01/04/2026
🛡️ Pegustian Banjar: Pemerintahan Perlawanan Terakhir Kesultanan Banjar 1862–1905. Pegustian (Partai Sultan) merupakan bentuk pemerintahan darurat sekaligus benteng pertahanan terakhir yang dibangun sebagai kelanjutan dari Kesultanan Banjar setelah runtuhnya kekuasaan pusat akibat tekanan kolonial Belanda Menjadi Regent Bupati Banjar sama persis seperti regent bupati cianjur dan kota kota lain nya di indonesia. 11 juni 1860 sd 3 maret 1862
Pegustian tidak hanya berupa struktur pemerintahan, tetapi juga simbol perlawanan. Ia terdiri dari para bangsawan (Putri-Pangeran-Gusti-Antung), panglima perang, serta rakyat yang tetap setia mempertahankan kedaulatan Negara Banjar.
---
⚔️ Lahir dari Pengasingan dan Kehancuran dan diasingkannya para bangsawan Banjar seperti:
1.Sultan De Jure 1857-1859 di akui Belanda Sultan Syah : Sultan Tamjidillah II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah bin Sultan Adam Alwatsiqubilah (diasingkan ke Bogor 1859 )
2.Sultan Adat 1855-1858 Diakui Sultan Adam Dan Belanda Sultan Muda Syah: Putra Mahkota/ Raja Muda/Sultan Muda Praboe Anom Bin Sultan Adam Alwatsiqubilah (diasingkan ke Bandung 1858)
3.Sultan De Facto 1859 - 11 Juni 1860 di akui Belanda Sultan Syah: versi lain sampe 1862 Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah bin Sultan Adam Alwatsiqubilah(diasingkan ke Cianjur 3 maret 1862 )
4.Sultan Proklamasi 1859 - 11 Juni 1860: Tidak di Akui Sultan oleh Belanda disebut Kepala pemberontak melawan pemerintahan Sultan Yang syah. versi lain sampe 1862 Sultan Hidayatullah II Halillah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah bin Sultan Adam Alwatsiqubilah (diasingkan ke Cianjur 3 maret 1862 )
5..Para Pangeran Mangkubumi seperti : Pangeran Muhamad Said adik Ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah & Gusti Perbatasari yang gugur atau wafat
6.Setelah wafatnya Gusti inu kertapati/ Pangeran Antasari ayah Mertua Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah
Panembahan Antasari pada tahun 1862, serta gugurnya, maka kekuasaan formal Kesultanan Banjar runtuh secara politik, namun semangat perlawanan tidak pernah padam.
Dari situ, anak cucu dan sisa kekuatan Banjar membentuk Pegustian sebagai pemerintahan pelarian.
---
🏞️ Basis Pertahanan di Pedalaman Barito
Pegustian berpusat di wilayah pedalaman Kalimantan:
1.Gunung Bondang, hulu Sungai Laung, daerah Puruk Cahu skrang Kalteng
2.Benteng Manawing di wilayah Barito
3.Kampung Bomban (Bumban Tuhup), Kalang Barah
Wilayah ini dipilih karena strategis, sulit dijangkau pasukan Bersenjata Belanda, dan menjadi basis gerilya melawan Belanda.
---
🤝 Persatuan Suku dalam Perlawanan
Di bawah kepemimpinan Gusti Muhammad Seman adik ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah , Pegustian berhasil menyatukan berbagai kekuatan:
Suku Dayak: Dusun, Ngaju, Kayan, Siang
Suku Banjar Hulu
Komunitas Bakumpai
Baik Dayak yang beragama Katholik , maupun yang masih memegang kepercayaan Kaharingan, semuanya bersatu dalam satu tujuan: melawan penjajahan Kolonial Belanda.
---
⚔️ Para Panglima Perlawanan
Perjuangan Pegustian didukung oleh tokoh-tokoh tangguh, di antaranya:
Panglima Umbung (Mengkatip)
Mat Narung (Putussibau)
Batu Putih (Kapuas)
Tumenggung Lawas
Tumenggung Nado
Tumenggung Tawilen
Panglima Amit
Panglima Bahe
Mereka adalah ujung tombak perang gerilya di hutan-hutan Kalimantan.
---
🔥 Makna Sejarah Pegustian
Pegustian bukan sekadar pemerintahan darurat, tetapi:
Simbol bahwa Kesultanan Banjar tidak pernah benar-benar menyerah setelah di bubarkan dihapus dari negri Borneo.
Dalam upaya memperkuat perlawanan, pihak Pagustian Banjar menjalin hubungan dengan Kesultanan Pasir untuk memperoleh mesiu sebagai bekal perang. Namun, di tengah persiapan tersebut, benteng pertahanan terakhir di Manawing justru diserang oleh pasukan kolonial Belanda.
Pada Januari 1905, serangan besar dilancarkan di bawah pimpinan Letnan Christofel, seorang perwira yang telah berpengalaman dalam Perang Aceh. Ia memimpin pasukan Korps Marsose, satuan khusus bentukan pemerintah Hindia Belanda sejak 1890 yang dikenal sangat ganas dan efektif dalam operasi militer dan kepolisian.
Pertempuran di Benteng Manawing berlangsung tidak seimbang. Dalam kondisi yang terdesak, Gusti Muhammad Seman adik ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah tetap bertahan memimpin perjuangan hingga titik darah terakhir. Pada tanggal 24 Januari 1905, beliau gugur sebagai kesuma bangsa.
Gusti Muhammad Seman adik ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah tercatat sebagai sultan Proklamasi dalam Pagustian Banjar dalam masa pemerintahan pelarian di wilayah Barito. Ia memegang teguh sumpah dan amanah ayahandanya, Pangeran Antasari ayah Mertua Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah , yang menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah:
“Haram manyarah, waja sampai kaputing.”
(Pantang menyerah, berjuang hingga akhir hayat.)
Jenazah beliau dimakamkan di puncak gunung di Puruk Cahu, menjadi simbol abadi perjuangan dan pengorbanan.
Seiring gugurnya sang sultan Proklamasi dalam Pagustian Banjar dalam masa pemerintahan pelarian di wilayah Barito, tinggal Panglima Batur sebagai satu-satunya pemimpin yang masih melanjutkan perlawanan.
Bukti persatuan lintas suku dan kepercayaan
Warisan perjuangan hingga gugurnya Gusti Muhammad Seman adik ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah tahun 24 Januari 1905
Pagustian (Partai Sultan) dibubarkan belanda tahun 24 Januari 1905 setelah kematian Gusti Muhammad Seman adik ipar Sultan Wirakusuma II Alwatsiqubilah bin Sultan muda abdurahman Alwatsiqubilah
🛡️ Makna Sejarah
Peristiwa ini bukan sekadar akhir kekuasaan, tetapi menjadi penegasan bahwa:
Perlawanan Banjar tidak pernah tunduk
Kepemimpinan dibangun atas amanah dan kehormatan
Semangat perjuangan tetap hidup meski kekuasaan runtuh
---

01/12/2025