah imajinasi. Jadi imajinasi itu adalah merupakan bagian dari tanazzul Allah swt, dalam artian Allah juga hadir di alam imajinasi tersebut. (untuk pembahasan ini, nanti Mang Geo akan jelaskan ditulisan mendatang)
17. Martabat yang ketujuh yaitu martabat Alam Syahadah. Yaitu alam tanazzul yang paling akhir, atau alam tajalli yang paling akhir. Martabat alam syahadah ini alam empiris yang mengandung aspek fisik, yaitu alam tiga dimensi.
18. Demikian sahabat Mang Geo semoga bermanfaat dan berkah.
19. Salam-Mang Geo
SHAUM DAN TIGA TAHAP DITURUNKANNYA QURAN
(Tulisan keempat Bulan Ramadhan)
1. Sahabat Mang Geo ketahuilah bahwa Tujuan dari Ibadah Shaum adalah agar orang beriman menjadi Taqwa.
2. Pada tulisan pertama Mang Geo, menulis tentang taqwa, silahkan sahabat baca terlebih dahulu, kemudian ketahuilah bahwa salah satu sifat orang bertaqwa itu menjadikan al-Quran sebagai “harga mati” atau menjadikan Quran sebagai “Hudan”.
3. Dalam tulisan ini Mang Geo akan memfokuskan pada proses turunnya Al-Quran secara bertahap, dari diturunkannya ke alam yang batin hingga alam yang dzahir.
4. Ketahuilah sahabat Mang Geo, yang dimaksud Quran itu turun bukan seperti turun hujan yang langsung jatuh ke bumi, melainkan “turun” disini adalah di “tajaliyyahkan” dari tiga alam. Yaitu Alam Lauful Mahfudz, Alam Baytul Izzah dan Alam Dunia.
5. Alam lauful mahfudz adalah alam dimana ruh-ruh berada, Alam Baytul Izzah adalah alam imajinasi (alam barzakh), dan alam dunia adalah alam fisik yang terindra. Berikut Penjelasannya:
6. Tahap Pertama, turunnya Al-Qur’an, diturunkan ke Lauhul Mahfudz secara keseluruhan. Dalil pertama ini sahabat Mang Geo dapat dilihat dalam QS. Al-Buruj ayat 21-22 sebagai berikut:
بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ (٢١) فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۢ (٢٢)
Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh (QS Al-Buruj [85]: 21-22).
7. Para mufassir sepakat, bahwa ayat ini menjelaskan turunnya Al-Qur’an di Lauhul Mahfudz.
8. Tahap kedua, merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan malam lailatul qadar. Dalil yang menjadi landasan untuk fase ini adalah firman Allah swt berikut:
9. شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al-Baqarah [2]: 185).
10. Ayat Al-Qur’an di atas juga diperkuat hadits berikut:
11. فُصِلَ القُرْآنُ مِنَ الذِّكْرِ أي: اللّوح المحفوظ، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ العِزَّةِ مِنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَجَعَلَ جِبْرِيلُ عليه السّلام يَنْزِلُ بِهِ عَلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم
Artinya: Al-Qur’an dipisahkan dari ad-Dzikr (Lauhul Mahfudz) lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menyampaikannya kepada Nabi saw (HR Hakim dalam al-Mustadrak).
12. Para mufasir, seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di, dan pakar tafsir lainnya, sepakat bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah.
13. Tahap ketiga, ini merupakan fase terakhir dari turunnya Al-Qur’an. Pada tahap ini, Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Ayat-ayat yang turun berangsur sesuai dengan konteks peristiwa saat itu.
14. Dalil yang menjadi dasar fase ketiga ini adalah firman Allah swt berikut: نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ (193) عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيّٖ مُّبِينٖ (195) Artinya: Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas (QS As-Syu’ara [26]: 193-195).
15. Sebenarnya, dari Lauhul Mahfudz Jibril menerima Al-Qur’an dari malaikat penjaga secara berkala selama dua puluh malam. Lalu Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw berangsur selama dua puluh tahun. Ada yang mengatakan lebih dari itu. Sebenarnya bukan Al-Qur’an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Tetapi juga kitab-kitab umat terdahulu diturunkan pada bulan suci ini.
16. Rasulullah saw bersabda:
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ.
Artinya: Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal delapan belas Ramadhan. Dan Al Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan. Ibnu Katsir juga menjelaskan: Allah swt mengistimewakan bulan puasa dari bulan-bulan lainnya, dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Pada bulan ini, Allah juga menurunkan kitab-kitab yang lain pada para nabi-Nya (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, halaman 215). Melalui hadits di atas dan diperkuat pernyataan Ibnu Katsir, kita bisa mengambil poin penting. Allah memuliakan bulan Ramadhan bukan saja dengan diturunkannya Al-Qur’an, tetapi juga semua kitab-kitab umat terdahulu. Hanya saja, jika kitab-kitab yang lain diturunkan sekaligus kepada para nabi, Al-Qur’an tidak demikian. Tetapi melalui berbagai tahap dan juga berangsur sesuai konteks tertentu. Mengenai diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan,
Allah swt berfirman:
رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ شَهۡرُ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al-Baqarah [2]: 185).
17. Terkait ayat di atas, para mufassir (ulama pakar tafsir) sepakat bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, tepatnya pada malam lailatul qadar.
18. Pada malam itu, Al-Qur’an diturunkan secara utuh (30 juz) dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah. Lauhul Mahfudz merupakan kitab tempat Allah mencatat segala peristiwa yang terjadi di alam semesta. Dari peristiwa terkecil sampai terbesar, yang akan dan telah terjadi, semuanya tercatat di kitab catatan itu. Termasuk setiap daun yang jatuh di bumi ini, tidak pernah terlewat dari sistem input kitab catatan itu (Tafsir at-Thabari, juz 5, halaman. 211).
19. Sementara Baitul ‘Izzah sendiri merupakan rumah yang berada di langit dunia. Syekh Az-Zarqani (w. 1948 M) dalam kitab Manahil al-‘Irfan menjelaskan, bahwa Baitul ‘Izzah merupakan berita ghaib (di luar logika), yang hanya bisa diketahui melalui Nabi Muhammad saw sebagai orang yang ma’shum (terjaga dari perbuatan maksiat)
20. Setelah itu Jibril berangsur menurunkan Al-Qur’an padanya (Nabi Muhammad saw) selama waktu tertentu, sampai selesai Al-Qur’an diturunkan. Turunnya selama beberapa tahun, lebih dari 20 tahun lamanya. Demikian tiga tahap atau fase turunnya Al-Qur’an yang perlu kita ketahui.
21. Dengan demikian sahabat Mang Geo ketahuilah bahwa turunnya Al-Quran itu melalui tiga tahap. Tahap Alam ruh, tahap alam barzakh dan tahap alam indrawi. Dengan demikian al-Quran sesungguhnya menyentuh dimensi batin dan dimensi dzahir.
22. Namun haruslah diketahui bahwa sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar mu’jizat yang nyata, dan tidak ada keraguan padanya.
23. Maka Al-Quran ini sangat menghujam baik kedalam maupun keluar. Ke dalam yaitu ke dalam alam ruh, ke dalam nafsiyah, ke dalam qalbu, dimana kita akan bertemu dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyehatan ruh, perbaikan nafsiyah dan perbaikan qalbu. Juga Al-Quran juga menghujam ke dunia luar, yaitu pada kehidupan pribadi, sosial, maupun alam semesta.
24. Tidak ada satupun isu yang penting yang terlewat oleh Al-Quran. Karena Al-Quran diturunkan oleh Allah Sang Maha Mengetahui, maka tidak akan satu masalahpun di dunia ini, yang tidak terjawab oleh Al-Quran. Maka jadikanlah al-Quran sebagai pedoman.
25. Sebagaimana dalam QS. Albaqarah ayat 2 bahwa tidak ada keraguan padanya (Al-Quran) dan Al-Quran merupakan hudan (pedoman) bagi orang-orang yang muttaqin.
26. Pedoman Al-Qur’an haruslah menjadi pedoman dari segala pedoman. Karena Al-Quran merupakan firman Allah yang pasti benarnya, dan jika dijadikan pijakan, maka akan panceg, dan tidak akan mungkin mendzalimi manusia bahkan alam semesta. Maka sebaliknya, jika al-Quran tidak dijadikan pedoman, maka akan hancurlah dunia, sebab manusia-quran-dan bumi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
27. Maka Pada Saat Shaum ramadhan ini, hendaklah kecintaan kita kepada Al-Quran ini bertambah. Bukan sekedar dibaca, dihafalkan, namun apapun yang difirmankan Allah melalui Quran haruslah diwujudkan dalam kehidupan dimuka bumi sekemampuan kita semua.
28. Maka Ketaqwaan seseorang sesungguhnya terletak pada sejauhmana seseorang dapat mengimplementasikan Quran baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Dan yang menjadi pembeda (furqan) bagi orang-orang yang muttaqin (bertaqwa) dengan orang yang tidak bertaqwa terletak pada “apakah Al-Quran ini dijadikan “pedoman harga mati” dalam hidup, atau hanya sekedar bacaan saja, yang maknanya hanya terbatas segitu saja.
29. Maka dari sekarang, bacalah Al-Quran, hafalkan dan amalkan dalam kehidupan. Baik dalam dimensi pribadi, keluarga maupun masyarakat. Maka insyaa Allah kebahagiaan dunia dan akherat akan terwujud.
30. Jadi kalau shaum ramadhan, sahabat Mang Geo tidak merasa mencinta, tertarik, bahkan tidak ada rasa semangat untuk mewujudkan al-Quran dalam kehidupan, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya orang tersebut masih jauh dengan karakter orang yang bertaqwa, bahkan kalaupun dia shaum, bisa jadi hanyalah sekedar menahan lapar dan haus belaka.
31. Maka semoga dengan shaum ini rasa keimanan kita kepada Al-Quran semakin bertambah dan semakin meningkat ghairah untuk menegakannya baik dalam batiniyah kita maupun dalam alam indrawi kita seperti dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
32. Salam-Mang Geo.
SHAUM DAN TERBUKANYA MARTABAT WUJUD
(Catatan Ketiga Bulan Ramadhan)
1. Sahabat Mang Geo, ketahuilah bahwa Shaum adalah sesungguhnya pintu gerbang menuju alam ma'rifah.
2. Shaum itu terbagi menjadi tiga: (1) Shaum Syareat: Yaitu shaum dari yang membatalkan puasa secara fisik, (2) Shaum Tarekat” yaitu shaum yang menjaga hati dari dosa-dosa yang berkaitan dengan Qalbu, (3) Shaum secara Hakekat, yaitu menjaga ruh agar tetap berada dalam ketersingkapan WajahNya dan tidak berpaling selain kepadaNya.
3. Sahabat Mang Geo, hari ini kita akan membahas sedikit “kasyaf” dalam shaum hakekat. Yaitu menyaksikan ketersingkapan Allah. Namun Mang Geo akan membahas pada ketersingkapan Wujud.
4. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: “Manusia itu sedang tertidur. Ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.
الناس نيام فإذا ماتوا انتبهوا
"Semua manusia tertidur (di dunia ini); setelah mati dia terbangun.
5. Sahabat Mang Geo, Ketahuilah bahwa dunia ini adalah ilusi dan tidak memiliki eksistensi hakiki secara wujudi. Artinya dunia yang kita lihat ini sesungguhnya ilusi dan tidak memiliki wujud yang sejati, atau sebenarnya.
6. Apapun yang kita lihat di alam indrawi ini seperti dirin kita dan juga benda-benda di sekitar kita pada prinsipnya bukanlah sesuatu yang seperti kita lihat atau persepsi. Melainkan hayalan kita saja “seakan-akan” semuanya itu “berdiri sendiri” atau “mengada secara sendiri tanpa ada yang mengadakan di belakangnya.
7. Sahabat Mang Geo, Hayalan kita menyatakan bahwa seakan akan apa yang terjadi di alam dunia (indrawi) ini, merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah (otonom). Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Sesungguhnya hanya Allah saja yang ada, dan tidak ada selain wujudnya.
8. Namun dengan demikian meskipun semua mimpi, tetapi bukan berarti tidak bermakna, melainkan pantulan secara simbolik dari zat yang Maha Kuasa.
9. Apapun yang ada di ala mini sesungguhnya adalah “pancaran” dari Sang Ghaibul Ghuyub yaitu Allah swt.
10. Sahabat Mang Geo, kenyataan yaitu alam indrawi, yaitu alam yang mengitari kita sesungguhnya adalah “citra” dari Sang Khaliq yaitu Allah swt.
11. Maka sahabat Mang Geo, Pada Prinsipnya kita harus mengimani bahwa sesungguhnya Tuhan itu “ada” dan selain tuhan itu tidak ada. Al-wujudu waahidun laa syarikalah. Maksudnya adalah bahwa kita harus memahami bahwa ketika kita melihat sesuatu “yang ada” jangan dipisahkan dengan “Pengada SejatiNya” yaitu Allah swt.
12. Sahabat Mang geo, alam yang kita persepsi sesungguhnya adalah imajinasi. Apapun yang kita persepsi sesungguhnya adalah “pancaran” dari Ghaibul Ghuyub. Ghaibul Ghuyub artinya Dzat Allah yang tidak tersentuh apapun dan meliputi semuanya.
13. Semua yang “ada” (yang hadir) sesungguhnya berasal dari pancaran hakekat Ghaibul Ghuyub. Jadi yang “ada” itu sesungguhnya adalah ghaibul ghuyub, yang lain sesungguhnya adalah tidak ada melainkan hanyalah “pancaranNya” saja atau “bayangannya saja”.
14. Sahabat Mang Geo, dapatlah meng-ilustrasikannya adalah seperti hubungan Matahari dan Sinarnya. Dimana keberadaan Matahari otomatis memancarkan sinarnya. Dan ketahuilah Sinar sangat bergantung pada matahari. Tapi sinar tidak identik dengan mataharinya. Tetapi ketika melihat pancaran sinar matahari, ingatlah bahwa itu bukanlah yang sebenarnya melainkan hanya pancaran, yang sebenarnya adalah “Matahari” itu sendiri.
15. Sahabat Mang Mang Geo ketahuilah bahwa tidak ada satu sufipun yang menyatakan bahwa keberadaan pancaran adalah indentik dengan Tuhan. Karena tidak mungkin Ghaibul Ghuyub identik dengan makhluknya. Jadi tidak pernah sufi itu mengatakan bahwa Ciptaan itu tidak identik dengan Pencipta.
16. Adapun sifat Ghaibul Ghuyub itu adalah: (1) Tak terbatas, (2)Tak terhingga, (3)Absolute, (4)Hadir dalam segala realitas, (5)sekaligus diluar dari Segala Realitas. Dengan demikian ketahuilah bahwa tidak ada sesuatupun yang meliputi apapun kecuali Allah.
17. Ketahuilah bahwa struktur ontologis (martabat) wujud ini adalah : (1) Ghaibul Ghuyub, Allah yang merupakan keghaiban dari segala keghaiban, tidak bisa disentuh bahkan didefinisikan (2) Martabat Ahadiyah: Tunggal tetapi sudah bisa disebut ahad (3) Martabat Wahidiyah, alam asma wa sifat (4) Alam Ruhani, atau alam jabarut, alam yang paling bathin (5) Alam imajinasi (malakut, Khayal, Amstal, barzakh), (6) Alam syahadah atau alam dunia atau alam empiris.
18. Alam semesta merupakan tajalliyah Allah, artinya menjadi lebih lahirnya sesuatu yang tadinya lebih bathin. Alam semesta itu tercipta dalam berbagai level atau martabat. Dari yang Maha Ghaib hingga kemudian ke level yang dzahir.
19. Semua ciptaan itu pancaran dari Allah swt, tetapi sekali lagi sahabat Mang Geo, tidak ada sesuatupun yang identik dengan pencipta.
20. Sesuatu yang ada, yang terdiri dari beragam bentuk adalah aneka rupa dari fantasi kita atau imajinasi kita, tetapi pada saat bersamaan apa yang ada dan beraneka ragam itu sesungguhnya adalah tajaliyah Allah, dan yang paham ini adalah orang-orang yang bertarekat dengan baik.
21. Jadi jangan sampai kita “mengidentikkan” sesuatu apapun dengan Ghaibul Ghuyub, jadi jangan pernah mengatakan bahwa setiap unitisasi adalah bagian dari Tuhan, karena Dzat secara apapun tidak pernah tersentuh, melainkan kita harus memahami bahwa dengan “ilmuNya” Allah hadir dan mengetahui atas segala sesuatu.
22. Kembali kepada hadist tadi "Semua manusia tertidur (di dunia ini); setelah mati dia terbangun. Maksudnya adalah kita semua seperti bermimpi di alam ini, apapun yang kita lihat di alam ini adalah seperti di alam mimpi, dimana perlu kita “bangun” dalam mentakwilkannya. Ungkapan “mati” disini sahabat Mang Geo adalah bukanlah kejadian “biologis” melainkan “kita harus melakukan peniadaan diri (fana)” sehingga kita akan melihat dan menyaksikan bahwa Hanya Allah saja yang mewujud dalam realitas ini.
23. Jadi sahabat Mang Geo, kembali kepada shaum itu sendiri, semoga dengan shaum ini kita bisa semakin memahami bahwa sesungguhnya hanya Allah saja yang Maujud di alam ini, sementara yang lainnya adalah realitas yang bergantung pada Allah saja.
قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ
اَللّٰهُ الصَّمَدُ
لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ
وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
24. Barakallah semoga bermanfaat. Tulisan ini tentunya ada kelanjutannya, Jika Sahabat bingung, silahkan sahabat berdiskusi dengan Mang Geo.
25. Salam-Mang Geo
SHAUM MENGUNDANG KEMENANGAN LAHIR DAN BATHIN (Catatan Ramadhan Ke-2)
1. Sahabat Mang Geo dalam Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa Shaum adalah ibadah yang “dituliskan”. Ada kalimah “kutiba”, kutiba artinya telah ditetapkan. Kata "kutiba" merupakan bentuk fi'il madli dengan shighat mabni lil majhul. Kata "kutiba" berasal dari kata kerja aktif "kataba" yang berarti "menulis". Kata "kutiba" digunakan untuk penegasan dan penetapan, artinya diwajibkan dan ditetapkan. Kata "kutiba" digunakan karena seolah-olah sudah tertulis begitu lama sehingga tetap telah menjadi kewajiban.
2. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
3. Yang dimaksud telah ditetapkan (kutiba) artinya telah di-SK-kan, oleh Allah swt sebagai sesuatu yang niscaya dalam kehidupan.
4. “Kutiba” itu bukan saja berkaitan dengan Shaum saja (Albaqarah 183), Ada 13 Kata kutiba, dimana selain dengan shaum kutiba juga berkaitan: (1) Kutiba juga berkaitan dengan Hukum Qishash, (2) Kutiba juga berkaitan dengan Wasiyat yaitu dalam Albaqarah ayat 180 (3) Kutiba juga berkaitan dengan Perang, Qs. Albaqarah ayat 216 (4) Kutiba yang berkaitan dengan pengurusan anak-anak yatim dalam QS. Annisa ayat 127.
5. Ketahuilah sahabat Mang Geo, kutiba yang berkaitan dengan Qishash, wasiyat, perang, dan juga kepengurusan anak yatim tidaklah bersifat individual, melainkan memerlukan keterlibatan Negara.
6. Sahabat Mang Geo, Jadi selain kutiba shiam, ada juga kutiba lain yang harus kita lakukan.
7. Ketahuilah, pada semua agama, bahkan kepercayaan, bahkan sains-pun mengenal yang namanya Puasa.
8. Namun tidak semua puasa itu disebut “shaum”, karena shaum itu ada kriteria tertentu.
9. Sahabat Mang Geo juga barangkali mengenal puasa intermitten yaitu puasa 16 Jam yang popular dalam usaha diet tubuh. Atau setiap pasien yang mau dioperasi atau di periksa di Lab harus puasa dulu. Namun ini berbeda dengan shaum. Apa yang membedakannya?
10. Ketahuilah Sahabat Mang Geo, Shaum secara bahasa artinya “menahan”.
11. “Menahan disini” artinya “mengendalikan”, “menempatkan” sesuai waktunya. Shaum itu artinya melatih “menahan diri” untuk tidak berbuat yang membatalkan shaum, sampai waktu yang telah ditetapkan.
12. Dalam Shaum juga belajar melatih pengendalian diri manusia, yang hanya menjadikan Allah sebagai “komandan” dalam hidupnya. Sehingga inti dari shaum adalah hanya tunduk 100% pada “instruksi” Allah saja dalam hidup, tidak pada yang lain.
13. Sekalipun makanan itu halal, tetapi kalau kata “komandan” (Allah) belum mengizinkan, maka kita tidak berani menyentuhnya.
14. Shaum melatih bahwa kepemimpinan itu hanya pada Allah saja. Allah sebagai waliyyul mu’minin. Selain daripada Allah termasuk hawa nafsupun tidak boleh ditaati.
15. Kembali kepada puasa intermitten tadi, disini jelas bahwa puasanya barangkali sama, tetapi dalam puasa intermitten, tidak ada “unsure teologisnya”, melainkan hanya pertimbangan sains saja dalam bidang diet.
16. Berbeda dengan Shaum, Shaum adalah Ibadah. Yaitu Suatu amaliyah yang dilakukan terdorong oleh kepatuhan kepada siapa yang diyakini Maha Kuasa.
17. Kegiatan Ibadah itu menyadarkan manusia bahwa dia adalah makhluk yang terdiri dari dua dimensi. Yaitu dimensi ruhani dan dimensi material atau fisik.
18. Karena kita punya dua dimensi, maka berarti akan ada dua eksistensi. Kalau ada jasmani yang sakit, berarti bisa juga ada ruhani yang sakit. Kalau ada kemiskinan material, maka akan ada kemiskinan spiritual. Kalau ada kekayaan material maka akan ada kekayaan spiritual, begitu seterusnya.
19. Adanya dua dimensi ini yaitu dimensi ruhani dan jasmani, Mengingatkan manusia bahwa dia tidak hanya hidup di dunia ini, tetapi setelah dia mati akan bertemu dengan Tuhan dan akan mempertanggungjawabkan amal-amal yang dilakukannya.
20. Shaum mengingatkan manusia agar mendidik ruhani dan jasmani agar sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan. Bahwa baik ruhani maupun jasmani harus “tunduk” pada “komandan pemilik alam semesta” yaitu Allah swt.
21. Maka jangan lupa sahabat Mang Geo, bukan saja ragawi tapi ruhani juga harus dibenahi. Sebenarnya shaum itu mendidik manusia agar ia bisa memelihara jasmani dan rohaninya agar mencapai taqwa.
22. Sahabat Mang Geo, Ada dua lawan pokok dalam hidup pertama: nafsu, dan yang kedua: syeitan. Nafsu datang dalam diri, syaitan datang dari luar diri, baik dari Jin ataupun Manusia (QS. An-Nas). Yang paling bahaya syeitan duet maut atau berkolaborasi dengan nafsu.
23. Ketahuilah Nafsu itu tidak bisa kita bunuh, yang perlu hanya kita kendalikan. Berbeda dengan syetan, syetan itu harus musuhi kalau bisa kita bunuh. Hanya sayang Syetan tak bisa kita bunuh karena mereka sudah diberi penangguhan sampai hari kiamat oleh Allah swt.
24. Sahabat Mang Geo, Kalau nafsu dibunuh makan tidak akan ada keturunan, Kalau nafsu dibunuh maka tidak akan ada peradaban karena peradaban muncul karena nafsu kuasa, begitu seterusnya. Tetapi nafsu ini harus dikendalikan sehingga ia tidak melampui batas. Pengendalian nafsu adalah hal utama dalam hidup dan itu yang sesungguhnya yang disasar oleh Shaum. Bagaimana mengendalikan nafsu supaya nafsu tertata dan tunduk dibawah bimbingan akal dan wahyu.
25. Oh ya Sahabat Mang Geo, Ayat tentang shaum turun di Bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyah, artinya shaum ini merupakan sesuatu yang dipersiapkan untuk menghadapi ujian besar dari Allah swt. Karena sebulan setelah ayat tersebut diturunkan terjadi kontak senjata antara kaum muslimin dan Kaum Musyrikin Mekkah yaitu Perang Badar.
26. Sahabat Mang Geo bayangkan bagaimana Kondisi Perang dimana emosi berkecamuk, situasi sedang panas, iklim juga panas, perut lapar tetapi Allah menyuruh shaum. Dimana shaum itu asupan makanan sangat terbatas.
27. Namun Allah menyuruh shaum supaya emosi terkendali dan akhirnya perang Badar yang tidak seimbang dimenangkan oleh kaum muslimin.
28. Dalam Kondisi Shaum sesungguhnya secara hakikat adalah kondisi yang “fit” untuk membuka “alam syahadah” maupun “alam kemenangan” sehingga disana sesungguhnya rahasia kemenangan.
29. Shaum sesungguhnya melatih kita membuka kemenangan. Baik kemenangan yang sifatnya bathiniyah maupun kemenangan yang sifatnya material.
30. Dengan shaum bathiniyah kita mengundang kemenangan yaitu “kemenangan maghfirah Allah” (Silahkan lihat QS. Alfath ayat 1-2), dengan shaum kita juga mengundang kemenangan perjuangan fisik, (silahkan baca perjuangan para Nabi).
31. Mengapa Shaum membuka kemenangan? Karena ketika semua berada dalam “komando” Allah, tidak ada sesuatupun yang mengalahkannya. Laa Haula wa laa Quwwata illa billah.
32. Itu saja tulisan kedua Mang Geo.
33. Semoga ada manfaatnya ya. Gpp gak dibaca juga inimah arsip renungan mang geo aja.
34. Salam Mang Geo!
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jalan Sukamaju 04/10 Desa Cimekar Kecamatan Cileunyi
Bandung
40623
