04/06/2026
PIL SABAR DOSIS TINGGI DI APOTEK KEKUASAAN AL HAJJAJ
Oleh: the Argumentator
Tak sampai 1 abad setelah Rasulullah wafat, kaum muslim pernah dipimpin oleh Tiran yang kejam. Di masa itu, bukan gerobak yang dirampok, melainkan nyawa. Bukan satu-dua orang, tapi puluhan ribu. Dan bukan preman pasar pelakunya, melainkan seorang gubernur bernama Al-Hajjaj bin Yusuf.
Al-Hajjaj bin Yusuf bukanlah penguasa biasa. Ia tipe yang turun langsung ke lapangan—dengan pedang di tangan kanan dan mushaf di tangan kiri. Pertama, ia punya keyakinan tingkat dewa bahwa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah maksum, suci, tidak pernah salah. Kedua, ia meyakini bahwa dirinya sendiri digerakkan oleh wahyu dari langit. Ketiga, mesin propaganda rezimnya menyebarkan doktrin mengerikan: "Barangsiapa menentang Al-Hajjaj, berarti menentang Islam."
Coba bayangkan: Anda tinggal di kampung yang dikuasai seseorang yang merasa tindakannya perintah langsung Tuhan. Setiap memenggal kepala, ia bilang jihad. Setiap merampok harta, ia bilang ghanimah. Anda mau protes? Protes Anda akan dijawab pisau. Dan sebelum pisau itu menyentuh leher, Pak Haji menasehati Anda untuk ber"sabar".
Anda mungkin akan geleng-geleng kepala menyangka betapa absurdnya. Tetapi yang terjadi masa itu memasang bisa sekonyol itu: ketika rakyat menjerit, justru para ulama senior datang lebih dulu daripada pas**an keamanan. Mereka datang membawa obat bernama SABAR. Dosis tidak terbatas. Efek samping: lumpuh total.
Inilah titik di mana sejarah membelah menjadi dua sungai besar.
Di satu sisi, kita punya Anas bin Malik RA dan Abdullah bin Umar RA. Para sahabat Nabi, orang yang pernah melihat langsung wajah Rasulullah. Ketika darah mengalir di jalan-jalan Kufah, ketika para tabi'in digorok algojo Al-Hajjaj, Anas bin Malik keluar membawa resep: "Bersabarlah." Abdullah bin Umar memilih mengunci pintu rumahnya rapat-rapat dan diam.
Bukan karena mereka tak punya perasaan. Tapi dalam konstruksi politik Sunni yang mulai terbentuk, stabilitas adalah segalanya. Memberontak kepada penguasa—sekalipun penguasanya Al-Hajjaj yang haus darah—dianggap lebih jahat dari kezaliman itu sendiri. Fitnah lebih mengerikan dari pembunuhan. Ini mengkristal jadi doktrin yang bertahan hingga hari ini: taatlah kepada penguasa walau zalim. Jangan angkat senjata. Bersabarlah. Doakan saja.
Di sisi lain sungai, kita punya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi. Di padang Karbala, ketika ribuan pas**an mengepung dan air dua hari tak masuk tenda, Husain tidak berkata, "Bersabarlah, mari kita pulang." Ia berdiri. Ia berteriak, "Bersabarlah menyongsong maut, wahai putra-putra pamanku!" Lalu ia maju. Dan ia mati bersama 72 orang keluarganya.
Ini sabar yang berbeda. Sabar yang memanggul pedang. Sabar yang memilih mati daripada hidup dalam kehinaan. Dari sini lahir adagium Syiah: la yakuunal mu'minu dzalilan—jangan sampai seorang mukmin itu hina. Hidup dalam ketundukan kepada penguasa zalim adalah kehinaan yang tak boleh diterima. Berjuanglah walau risikonya mati.
Dua garis politik ini: "sabar pasrah" versus "sabar perlawanan", bukan sekadar perbedaan gaya. Ini dua filsafat berbeda tentang apa artinya menjadi Muslim di tengah kezaliman.
Sekarang tarik benang merah ke hari ini. Lihatlah Gaza. Palestina. Tanah yang puluhan tahun dibombardir, penduduknya dibantai dengan dalih keamanan. Di belakang semua itu, Amerika Serikat dan Israel berdiri dengan senyum lebar, dilengkapi veto di Dewan Keamanan dan kiriman bom F-35.
Fakta politik hari ini sangat jelas. Para ulama di Teluk—Arab Saudi, UAE, Bahrain—umumnya mengambil posisi mirip Anas bin Malik. Mereka mengutuk, menyatakan keprihatinan. Tapi di ujung pidato selalu ada kalimat penutup: "Kami menyerukan perdamaian." "Kami meminta masyarakat internasional bertindak." "Kita harus bersabar dan berdoa." Sementara bom terus berjatuhan di sekolah dan rumah sakit. Sementara anak-anak Gaza puluhan ribu terbunuh.
Di Indonesia pun pola sama. Sebagian besar ulama arus utama mengambil jalan sabar. Demo boleh tapi jangan anarkis. Boikot boleh tapi jangan berlebihan. Doa dan qunut nazilah sudah cukup. Jangan sampai tindakan kita dianggap terorisme. Jaga stabilitas. Jaga investasi. Jaga hubungan diplomatik dengan AS. Ini sabar ala Anas: sabar yang tertib, patuh, tak mau memberontak kepada penguasa global sezalim apa pun.
Sementara di sisi lain, para ulama Syiah—di Iran, Irak, Lebanon, Yaman—mengambil posisi persis seperti Husain. Mereka tak hanya mengutuk. Mereka menyerukan perang. Hizbullah menembakkan roket ke utara Israel setiap hari. Houthi memblokade kapal Israel di Laut Merah. Iran mengirim drone dan rudal. Mereka tahu risikonya. Mereka tahu akan dibom balik. Rumah sakit hancur, jenderal tewas, ekonomi tercekik sanksi. Tapi mereka mengambil posisi: lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut. Ini sabar ala Husain: sabar yang memanggul senjata.
Tentu, tak ada yang gratis. Pilih jalan Anas, Anda selamat. Istana tak dibom. Anak cucu bisa sekolah di AS. Anda tetap ulama besar, diundang konferensi internasional, berfoto dengan pemimpin dunia, sambil sekali-sekali menangis di depan kamera melihat anak Gaza terbunuh. Lalu pulang ke istana, makan malam mewah, tidur nyenyak karena hati nurani sudah dibungkus rapi dalih "menjaga persatuan umat."
Pilih jalan Husain, Anda diburu. Dituduh teroris. Negara disanksi. Rumah sakit kekurangan obat. Anak-anak mungkin tewas. Tak diundang konferensi perdamaian mana pun. Hanya dapat doa dari yang berpihak—dan laknat dari setengah dunia lain.
Tapi pertanyaan sederhana: jalan mana yang "diridhoi" Tuhan? Apakah Tuhan memihak yang selamat atau yang berani?
Persoalan sabar versus perlawanan bukan sekadar label Sunni atau Syiah. Ini pilihan fundamental: ketika melihat kezaliman, apakah Anda diam karena lebih aman? Atau bersuara karena itu benar?
Membenarkan sikap pasrah dan diam di hadapan pembantaian massal dengan dalih "kesabaran" adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehat dan nilai keadilan Tuhan itu sendiri. Sebab Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang menyuruh berbuat adil, bukan Tuhan yang menyuruh diam ketika keadilan diinjak-injak. Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang mengutus Musa untuk melawan Firaun, bukan Tuhan yang menyuruh Bani Israel bersabar sementara leher mereka digorok.
Anjuran untuk menundukkan kepala di bawah sepatu laras seorang gubernur yang berdelusi bahwa dirinya digerakkan oleh wahyu langit, bukanlah cerminan dari kemurnian ajaran Islam. Ia adalah produk rekayasa sosial-politik yang memutarbalikkan nilai agama melalui corong para ulama palsu yang menghamba pada kekuasaan. Mereka inilah yang mengambil ayat-ayat tentang sabar, mencabutnya dari konteks perjuangan, lalu menempelkannya pada konteks kepasrahan. Mereka inilah yang mengubah sabar dari kata kerja menjadi kata benda, dari gerakan menjadi balsem.
Al-Hajjaj sudah mati. Istana Bani Umayyah runtuh. Tapi rohnya hidup. Ia hidup dalam diri setiap penguasa zalim yang merasa tindakannya restu langit. Ia hidup dalam diri setiap birokrat yang lebih takut atasan daripada Tuhan. Ia hidup dalam diri setiap ulama yang mengambil amplop istana lalu membungkus ketidakadilan dengan fatwa manis tentang sabar. Hari ini, ia hidup dalam diri pemimpin Teluk yang diam saat Gaza dibantai, dalam diri diplomat yang memveto gencatan senjata, dalam diri pejabat yang masih tersenyum selfie dengan para pembantai anak-anak.
Pertanyaannya, kita di barisan mana: Anas yang diam dan selamat? Atau Husain yang mati tapi namanya harum sampai hari kiamat?
Saya tak berani menggurui. Saya hanya pekerja harian yang gemar membaca sejarah. Tetapi kalau membaca status Kiai atau Ustadz ini, saya membayangkan, Al-Hajjaj tertawa lepas dari kuburnya, karena "pil sabarnya" tetap ada yang mau membeli!

31/05/2026
29/05/2026
28/05/2026
24/05/2026