06/10/2026
CDCSUI PERKUAT KONSERVASI IN SITU DAN ON FARM CENGKEH DAN PALA
HALMAHERA SELATAN — Bagi masyarakat Labuhan, Halmahera Selatan, cengkeh dan pala bukan sekadar tanaman perkebunan. Keduanya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus kekayaan sumber daya genetik yang perlu terus dijaga. Melalui Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), BRMP Biogen mendorong masyarakat untuk tidak hanya mempertahankan tanaman yang ada, tetapi juga menyusun langkah nyata agar cengkeh, pala, dan tanaman lokal lainnya tetap lestari.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Konservasi In Situ dan On Farm pada Tanaman Kerabat Liar (CWR) dan Tanaman Lokal (LCs) yang diselenggarakan pada 25–26 September 2026 di Labuhan, Halmahera Selatan. Halmahera merupakan salah satu wilayah penting bagi cengkeh dan pala, sehingga konservasi kedua tanaman tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan. Dalam pelatihan, petani tidak hanya mendapatkan materi mengenai konservasi, tetapi juga diajak menyusun rencana bersama berdasarkan kondisi yang mereka hadapi di lapangan.
Bagi Pak Mikael Gorap, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan yang dapat langsung digunakan oleh kelompoknya. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah banyaknya tanaman cengkeh yang mati ketika musim kemarau. “Pelatihan ini baik bagi kami, kami bisa belajar membuat rencana bersama bagi kelompok kami untuk mempertahankan cengkeh kami yang banyak mati di musim kemarau ini, ya sekarang kami tahu strateginya,” ujarnya. Melalui proses penyusunan rencana strategis, petani diajak merumuskan masalah, mencari solusi, menentukan aksi nyata, waktu pelaksanaan, hingga kebutuhan anggaran.
Hal serupa dirasakan oleh Ibu Dessy Salhateru, pekebun pala dan talas dari Wayamiga, Halmahera Selatan.
Menurutnya, perencanaan yang disusun melalui pelatihan dapat menjadi salah satu langkah untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi tanaman lokal di wilayahnya. “Dari sini saya percaya Cengkeh, Pala dan Talas kami bisa melewati masa sulit selama rencana tersebut terealisasikan melalui program nantinya,” ungkapnya. Pesan tersebut menunjukkan bahwa konservasi tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi rencana dan tindakan yang dapat dilakukan bersama oleh masyarakat.
Selain memperkuat kemampuan petani dalam menyusun rencana konservasi, pelatihan juga menekankan pentingnya menjaga bibit dan benih tanaman, keberadaan Tanaman Kerabat Liar, serta Pohon Induk Terpilih pala dan cengkeh sebagai sumber untuk menjaga kualitas dan produktivitas tanaman. Pak Hardin La Abu, KP BRMP di Bacan sekaligus pelatih teknis konservasi, menekankan pentingnya mencegah erosi genetik pala, cengkeh, dan talas melalui penggunaan benih unggul serta teknik perbanyakan seperti grafting. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah untuk memastikan kekayaan tanaman lokal di Halmahera Selatan tidak hanya bertahan saat ini, tetapi tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.