“Pak Prabowo Subianto bilang masyarakat desa memang tidak pakai dolar dalam kehidupan sehari-hari. Memang betul, rakyat kecil belanjanya pakai rupiah, bukan dolar. Tapi masalahnya, banyak kebutuhan hidup sekarang harganya ikut naik kalau rupiah melemah terhadap dolar.
Saat rupiah turun, harga pupuk ikut naik, pakan ternak mahal, sparepart motor dan mesin naik, ongkos angkut naik, bensin ikut terasa berat. Akhirnya harga sembako di warung juga pelan-pelan ikut naik. Yang paling terasa dampaknya ya rakyat kecil sendiri: petani, pedagang warung, buruh harian, nelayan, sampai UMKM desa.
Sementara penghasilan rakyat banyak yang segitu-gitu aja, harga kebutuhan terus naik. Jadi walaupun masyarakat desa tidak pegang dolar, tetap saja yang dirasakan itu harga hidup makin mahal dan daya beli makin lemah
Karena hari ini, meski tinggal di desa dan transaksi pakai rupiah, ekonomi rakyat tetap terhubung dengan harga-harga yang dipengaruhi dolar.”
Prabowo Subianto
Voice Note
Ruang edukasi publik & analisis kebijakan. Mengurai fakta, membedah data, membangun kesadaran fikir.
Perbaiki gizi dengan secuil daging ayam
14/05/2026
“Indonesia dan Malaysia, dua negara penghasil sawit terbesar di dunia.
Sumber daya melimpah. Produksi berlimpah.
Namun ada satu pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat…
Mengapa harga minyak goreng di Malaysia bisa jauh lebih murah dibanding Indonesia?
Padahal, sawit tumbuh subur di negeri ini.
Petaninya bekerja di negeri ini.
Pabriknya berdiri di negeri ini.
Tapi rakyat justru masih harus membeli dengan harga yang terasa berat.
Publik tentu berhak bertanya.
Apakah tata kelolanya sudah tepat?
Apakah distribusinya sudah adil?
Atau ada rantai panjang yang membuat harga semakin jauh dari logika rakyat kecil?
Karena pada akhirnya, kekayaan alam seharusnya menghadirkan kesejahteraan.
Bukan sekadar angka produksi yang dibanggakan, tetapi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dan ketika kebutuhan pokok menjadi mahal di negeri yang kaya sumber daya…
maka pertanyaan publik bukan sesuatu yang berlebihan.”
10/05/2026
“Indonesia punya lebih dari 16 juta hektare kebun sawit.
Ekspornya pada 2024 mencapai sekitar US$27,7 miliar, atau setara ratusan triliun rupiah. ( Hitung sendiri ya kurs dolar terupdate 😁
Angkanya besar. Sangat besar.
Tapi seperti biasa…
pertanyaan paling penting justru sering hilang dari pidato-pidato resmi:
Seberapa besar rakyat benar-benar ikut merasakan?
Karena di negeri ini, kekayaan alam terlalu sering hanya indah di statistik.
Grafik naik. Ekspor naik. Devisa naik.
Namun di banyak tempat, kehidupan rakyat berjalan di tempat.
Petani kecil masih berjuang dengan harga pupuk.
Buruh masih bekerja panjang dengan penghasilan pas-pasan.
Daerah penghasil kadang justru tertinggal dibanding daerah yang menikmati hasilnya.
Sawit disebut tulang punggung ekonomi nasional.
Tetapi tulang punggung bangsa seharusnya bukan hanya angka ekspor—
melainkan kesejahteraan rakyatnya.
Dan di situlah kritik paling relevan perlu disampaikan:
jangan sampai negeri yang kaya sumber daya
terus hidup dengan mental ‘bangga jadi penonton keuntungan.’
Karena kekayaan alam tidak otomatis menjadi kemakmuran.
Ia hanya akan menjadi kemakmuran…
kalau negara berani memastikan hasilnya tidak berhenti di elit dan korporasi.”
10/05/2026
Keren sih ini... 👏👏👏
09/05/2026
Indonesia punya cadangan batu bara sekitar 31,95 miliar ton.
Jika diasumsikan rata-rata harga batu bara dunia di kisaran US$100 per ton,
maka nilai cadangan itu bisa mencapai lebih dari US$3 triliun.
Dengan kurs sekitar Rp17.400 per dolar,
nilainya setara lebih dari Rp55.000 kuadriliun.
Angka yang begitu besar.
Sulit bahkan untuk dibayangkan.
Tambang terus berjalan.
Ekspor terus meningkat.
Negeri ini sesungguhnya tidak miskin sumber daya.
Namun di saat yang sama,
masih banyak rakyat yang akrab dengan jalan rusak,
lapangan kerja yang sempit,
harga kebutuhan yang terus naik,
dan pendidikan yang belum benar-benar merata.
Ironisnya, yang sering diminta berhemat justru mereka yang hidupnya sudah serba pas-pasan.
Kadang kita bertanya,
kekayaan alam ini sebenarnya sedang bekerja untuk siapa?
Karena jika hasil bumi hanya ramai di laporan,
tetapi tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari,
maka yang tumbuh bukan hanya kesenjangan…
melainkan rasa kecewa.
Negeri ini tidak kekurangan kekayaan.
Mungkin yang masih langka adalah keberpihakan.
Menurut kalian?
Sumber:
Kementerian ESDM RI
Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral & Batubara Nasional 2025.
*Perhitungan nilai menggunakan asumsi harga batu bara global sekitar US$100/ton.
09/05/2026
Tahukah kamu?
Indonesia memiliki salah satu cadangan nikel terbesar di dunia.
Data Kementerian ESDM menyebut:
- Cadangan bijih nikel Indonesia sekitar 5,3–5,9 miliar ton
- Total sumber daya nikelnya mencapai sekitar 17–19 miliar ton
Nikel hari ini menjadi komoditas strategis dunia karena dipakai untuk:
- baterai mobil listrik,
- smartphone,
- penyimpanan energi,
- hingga stainless steel.
Jika dihitung kasar dengan harga nikel global sekitar US$15.000 per ton, maka nilai ekonominya bisa mencapai:
Setara sekitar:
- US$88 triliun
- atau lebih dari Rp1.400.000 triliun (kurs Rp16.000/USD)
Angka yang sangat besar.
Karena itu banyak negara dan investor dunia berebut masuk ke industri nikel Indonesia.
Nikel bukan sekadar tambang.
Ia adalah salah satu kunci masa depan industri dan energi dunia.
Ini baru nikel....
09/05/2026
8 Mei 2026: sekitar Rp17.375/USD
Rupiah lemah tapi ekonomi tumbuh...
Rakyat mah gak bakal ngerti kalau hitungan begini.
Cuman pemerintah yang hebat mah
Ini yang disebut rakyat sengaja dibikin miskin dan rakyat terlena oleh pembodohan bansos...
#
Rakyat mengkoreksi kok gak boleh...
“Rakyat diminta taat bayar pajak.
Telat sedikit kena denda. Salah sedikit kena sanksi.
Tapi di sisi lain, pajak pejabat dibayar negara.
Rumah dinas dibiayai negara.
Mobil dinas dibayar negara.
BBM, perawatan, hingga fasilitas hidup ditanggung negara.
Lalu pertanyaannya sederhana:
di mana rasa keadilannya?
Saat rakyat kecil menghitung receh untuk bayar PBB, cicilan, dan pajak kendaraan, para pejabat justru hidup dari uang yang dikumpulkan rakyat itu sendiri.
Negara seharusnya hadir untuk meringankan beban rakyat, bukan memperlebar jarak antara penguasa dan yang dikuasai.”
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Jalan Bambu Kuning IX
Bekasi
17114
