12/11/2022
Ayah, terima kasih telah menjadi orang yang berhenti menggandeg tanganku dan mengawasi langkahku di saat yang tepat.
Cerbung Acha bisa di baca gratis di sini, syarat nya tinggal s**ai hlman dan share ke tman-teman kmu:)
12/11/2022
Ayah, terima kasih telah menjadi orang yang berhenti menggandeg tanganku dan mengawasi langkahku di saat yang tepat.
Tidak ada lagi lelaki yang kuat seperti ayah, yang rela melakukan semuanya demi keluarga
(Kejadian Di Kantin)
*Selamat membaca😊 jangan lupa komen dan like 🙏*
Dua Minggu berjalan sikap Lio kembali dingin dan datar kepada Aqila. Pergi dan p**ang tanpa mengenal waktu. Meninggal Aqila sendiri di rumah tanpa siapa-siapa.
Sama seperti lagi lainnya. Baik Lio dan Aqila sudah selesai dengan seragam sekolah mereka.
Lio menatap Aqila sekilas. "Lo berangkat sendiri. Gue luan."
"Kak."
"Apa?"
"Kita bareng ya kak. Aqila udah siap." Aqila mendekat ke arah Lio. Memang selama dua Minggu ini semenjak Lio dan Zara berpacaran Lio dan Aqila sangat jarang ke sekolah untuk bersama-sama.
"Gue gak bisa." Tanpa bersalah Lio langsung pergi meninggalkan Aqila sendiri.
"Hiks hiks kak Lio," tangis Aqila pecah. Sampai kapan ia akan bertahan seperti ini.
Setelah resah dengan tangisannya Aqila memesan ojek online. Ia tidak ingin terlambat ke sekolah dan ia tidak mau berlarut-larut akan hal itu. Aqila sudah dalam perjalanan dari tadi ia hanya melamun sampai ia tidak sadar jika sudah sampai di sekolah.
"Mbak sudah sampai," ucap pengendara ojek online tersebut membuyarkan lamunan Aqila.
Segera Aqila merogoh kantung bajunya. Mengambil beberapa lembar uang dari sana. "Ini pak, terima kasih."
"Mbak ini kembaliannya!" teriak pengendara ojek online tersebut. Aqila memberi ia terlalu banyak.
"Ambil saja pak." Aqila tersenyum tipis dan melanjutkan jalannya.
Aqila berhenti sebentar di parkiran sekolah. Tidak ada motor Lio di sana. 'Diaman kak Lio?' Tadi pagi Lio memang membawa motor ke sekolah, tapi sekarang motor Lio tidak ada di parkiran.
Teriakan beberapa siswi membuat Aqila menoleh ke belakang. Aqila melihat suaminya yang baru datang, tapi tidak sendiri. Lio bersama...
"Zara," guman Aqila.
Tatapan Lio dan Aqila bertemu untuk sesaat sebelum Lio memutuskannya. Lio membukakan helm yang di pakai Zara membuat para murid perempuan yang berada di sana teriak histeris.
Aqila berlari dari parkiran. Apakah ia sudah sangat mencintai Lio. Kenapa rasan
(Key & Danu tau!)
*Selamat hari kenaikan Tuhan Yesus buat yang beragama Kristen dan
Selamat merayakan hari Raya Idul Fitri buat yang beragama Islam🙏 selamat membaca jangan lupa komen dan like😊*
*
*
*
*
Bel p**ang sekolah berbunyi nyaring di SMA Nusa Bangsa. Aqila dengan tergesa-gesa membereskan buku-bukunya. Ia tidak mau mengambil pusing dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Saat ini pikiran Aqila hanya satu, meminta penjelasan pada suaminya.
"Yuk," ajak Aqila melihat Key sudah siap dengan tasnya. Aqila dan Key menyelusuri koridor menuju parkiran.
Langka mungil gadis itu terhenti saat melihat kejadian di hadapannya.
"Zara," panggil Lio saat berada di depan mobil miliknya bersama dengan sahabatnya.
Yang di panggil hanya menoleh dengan p**i yang bersemu merah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Lo p**ang bareng gue."
Degg!
Bagai tersambar petir Aqila saat Lio mengajak Zara p**ang bersama dengan mereka. Apa maksud Lio sebenarnya.
"Kak," cicit Aqila menundukkan kepalanya dalam.
Aqila menepuk pundak Aqila membuat sang empunya menoleh. "Lo kenapa?"
Aqila menggeleng pelan pertanda ia baik. "Emangnya Aqila kenapa Key?" Aqila bersikap biasa saja. Karena di seluruh penjuru SMA Nusa Bangsa tidak ada yang tau hubungan Lio dan Aqila.
"Gak," ucap Key menjeda. "Ayok." Mereka melanjutkan jalannya untuk sampai ke parkiran. Sudah ada Lio, Gara, Danu, Satria, Desi dan juga Zara.
Aqila menatap Zara sebenarnya. Sakit, sangat sakit yang ia rasakan.
"Lo p**ang sendiri."
Mata Aqila sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Lio baru saja. Ia kira mereka akan p**ang bersama. Tapi Aqila salah. Lio hanya akan menghantar Zara kekasih baru nya.
Aqila semakin menunduk dalam. Ingin ia menangis sejadi-jadinya di sana tapi ia tidak bisa melakukan hal itu. 'Hiks sakit. Kenapa kak Lio sejahat ini sama Aqila? Salah Aqila apa?' batin Aqila.
"Aqila p**ang bareng gue." Key menarik tangan Aqila menuju mobil miliknya. Lio menatap punggung Aqila ya
(Truth or Dare)
*Selamat membaca, yuk komen yang bawel🙏😊*
*
*
Di sebuah kelas beberapa murid sedang bermain permainan yang sedang viral saat ini. Truth or Dare.
"Lo pilih apa?" tanya Desi kekasih Gara pada cewek cupu di hadapannya.
"Dare."
"Dare aja."
"Dare d**g!"
Desak beberapa murid yang ikut bermain. "Yau dah gue pilih dare," ucap cewek cupu tersebut.
Desi tersenyum sinis. Rencana nya berhasil mengajak cewek cupu itu bermain truth or dare. Tidak sia-sia.
"Ok karena lo udah pilih dare. Jadi dare buat lo. Lo harus nyatain perasaan lo ke kak Lio." Cewek cupu itu menggeleng tidak percaya. Lio most wantted SMA ini. Itu tidak mungkin ia lakukan.
"Gak mau!" tolaknya mentah-mentah.
"Lo jangan berani nolak ya! Lo kan tadi yang pilih dare. Jadi lo harus lakuin dare dari gue!" ucap Desi menaikkan intonasi suaranya membuat si cewek cupu itu menunduk takut.
"Tapi kan..."
"Gak ada tapi-tapian. Lo harus nembak kak Lio sekarang juga!"
Desi dan geng nya mulai menarik si cewek cupu menuju kelas Lio. Banyak yang menatap mereka bingung tapi Desi tidak memperdulikan hal itu. Ia lebih ingin melihat ekspresi Lio saat cewek cupu itu menyatakan perasaannya.
"Cepat masuk!" Desi dan geng. Ya sudah berada di depan kelas sebelas IPA satu. Kelas Lio. Desi dengan tergesa-gesa menyuruh cewek cupu itu untuk masuk.
Cewek cupu itu mulai gemetar. Keringat membanjiri pelipisnya. Ia sudah tau apa nanti jawaban Lio. Pasti di tolak. "Des bisa gak jangan hari ini? Atau jangan di sekolah."
"Gak. Harus hari ini." Dengan kasar Desi mendorong cewek cupu itu masuk ke dalam kelas Lio.
Semua mata tertuju padanya. Banyak mulai berbisik-bisik apa yang dilakukan adik kelas mereka itu. Entah kebetulan atau apa saat ini posisi Lio tepat berada di depan cewek cupu itu.
Lio hendak berbalik menuju meja nya. Tapi suara panggilan itu menghentikan langkahnya. "Kak Lio."
Lio menaikan sebelah alisnya. Pertanda ia bertanya kenapa gadis di hadapannya itu memanggil dirinya.
(Parkiran)
*Selamat membaca🙏 sesuai janji. Komen yang bawel tentang cb ini🥺😊*.
*
*
*
Hubungan Lio dan Aqila semakin harmonis. Aqila merasa kalau Lio mulai mencintai dirinya. Begitu juga jika di sekolah Lio berserta teman-teman sering menjumpai Aqila dan Key. Walau hanya untuk mengajak ke kantin bersama.
Sedangkan Sasa masih saja membuat rencana buruk untuk Aqila. Kesigapan Lio sebagai sang suami membuat Sasa tidak bisa berbuat apa-apa kepada Aqila.
Tiga bulan hubungan suami istri itu berjalan dengan baik. Sampai hari itu tiba, saat Lio dan sahabatnya duduk di kantin.
"Sayang," panggil seseorang wanita manja.
"Sayang, kamu?" jawab Gara sambil cipika cipiku dengan cewek sexy tersebut.
Lio Danu dan Satria yang menyaksikan kejadian tersebut tidak paham. Mereka saling menatap dan beralih menatap Gara.
"Kenalin pacar gue."
Sontak mereka berdua takjub dengan Gara. Sejak kapan Gara pdkt, secepat itu Gara mendapatkan seorang kekasih.
"Sejak kapan lo punya cewek?" tanya Danu.
"Bukannya lo gak laku?" tanya Satria tidak berdosa.
Gara berdecak kesal. "Lo yang gak laku!" sewot Gara.
Gara pergi dengan kekasihnya tapi sebelum itu Gara memperingati Lio. "Gue tunggu tantangan dari gue Lio."
"Cantik juga cewek si Gara," ujar Danu cegegesan.
"Ingat Key!" sindir Lio dan Satria bersamaan.
"Iya iya Key tersayang tetap dalam hati hehe."
"Bukannya itu adik kelas kita ya? Kelas sepuluh IPA dua kan?" tanya Satria kembali setelah hening beberapa saat.
"Iya."
Beberapa menit yang lalu mereka sudah selesai dengan makanan mereka. Baik Lio Satria dan Danu berjalan menuju ke kelas mereka. Sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai kembali.
Lio duduk di bangku miliknya dengan HP yang berada di tangan. Lio mulai membuka akun Instagram yang sudah lama tidak dia pakai. Lio melihat ada beberapa kaum hawa yang mengirimkan pesan kepada. Lio mematikan data seluler tidak berniat membalas pesan tersebut.
"Lo ingat kan tantangan gue?"
Lio menaikkan sebelah
(UKS)
*Selamat membaca🙏*
Dari tadi Lio sudah berada di UKS. Memperhatikan wajah lemah sang istri. "Ini semua salah gue," guman Lio memandang wajah pucat Aqila.
Selalu saja Lio mengucapkan kata maaf untuk Aqila. Diri nya memang bodoh membiarkan Aqila di hukum di tengah teriknya sinar matahari. Persetanan dengan jabatan OSIS harusnya ia lebih mementingkan istrinya.
Aqila mengerjap matanya, membuka perlahan. Aqila memperhatikan seluruh ruangan UKS tersebut dengan kepala yang masih nyeri.
"Maaf," lirih Lio.
"Kak Lio! Kenapa kak Lio ada di sini? Dan Aqila?"
"Tadi lo pingsan, jadi di bawa ke sini. Dan gue lagi nungguin Lo," jelas Lio.
"Kak Lio gak belajar?"
"Gak. Gue izin."
"Yaudah Aqila kembali ke kelas aja." Aqila hendak turun dari pembaringan tapi tangan Lio mencegah hal itu. Lio kembali menidurkan Aqila.
"Istirahat dulu. Lo belum sembuh total."
"Tapi...."
"Jangan membantah!" potong Lio cepat. Aqila mendengus kesal karena ucapan Lio.
Satu jam berlalu mereka berada di UKS. Aqila merasa sangat bosan, dari tadi Lio hanya memandang dirinya tanpa mau mengajak bicara.
Kringg!
Bel p**ang berbunyi nyaring, seluruh murid SMA Nusa Bangsa sudah berhamburan untuk p**ang. Sedangkan Lio dan Aqila masih setia di UKS.
Belum sempat Aqila bicara sudah di ucap Lio. "Kita tunggu sepi."
"Bro ini tas lo," ujar Gara yang baru memasuki UKS.
"Thanks."
"Masih sakit Aqila?" tanya Danu kali ini.
"Udah mendingan kak," jawab Aqila tersenyum.
Di sisi lain Satria hanya menatap Aqila diam. 'Untung saja Aqila baik-baik saja," batin Satria. Bahagia melihat orang yang ia sayang baik-baik saja.
Entah sejak kapan rasa itu tumbuh. Tapi Satria mulai menaruh perasaan kepada Aqila.
"Aqilaa!!" teriak Key baru saja memasuki UKS. Seketika Key langsung menutup mulutnya malu.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" batin Key sangat malu.
"Mau ngapain sayang?"
Semua memandang Danu tidak percaya. Apa yang dikatakan Danu baru saja. Sayang? Sejak kapan mereka pacaran. Itulah
(Pingsan)
Hari ini SMA Nusa bangsa akan mengadakan razia kepada seluruh muridnya. Lio yang berperan penting sebagai ketua OSIS ikut mengambil bagian di sana dan juga tidak lupa dengan Sasa. Sasa juga bagian dari anggota OSIS ia menjabat sebagai bendahara OSIS SMA Nusa Bangsa.
OSIS mulai memasuki satu persatu kelas untuk memeriksa para murid yang tidak taat dengan aturan sekolah. Para anggota OSIS memberi sangsi pada murid yang melanggar aturan.
Bibir Lio tersenyum tipis saat dirinya dan para jajaran OSIS sudah berada di depan kelas Aqila. Tepatnya kelas sepuluh IPA satu.
Kelas yang dari tadi ribut menjadi diam karena kedatang OSIS. Tatapan Lio dan Aqila bertemu cukup lama membuat Sasa yang melihat adegan tersebut menjadi jengah.
"Mohon perhatian! Seperti biasa kami datang untuk memberi sangsi kepada murid yang tidak di siplin. Jadi tolong kerjasamanya!" jelas Putra sang wakil ketua OSIS.
Satu persatu anggota OSIS mulai berjalan memeriksa barang-barang mereka. Sedangkan Lio hanya berdiri di depan, mengawasi kerja anggotanya.
"Mana dasi lo?" tanya Sasa saat tepat berada di hadapan Sasa.
"Aqila lupa kak."
"Karena lo gak taat dengan aturan sekolah. Lo harus gue hukum!"
Semua mulai berbisik-bisik membicarakan Sasa. Karena tidak membawa dasi sampai di hukum. Biasa para anggota OSIS hanya memberi toleransi jika hanya masalah seperti itu.
Lio yang merasa tidak beres langsung mendekat. "Ada apa?"
Sasa melihat Lio sekilas. "Nih Adek kelas gak di siplin. Gue mau kasih hukuman."
"Dia hanya lupa sa," bela Lio.
Sasa memutar bola matanya malas. Sudah ia duga Lio akan membela Aqila. "Apaan sih lo Lio. Harusnya lo gak bisa gini, lo harus tegas! Gue tau dia sepupu lo. Tapi ingat juga jabatan lo di sekolah ini!" jelas Sasa sok memberitahu apa yang harus Lio lakukan.
"Ikut gue!" Sasa menarik tangan Aqila kasar. Lio yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin membantu Aqila tapi rasanya tidak mungkin.
Hampir saja Aqila terjatuh ka
(Sisi Manis Lio)
Lio tetap bersikap dingin pada Aqila. Sudah satu minggu berlalu, papa Toni dan juga Mama Rani sudah p**ang dari urusan bisnis mereka.
Aqila duduk di tepi ranjang membuka bingkisan yang di bawa Rani untuk menantunya tersebut. Ketika sedang asik melihat hadiah dari sang mama tiba-tiba Lio masuk kedalam kamar mereka.
"Beresin barang-barang. Kita akan pindah sekarang juga!" perintah Lio dingin.
"Pindah?"
"Iya, sebelum gue nikah sama lo gue udah beli sebuah rumah. Gue gak mau udah nikah tapi masih nyusahin orang tua," jelas Lio.
"Kenapa harus pindah kak? Aqila lebih senang di sini ada mama dan juga kak Iqbal. Kalau Aqila sama kak Lio, kak Lio akan selalu tinggalkan Aqila sendiri."
Aqila hanya takut di tinggal sendiri oleh Lio saat mereka hanya tinggal berdua. Tau saja sifat Lio paling tidak betah di rumah.
'Gue gak s**a lo dekat sama kak Iqbal," batin Lio. "Gue gak akan tinggalin lo sendiri."
"Janji?"
"Iya janji."
"Ok Aqila beres-beres sekarang."
Aqila mulai mengkemasi barang-barang milik mereka. Sore ini Aqila akan pindah bersama suaminya. Ia tidak tau Lio akan menepati janjinya atau tidak menepatinya. Tapi sebagai seorang istri Aqila harus menuruti kemauan sang suami.
"Sering-sering ke sini ya," ucap Rani.
"Iya Mah." Rani memeluk menantunya sangat sayang. Semenjak Aqila masuk kedalam keluarga mereka, keluarga mereka makin berwarna dengan segala tingkah laku Aqila. Gadis cantik yang selalu tersenyum.
Toni menepuk pundak Lio cukup keras. "Jaga Aqila, jangan sering keluyuran. Ingat kamu udah punya tanggung jawab yang besar," ucap Toni menasehati putranya tersebut.
"Iya pah."
"Ayok." Mereka berdua meninggalkan rumah keluarga Azkha. Tiga puluh menit dalam perjalan. Lio fokus dengan jalanan sedangkan Aqila memilih untuk diam, menatap keluar.
Rumah realistis. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dua lantai dengan empat kamar di dalam. Lengkap dengan semua isi dalam rumah tersebut. Lio benar-benar sudah
(PDKT)
*Selamat membaca 🙏 jangan lupa komen yang panjang 😁😊*
*
*
*
Sudah dua minggu Aqila belajar di sekolah barunya. Menyenangkan dan nyaman itu lah definisi yang bisa Aqila gambarkan untuk sekolah nya saat ini. Akhir-akhir ini Aqila dan Iqbal juga terlihat sangat dekat. Membuat Lio sang suami menjadi cemburu.
Saat ini Aqila dan Lio masih berada di sekolah dan selama dua minggu ini Aqila tidak pernah pergi ke kantin. Selalu saja Key mengajaknya. Tapi tetap saja Aqila tidak mau.
"Kantin yuk, gue yang bayar," ajak Key kali ini.
Aqila menggeleng pelan. "Aqila di kelas aja Key."
"Terserah lo deh." Key berlalu menuju kantin untuk memuaskan yang cacing yang sedang demo disana.
Disisi lain Lio baru saja keluar dari ruangan OSIS. Dia baru saja mengadakan rapat dengan para anggota OSIS yang. Ada banyak hal yang harus mereka kerjakan saat ini.
Langka kaki Lio terhenti saat melihat Satria keluar dari dalam kelas sepuluh IPA satu. Kelas istrinya. "Ngapain Satria ke sana?" monolog Lio. "Mungkin ada perlu," lanjut Lio berusaha berpikir positif.
Lio baru memasuki daerah kantin. Banyak sapaan yang ia terima dari murid perempuan. Lio yang di sapa hanya tersenyum tipis. Sebenarnya malas melakukan hal tersebut. Tapi sebagai seorang ketua OSIS tidak baik jika Lio bersikap cuek.
Tatapan Lio tertuju pada Satria yang sudah duduk bersama teman-temannya. Bayangan beberapa menit yang lalu masih berputar di pikiran Lio.
Lio duduk di bangku samping Danu dan Gara. Berhadapan dengan Satria. Ada yang aneh dengan Satria, sejak tadi pria tampan itu tidak pernah berhenti tersenyum.
"Ngapain lo dari kelas sepuluh IPA satu?" tanya Lio dingin. Lio sangat kepo dengan apa yang dilakukan Satria disana.
Satria menunjukkan dirinya sendiri. "Gue?" Lio mengangguk.
"Gak ngapain," jawab Satria dengan senyumannya.
"Ngapain lo senyum-senyum gitu. Gila lo? Atau jangan-jangan lo punya pacar di kelas itu?" Kali ini Gara yang dibuat kepo.
"Cikh gak."
"Gak mungkin. B
(Sekolah Baru Aqila)
*Selamat membaca🙏 yang punya apk wp bisa baca di sana juga ya, author akan up juga di sini😊*
*
*
*
Sudah satu minggu baik Lio maupun Aqila menjalin hubungan rumah tangga. Sikap Lio masih dingin dan acuh kepada Aqila. Tetapi Aqila tetap sabar menghadapi sikap suaminya tersebut. Ia tidak mau menyerah untuk hubungan mereka.
Hari ini Aqila akan mulai belajar di sekolah barunya di Jakarta. Aqila sudah siap dengan seragamnya. Ia harus terkesan baik di sekolahnya yang baru.
"Mah Lio berangkat!" seruh Lio bergegas mengambil kunci motornya.
"Sarapan dulu Lio. Kenapa terburu-buru. Aqila juga akan bersekolah dengan mu," ucap Rani berhasil menghentikan langka Lio.
Lio menatap Aqila sekilas. "Lio harus berangkat sekarang mah." Segera Lio berangkat meninggalkan Mama dan juga istrinya.
Aqila akan bersekolah di tempat yang sama bersama Lio. Keluarga Azkha sudah sepakat akan merahasiakan pernikahan Lio dan Aqila sampai mereka tamat dari sekolah menengah atas.
Aqila akan dianggap sebagai sepupu Iqbal dan Lio saat di luar rumah.
***
Aqila dan Mama Rani sudah berada di sekolah Lio lebih tepatnya di parkiran SMA Nusa Bangsa. Banyak tatapan anak murid yang sulit di artikan Aqila. Perasaan gugup langsung menghantui dirinya.
"Ehh itu bukannya Mama Kak Lio ya?"
"Siapa tuh cewek yang sama Mama mertua gue?"
"Cantik banget!"
"Sok cantik tuh cewek!"
Begitulah ucapan para siswi yang melihat Aqila berjalan dengan Mama Lio. Hal itu langsung menjadi ramai di perbincangkan di SMA Nusa Bangsa.
Bagaimana tidak Lio Ketos dan juga seorang most wanted SMA Nusa Bangsa. Semua murid mengenal Lio bahkan mengenal keluarga Lio juga.
"Kamu yang rajin belajarnya sayang. Nanti p**ang bareng Lio ya." Aqila hanya mengangguk, Rani langsung mengecup kening Aqila sayang.
"Iya Mah ehh maksud aku Tante," ucap Aqila kikuk. Rani hanya menanggapi dengan senyuman.
***
Sepuluh IPA satu kelas baru Aqila. Saat ini dirinya dan sang wali kelas berjalan beri
(Cemburu)
https://m.facebook.com/groups/2690239084407889/permalink/3421438341287956/
*
*
*
Setelah selesai sarapan Aqila menaiki kamarnya karna sore ini ia akan berangkat ke Jakarta bersama keluarga suaminya.
Sedih itulah yang Aqila rasakan saat ini, bagimana mungkin ia berpisah dengan kedua orang tuanya. Baik Papa mau pun Mama Aqila tau bahwa putri mereka itu tidak bisa dibiarkan untuk sendiri. Diwaktu umur Aqila delapan tahun kedua orang tua Aqila pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis mereka saat itu Aqila ditinggalkan bersama pengasuhnya. Dan saat itu p**a Aqila langsung jatuh sakit. Semenjak saat itu Bram dan Susi tidak pernah meninggalkan Aqila sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.12 menit. Baik Aqila dan keluarga Azkha sudah siap dengan barang-barang mereka.
"Sebaiknya kita berangkat jika tidak ingin ketinggalan pesawat," ujar Toni.
"Besan kami kembali, terima kasih," ucap Rani memeluk Susi erat.
"Hati-hati."
"Lio saya percayakan putri saya kepada kamu. Jaga dia dengan baik," jelas Bram.
"Iya Pah, Lio akan jaga Aqila dengan baik," jawab Lio memerhatikan istrinya yang terlihat murung.
"Papa yakin kamu bisa menjaga Aqila."
"Papa." Aqila terisak dalam dekapan sang Papa. Bagaimana ia harus menjalani hidupnya tanpa kedua orang tua nya.
"Hei jangan menangis, malu di lihat suami kamu," goda Bram.
"Biarin," ucap Aqila acuh.
"Sudah jangan menangis lagi, kamu harus menjadi istri yang baik buat suami kamu," ucap Bram kembali mengecup puncak kepala Aqila.
"Jadi istri yang penurut, dan jadilah wanita yang dewasa sayang," ucap Susi mengeluh rambut panjang Aqila sayang.
"Kami berangkat Bram," ujar Toni berlalu masuk kedalam mobilnya.
Bram, Rani dan Iqbal berada didalam satu mobil yang sama. Sedangkan Lio dan Aqila berada dimobil bersama. Aqila selalu saja menundukkan pandangannya ia takut jika si kutub es disamping ya akan menyakiti dirinya.
"Mengapa selalu saja menunduk, apa lo takut sama gue? Gue udah janji sama Papa akan jag