Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04)

Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04)

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04), Bulak kapal, Bekasi.

15/06/2019

Sing penting yakin...
mancing dijalan pun jadi...

Photos from Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04)'s post 09/06/2019

KH. Noer Ali, Penjaga Benteng Islam
SINGA KARAWANG-BEKASI

Sabtu, 08-Juni-2019
Cikiwul,Bantar Gebang-BEKASI

– “BUKAN ORANG BEKASI NAMANYA KALAU DIA TIDAK KENAL KH. NOER ALI".

Ya itu adalah ungkapan yang sering saya dengar dari para orang tua dulu. Sosok beliau sangat terkenal dimata orang bekasi karena ia menjadi ikon kebanggaan masyarakat betawi (khususnya di Karawang-Bekasi) pada masa revolusi. Beliau terkenal dengan sebutan “Singa Karawang Bekasi” atau ada juga yang menyebutnya “si Belut Putih”. Saya memang tidak banyak tau tentang sejarah beliau. Saya hanya dapat kisahnya dari para orang tua. Beliau adalah seorang ulama dan pemimpin pada zaman revolusi.
Kembali ke KH. Noer Ali, selain berjuang melawan penjajah beliau juga memiliki pesantren At- Taqwa yang berpusat di Kampung Ujung Harapan (dulu bernama Ujung malang) . Kini pesantren tersebut sudah memiliki lebih dari 50 Cabang.

Cerita perjuangan beliau begitu banyak yang saya dapatkan baik dari para orang tua maupun guru (ceritanya seperti film-film kolosal ^_^). Ia selalu bisa lolos/menghilang ketika ditangkap belanda (mungkin karena itu kali ya dia berjuluk si belut putih), meriam-meriam belanda yang tidak bisa meledak, murid-muridnya yang kebal peluru karena amalan wirid dan ratibnya, dll. Beliau juga sangat terkenal di mata masyarakat non muslim karena sikap tolerannya, hal itu dibuktikan ketika beliau sangat melindungi masyarakat tiong hoa yang non Muslim dari penjajah Belanda.

Alhamdulillah pada 9 November 2006 akhirnya ia diangkat menjadi pahlawan Nasional, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Berikut sekilas dari biografinya:
KH. Noer Ali “Singa Karawang-Bekasi”
Sebagaimana biografi yang ditulis Ali Anwar, Noer Ali lahir tahun 1914 di Kp. Ujungmalang (sekarang menjadi Ujungharapan), Kewedanaan Bekasi, Kabupaten Meester Cornelis, Keresidenan Batavia. Ayahnya bernama H. Anwar bin Layu, seorang petani dan ibunya bernama Hj. Maimunah binti Tarbin.
Meskipun ayahnya hanya sebagai petani, namun karena kemauan keras untuk menuntut ilmu, Noer Ali pergi ke Mekah dengan meminjam uang dari majikan ayahnya yang harus dibayar dicicil selama bertahun-tahun. Selama enam tahun (1934-1940) Noer Ali belajar di Mekah.
Saat di Mekah, semangat kebangsaannya tumbuh ketika ia merasa dihina oleh pelajar asing yang mencibir: “Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia. Harusnya Belanda bisa diusir dengan gampang kalau ada kemauan!”. Noer Ali pun “marah” dan menghimpun para pelajar Indonesia khususnya dari Betawi untuk memikirkan nasib bangsanya yang dijajah. Ia diangkat teman-temannya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di Mekah (1937).
Sekembalinya ke tanah air, Noer Ali mendirikan pesantren di Ujungmalang. Ketika Indonesia merdeka, ia terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan. Tanggal 19 September 1945 ketika diselenggarakan Rapat Raksasa di Lapang Ikada Jakarta, Noer Ali mengerahkan massa untuk hadir. Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Lasykar Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi.
B**g Tomo saat itu dalam pidato-pidatonya dalam Radio Pemberontak menyebutnya sebagai Kiai Haji Noer Ali sehingga selanjutnya ia dikenal sebagai K.H. Noer Ali. Peranan pentingnya muncul ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947. K.H. Noer Ali menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa Barat dengan tidak menggunakan nama TNI.
K.H. Noer Ali pun kembali ke Jawa Barat jalan kaki dan mendirikan serta menjadi Komandan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang. Saat itu, Belanda menganggap tentara Republik sudah tidak ada. Noer Ali meminta rakyat Rawagede untuk memasang ribuan bendera kecil-kecil dari kertas minyak ditempel di pepohonan. Tentara Belanda (NICA) melihat bendera-bendera itu terkejut karena ternyata RI masih eksis di wilayah kekuasaannya. Belanda mengira hal itu dilakukan pasukan TNI di bawah Komandan Lukas Kustaryo yang memang bergerilya di sana.

Maka pasukan Lukas diburu dan karena tidak berhasil menemukan pasukan itu, Belanda mengumpulkan rakyat Rawagede sekitar 400 orang dan kemudian dibunuh. Peristiwa ini membangkitkan semangat rakyat sehingga banyak yang kemudian bergabung dengan MPHS. Kekuatan pasukan MPHS sekitar 600 orang, malang melintang antara Karawang dan Bekasi, berpindah dari satu kampung ke kampung lain, menyerang pos-pos Belanda secara gerilya. Di situlah K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belut Putih” karena sulit ditangkap musuh.
Sebagai kiai yang memiliki karomah, Noer Ali menggunakan tarekat untuk memperkuat mental anak buahnya. Ada wirid-wirid yang harus diamalkan, namun kadang-kadang anak buahnya ini tidak taat.
Tahun 1948 Residen Jakarta Raya mengangkat K.H. Noer Ali sebagai Koordinator Kabupaten Jatinegara. Ketika terjadi Perjanjian Renville, semua pasukan Republik harus hijrah ke Yogyakarta atau ke Banten. Ia hijrah ke Banten melalui Leuwiliang, Bogor. Di Banten, MPHS diresmikan menjadi satu baltalyon TNI di Pandeglang. Saat akan dilantik, tiba-tiba Belanda menyerbu. Noer Ali pun bersama pasukannya bertempur di Banten Utara sampai terjadinya Perjanjian Roem-Royen.
Dalam Konferensi Meja Bundar yang mengakhiri Perang Kemerdekaan 1946-1949, Noer Ali diminta oleh Mohammad Natsir membantu delegasi Indonesia. Selain itu, ia pun masuk ke luar hutan untuk melakukan kontak-kontak dengan pasukan yang masih bertahan. Ketika pengakuan kedaulatan ditandatangani Belanda, MPHS pun dibubarkan. Jasa-jasanya selama masa perang kemerdekaan dihargai orang termasuk oleh A.H. Nasution, yang menjadi Komandan Divisi Siliwangi waktu itu. Kemudian dimulailah perjuangan K.H. Noer Ali dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan maupun melalui jalur politik.
Pemikiran Noer Ali untuk memajukan pendidikan di negeri ini, sebenarnya sudah dimulai sejak ia mendirikan pesantren sepulang dari Mekah. Setelah merdeka, peluang lebih terbuka. Tahun 1949, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta. Selanjutnya Januari 1950 mendirikan Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) di berbagai tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain, hingga ke luar Jawa.
Di lapangan politik, peran Noer Ali memang menonjol. Saat Negara RIS kembali ke negara kesatuan, ia menjadi Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk bergabung ke dalam NKRI. Tahun 1950, Noer Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara. Tahun 1956, ia diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante dan tahun 1957 menjadi anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat. Tahun 1958 menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.
Tahun 1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu, sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia bersikap baik.[]
======
Penulis: Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S. adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. (jk/fb-fbr)

Mohon maaf jika bnyk kesalahan dalam catatan sejarah ini...
Wallahu a'lamu bissawab

04/06/2019

Selamat beristirahat kota bekasl...

02/06/2019

Nih bocah gmn cara masukin kepala nya yaa...

27/05/2019

Siapa nih pelawak lejen yang paling lu tunggu2 in doeloe....
Selamat bernostalgila aja deh cuy ... ✌😎😂😂

Photos from Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04)'s post 27/05/2019

BETAWI TEMPO DOELOE

BEBAWAAN ( nyorog)

Dulu kalo lebaran kurang atu ari entuh masyarakat kampung kita udah pada sibuk nyiapin buat datengnya ari lebaran ada nyeng sibuk andilan daging kebo,bikin kue,ngerebus tupat ama pada beli baju baru sementara entuh di Langgar dan mesjid udah rame ama suara takolan bedug bocah. Sore arinya entuh orang udah pada sibuk ama nyeng namanya bebawaan (nyorog) jalanan kampung penuh ama orang nyeng pada jalan kaki bawa tentengan atawa rantang isi olahan buat bawain orang tua dan sedara nyeng lebih tua.

Berasa bener hari entuh apalagi kalo takbir udah berkumandang di langgar dan mesjid, ampe terharu kaga berasa aer mata ampe netes. Biasanya kalo menjelang sore ari entuh baba kita udah pada gelar tiker dibale buat persiapan sedekah malem lebaran,dengan serebatan kaen baba nunggu bedug nunclo di bale sekalian nyambut ade,ponakan dan cucu nyeng pada dateng bebawaan.

Kalo ari lebaran paling berkah sodara paling tua,entuh nyeng namanya bawaan ampe kaga muat dimeja dapur,lah orang dulu pan anaknya banyak,tarolah anaknya sepuluh entuh baba bisa dapet sepuluh rantang,entuh baru dari anaknya doang belon dari ponakan dan misananya pokoknya entuh nyeng namanya semur kebo ama sayur kembili ampe kaga muat dipaso ,sudahan ikan tembang ama perek di jaketin mah ampe pada ngampar,entuh bocah pada demen gadoin ikan gabus kering ama bucak bacek,karena bucak bacek mah kudu dimakan ari entuh juga karena gampang basi,kalo semur daging dan sayur kembili bisa diangetin ditungku dapur dan makin diangetin makin nyerep rasa rempah -rempahnya.

Entuh orang bebawaan karena dulu mah pada jalan kaki dari sore ampe malem entuh orang masing pada ngalut kaya kaga ada berenti dan abisnya.Abis maghrib mulain dah entuh suara rencengan petasan mulai pada berodog nandain selamatan malem lebaran udah di mulai.

Suara berodogan petasan, suara bedug dan suara takbir berbaur ama suara orang lewat pada bebawaan bikin lebaran di kampung kita dulu begitu meriah dan syahdu,sekali lagi kalo malem takbiran dateng entuh aer mata kaga berasa pada ngembeng apalagi nyeng udah kaga punya emak ama baba sangat berasa sekali...

Bekasi,27 mei 2019
Sarin " Bang Ilok" Sarmadi.

26/05/2019

Ada inget sama lagu2 ini???

26/05/2019

Inget film si pitung??
Berarti anda sudah tua...

Yuk share video ini...
Jgn lupa like fanspage nya juga yaa...

18/05/2019

Kejadian kocak warga +62
Tonton ampe abis dahh...
Jgn lupa share yaa...

13/05/2019

Meteor di indonesia

Photos from Kartun 05 (Karang Taruna RT 05 / 04)'s post 20/08/2016

Kemeriahan peringatan HUT RI 71 di RT 05..
Semangat ya kawan..

MERDEKA!!!!!!!!

Want your business to be the top-listed Government Service in Bekasi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Bulak Kapal
Bekasi
17111