14/05/2026
Momen suci hari ini membawa makna mendalam sebagai ruang refleksi untuk terus memperkuat nilai kasih, kepedulian, dan persatuan dalam harmoni kehidupan masyarakat desa. Semangat persaudaraan dan rasa saling menopang inilah yang menjadi perekat utama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial. Ketika setiap warga peduli satu sama lain dan melangkah dengan tujuan yang sama, tercipta fondasi sosial yang sangat kuat. Solidaritas murni di tingkat akar rumput ini adalah syarat mutlak untuk membangun tatanan masyarakat desa yang tidak hanya rukun dan damai, tetapi juga tangguh menyongsong kemajuan zaman.
Nilai persatuan dan ketangguhan sosial tersebut sejalan dengan fokus kita dalam mengawal pembangunan desa yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas sektor yang inklusif, pemerintah menjadikan Dana Desa sebagai modal strategis—yang disalurkan dengan cepat dan dikelola penuh transparansi—guna memastikan ketahanan ekonomi warga sekaligus melindungi ruang hidup dari ancaman krisis iklim. Bersama para pendamping desa yang senantiasa hadir sebagai mitra strategis, potensi lokal terus ditransformasi menjadi nilai ekonomi nyata melalui optimalisasi BUMDesa dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai solusi andalan. Dengan memacu digitalisasi layanan publik dan memperluas publikasi produk unggulan, kita melangkah bersama mewujudkan desa yang berdaya saing dan sejahtera seutuhnya.
07/05/2026
Jakarta — Rapat Pendalaman Isu Penyusunan Policy Paper Strategi Pengembangan Produk Unggulan Desa telah dilaksanakan secara luring dan daring pada Selasa (05/05) di Ruang Rapat BPI, yang dipimpin oleh Agits Agnia Fidzly Almatin, S.I.K. selaku Ketua Tim Kerja PEID serta dihadiri oleh Anggota Tim Kerja PEID, Koordinator Tim Kerja, perwakilan Tim Pengelolaan Data dan Informasi Pusdatin, perwakilan Direktorat Pengembangan Produk Unggulan, dan turut menghadirkan narasumber tenaga ahli dari Universitas Padjadjaran.
Dalam diskusi, Ketua Tim Kerja PEID menekankan pentingnya penyusunan policy paper sebagai upaya memperkuat ekonomi desa sekaligus menjawab ketiadaan definisi dan roadmap yang jelas. Hal ini sejalan dengan pandangan Maulida dari Dit. PPU yang menyoroti perlunya regulasi dan indikator yang tegas agar penetapan produk unggulan tidak lagi bersifat subjektif. Lebih lanjut, Dr. Gema Wibawa Mukti, S.P., M.P. menekankan pentingnya pergeseran ke sektor hilir, inovasi kelembagaan, serta kolaborasi antar desa untuk meningkatkan nilai tambah. Sementara itu, Koordinator Tim Kerja Pusbangjak menegaskan bahwa perumusan definisi produk unggulan desa menjadi pondasi utama bagi penyusunan kebijakan dan regulasi ke depan.
Melalui penguatan peran BUMDes sebagai economic orchestrator, integrasi data, serta kolaborasi lintas desa dan stakeholder, diharapkan lahir rekomendasi kebijakan yang komprehensif, adaptif, dan implementatif. Komitmen bersama ditegaskan untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, mulai dari penyelesaian kontrak tenaga ahli, pengumpulan data, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan dalam waktu yang terbatas.
07/05/2026
Pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa dan itu dimulai dari desa.
Di balik capaian pendidikan Indonesia, masih ada tantangan pemerataan yang perlu dijawab bersama. Dari penguatan layanan dasar melalui Dana Desa hingga perluasan akses lewat berbagai program pemerintah, langkah nyata terus dilakukan agar tidak ada anak yang tertinggal.
Cerita dari Desa Bernayau menjadi salah satu bukti: ketika desa bergerak, masa depan generasi ikut dikuatkan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Mari terus perkuat kolaborasi untuk menghadirkan pendidikan yang merata, inklusif, dan berkelanjutan.
07/05/2026
Dari desa, kerja nyata dimulai.
Melalui PKTD, warga tak hanya membangun infrastruktur, tapi juga menguatkan ekonomi keluarga. Dari normalisasi drainase di Desa Cileunyi Wetan, manfaatnya mulai terasa: banjir berkurang, lapangan kerja tercipta, dan daya beli meningkat.
Selamat Hari Buruh Internasional.
Untuk setiap pekerja desa yang menggerakkan perubahan.
04/05/2026
Jakarta — Rapat Koordinasi Awal Mekanisme Kontraktual Penyusunan Policy Paper Bidang Pembangunan Daerah Tertinggal TA 2026 telah dilaksanakan secara luring dan daring pada Kamis (30/04) di Ruang Rapat Ketua Tim Kerja Pusbangjak. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dengan Indonesia Society for Educational Evaluation (ISEE).
Fokus pembahasan mencakup penyusunan policy paper bertema Model Pendidikan Anak Usia Dini di Provinsi Nusa Tenggara Timur, proses kontraktual dan pemenuhan aspek legalitas, serta penyelarasan tahapan kegiatan yang berjalan paralel dengan pelaksanaan substansi penelitian. Selain itu, rapat juga menyoroti pentingnya kesiapan dokumen legalitas, penguatan koordinasi lintas pihak, serta kejelasan pembagian peran dalam pelaksanaan kegiatan guna menjaga kualitas dan ketepatan waktu penyusunan policy paper.
Komitmen bersama ditegaskan untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, mulai dari penyelesaian kontrak, pengumpulan data, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan. Melalui koordinasi ini, diharapkan tersusun rekomendasi kebijakan yang komprehensif, tepat sasaran, dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan daerah tertinggal.
30/04/2026
Peringatan momentum pelayanan kesehatan dasar hari ini menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya merawat fondasi utama sebuah peradaban, yaitu manusia itu sendiri. Kehadiran pelayanan terpadu di tengah masyarakat bukan sebatas fasilitas fungsional, melainkan wujud nyata gotong royong warga dalam memastikan setiap ibu, balita, dan anak-anak mendapatkan kemudahan akses kesehatan dasar serta perbaikan gizi yang layak. Setiap nyawa kecil yang baru hadir di tengah keluarga membawa sejuta harapan besar; oleh karenanya, secara rutin memantau proses tumbuh kembang mereka sejak fase awal adalah investasi mutlak untuk mencegah persoalan kesehatan dan melahirkan generasi penerus yang berdaya. Melalui pemberdayaan kemandirian layanan inilah, kualitas sumber daya manusia desa dapat diakselerasi sedari dini.
Keberhasilan dalam merawat generasi yang sehat tentu harus ditopang penuh oleh kemandirian ekonomi lingkungan sekitarnya. Selaras dengan langkah penguatan ekonomi desa melalui kolaborasi dan integrasi data yang berdampak nyata, pemerintah terus memacu percepatan pembangunan desa yang berkelanjutan secara terpadu. Kesejahteraan keluarga di desa diperkuat melalui optimalisasi pemanfaatan dana desa serta pengembangan potensi unggulan lokal. Di tataran akar rumput, implementasi Koperasi Desa Merah Putih terus didorong sebagai penggerak utama urat nadi ekonomi, yang bahkan didorong untuk merintis ekspor produk-produk asli desa. Didukung oleh kolaborasi multipihak yang solid serta penguatan kapasitas kepemimpinan kepala desa dan pemerintah daerah, pemerataan pembangunan—khususnya percepatan bagi wilayah 3T dan Papua—terus dikebut demi terwujudnya kualitas hidup masyarakat desa yang benar-benar inklusif dan berdaya saing secara global.
29/04/2026
Momen refleksi hari ini membawa kita pada satu esensi penting: kemajuan sejati selalu berakar dari kehangatan dan perlindungan di dalam setiap rumah tangga. Dukungan yang konsisten bagi pemberdayaan perempuan serta perlindungan penuh terhadap hak-hak anak merupakan langkah mutlak untuk menciptakan keluarga yang harmonis. Keluarga yang harmonis, sehat, dan bebas dari diskriminasi inilah yang sejatinya menjadi fondasi sekaligus kekuatan utama dalam menggerakkan pembangunan di desa. Ketika setiap individu merasa aman dan dihargai, mereka akan tumbuh menjadi subjek pembangunan yang aktif dan inovatif dalam memajukan lingkungan sekitarnya.
Semangat untuk menghadirkan ruang hidup yang inklusif ini bersinergi sangat kuat dengan langkah penguatan ekonomi desa melalui kolaborasi dan integrasi data yang berdampak nyata. Pemerintah terus memacu pembangunan desa yang berkelanjutan dengan memperkuat ketahanan ekonomi lokal, salah satunya melalui optimalisasi dana desa dan implementasi Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak utama. Dengan adanya kolaborasi multipihak yang solid serta penguatan kapasitas kepemimpinan kepala desa dan pemerintah daerah, potensi unggulan desa dapat didorong secara maksimal hingga siap menembus pasar ekspor. Sinergi dari seluruh elemen ini memastikan bahwa arah pembangunan benar-benar terfokus pada pemerataan kesejahteraan dan percepatan wilayah—khususnya di daerah 3T dan Papua—demi mewujudkan peningkatan kualitas hidup masyarakat desa yang tangguh, adil, dan berdaya saing.
29/04/2026
Jakarta — Tim Kerja Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Pusbangjak telah melaksanakan rapat penyusunan policy paper bidang pemberdayaan masyarakat desa dan perdesaan pada Selasa (28/04), sebagai bagian dari upaya penguatan kebijakan pembangunan desa yang terarah, inklusif, dan berkelanjutan.
Rapat ini membahas arah dan fokus penyusunan policy paper yang difokuskan pada pengembangan sistem pemberdayaan masyarakat desa dan perdesaan, dengan tetap menjaga sinergi bersama BPSDM guna menghasilkan keterpaduan kebijakan yang komprehensif.
Selain itu, turut dibahas strategi metodologi kajian melalui pemanfaatan data sekunder dan primer, termasuk rencana survei lapangan, penyebaran kuesioner, serta wawancara dengan pemangku kepentingan di tingkat desa. Dalam prosesnya, dilakukan penyesuaian KAK dan RAB seiring kebijakan refocusing anggaran, dengan tetap mengedepankan kualitas substansi kajian. Pelibatan tenaga ahli dari pihak ketiga juga menjadi bagian penting dalam memperkuat analisis dan kedalaman rekomendasi kebijakan yang dihasilkan.
Melalui kolaborasi dan sinergi lintas unit, policy paper ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif, implementatif, dan berbasis bukti, serta menjadi landasan dalam perumusan regulasi (Keputusan Menteri atau Peraturan Menteri) terkait model dan sistem pemberdayaan masyarakat desa dan perdesaan.
29/04/2026
Jakarta — Rapat Persiapan Kontraktual dengan Tenaga Ahli dalam rangka penyusunan policy paper Tim Kerja Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal telah dilaksanakan pada Senin (27/04) di ruang rapat Ketua Tim Kerja Pusbangjak. Rapat ini membahas penyesuaian jadwal kegiatan, rencana pelaksanaan rapat pendahuluan, serta penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) guna memastikan kesiapan administratif dan kelancaran pelaksanaan kegiatan secara terstruktur.
Sebagai tindak lanjut, akan dilaksanakan rapat pendahuluan bersama tim kerja internal, Pusat Data dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal, Direktorat Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal, serta narasumber ahli untuk pendalaman isu, penentuan ruang lingkup, identifikasi kebutuhan data, serta penyusunan kerangka pikir policy paper yang komprehensif dan berbasis bukti.
Penyusunan KAK Tenaga Ahli serta penyesuaian RAB pada KAK kegiatan dilakukan untuk memastikan kesiapan administratif dan mendukung kelancaran pelaksanaan, sehingga melalui kolaborasi dan sinergi lintas unit diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang implementatif dan tepat sasaran dalam mendorong pengembangan ekonomi dan investasi di desa dan daerah tertinggal.
29/04/2026
Jakarta — Tim Kerja Pembangunan Desa dan Perdesaan pada Pusat Pengembangan Kebijakan dan Keterpaduan Rencana Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal menyelenggarakan diskusi awal terkait kebutuhan data penyusunan policy paper bidang desa dan perdesaan bersama peneliti bidang teknik jalan pada Senin (27/04) sebagai langkah strategis dalam memperkuat kebijakan berbasis data dan kontekstual. Kegiatan ini menghadirkan Hanafi, S.T., M.T. sebagai Narasumber Praktisi Bidang Teknik Jalan dari Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung yang memberikan perspektif teknis dan implementatif dalam penyusunan standar jalan desa.
Kegiatan ini membahas urgensi penyusunan standar teknis jalan desa, mengingat belum adanya regulasi spesifik serta perlunya indikator pelayanan yang sesuai dengan karakteristik desa. Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya integrasi data, kesenjangan antara standar nasional dan kondisi lapangan, serta kebutuhan pendekatan yang lebih aplikatif dan adaptif. Narasumber menyampaikan bahwa “Standar jalan desa tidak dapat sepenuhnya mengadopsi standar nasional, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan kapasitas desa.” Ia juga menegaskan, “Indikator yang disusun harus sederhana, terukur, dan aplikatif agar dapat diimplementasikan sesuai dengan ketersediaan data di tingkat desa.”
Melalui kolaborasi antara tim kerja dan narasumber, diharapkan penyusunan policy paper dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang implementatif, terukur, dan berbasis data, serta mampu menjawab kebutuhan lapangan, memperkuat konektivitas, dan mendorong pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan.
27/04/2026
Momen pengingat kesiapsiagaan nasional hari ini membawa satu pesan fundamental bagi kita semua: "Siap Untuk Selamat" dengan mulai mengenali risiko dan mengurangi dampak sejak dini. Langkah paling esensial dalam melindungi kehidupan masyarakat dari ancaman alam adalah literasi dan mitigasi yang terencana. Semangat ini telah diwujudkan melalui berbagai inisiatif program tanggap bencana di pelosok nusantara, salah satunya lewat program Desa Tangguh Bencana (Destana). Melalui program ini, masyarakat desa diedukasi untuk memetakan kawasan rawan bencana secara mandiri, menyusun sistem peringatan dini, hingga menyiapkan lumbung pangan darurat, sehingga desa memiliki resiliensi yang tinggi untuk meminimalkan kerugian dan cepat pulih pasca-kejadian.
Resiliensi terhadap bencana sejatinya harus selalu ditopang oleh ketangguhan ekonomi masyarakatnya. Melalui langkah penguatan ekonomi desa yang didorong oleh kolaborasi dan integrasi data yang berdampak nyata, pemerintah terus memacu pembangunan desa yang berkelanjutan. Optimalisasi pemanfaatan dana desa kini difokuskan untuk memperkuat ekonomi lokal melalui implementasi Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak utama, sekaligus mengembangkan potensi unggulan desa agar mampu menembus pasar ekspor. Didukung oleh kolaborasi multipihak yang solid serta penguatan peran kepemimpinan kepala desa dan pemerintah daerah, percepatan pembangunan—khususnya di wilayah 3T dan Papua—terus diakselerasi. Sinergi ini memastikan bahwa pemerataan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat desa tetap berjalan secara inklusif dan berdaya saing, dalam kondisi dan tantangan alam apa pun.