07/06/2026
Menteri HAM Natalius Pigai Hadiri Penutupan Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis 2026: Pastikan Program Pemerintah Orientasi Untuk Rakyat Kecil
Jembrana - Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Natalius Pigai menghadiri acara penutupan Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Tahun 2026 yang berlangsung di Jembrana, Bali, Sabtu (6/6/2026). Kehadiran Menteri HAM menjadi bagian penting dalam rangkaian penutupan kongres yang diikuti kader dan pengurus Gerakan Pemuda Marhaenis dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Natalius Pigai menyampaikan keynote speech mengenai pembangunan hak asasi manusia nasional dalam perspektif pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selain memberikan pemaparan, Menteri HAM juga menerima secara langsung hasil rekomendasi kongres, pernyataan sikap, serta deklarasi dukungan Gerakan Pemuda Marhaenis terhadap berbagai program strategis pemerintah.
Di hadapan peserta kongres, Pigai membakar semangat kader muda Marhaenis dengan menegaskan pandangannya mengenai keterkaitan antara program-program pemerintahan saat ini dengan cita-cita perjuangan B**g Karno. Dirinya memiliki keyakinan kuat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program pembangunan yang berorientasi pada masyarakat kecil.
“Saya semangat karena saya ini penganut Prabowoisme. Saya tahu Pak Prabowo adalah seorang pemimpin yang mengejawantahkan, mengimplementasikan cita-cita luhur ideologi Marhaenisme di Indonesia,” ujar Pigai yang hadir di Jembrana didampingi Staf Khusus Menteri HAM Bidang Transformasi Digital dan Komunikasi Media, Thomas Harming Suwarta dan Staf Khusus Menteri HAM Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Internasional, Herman Dogopia, serta Koordinator Wilayah Kerja Kementerian HAM Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem.
Menurut Pigai, berbagai kebijakan pemerintah yang menyasar masyarakat miskin, kelompok pedesaan, nelayan, dan pelaku ekonomi rakyat merupakan bentuk nyata pelaksanaan nilai-nilai perjuangan yang selama ini diperjuangkan oleh B**g Karno. Ia mencontohkan sejumlah program seperti Koperasi Merah Putih, pembangunan kampung nelayan, hingga program Makan Bergizi Gratis yang dinilai memiliki orientasi yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kita lihat Koperasi Merah Putih adalah pengejawantahan cita-cita B**g Karno. Kita lihat kampung nelayan, tujuannya sama. Makan Bergizi Gratis juga sama. Seluruh program yang diarahkan untuk kesejahteraan rakyat, orang miskin di seluruh Nusantara adalah tujuannya untuk menghapus jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pigai menegaskan bahwa upaya memperkuat keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan merupakan bagian penting dari pembangunan nasional yang sejalan dengan semangat Marhaenisme. Berbagai program yang dijalankan pemerintah saat ini menunjukkan komitmen untuk menghadirkan negara yang berpihak kepada rakyat kecil.
“Untuk itulah saya menyampaikan secara keseluruhan dirangkumkan dengan konsep di mana Prabowo adalah pemimpin terakhir yang masih berjibaku mengejawantahkan cita-cita B**g Karno di seluruh Nusantara,” tandasnya.
Sementara itu, anggota DPD RI Arya Wedakarna Mahendradata Wedasteraputra Suyasa (AWK) yang turut hadir dalam penutupan kongres menekankan bahwa Marhaenisme harus terus dimaknai secara kontekstual sesuai perkembangan zaman. Menurutnya, pembahasan mengenai Marhaenisme tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap hak asasi manusia serta perjuangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
AWK menjelaskan bahwa kaum Marhaen saat ini tidak lagi hanya identik dengan petani dan buruh seperti pada masa awal gagasan tersebut diperkenalkan B**g Karno. Dalam perkembangan sosial ekonomi modern, kaum Marhaen juga mencakup pengemudi ojek online, buruh pabrik, kurir, pelaku UMKM, pekerja kreatif, hingga berbagai kelompok masyarakat produktif lainnya yang menjadi bagian penting dari perekonomian nasional.
“Kaum Marhaen ini tidak hanya melulu terkait dengan urusan tertindas atau kemiskinan, tetapi juga harus membuat yang namanya kaum Marhaen ini menjadi sejahtera,” ujarnya di hadapan peserta kongres.
AWK juga mengajak kader Gerakan Pemuda Marhaenis untuk terus mengawal semangat Tri Sakti dan memastikan nilai-nilai perjuangan B**g Karno tetap hidup melalui kerja-kerja politik, sosial, dan kebangsaan yang berpihak kepada rakyat. Menurutnya, pergantian kepemimpinan nasional merupakan bagian dari proses demokrasi, namun cita-cita perjuangan Marhaenisme harus terus dijaga lintas generasi.
“Presiden boleh datang dan pergi, gubernur boleh datang dan pergi, tetapi api Marhaenisme harus tetap menyala-nyala,” tegasnya disambut tepuk tangan meriah dari para peserta kongres. (Humas/rin)

05/06/2026
05/06/2026
05/06/2026
04/06/2026
04/06/2026
04/06/2026
03/06/2026
03/06/2026