Perekrutan Prajurit Marinir Metode perekrutan prajurit
Marinir langsung diambil dari
masyarakat. Namun menjadi
seorang Marinir tidaklah mudah.
Banyak tantangan yang harus
dihadapi. Seseorang yang
berminat dan bercita-cita
menjadi Marinir harus melewati
beberapa tahap pendidikan dan
seleksi yang ketat dan cukup
berat. Tahap pertama, mereka
harus lulus seleksi penerimaan
calon prajurit TNI AL. Tahap
kedua, adalah lulus pemilihan
menjadi calon Marinir dari
semua calon prajurit TNI AL itu. Sedangkan tahap terakhir adalah
lulus dan selamat da
ri
pendidikan khas Marinir di pusat
pendidikan Marinir. Mereka yang ingin menjadi
Perwira Marinir dapat melalui
akademi TNI AL dan khusus dari
Sarjana lewat Komando
Pendidikan TNI AL. Sedangkan
bagi mereka yang ingin menjadi
Bintara melalui pendidikan Calon
Bintara. Dan untuk menjadi
Tamtama Marinir melalui
pendidikan Calon Tamtama yang
kedua-duanya di bawah
Kodikal. Khusus untuk Calon
Perwira Marinir yang dididik
lewat Akademi TNI AL, 25
persen dari yang terpilih
menjadi Taruna Korps Marinir
akan merasakan dunia Marinir
tatkala mereka dilantik menjadi
Kopral Taruna. Pada tahap inilah
para Taruna Korps Marinir mulai
digembleng, ditempa dan
dibentuk menjadi calon-calon
Perwira Marinir yang handal dan
profesional. Pada pangkat Sersan
Taruna, mereka mulai dibekali
mata kuliah kejuruan Marinir
Tahap I. Pada saat ini, mereka
diwajibkan untuk mengikuti
antara lain : pendidikan
Komando di Puslatpur Baluran-
Banyuwangi untuk mendapatkan
Brevet Komando serta
mengikuti pendidikan
kwalifikasi menembak senapan
dan pistol untuk memperoleh
brevet senapan maupun
menembak pistol. Pada pangkat
Sersan Mayor Taruna mereka
dibekali mata kuliah Kejuruan
Marinir Tahap II, dimana
diantaranya mereka diwajibkan
untuk mengikuti pendidikan Para
Dasar untuk mendapatkan
Brevet Para Dasar. Usai pelantikan menjadi
Perwira Marinir dengan pangkat
Letnan Dua Marinir, para lulusan
Akademi TNI AL ini masih
digembleng lagi sebagai
Perwira Siswa (Pasis) guna
mendalami ilmu-ilmu ke
Mariniran selama setahun. Usai lulus dari pendidikan
Pasis, barulah mereka resmi
dikirim ke satuan-satuan tempur
yang ada di Korps Marinir
dengan jabatan awal sebagai
Komandan Peleton. Disinilah
awal pengabdian mereka
sebagai Perwira Korps Marinir. Untuk Calon Bintara dan
Tamtama Korps Marinir, setelah
melewati tahap Pendidikan
Dasar Kemiliteran selama tiga
bulan di Komando Pendidikan
TNI AL Surabaya, sekitar 30
persen diantara para calon yang
terpilih masuk ke kejuruan
Korps Marinir segera dikirim ke
Pusat Pendidikan Korps Marinir
di Gunung Sari Surabaya untuk
mengikuti pendidikan tahap
kejuruan Marinir. Di Pusdikmar inilah para
calon Marinir akan dihadapkan
pada model pendidikan khas
Marinir yang terkenal keras dan
tak kenal kompromi. Dan disini
p**alah mereka harus memilih
antara dua pilihan, mundur atau
maju menjadi Marinir. Bagi yang
bermental baja dan
menganggap Marinir sebagai
pilihan kata hati maka mereka
akan maju terus menghadapi
semua tahap pendidikan. Namun
bagi mereka yang tidak siap,
Korps Marinir akan
mengembalikan mereka
kembali ke masyarakat. Model pendidikan khas
Marinir yang di hadapi para calon
diawali dengan sebuah tahap
yang dikenal dengan pekan
orientasi. Pada tahap ini,
mereka harus melewati
beberapa problem yang
semuanya difokuskan untuk
menguji kesiapan mental,
disiplin, ketahanan fisik maupun
intelijensi mereka. Dibawah tangan-tangan para
pelatih yang bertemperamen
khas Marinir mereka harus siap
menahan ujian mental, fisik
khas Komando Marinir. Mereka
harus rela tidur di sembarang
tempat, baik di pohon, di sungai
maupun di rawa-rawa. Mareka
juga harus sering menutup mata
bila rekan mereka yang kurang
siap mental dan fisik digotong
oleh petugas kesehatan yang
akan menjadi pengantar mereka
untuk kembali ke masyarakat. Setelah pekan orientasi
terlewati, para calon Marinir
kemudian mengikuti tahap
pembelajaran yang meliputi
teori maupun praktek. Di sinilah
mereka akan mempelajari dan
mendalami doktrin-doktrin
operasi amfibi dan operasi darat
serta materi penunjang lain
yang berkaitan dengan profesi
mereka sebagai prajurit. Tahap berikutnya yang
merupakan tahap terberat
adalah tahap pendidikan
komando yang dilaksanakan
sekitar dua bulan. Pada tahap
yang harus diikuti p**a oleh para
Taruna Korps Marinir dari
Akedemi TNI AL ini, semua
calon harus menerapkan semua
materi yang diperolehnya dalam
bentuk skenario latihan
pertempuran yang lengkap,
terjadwal dan terus-menerus. Tahapan yang harus dilewati
para calon Marinir ini terdiri
dari : Tahap Komando, Tahap
Laut, Tahap Hutan, Tahap Gerilya
Lawan Gerilya dan Tahap Lintas
Medan dimana semua siswa
harus mampu melaksanakan
jalan kaki sejauh 450 km dari
Banyuwangi - Surabaya
melewati berbagai bentuk
medan seperti pengunungan,
lembah, jurang, medan berbatu,
berpasir dengan memotong
empat gunung yaitu
pegunungan Ijen, Argopuro,
Tengger dan Bromo. Setelah tahap ini terlewati,
semua siswa harus mengikuti
latihan pendaratan amfibi. Di
sinilah masa awal mereka
dikenalkan dengan penggelaran
operasi amfibi yang
sebenarnya. Usai pendaratan
merupakan tahap yang paling
menegangkan dan juga
menyenangkan bagi para calon
Marinir. Di bawah terpaan
gelombang pantai sebatas
pinggang, bagi yang dinyatakan
lulus akan mengikuti upacara
sakral pembaretan. Disinilah
akhir pendidikan yang
merupakan masa awal mereka
menjadi prajurit Marinir sejati. Setelah resmi masuk
menjadi keluarga besar Korps
Marinir, para Marinir muda ini
kemudian dikirim ke satuan-
satuan tempur yang ada untuk
menambah dan memperkuat
jajaran Korps Marinir. Di
Kesatuan yang baru ini, para
Tamtama, Bintara Remaja
Marinir yang baru lulus
pendidikan, termasuk para
Perwira Remaja Marinir tetap
dibina dalam suatu sistem
pembinaan yang terpadu,
terprogram dan berlanjut
sehingga mereka dapat menjadi
prajurit yang profesional.