The Argumentator

The Argumentator

Share

The Argumentator

04/06/2026

PIL SABAR DOSIS TINGGI DI APOTEK KEKUASAAN AL HAJJAJ
Oleh: the Argumentator

Tak sampai 1 abad setelah Rasulullah wafat, kaum muslim pernah dipimpin oleh Tiran yang kejam. Di masa itu, bukan gerobak yang dirampok, melainkan nyawa. Bukan satu-dua orang, tapi puluhan ribu. Dan bukan preman pasar pelakunya, melainkan seorang gubernur bernama Al-Hajjaj bin Yusuf.

Al-Hajjaj bin Yusuf bukanlah penguasa biasa. Ia tipe yang turun langsung ke lapangan—dengan pedang di tangan kanan dan mushaf di tangan kiri. Pertama, ia punya keyakinan tingkat dewa bahwa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah maksum, suci, tidak pernah salah. Kedua, ia meyakini bahwa dirinya sendiri digerakkan oleh wahyu dari langit. Ketiga, mesin propaganda rezimnya menyebarkan doktrin mengerikan: "Barangsiapa menentang Al-Hajjaj, berarti menentang Islam."

Coba bayangkan: Anda tinggal di kampung yang dikuasai seseorang yang merasa tindakannya perintah langsung Tuhan. Setiap memenggal kepala, ia bilang jihad. Setiap merampok harta, ia bilang ghanimah. Anda mau protes? Protes Anda akan dijawab pisau. Dan sebelum pisau itu menyentuh leher, Pak Haji menasehati Anda untuk ber"sabar".

Anda mungkin akan geleng-geleng kepala menyangka betapa absurdnya. Tetapi yang terjadi masa itu memasang bisa sekonyol itu: ketika rakyat menjerit, justru para ulama senior datang lebih dulu daripada pas**an keamanan. Mereka datang membawa obat bernama SABAR. Dosis tidak terbatas. Efek samping: lumpuh total.

Inilah titik di mana sejarah membelah menjadi dua sungai besar.

Di satu sisi, kita punya Anas bin Malik RA dan Abdullah bin Umar RA. Para sahabat Nabi, orang yang pernah melihat langsung wajah Rasulullah. Ketika darah mengalir di jalan-jalan Kufah, ketika para tabi'in digorok algojo Al-Hajjaj, Anas bin Malik keluar membawa resep: "Bersabarlah." Abdullah bin Umar memilih mengunci pintu rumahnya rapat-rapat dan diam.

Bukan karena mereka tak punya perasaan. Tapi dalam konstruksi politik Sunni yang mulai terbentuk, stabilitas adalah segalanya. Memberontak kepada penguasa—sekalipun penguasanya Al-Hajjaj yang haus darah—dianggap lebih jahat dari kezaliman itu sendiri. Fitnah lebih mengerikan dari pembunuhan. Ini mengkristal jadi doktrin yang bertahan hingga hari ini: taatlah kepada penguasa walau zalim. Jangan angkat senjata. Bersabarlah. Doakan saja.

Di sisi lain sungai, kita punya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi. Di padang Karbala, ketika ribuan pas**an mengepung dan air dua hari tak masuk tenda, Husain tidak berkata, "Bersabarlah, mari kita pulang." Ia berdiri. Ia berteriak, "Bersabarlah menyongsong maut, wahai putra-putra pamanku!" Lalu ia maju. Dan ia mati bersama 72 orang keluarganya.

Ini sabar yang berbeda. Sabar yang memanggul pedang. Sabar yang memilih mati daripada hidup dalam kehinaan. Dari sini lahir adagium Syiah: la yakuunal mu'minu dzalilan—jangan sampai seorang mukmin itu hina. Hidup dalam ketundukan kepada penguasa zalim adalah kehinaan yang tak boleh diterima. Berjuanglah walau risikonya mati.

Dua garis politik ini: "sabar pasrah" versus "sabar perlawanan", bukan sekadar perbedaan gaya. Ini dua filsafat berbeda tentang apa artinya menjadi Muslim di tengah kezaliman.

Sekarang tarik benang merah ke hari ini. Lihatlah Gaza. Palestina. Tanah yang puluhan tahun dibombardir, penduduknya dibantai dengan dalih keamanan. Di belakang semua itu, Amerika Serikat dan Israel berdiri dengan senyum lebar, dilengkapi veto di Dewan Keamanan dan kiriman bom F-35.

Fakta politik hari ini sangat jelas. Para ulama di Teluk—Arab Saudi, UAE, Bahrain—umumnya mengambil posisi mirip Anas bin Malik. Mereka mengutuk, menyatakan keprihatinan. Tapi di ujung pidato selalu ada kalimat penutup: "Kami menyerukan perdamaian." "Kami meminta masyarakat internasional bertindak." "Kita harus bersabar dan berdoa." Sementara bom terus berjatuhan di sekolah dan rumah sakit. Sementara anak-anak Gaza puluhan ribu terbunuh.

Di Indonesia pun pola sama. Sebagian besar ulama arus utama mengambil jalan sabar. Demo boleh tapi jangan anarkis. Boikot boleh tapi jangan berlebihan. Doa dan qunut nazilah sudah cukup. Jangan sampai tindakan kita dianggap terorisme. Jaga stabilitas. Jaga investasi. Jaga hubungan diplomatik dengan AS. Ini sabar ala Anas: sabar yang tertib, patuh, tak mau memberontak kepada penguasa global sezalim apa pun.

Sementara di sisi lain, para ulama Syiah—di Iran, Irak, Lebanon, Yaman—mengambil posisi persis seperti Husain. Mereka tak hanya mengutuk. Mereka menyerukan perang. Hizbullah menembakkan roket ke utara Israel setiap hari. Houthi memblokade kapal Israel di Laut Merah. Iran mengirim drone dan rudal. Mereka tahu risikonya. Mereka tahu akan dibom balik. Rumah sakit hancur, jenderal tewas, ekonomi tercekik sanksi. Tapi mereka mengambil posisi: lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut. Ini sabar ala Husain: sabar yang memanggul senjata.

Tentu, tak ada yang gratis. Pilih jalan Anas, Anda selamat. Istana tak dibom. Anak cucu bisa sekolah di AS. Anda tetap ulama besar, diundang konferensi internasional, berfoto dengan pemimpin dunia, sambil sekali-sekali menangis di depan kamera melihat anak Gaza terbunuh. Lalu pulang ke istana, makan malam mewah, tidur nyenyak karena hati nurani sudah dibungkus rapi dalih "menjaga persatuan umat."

Pilih jalan Husain, Anda diburu. Dituduh teroris. Negara disanksi. Rumah sakit kekurangan obat. Anak-anak mungkin tewas. Tak diundang konferensi perdamaian mana pun. Hanya dapat doa dari yang berpihak—dan laknat dari setengah dunia lain.

Tapi pertanyaan sederhana: jalan mana yang "diridhoi" Tuhan? Apakah Tuhan memihak yang selamat atau yang berani?

Persoalan sabar versus perlawanan bukan sekadar label Sunni atau Syiah. Ini pilihan fundamental: ketika melihat kezaliman, apakah Anda diam karena lebih aman? Atau bersuara karena itu benar?

Membenarkan sikap pasrah dan diam di hadapan pembantaian massal dengan dalih "kesabaran" adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehat dan nilai keadilan Tuhan itu sendiri. Sebab Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang menyuruh berbuat adil, bukan Tuhan yang menyuruh diam ketika keadilan diinjak-injak. Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang mengutus Musa untuk melawan Firaun, bukan Tuhan yang menyuruh Bani Israel bersabar sementara leher mereka digorok.

Anjuran untuk menundukkan kepala di bawah sepatu laras seorang gubernur yang berdelusi bahwa dirinya digerakkan oleh wahyu langit, bukanlah cerminan dari kemurnian ajaran Islam. Ia adalah produk rekayasa sosial-politik yang memutarbalikkan nilai agama melalui corong para ulama palsu yang menghamba pada kekuasaan. Mereka inilah yang mengambil ayat-ayat tentang sabar, mencabutnya dari konteks perjuangan, lalu menempelkannya pada konteks kepasrahan. Mereka inilah yang mengubah sabar dari kata kerja menjadi kata benda, dari gerakan menjadi balsem.

Al-Hajjaj sudah mati. Istana Bani Umayyah runtuh. Tapi rohnya hidup. Ia hidup dalam diri setiap penguasa zalim yang merasa tindakannya restu langit. Ia hidup dalam diri setiap birokrat yang lebih takut atasan daripada Tuhan. Ia hidup dalam diri setiap ulama yang mengambil amplop istana lalu membungkus ketidakadilan dengan fatwa manis tentang sabar. Hari ini, ia hidup dalam diri pemimpin Teluk yang diam saat Gaza dibantai, dalam diri diplomat yang memveto gencatan senjata, dalam diri pejabat yang masih tersenyum selfie dengan para pembantai anak-anak.

Pertanyaannya, kita di barisan mana: Anas yang diam dan selamat? Atau Husain yang mati tapi namanya harum sampai hari kiamat?

Saya tak berani menggurui. Saya hanya pekerja harian yang gemar membaca sejarah. Tetapi kalau membaca status Kiai atau Ustadz ini, saya membayangkan, Al-Hajjaj tertawa lepas dari kuburnya, karena "pil sabarnya" tetap ada yang mau membeli!

Photos from The Argumentator's post 31/05/2026

"KITA DIUJI DENGAN...."

Kami sudah pernah menaikan postingan seperti ini 3 kali. Dari Tahun 2012-an, dan kebodohan orang-orang ini bukannya berkurang malah bertambah

Narasinya masih sama
Karena Ibnu Sina dikritik ulama karena kesesatan akidahnya (Syiah, filsafat, dll), maka tidak layak bagi umat Islam menggunakan namanya untuk fasilitas kesehatan, sekolah, atau apotek.

Ironi Sang Penghapus Nama

Yang paling menggelitik dari argumen ini adalah: mereka yang paling keras melarang nama Ibnu Sina adalah mereka yang paling jarang membaca Ibnu Sina. Bayangkan betapa absurdnya: Anda mengharamkan sebuah nama dari buku yang belum pernah Anda buka, dari ilmu yang tidak pernah Anda pelajari, dari kontribusi yang tidak pernah Anda ukur. Ini seperti memvonis sebuah warung makan dengan tuduhan “tidak enak” padahal Anda belum pernah mencicipinya. Ibnu Sina menulis lebih dari 200 karya, mulai dari kedokteran, astronomi, fisika, musik, hingga filsafat. Apakah para pengharam nama ini sudah membaca semuanya untuk memastikan bahwa 100% isinya “sesat”? Tentu tidak. Mereka cukup membaca tiga kutipan ulama, lalu merasa menjadi hakim peradaban.

Ketika Rumah Sakit Dituduh Menyembunyikan Doktrin

Ini adalah kesalahan kategori paling klasik yang pernah ada: menyamakan penghormatan profesional dengan pengesahan teologis. Coba renungkan: ketika sebuah rumah sakit bernama “Ibnu Sina”, apakah di lobinya ada sesi indoktrinasi filsafat Yunani? Apakah di ruang rawat inap dipasang poster “Kelebihan Metafisika Plotinus”? Apakah apoteker wajib membaca Al-Isharat wa al-Tanbihat sebelum melayani resep? Jawabannya: tidak. Yang ada di rumah sakit itu adalah alat medis, obat-obatan, dokter yang lelah, pasien yang sakit, dan keluarga yang cemas. Nama “Ibnu Sina” di sana bukanlah pengakuan iman—ia adalah tanda terima kasih dari peradaban kepada seorang manusia yang telah membantu jutaan manusia lain. Beda ranah. Beda fungsi. Beda hukum.

Sejarah yang Dipotong-Potong

Para pengkritik s**a memamerkan nama Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Adz-Dzahabi seolah-olah nama-nama itu adalah palu godam yang mematahkan tulang kontribusi Ibnu Sina sekaligus. Mari kita luruskan dengan jernih. Para ulama tersebut mengkritik filsafat Ibnu Sina—yaitu metafisika, logika Aristotelian, dan teologi rasionalnya. Di mana pernyataan mereka tentang kedokteran Ibnu Sina? Coba tunjukkan. Tidak ada. Ibnu Taimiyyah sendiri, dalam Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa al-Naql, masih mengutip dan mendebat argumen-argumen filosofis Ibnu Sina—artinya beliau menganggap Ibnu Sina sebagai lawan debat yang setaraf, bukan sampah intelektual yang harus dibuang. Dan Ibnul Qayyim, murid setia Ibnu Taimiyyah, menulis kitab Ath-Thibb an-Nabawi yang justru menggunakan metode komparatif dengan pengobatan masa itu—termasuk yang dipengaruhi oleh Al-Qanun. Jadi yang dilakukan para ulama adalah kritik terukur, bukan pemusnahan total. Yang dilakukan para pengikut setia mereka saat ini adalah overdosis dari kritik yang terukur—mengubah kritik filosofis menjadi larangan praktis di domain yang sama sekali berbeda.

Konsistensi yang Dipakai Setengah Jalan
Mari kita lakukan uji konsistensi sederhana. Jika standarnya adalah: “setiap tokoh yang pernah dikritik keras oleh ulama tidak boleh diabadikan namanya”, maka kita harus mengganti nama-nama berikut:

Al-Ghazali? Dikritik Ibnu Taimiyyah karena filsafatnya. Apakah universitas-universitas Al-Ghazali akan diganti?

Al-Razi (Ar-Razi)? Dituduh zindiq oleh sebagian ulama. Apakah apotek dan laboratorium Ar-Razi akan ditutup?

Jabir bin Hayyan? Banyak kritik tentang karya yang diragukan. Apakah kimia modern akan membuang namanya?

Tentu mereka tidak akan melakukan itu. Karena standar hanya berlaku untuk tokoh yang “aman” diserang—yang tidak memiliki popularitas massal di kalangan awam, atau yang tidak memiliki “lobi” di kalangan mereka.

Yang Sebenarnya Terjadi di Kepala Mereka
Jika kita gali lebih dalam, sebenarnya bukan nama Ibnu Sina yang mereka takuti. Mereka takut pada proses intelektual yang tidak bisa mereka kendalikan. Ibnu Sina adalah simbol dari era ketika ilmuwan Muslim berani membaca, mengkritik, mengoreksi, dan melampaui pemikiran peradaban lain—Yunani, Persia, India—tanpa rasa bersalah. Ibnu Sina memang Syiah, dan seperti Syiah yang lain memang kurang ajar cerdasnya!

Pukulan Terakhir: Saat Malam Tiba dan Anak Anda Demam
Biarkan saya mengakhiri pembedahan ini dengan satu skenario yang tidak bisa dijawab dengan kutipan kitab. Suatu malam, anak Anda demam tinggi, kejang, dan tidak sadarkan diri. Anda membawanya ke rumah sakit terdekat. Hanya satu rumah sakit yang memiliki ruang ICU anak dan dokter spesialis. Rumah sakit itu bernama “Rumah Sakit Ibnu Sina”. Apa yang Anda lakukan? Tolak masuk karena nama itu “haram”? Atau masuk, terima kasih pada Allah, dan berdoa semoga anak Anda selamat? Semua orang yang waras akan memilih yang kedua. Karena pada saat-saat kritis, semua omong kosong ideologis runtuh oleh satu realitas sederhana: manfaat lebih kuat daripada label, dan nyawa lebih penting daripada nama. Inilah kebenaran yang tidak ingin mereka akui: mereka sendiri tidak konsisten. Di ruang diskusi, mereka paling lantang melarang nama Ibnu Sina. Di ruang gawat darurat, mereka diam-diam masuk dan berdoa semoga anaknya selamat. Konsistensi itu indah hanya dalam teori. Dalam praktik, ia ambruk oleh kemanusiaan dasar.

4. Penutup Pamungkas
Maka kita tutup dengan satu kesimpulan yang tidak bisa dipatahkan oleh logika sektarian mana pun: peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang sibuk menghapus nama; peradaban dibangun oleh mereka yang sibuk menyelamatkan nyawa, menulis buku, dan membuka rumah sakit. Ibnu Sina telah menyelamatkan jutaan nyawa melalui karyanya—jauh sebelum para pengharam namanya lahir, dan akan terus menyelamatkan nyawa lama setelah mereka tiada. Biarlah mereka sibuk dengan spanduk dan fatwa. Sementara yang lain sibuk membangun, merawat, dan menyembuhkan. Dan sejarah, seperti biasa, akan berpihak pada mereka yang menyelamatkan nyawa—bukan pada mereka yang hanya pandai meributkan nama di pintu.

Ibnu Sina sudah kenyang disesat kafirkan kala dia hidup. Menanggapi orang-orang yang mengkafirkannya, dia berujar. "Kita diuji dengan adanya suatu kelompok yang mengira bahwa Allah swt tidak memberi petunjuk selain pada mereka"

29/05/2026

SAPA SURU DATANG GAZA?
(Ketika Sinisme Menyamar Jadi Kebijaksanaan)

Di dunia yang fana ini, ada dua jenis orang yang paling rajin mengetuk pintu rumah kita. Pertama, penagih koperasi simpan-pinjam yang mukanya sekaku tembok kelurahan. Kedua, orang-orang pintar yang mendadak jadi ahli strategi perang sambil menyeruput kopi saset di pos ronda.

Nah, jenis yang kedua ini baru saja melahirkan sebuah kidung spiritual baru berjudul: “Sapa Suru Datang Gaza”. Sebuah plesetan lagu yang dinyanyikan dengan nada sok bijak, ditujukan kepada para aktivis kemanusiaan yang kepalanya bocor dipukul popor senapan di tengah laut.

Ironi sekali. Penulis mengaku berdiri di baris depan simpatisan Palestina, tapi begitu ada orang berangkat membawa bantuan makanan dan obat-obatan lewat jalur laut, dia malah bersenandung sinis. Sejak bait pertama dinyanyikan, argumen Penulis sebenarnya sudah pingsan duluan. Bagaimana mungkin pembelaan terhadap korban blokade bisa menjelma menjadi permakluman atas blokade itu sendiri? Ini mirip seperti melihat tetangga kemalingan, lalu kita menyalahkan si pemilik rumah karena lupa menggembok pagar lipatnya dengan rantai kapal.

---

Mari kita bedah cara berpikir yang katanya "dewasa dan realistis" ini. Penulis merekonstruksi misi kemanusiaan flotilla—kapal-kapal bantuan itu—seolah-olah mereka adalah rombongan turis domestik yang sedang ikut paket wisata ekstrem ke Dunia Fantasi. Bedanya, wahana yang dinaiki bukan kora-kora, melainkan kapal yang siap ditembaki interseptor militer. Logikanya begini: "Kalian kan sudah tahu jalurnya bahaya, sudah tahu bakal dipukul, ya kalau kejadian jangan manja lalu mengeluh! Itu namanya risiko logistik!"

Waduh, Mas. Ini namanya "menyalahkan korban" yang dibungkus rapi memakai kain sarung intelektual. Ada jurang yang sedalam Sumur Zamzam antara "memprediksi kekerasan" dan "membenarkannya". Mengubah kalimat "mereka tahu risikonya" menjadi vonis "maka mereka layak digebuki" adalah sebuah sesat pikir yang licinnya melebihi belut sawah habis kena oli bekas. Apakah karena kita tahu di pasar banyak copet, lalu hak kita untuk dilindungi hukum otomatis hangus begitu dompet kita berpindah tangan? Apakah polisi boleh bilang, "Sapa suru datang ke pasar bawa dompet?"

Hukum internasional itu bukan statistik premanisme terminal yang kalau sering terjadi lalu dianggap legal. Tengok saja catatan paling anyar. Pada 9 Juni 2025 kemarin, kapal Madleen dicegat di perairan internasional. Dua belas aktivis ditahan. Empat di antaranya dideportasi setelah dipaksa menandatangani surat pasrah—sebuah tindakan yang dikutuk keras oleh Amnesty International. Keluhan para relawan ini bukan drama turis yang kehabisan tisu toilet di hotel berbintang, melainkan nota kriminalitas global. Menyuruh mereka diam sama saja dengan melatih korban untuk meminta maaf kepada pemukulnya sambil menyodorkan p**i sebelah kiri.

---
Sejarah yang Dipotong Seperti Kupon Diskon
---

Satu hal yang paling menggemaskan dari para penganut paham sinisme ini adalah cara mereka membaca sejarah. Sejarah itu dibelah-belah, dipotong kecil-kecil seperti kupon diskon minyak goreng di supermarket. Penulis dengan entengnya mengklaim bahwa aksi flotilla tidak menggeser blokade satu sentimeter pun sejak peristiwa Mavi Marmara tahun 2010.

Ini namanya cherry-picking alias pilih-pilih fakta yang cocok dengan suasana hati. Mari kita segarkan ingatan yang mulai pikun itu. Tragedi Mavi Marmara 2010 justru memaksa Israel melonggarkan blokade karena tekanan dunia internasional begitu hebat, sampai-sampai Mesir terpaksa membuka pintu gerbang Rafah. Memang itu bukan kemenangan total yang membuat Gaza langsung merdeka besok paginya, tapi itu bukti sahih bahwa visibilitas—sorot kamera dunia—bisa mengubah kalkulasi politik di atas meja perundingan.

Pada tahun 2025 ini, pola kelaparan itu berulang dengan lebih jahanam. Kepala UNRWA sampai menjerit menyebut larangan bantuan selama tiga minggu sebagai collective punishment (hukuman kolektif), di tengah tragedi yang telah menelan lebih dari 50.000 jiwa warga Palestina sejak akhir 2023. Flotilla tidak pernah menjanjikan tembok beton Tel Aviv runtuh dalam semalam seperti dongeng Bandung Bondowoso. Tugas mereka adalah membuat tembok apati dunia retak perlahan-lahan. Jadi, menuduh mereka hanya haus panggung adalah sebuah amnesia yang sengaja dipelihara demi menjaga gengsi argumen sendiri.

---
Motif Bukan Bukti, Borgol Bukan Konten
---

Lalu muncul tuduhan paling klise di era digital: "Halah, paling-paling cuma demi konten!"

Menyamakan logika aktivis yang rela tiduran di sel isolasi dengan logika influencer yang joget-joget di Citayam Fashion Week adalah sebuah penghinaan terhadap kecerdasan publik.

Ini adalah serangan ad hominem yang murah meriah. Penulis sibuk menyerang motif di dalam kepala orang, tapi menutup mata terhadap karung-karung gandum yang nyata-nyata ingin dikirimkan. Apakah kalau seorang relawan membawa kamera, lalu kandungan kalori dalam roti yang dibawanya otomatis berubah jadi racun?

Mari kita lihat kenyataan di atas geladak kapal Madleen yang jauh dari kata glamor. Tidak ada filter Instagram yang bisa mempercantik tampang orang yang sedang diintimidasi laras panjang. Empat relawan diusir, delapan ditahan dalam kondisi karantina yang kasar. Belum lagi kejadian 8 Oktober 2025, ketika tiga kapal dicegat, 145 aktivis diculik, dan bantuan senilai seratus sepuluh ribu dolar disita begitu saja.

Tidak ada algoritma TikTok yang sanggup membayar harga sebuah borgol baja yang mengikat pergelangan tangan, dan tidak ada jumlah likes yang sebanding dengan dinginnya lantai sel isolasi. Jika ini disebut pamer, maka modalnya terlalu mahal. Yang murah itu justru komentar sinis yang diketik dari atas sofa empuk ruang tamu, sambil menggoyangkan kaki dan menghabiskan kuota internet bulanan. Penulis menukar keberanian fisik dengan kalkulasi konten, barangkali karena Penulis sendiri (yang mantan wartawan tabloid gosip artis) hanya pernah melihat perjuangan lewat layar gawai sekilas saja.

---
Hukum Mati Saat Dilanggar, Bukan Saat Diuji
---

Kelemahan terbesar dari argumen "sok realis" ini adalah sikap menyerah sebelum peluit pertandingan ditiup. Menyebut hukum internasional sebagai "sekadar konstruksi di atas kertas kosong" adalah bentuk kemalasan berpikir yang kronis. Karena hukum sering dilanggar, maka sebaiknya kita berhenti menuntutnya? Pikir punya pikir, logika ini bisa bunuh diri secara geopolitik kalau dibawa pulang ke rumah kita sendiri.

Dengan standar logika malas Penulis, kita harus ikhlas jika suatu hari nanti hak kedaulatan Indonesia di Laut China Selatan dipreteli oleh negara tetangga yang kapalnya lebih besar, hanya karena "siapa yang pegang senjata, dia yang menang". Tentu Penulis tidak akan terima, bukan? Penulis akan berteriak lantang membawa-bawa nota hukum PBB. Mengapa? Karena Penulis tahu kedaulatan bukan hadiah cuma-cuma dari penganut realisme politik.

Hukum itu justru diuji ketika dia dilanggar, bukan saat suasana sedang aman tenteram seperti malam minggu di alun-alun. Sekjen PBB António Guterres berkali-kali menggedor meja menuntut gencatan senjata dan mengutuk hukuman kolektif terhadap Gaza. Amnesty International menegaskan bahwa pencegatan terhadap kapal Madleen melanggar perintah Mahkamah Internasional. Hukum tidak mati saat dilanggar. Dia sedang mencatat siapa yang beradab dan siapa yang biadab. Penulis sebenarnya tidak sedang bersikap realistis; Penulis hanya sedang lelah dan memilih tunduk pada moncong senjata karena itu jauh lebih mudah daripada menuntut senjata tunduk pada aturan hukum.

---
Natuna Bukan Gaza, Satpam Bukan Pengepung
---

Kesalahan fatal yang paling menggelikan adalah ketika Penulis mencoba membuat analogi dengan membawa-bawa nama Natuna. Ini namanya false equivalence—menyamakan dua hal yang mirip saja tidak. Natuna adalah wilayah berdaulat Republik Indonesia yang dijaga agar tidak dimasuki maling. TNI AL bertugas di sana bukan untuk mengepung dua juta warga sipil, memutus aliran listrik, dan menahan pasokan susu bayi.

Gaza, di lain pihak, adalah wilayah pendudukan yang dikurung rapat hingga menjelma menjadi mesin kelaparan sistematis. Mantan kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, bahkan menyebutnya sebagai “cruel collective punishment” (hukuman kolektif yang kejam).

Menyamakan TNI AL yang menjaga teritori sah Indonesia dengan angkatan laut asing yang mencegat kapal bantuan kemanusiaan di perairan internasional adalah cara berpikir yang korsleting. Itu sama saja dengan menyamakan satpam kompleks perumahan yang sedang ronda malam dengan komplotan perampok yang sedang mengepung satu kampung. Yang satu menegakkan hukum domestik, yang lain melanggar hukum kemanusiaan universal.

---
Visibilitas Bukan Narsisme, Melainkan Strategi
---

Apa yang Penulis ejek dengan istilah mentereng seperti "solipsisme moral" atau "keberanian tanpa strategi" sebenarnya adalah strategi paling tua dalam sejarah perlawanan sipil manusia: membuat sesuatu yang sengaja disembunyikan menjadi tidak mungkin diabaikan oleh mata dunia.

Penulis sengaja membangun manusia jerami (strawman), mengecilkan pengorbanan para aktivis menjadi sekadar urusan narsisme pribadi, lalu memukuli patung jerami itu dengan penuh kemenangan di media sosial. Padahal, sejarah mencatat dengan tinta tebal bahwa aksi-aksi berani seperti inilah yang memaksa kamera jurnalis internasional mengarah ke titik buta yang ingin ditutupi oleh narasi militer resmi. Tanpa adanya rekaman dari dek kapal, blokade Gaza akan tetap menjadi isu abstrak di atas kertas yang nyaman untuk dikesampingkan sambil kita asyik bernyanyi di kamar mandi.

Kesimpulannya, argumen Penulis runtuh bukan karena Penulis kekurangan pasokan data atau kurang membaca jurnal, melainkan karena Penulis telah menukar posisi pelaku dan korban sejak dari dalam pikiran. Ucapan Marcus Tullius Cicero, dengan tepat menampar penulis macam ini, “kekejaman yang terbesar adalah mengabaikan penderitaan sesama saat kita merasa nyaman.”

Photos from The Argumentator's post 28/05/2026

ANTARA PISAU IBRAHIM DAN DARAH HUSAIN
(renungan tentang makna "sembelihan yang agung": antara gulai kambing dan darah perlawanan)

Saban tahun, urusan kurban ini memang selalu bikin riuh, bukan hanya di suara masjid menjelang Idul Adha, tapi juga medsos. Para ustadz kita, dengan semangat yang menyala-nyala, selalu punya stok cerita yang sama setiap tahunnya. Cerita tentang Nabi Ibrahim yang mendapat perintah lewat mimpi untuk menyembelih putranya. Lalu mulailah perdebatan klasiknya dibuka. Ini yang mau disembelih Ismail atau Ishaq? Anda tahu sendiri, kalau orang kita sudah berdebat, urusan begini bisa dibahas sampai berjilid-jilid, sampai kepala rasanya mau melintir.

Padahal, letak dramatis dari peristiwa itu justru terletak pada pembatalannya. Tuhan tidak sedang butuh darah manusia. Ketika keikhlasan sudah mencapai puncaknya, perintah itu disudahi: pisau diganti domba, dan semua orang pulang dengan senyum lega tanpa ada upacara pemakaman. Jadi, mau kalian berdebat sampai urat leher putus, faktanya tetap sama, kata Mbah Gus Dur, "baik yang mau dikurban Ismail atau Ishaq, nyatanya khan tidak jadi disembelih, gitu aja kok repot."

Namun, mari kita tengok lembaran sejarah yang sengaja kita tutup rapat-rapat karena ketakutan teologis yang kekanak-kanakan. Kurban yang sejati, yang melibatkan darah, daging, dan air mata nyata, justru dialami oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Beliau sudah mendapat bocoran langit bahwa cucu kesayangannya, Husain, bakal dijagal di Karbala. Dan demi kepatuhan total pada jalannya sejarah, Beliau tidak meminta Tuhan membatalkan takdir itu dengan mengirimkan domba pengganti, beliau merelakan belahan jiwanya itu menjadi martir. Sebab beliau tahu ini adalah harga yang harus dibayar demi menyelamatkan esensi Islam dari pembus**an moral dinasti.

Lucunya, umat Islam yang jumlahnya konon tembus dua miliar kepala ini lebih demen memperingati kurban yang tidak jadi ketimbang kurban yang betul-betul terjadi.

Kita ini gembira merayakan sebuah peristiwa yang aslinya hanyalah simulasi, sebuah ujian mental yang pisaunya bahkan tidak sempat meneteskan darah manusia. Kita begitu khusyuk pada ritual yang aman, ritual yang setelah selesai, kita bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang. Kita menjadi umat yang sangat ahli merobohkan sapi, sangat terampil menguliti kulit kambing, tetapi mendadak mengkeret dan gemetaran ketika harus berhadapan dengan ketidakadilan yang nyata di depan mata.

Dua miliar manusia ini kadang hanya berkumpul seperti buih, ramai di media sosial, tapi kehilangan daya sengat. Kita terjebak pada rutinitas tahunan yang membuat jiwa kita menjadi manja. Kita sibuk mengunyah daging kurban di depan televisi, menonton penderitaan bangsa lain sambil geleng-geleng kepala pasrah.

Sebaliknya, ada satu kelompok dari saudara-saudara kita yang kerap dicap berbeda (sesat), merekalah justru yang benar-benar mengenang dan merawat ingatan perih tentang Karbala. Di sana, yang disembelih bukan lagi domba tiruan, melainkan Husain, cucu kesayangan Nabi Muhammad sendiri. Bukan simulasi, tapi fakta sejarah yang bersimbah darah.

Peristiwa pembantaian Sayyidina Husain bukan lagi sekadar tontonan atau drama teater yang diakhiri dengan mukjizat penggantian objek. Itu adalah kurban riil dari keluarga Nabi Muhammad, sebuah harga mutlak yang harus dibayar demi menjaga kesucian nilai Islam dari korupsi moral penguasa zalim. Ketika memori penderitaan itu dirawat dan diinternalisasi ke dalam ruang jiwa, ia berubah menjadi energi perlawanan yang dahsyat.

Boleh jadi, itulah kenapa kelompok minoritas justru menjelma menjadi kekuatan yang punya tulang punggung. Ketika ingatan akan luka itu dirawat setiap tahun, ia tidak menjelma menjadi tumpukan lemak di piring makan, melainkan menjadi sebongkah batu karang di dalam dada. Ia melahirkan manusia-manusia yang tidak mempan digertak oleh moncong senjata. Sebaliknya jadi manusia bernyali badak yang bikin gemetar para begundal internasional di Washington.

Mereka menerjemahkan air mata menjadi amunisi, sedangkan kita menerjemahkan bumbu gulai menjadi kolesterol. Memang repot kalau ibadah sudah telanjur jadi rutinitas tahunan; kita jadi pintar menyembelih sapi, tapi penakut setengah mati menghadapi penindasan.

Mengapa peristiwa yang sama menghasilkan sikap beragama yang berbeda? Karena berbeda dalam cara menafsirkan, tetang "sembelihan yang agung" dalam ayat "dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang agung (dzibhin 'azhim)." (QS. Ash-Shaffat: 107),

Bagi kita, kisah penggantian itu sudah selesai dan paripurna di tingkat syariat yang kasatmata. Ketika pisau Ibrahim yang tajam itu mendadak tumpul, malaikat Jibril turun membawa seekor domba gemuk dari surga yang disembelih sebagai gantinya. Selesai.

Sebaliknya, kaum Syiah melompat keluar dari kotak tafsir fisik tersebut menuju ruang hakikat yang melampaui zaman. Di tingkat syariat mereka tidak membantah adanya domba, tetapi mata batin sejarah mereka meyakini bahwa pada momen krusial tersebut, Allah menyingkap tirai waktu kepada Nabi Ibrahim untuk menyaksikan kurban yang sesungguhnya: pembantaian al-Husain di Karbala.

Buntut dari perbedaan tafsir ini bisa kita saksikan di halaman depan koran-koran internasional hari ini. Karena kaum Sunni memelihara memori tentang domba yang selamat, watak kita pun ikut-ikutan menjadi jinak mirip domba yang gampang digiring ke sana kemari oleh kepentingan politik global. Kita ramai tapi lembek seperti kue talam. Sebaliknya, karena kaum Syiah memelihara ingatan tentang darah Husain yang tumpah, mereka tumbuh menjadi manusia-manusia berkulit badak yang nyalinya bikin pusing tujuh keliling para Tiran di TelAviv dan Washington.

Memang beda nasibnya, antara umat yang energinya habis buat mengunyah daging kurban di depan televisi, dengan umat yang meminum air mata sejarah menjadi bahan bakar perlawanan!

Photos from The Argumentator's post 24/05/2026

IRONI TEOLOGI SUNGSANG
(Mendoakan Yang Kafir, Mengkafirkan Yang Muslim)

Masih ingat saat kemarin kita ngobrol-ngobrol santai soal Tanduk Setan? Topik yang bikin panas dingin. Ya, tanduk setan itu - yang konon katanya muncul dari arah Najd. Orang-orang Wahabi itu sontak menggeleng keras: "Bukan Najd, wahai saudaraku, bukan Najd!"

Tapi lucunya, meski mereka menolak tempatnya, mereka malah dengan setia menggenapi perilakunya.

Nabi saw pernah bersabda:

"Akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang-orang yang beriman dan membiarkan penyembah berhala."

Hadis ini sudah berabad-abad menjadi teka-teki. Tapi coba kita perhatikan akhir-akhir ini. Kita semua dipersilakan menyaksikan: ini lho, kejadiannya, persis seperti kata Nabi.

1. "Mereka Membunuh Orang-Orang Beriman..."

Akun FIQH SALAF secara eksplisit dan tanpa rasa malu menyerukan perang terhadap sesama muslim. Mereka tidak menyebut Iran sebagai "musuh politik" atau "pesaing geopolitik." Label yang dipilih adalah "teroris Syi'ah Majusi", sebuah konstruksi retoris yang dirancang untuk mendehumanisasi dan menghalalkan darah.

Di mata mereka, darah muslim Syiah bukan lagi darah yang diharamkan Allah. Ia telah direklasifikasi menjadi "darah halal" atas nama perang melawan "Majusi." Padahal, dalam hadis qudsi, Allah berfirman bahwa Dia sendiri yang akan menjadi musuh bagi orang yang membunuh kekasih-Nya. Narasi ini membalikkan yang haram menjadi sunnah, yang najis menjadi suci, yang membunuh menjadi ibadah.

Tapi telinga kita mungkin perlu dikerok sedikit supaya mendengar sesuatu yang ganjil: mereka mengidolakan Donald Trump sebagai algojo yang mereka dambakan.

Coba pikirkan dengan kepala dingin (kalo perlu kepala dimasukkan kulkas sebentar) siapa Donald Trump? Presiden Amerika yang dengan bangga memindahkan kedutaan ke Yerusalem. Presiden yang melarang warga muslim masuk ke negerinya dengan sebutan "Muslim Ban". Presiden yang tangannya, menurut perhitungan paling rendah sekalipun, berlumuran darah ratusan ribu muslim dari Afghanistan, Irak, Suriah, hingga Yaman.

Tapi bagi kelompok ini, Trump adalah "pahlawan yang ditunggu-tunggu." Seperti orang yang rumahnya kemalingan, lalu memanggil begal untuk jadi satpam. Tau mana yang teman mana yang lawan, udah kliyengan.

Dan yang lebih mencengangkan lagi: mereka mendoakan Trump. "Semoga Trump diberi hidayah," tulis mereka dengan penuh harap.

Doa hidayah. Doa yang biasanya kita panjatkan untuk musuh yang kita harap jadi teman. Tapi dalam konteks ini, doa hidayah itu seperti orang mendoakan buaya supaya menjadi vegetarian. Niatnya baik, tapi akal sehatnya lagi dimana?

2. "...dan Membiarkan Penyembah Berhala"

Sekarang kita masuk ke babak yang lebih aneh lagi.

Nabi bersabda bahwa kaum ini membiarkan penyembah berhala. Di zaman dulu, "penyembah berhala" jelas: orang-orang yang sujud pada berhala. Tapi di zaman sekarang, bentuknya lebih modern tapi lebih menggelikan.

Mari kita lihat siapa yang "dibiarkan" bahkan "didukung" oleh kelompok ini.

Di satu sisi, mereka mengkafirkan muslim Syiah yang—apa pun perbedaan fiqihnya—masih membaca LAA ILAHA ILLALLAH. Di sisi lain, mereka mendukung evangelis Kristen fundamentalis yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Bibel lebih tinggi dari Al-Qur'an. Kelompok Kristen evangelis ini—yang menjadi basis pemilih Trump—percaya bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali harus didahului dengan pembangunan Kuil Sulaiman ketiga. Dan kuil itu harus berdiri di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha.

Mari pahami logika ini: Syiah yang percaya pada Allah, Rasul, dan Al-Qur'an, tapi punya perbedaan soal kepemimpinan setelah Nabi—dianggap kafir. Tapi kelompok yang ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsha untuk membangun kuil—didoakan, diidolakan, didukung.

Mereka tidak hanya "membiarkan" penyembah berhala, mereka secara aktif menjilat, mendukung, dan mendoakan Trump (aktor utama dalam kasus pedofil Epstein File) agar mendapat "hidayah".

Mereka mendoakan Trump agar "diberi petunjuk" untuk... menjadi algojo yang menghancurkan Iran. Doa hidayah di sini bukan untuk keselamatan jiwa Trump di akhirat, melainkan untuk menjadikannya bulldozer politik yang membersihkan "musuh sektarian" di dunia.

Ini adalah instrumentalisme doa yang menjijikkan. Sebuah doa suci dijadikan bungkus plastik untuk menutupi daging busuk agenda sektarian yang haus darah. Jika ini hidayah, maka iblis pun bisa dikemas sebagai malaikat.

3. "Membaca Al-Qur'an tetapi Tidak Melewati Tenggorokan"

Sekarang sampai pada bagian yang paling metaforis—dan paling menyedihkan.

Nabi menggambarkan mereka sebagai orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati tenggorokan. Secara fisik, itu mustahil. Bacaan pasti melewati tenggorokan. Tapi secara spiritual, itu gambaran yang sangat tepat: Al-Qur'an ada di lisan, tapi tidak di hati. Di bacaan, tapi tidak di amalan.

Mari kita ambil contoh konkret.

Kelompok ini sering mengutip ayat tentang "perjanjian dalam Islam" untuk membenarkan sikap mereka terhadap non-muslim. Tapi ayat yang sama—atau ayat lain yang lebih kuat—mereka abaikan begitu saja.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan tepatilah perjanjian, sesungguhnya perjanjian itu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra: 34)

Ayat ini dibaca. Dilafalkan. Bahkan mungkin dihafalkan di luar kepala. Tapi ketika tiba pada perjanjian damai dengan muslim lain—atau dengan non-muslim sekalipun—mereka justru mempromosikan pengkhianatan.

4. Manifestasi Khawarij Modern?

Para ulama klasik—yang jelas lebih paham agama daripada kita semua—menyebut bahwa yang dimaksud dalam hadis tentang "kaum yang membaca Al-Qur'an tidak melewati tenggorokan" adalah Khawarij.

Siapa Khawarij? Mereka adalah kelompok pertama dalam sejarah Islam yang mengkafirkan sesama muslim secara massal. Mereka tadinya pendukung Ali bin Abi Thalib—saudara sepupu sekaligus menantu Nabi. Tapi ketika Ali menerima perjanjian damai dalam perang Shiffin, mereka berbalik badan: "Ali kafir! Dia berkompromi dengan hukum selain Allah!"

Mereka lalu keluar (Khawarij dari kata kharaja = keluar) dan mulai membunuh muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka membunuh dengan semangat ibadah yang membara. Mereka sholat malam, puasa siang, tapi pedang mereka tak pernah berhenti menebas leher muslim lain.

Nabi sudah mengingatkan: mereka adalah "anjing-anjing neraka." Tapi peringatan itu tidak cukup untuk menghentikan virus teologis yang satu ini. Karena virus itu bermutasi. Ia tidak mati. Ia hanya berganti baju.

Khawarij klasik → mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, lalu membunuh muslim yang setia pada Ali.

Khawarij modern → mengkafirkan Syiah (pengikut keluarga Nabi), lalu minta bantuan Trump untuk membunuh mereka.

Jika Khawarij klasik adalah ancaman internal, maka Khawarij modern adalah ancaman internal yang sudah bersekutu dengan ancaman eksternal. Mutasi yang lebih mematikan. Seperti virus yang tadinya hanya menyerang satu organ, sekarang sudah pakai bantuan dari luar untuk menghancurkan seluruh tubuh.

Ironi Teologi Selektif
Begitulah teologi selektif bekerja: seperti orang yang lebih memilih memoles mobil tetangga sambil membiarkan motornya sendiri berkarat. Standar ganda yang begitu lentur, lebih elastis dari karet gelang di rambut anak kecil. Yang kafir tapi berguna secara politik dirangkul mesra, yang muslim tapi berbeda mazhab diinjak tanpa permisi.

Sejarah mungkin akan mencatatnya bukan sebagai pembelaan terhadap Islam, melainkan sebagai lelucon paling getir: sekelompok orang yang begitu sibuk mengkafirkan saudaranya sendiri, sampai lupa bahwa yang mereka doakan hidayah itu, boleh jadi sedang membaca Alkitab sambil menyusun strategi perang berikutnya.

Want your business to be the top-listed Government Service in Bandung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


S**a Asih
Bandung
40111