12/09/2026
Ada 2 masalah besar di balik buku "Islam Ala Prabowo" ini:
1. MASALAH PENCATUTAN NAMA
Ini paling fatal.
3 tokoh yg namanya dicatut: Gus Kautsar Ploso, TGB Zainul Majdil dan KH Said Aqil Siradj.
Ketiganya udah klarifikasi: "Gak pernah dilibatkan & gak pernah nulis".
Itu bukan "salah ketik" lagi. Itu udah masuk (kejahatan intelektual / plagiarisme). Di dunia akademik & hukum ini bisa dipidana.
Wajar kalau dia bilang "ganjil, aneh, kontroversial".
2. MASALAH JUDUL "ISLAM ALA..."
Logika beliau ada benernya.
"Islam ala KH Ahmad Dahlan" = masuk akal, karena ada Muhammadiyah.
"Islam ala KH Hasyim Asy'ari" = masuk akal, karena ada NU.
"Islam ala Gus Dur" = masuk akal, karena ada "Pribumisasi Islam".
"Islam ala B**g Karno" = masuk akal, karena ada surat2nya yg progresif & toleran.
Nah "Islam ala Prabowo"?
Pertanyaannya: Corak keislaman Prabowo yg mana?
Selama ini Pak Prabowo memang tidak dikenal sebagai tokoh yg punya karya/wacana keislaman setebal nama2 di atas. Jadi judulnya kesannya dipaksakan buat branding politik.
KESIMPULANNYA: KONTRA PRODUKTIF
Saya setuju sama closing beliau.
Alih-alih mau kasih "apresiasi & pengakuan" ke Pak Prabowo, buku ini malah menimbulkan "kritik keras hingga ejekan".
Karena caranya salah: catut nama ulama + judul yg maksa.
KRITIK TAMBAHAN DARI SAYA:
Selain 2 poin di atas, ada 1 lagi:
AGAMA JANGAN DIJADIIN "AKSESORI KEKUASAAN"
Islam itu bukan buat dipoles2 biar penguasa keliatan islami.
Islam itu harusnya jadi standar. Jadi penguasanya yg tunduk ke Islam, bukan Islamnya yg dibikin "ala" penguasa.
Kalau mau bikin buku apresiasi, judulnya bisa: "Nilai-Nilai Islam dalam Kepemimpinan Prabowo". Itu lebih aman & gak kontroversial.
"Menurut kalian, siapa yg paling dirugikan dari buku ini?