28/02/2025
APAKAH KEMENDUAAN? APAKAH TAUHID?
Aku sebutir mangga dari empat belas pohon abadi,
Pohon yang senantiasa berbuah ranum dan berbagi
Dari segenap daun, buah, dan teduh sepanjang hari,
Harum semerbak dan kekuatan memulihkan daya kuasa ilahi.
Aku adisti yang terserlah dan menari
Dari duabelas sinar cemerlang matahari
Yang terbit di negeri zamrud khatulistiwa setiap pagi,
Cahaya yang tak pernah kikir memberi,
Tak p**a berkhianat dan berpaling dari kasih,
Setia mengantarku menikmati cantik bumi penuh warna-warni,
Melimpahi kehidupanku lewat pori-poriku dengan vitamin
Yang tiada dapat terganti dengan yang kukonsumsi dan yang imitasi.
Aku merah merona dari lima kuntum bunga sepatu yang berseri-seri
Setelah kuyup bermandikan hujan dan gerimis.
Kutemukan wajah-Nya pada Meta yang mengolah bagiku, memetik
Sekuntum demi sekuntum kembang dari negeri leluhurku ini,
Menjumpai senyum-Nya pada Iwan yang menyapu kebun dan memetik
Untukku seikat kamboja merah jambu pada pagi-pagi yang sunyi.
Pada peternak telur dan taukeh Yohan yang mengantarnya sendiri,
Jangkung dan Edi yang membawa ikan, buah dan sayur sebelum fajar menyingsing,
Slamet pedagang gado-gado penuh gizi,
Semua yang menghidangkan setandan Musa di atas mejaku setiap hari,
Aku ingin bernyanyi,
"Tujh mein rabb dikta hai!"
Aku sehelai daun binahong, bayam Malabar yang rendah hati
Dalam hijau di padang dan jalanan, liar menggapai langit
Dengan pucuk-pucuk berbentuk hati nurani.
Kukenali kuakrabi Sang Sahabat pada Janti,
Yang tak dapat membaca abjad, aksara dan kitab-kitabku dalam lemari,
Yang memetik binahong, saga dan daun-daun ajaib,
Dan memijat juga membuatku tertawa dalam berkat ilahi
Lewat cerita dan kedua tangan-Nya pada jari-jemari
Yang tak pernah berhenti bersyukur dan berbagi.
Bersamanya aku cuma ingin menari,
"Tujh mein rabb dikta hai!"
Aku hampa, udara yang tiada terlihat hanya dihirupi,
Aku hangus, api yang bergelora hanya membakar diri,
Aku karam, air yang menyerap warna hanya mengalir,
Aku tiada, tanah, wahana yang hanya mewadahi.
Yesus memanggil Eli, Eli, di palang salib,
Tuhanku, Tuhanku, mengapa gerangan meninggalkanku sendiri?
Jutaan Katholik memuja Yesus dan Perawan Suci,
Jutaan Syiah memuja Ali, Ali, Ali!
Di kehidupan nyata kujumpai Ali pada seluruh Ali,
Paman Ali dan keponakanku Ali,
Dan di dunia virtual kutemui Ali pada segenap Ali,
Guruku Ali Haydar dan sahabatku Ali Zaidi.
Namun, izinkan Gayatri mengusik:
Jutaan Katholik memuja Yesus dan Perawan Suci,
Jutaan Syiah memuja Ali, Ali, Ali!
Adakah kaujumpai Ali pada Fatima dan Husain,
Pada Ji Gong dan Dewi Sri,
Bahkan pada Kaisar-kaisar Romawi,
Juga Muawiyah dan Yazid,
Dan segenap penerus mereka di gereja-gereja dan masjid-masjid?
Pergilah mempelajari
Serat Jafari, Imam Al-Ghazali, atau Ibnu Rusydi,
Rumi, Ibnu Arabi, Mulla Sadra atau Suhrawardi,
Baiklah menekuni
Sabda Kong Hu Chu, Lao Tzu dan Imam Ali,
Khrisna, Musa, Yesus, Baba Nanak dan Ravidas Ji.
Tak lupa mendalami
Pitutur Syekh Siti Jenar, sembilan sunan dan Bektash Wali,
Ranggawarsita, Sudira, Sosrokartono dan Abdul Qadir Jaelani.
Jadilah sarjana paling mumpuni
Dari universitas di Kairo, Najaf, Qom, Mekkah atau Karachi,
Seminari-seminari terbaik di Jerman, Amerika dan Tahta Suci,
Di Jakarta, Yogyakarta, Salatiga, Surabaya, Madura atau Bekasi.
Sejuta buku di perpustakaan ayahku Abdul Hadi,
Milyaran kitab tersedia secara elektronik,
Semuanya layak untuk diselidiki, ditelusuri dan dikaji.
Namun, hai segenap yang menghayati dan mengalami,
Apakah gunanya, hai farisi Kristen dan Muslim,
Jika tak membahagiakan sesama yang bernafas dan memberi urip
Lewat kaki-kaki tangguh dan tangan-tangan gigih
Yang menanam dan yang mengutip,
Yang menjala dan membawa mengemudi,
Yang tekun menenun benang dan menjahit,
Yang mengolah dan meramu, menimba dari perigi,
Hasil tani dan kebun, hutan, laut dan sungai?
Apakah kemenduaan? Apakah tauhid?
Seluruh sofis, filsuf, dan sarjana seminari,
Para imam, pendeta pendakwah dan mubaligh
Lebih fasih menjelaskan dengan detail dan ilustrasi,
Menerangkan kata-kata dari Empat Kitab Suci,
Atau tradisi-tradisi dalam hadis-hadis
Menguasai bahasa Arab, Yunani dan Ibrani seperti bahasa ibu sendiri.
Tapi, jika kau tanyakan padaku,
Meski Jawa dan Melayu itulah bahasa ibuku dan sehari-hari,
Akan kujawab sambil bersenandung, berjoget dangdut film Hindustani
Dengan kemben, kebaya, batik, sarung, salwar kameez atau kain sari,
Dari pura Parwati ke kapel Maria ke gudwara ke makam wali:
“Tujh mein rabb dikta hai!
“Kemenduaan dalam manunggaling,
“Kawula gusti dalam tauhid,
“Hanyalah satu kemanusiaan, tiada lain.”
Hanyalah satu kemanusiaan, tiada kecuali,
Di hutan hujan tropis yang kau babat habis,
Di samudra yang kaunodai meski ikan kod memberi saripati,
Di rumah sakit tempat kau terapi sel stem dan kemoterapi,
Di rawa-rawa tempat aku mengharap ikan gabus mengurapi
Kepala dan hatiku yang terluka dan penuh penyakit.
Mengenalmu sebagaimana Gusti Pangeran Langit dan Bumi,
Oh, Sahabat, Saudara dan Saudari,
Hanyalah satu kemanusiaan, tiada lain.
Bogor, April, 2019.
Puisi untuk Ramadhan 2025
Hari pertama