05/07/2026
Tatar Sunda: Renungan dan Gugatan atas Jati Diri
Sebuah permenungan dari : Abah Yayan Heryana
Di tengah riuh rendahnya zaman, tiba-tiba muncul sebuah kegelisahan batin yang menyentuh relung sanubari saya sebagai seorang anak bangsa yang lahir dan dibesarkan di tanah ini. Ini adalah sebuah renungan mendalam—sebuah perjalanan pikiran tentang siapa kita dan di mana kita berpijak.
Tatar Sunda: Ruang Hidup yang Autentik
Bagi saya, Tatar Sunda bukan sekadar nama wilayah di atas peta. Ia adalah sebuah tatanan hunian yang otentik. Di dalamnya tersimpan nafas, nilai-nilai luhur, dan filosofi hidup yang telah menjaga karakter orang Sunda tetap teguh dari generasi ke generasi. Tatar Sunda adalah rumah bagi peradaban kita, ruang di mana nyantri, nyunda, nyunda, dan nyakola bersatu padu dalam harmoni kehidupan yang selaras dengan alam. Ini adalah tanah leluhur yang sejatinya mencerminkan jiwa kita yang paling murni.
Jawa Barat: Kehampaan dalam Nama
Namun, mari kita jujur pada nurani. Sebutan "Jawa Barat" yang melekat selama ini terasa semakin gersang bagi identitas kita. Ia hanyalah sebuah label administratif yang dingin dan bersifat teknis. Nama tersebut tidak secara tegas menegakkan jati diri orang Sunda; ia justru membiarkan identitas kita terselip dan samar di balik arah mata angin. Kita seperti sedang menghuni rumah sendiri, namun dengan papan nama yang tidak mencerminkan siapa pemiliknya. Identitas yang samar ini adalah luka kecil yang jika dibiarkan, akan mengaburkan jejak sejarah kita sendiri.
Menegakkan Sejarah, Menata Martabat
Sejarah tidak boleh kabur. Sunda harus tegak berdiri pada akarnya yang nyata. Mengembalikan nama menjadi Tatar Sunda adalah sebuah panggilan untuk meluruskan garis sejarah yang sempat terabaikan. Ini bukan tentang memisahkan diri, melainkan tentang menempatkan martabat kita pada tempat yang seharusnya.
Saya meyakini, ketika kita berani menyebut tanah ini dengan sebutan aslinya, kita sedang memuliakan jati diri orang Sunda. Kita sedang menegaskan kepada dunia bahwa di sini, di tanah ini, sebuah tatanan kehidupan yang agung telah lama ada dan akan terus hidup.
Semoga renungan ini menjadi pembuka pintu kesadaran bagi kita semua, agar kelak anak cucu kita tidak lagi merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.
Hormat saya,
Abah Yayan Heryana