Majelis Puasa Daud Fit4Go

Majelis Puasa Daud Fit4Go

Share

Istiqomah - Dakwah - Tawakkal

14/05/2026

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Topik : Tips mendapatkan charger iman dan tawakkal

Iman itu bisa bertambah dan berkurang, bahkan bisa sempurna. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Apa dalilnya?



Ayat-Ayat Sebagai Bukti

Ada beberapa ayat Al-Qur’an Al-Karim jadi bukti bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4). Dalil ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah.

Dalam berbagai ayat berikut juga menunjukkan hal yang sama,

وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Dan Kami tambah p**a untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13).

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatsir: 31)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya.” (QS. At-Taubah: 124)

فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

“Karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka.” (QS. Ali Imran: 173)

وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

Masih banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan seperti di atas.



Yang Dibawakan Imam Tirmidzi

Muhammad bin ‘Isa bin Sawrah bin Musa bin Adh-Dhahak At-Tirmidzi, memiliki nama kunya Abu ‘Isa dalam karya beliau Al-Jaami’ Ash-Shahih Sunan At-Tirmidzi menyebutkan salah satu judul bab,

باب مَا جَاءَ فِى اسْتِكْمَالِ الإِيمَانِ وَزِيَادَتِهِ وَنُقْصَانِهِ

“Bab sempurnanya iman, bertambah dan berkurangnya.”

Dalil kalau iman bisa bertambah dan bisa berkurang dibawakan beberapa dalil berikut oleh Imam At-Tirmidzi.



Pertama:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ ».

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda kesempurnaan iman seseorang ditunjukkan dengan kebagusan akhlak dan sikap lemah lembut pada keluarga.” (HR. Tirmidzi, no. 2612 dan Ahmad, 2: 47. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)

Dikatakan tanda kesempurnaan iman, berarti iman itu bisa sempurna.



Kedua:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَطَبَ النَّاسَ فَوَعَظَهُمْ ثُمَّ قَالَ « يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ ». فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ وَلِمَ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِكَثْرَةِ لَعْنِكُنَّ ». يَعْنِى وَكُفْرَكُنَّ الْعَشِيرَ. قَالَ « وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذَوِى الأَلْبَابِ وَذَوِى الرَّأْىِ مِنْكُنَّ ». قَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ وَمَا نُقْصَانُ دِينِهَا وَعَقْلِهَا قَالَ « شَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ مِنْكُنَّ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ وَنُقْصَانُ دِينِكُنَّ الْحَيْضَةُ تَمْكُثُ إِحْدَاكُنَّ الثَّلاَثَ وَالأَرْبَعَ لاَ تُصَلِّى »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah para sahabat lantas beliau menasihati mereka, kemudian beliau berkata,

“Wahai para wanita, bersedekahlah karena kalian itu banyak jadi penduduk neraka.”

Ada wanita yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa bisa demikian?”

Beliau menjawab,

“Karena kalian banyak melaknat.” Yaitu kalian kufur (tidak mau bersyukur) pada pemberian suami.

Beliau bersabda lagi,

“Aku tidaklah pernah melihat orang yang kurang akal dan kurang agamanya yang bisa mengalahkan orang yang cerdas dan punya pemikiran brilian selain dari kalian (para wanita).”

Ada wanita yang bertanya, “Apa yang dimaksud kurang agama dan kurang akal?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“(Tanda kurang akal yaitu) persaksian dua orang wanita dari kalian sama nilainya dengan persaksian seorang pria. Sedangkan tanda kurang agama, salah seorang di antara kalian biasa mengalami haidh tiga atau empat hari sehingga tidak shalat.” (HR. Tirmidzi, no. 2613. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Disebutkan dalam hadits bahwa wanita itu kurang agama, berarti iman itu bisa berkurang.



Ketiga:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim, no. 35 dan Tirmidzi, no. 2614)

Karena dinyatakan dalam hadits bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.



Hadits Hanzhalah Juga Jadi Bukti

Hadits Hanzalah berikut menunjukkan bahwa iman itu bisa berkurang.

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا ذَاكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzholah Al-Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”

Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim, no. 2750).



Kalau kita tahu bahwa iman itu bisa sempurna, bisa bertambah dan bisa berkurang, berarti tugas kita adalah menjaga iman dan melakukan sebab agar iman kita terus bertambah.

Wallahu waliyyut taufiq. Moga Allah beri taufik dan petunjuk.

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/13108-dalil-iman-itu-bertambah-dan-berkurang.html

13/05/2026

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Topik : Mustajabnya doa nabi Yunus di saat sempit

Tahukah Anda siapa Dzun Nuun? Nuun itu bermakna ikan. Dzun Nuun adalah sebutan untuk Nabi Yunus ‘alaihis salam yang pernah ditelan oleh ikan. Cobalah kita lihat wahai saudaraku, bagaimanakah mustajabnya do’a Nabi Yunus ‘alaihis salam.

Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Mengenai do’a Nabi Yunus ‘alaihis salam ini juga disebutkan dalam ayat,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

Kenapa do’a Nabi Yunus mudah diijabahi?

Karena dalam do’a beliau tersebut terdapat pengakuan pada ketauhidan Allah ‘azza wa jalla dan pengakuan terhadap setiap dosa, kesalahan dan kezholiman yang diperbuat diri sendiri.

Intinya dalam do’a Dzun Nuun ini ada tiga keistimewaan:

1. Pengakuan tauhid.

2. Pengakuan akan kekurangan diri.

3. Berisi permohonan ampun (istighfar) pada Allah

Sudah sepatutnya bagi setiap hamba yang mengalami kegelisahan dan kesedihan untuk banyak-banyak mengulang do’a ini dan menambahkan dalam setiap do’anya. Niscaya Allah pun akan mudah mengijabahi doanya. Jadi awalilalh setiap doa apa saja dengan doa Dzun Nuun ini, niscaya doa tersebut akan diijabahi dengan izin Allah. Yakinlah!

By: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/1326-mustajabnya-doa-dzun-nuun-nabi-yunus.html

09/05/2026

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Topik : Threrapy terbaik untuk penyakit jiwa

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.

Pertama:

Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.

Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.

Kedua:

Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.

Di antara dampak dari kecemasan adalah:

Dampak Fisik

Sudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada p**a dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.

Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.

Dampak Perilaku

Ketika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan.
Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.

Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.

Dampak Ruhani

Terkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan.
Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.

Dampak Psikologis

Kecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:

Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.
Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.
Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.
Ketiga:

Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.

Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.

Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.

Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.

Keempat:

Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:

1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.

Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan p**a meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”

Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?
Hal apa yang paling Anda takutkan?
Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?
Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?
Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?
Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?
Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?
2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.

Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.

3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasan

Tujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.

Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:

Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.
Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.
Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.
Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.
Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’

Aku berkata, ‘Seperempat?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Setengah?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Dua pertiga?’

Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’

Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’

Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”

(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)

5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada Allah

Shalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.

Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.”
(HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Demikian p**a dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.

Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)

Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN

‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’

Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”

(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Demikian p**a dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

ALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.

‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)

6. Buatlah rencana tindakan

Susunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:

Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.
Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.
Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.
Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.
Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.
Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.
Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.
Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.
7. Membaca buku-buku yang bermanfaat

Seperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.

8. Mencari bantuan profesional

Jika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik.
Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.

Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya.

Sumber : https://rumaysho.com/42164-anxiety-overthinking-dan-hati-yang-gelisah-ini-cara-mengatasinya.html

09/05/2026

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Topik : Kita dalam pengawasan Allah selama 24 jam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, baik ketika dilihat orang lain ataupun ketika bersendirian. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ

“Segala perbuatan yang Allah benci dari dirimu untuk dilakukan, maka janganlah kamu lakukan hal tersebut ketika kamu bersendirian.“ (HR. Ibnu Hibban no. 403 dan Adh–Dhiyaa’ dalam Al–Mukhtaratno. 1393. Al-Albani menyatakan hasan lighairihi. Lihat As–Silsilah As-Shahihah no. 1055)

Hal ini karena jiwa manusia itu menjadi lemah ketika dalam kondisi bersendirian, sehingga terdorong serta lebih berani untuk melakukan kemaksiatan ketika itu. Karena pada saat itu, tidak ada orang lain yang melihatnya.

Keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat seorang hamba dan juga mengawasi gerak-gerik dirinya merupakan penghalang terbesar dari bermaksiat kepada-Nya. Dia senantiasa ingat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan, hampir dalam setiap lembaran mushaf Al-Quran yang mulia terdapat ancaman yang besar dan peringatan yang tegas tentang hal ini, di antaranya firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِير

“Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234)

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ

“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.” (QS. An-Nahl: 19)

وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا

“Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (p**a).” (QS. Al-An’am: 59)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah: 235)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡن وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَان وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ

“Kamu tidaklah berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

Hendaknya seseorang menyadari dan waspada bahwa keadaannya itu seperti orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridai.” (QS An-Nisaa’: 108)

Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang tersembunyi dari Allah. Sesuatu yang tersembunyi di malam hari, baik di tempat yang tersembunyi atapun tampak, semuanya sama saja bagi Allah. Allah Ta’alaberfirman,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang makna ayat ini, “Allah menginformasikan tentang ilmunya yang sempurna yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang kecil maupun yang besar. Semua Allah ketahui secara rinci dan mendetail agar manusia waspada bahwa Allah mengetahui juga kondisi mereka. Maka milikilah sikap malu kepada Allah dan bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan hendaknya merasa selalu diawasi oleh Allah yang melihat dirinya. Allah Ta’ala mengetahui pandangan khianat dan yang menjaga amanat, dan Allah mengetahui berbagai rahasia dan yang tersembunyi di dalam hati.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 137)

Betapa banyak kita jumpai ayat Al-Quran yang menyebutkan suatu amal dan balasannya, kemudian ditutup dengan menyebutkan bahwa ilmu Allah itu senantiasa meliputi semuanya. Hal ini bertujuan agar hati manusia itu waspada dan menaruh perhatian untuk menyempurnakan dan memperbaiki hatinya, sehingga dia senantiasa memiliki rasa harap (ar-raja’) dan takut (al-khauf).

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam Az-Zuhud (no. 137), “Dahulu, (materi) dakwah Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanny kepada orang yang berjumpa dengannya adalah dengan mengatakan kepada mereka, “Semoga Allah menjadikan kita memiliki sifat zuhud terhadap perbuatan haram dan dosa ketika bersendirian. Ketahuilah bahwa Allah melihatnya, maka tinggalkanlah.“

Ini adalah kedudukan yang agung dalam sikap zuhud, yaitu seseorang meninggalkan dosa dalam keadaan bersendirian karena takut kepada azab dan hukuman Allah, bukan karena riya’ dan sum’ah.Dia melakukannya hanya karena Allah semata. Sehingga hal ini merupakan di antara bentuk ibadah paling agung yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Rabbnya.

Abu Hatim Al-Busty mengatakan, “Poros ketaatan seseorang di dunia ini adalah memperbaiki hati dan meninggalkan hal-hal yang merusak hati. Wajib bagi orang yang berakal untuk perhatian dan semangat dalam memperbaiki hatinya, baik ketika di hadapan orang lain maupun ketika sendirian, baik ketika bergerak ataupun diam, karena hilangnya waktu dan penyebab penderitaan tidaklah terjadi kecuali dengan rusaknya hati.“ (Raudhatul ‘Uqola’ wa Nazhatu al–Fudholaa, hal. 27)

Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya hati orang yang baik senantiasa sibuk dengan amal kebaikan. Adapun hati orang fajir itu senantiasa sibuk dengan amal keburukan. Sesungguhnya Allah melihat keinginan yang ada di hati kalian. Maka senantiasa perhatikanlah hal tersebut, semoga Allah merahmati kalian.“ (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al–Hamm wal Hazn no. 112. Lihat dalam Raudhatul ‘Uqola’ wa Nuzhatu al–Fudholaa’ hal. 27)

Maksudnya, kita harus senantiasa ingat bahwa Rabbul ‘alaamin senantiasa mengetahui dan mengawasi keinginan hati kita. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba berusaha untuk memperbaiki keinginan hatinya dan menjadikan keinginan hatinya hanya satu, yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat dengan meraih rida Allah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ

“Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, yaitu keinginan tempat kembali (negeri akhirat), niscaya Allah akan mencukupkan baginya keinginan dunianya. Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikan di manapun dia binasa.” (HR. Ibnu Majah no. 4106)

Penulis: M. Saifudin Hakim

Sumber : https://muslim.or.id/93489-merasa-diawasi-allah.html

Want your business to be the top-listed Government Service in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan H. Agus Salim No. 50 Menteng
Jakarta
10340