06/12/2014
KEPEMIMPINAN (HASTA BRATA) YANG MERAKYAT
Penggunaan teknologi informasi untuk menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efisien (e-governance) harus ditopang kepemimpinan transformatif, bukan pemimpin transaksional. Pemimpin transformatif menekankan pelayanan dan melindungi, bukan mengutamakan kekuasaan untuk memerintah (Kompas, 6/12/2014). Hal itu mengemuka dalam diskusi ”Transformasi dan Reformasi Menuju E-Governance” di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Diskusi kerja sama Kompas dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali ini menghadirkan pembicara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Boyolali Seno Samodro, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Rikard Bagun, dan Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit. Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi Majalah Gatra Heddy Lugito.
Rikard mengatakan, kepemimpinan transformatif akan melakukan manajemen perubahan, bukan manajemen proyek. Dalam hal ini, perubahan yang dilakukan tidak sekadar dari sistem manual ke digital, tapi mengubah sikap, perilaku, dan pandangan tentang kekuasaan. ”Konsekuensinya pejabat dan birokrat tidak lagi menjadi penguasa, tetapi pelayan.
Sementara e-governance, menurut Sukardi, ada empat. Pertama, masyarakat bisa menuntut atau meminta pelayanan secara langsung kepada pengambil keputusan. Kedua, pemerintah bisa secara cepat merespons dan mengambil keputusan. Ketiga, mendekatkan masyarakat dengan pejabat publik. Keempat, mendekatkan hubungan antarpejabat pemerintah dalam konsep yang lebih luas untuk pelayanan masyarakat.
Tetapi dalam budaya Jawa ada yang disebut Hasta Brata, yakni model kepemimpinan yang didasarkan kearifan lokal dan disimbolkan pada kebesaran alam-semesta, seperti; Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta, Samudra, Dahana, dan Bhumi.
(1). Surya (Matahari) memancarkan sinar yang terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya. (2). Candra (Bulan), memancarkan sinar di tengah malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat pada rakyatnya ditengah suasana s**a maupun duka. (3). Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilau, berada di tempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi rakyat untuk berbuat baik dan kebaikan. (4). Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Prinsipnya seorang pemimpin hendaknya punya ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam. (5). Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat dan selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabatnya. (6). Samudra (Laut), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya. (7). Dahana (Api), punya kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu. (8). Bhumi (tanah), bersifat teguh dan murah hati. Pemimpin hendaknya bersifat teguh dan murah hati kepada rakyatnya dan tidak boleh mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan rakyatnya.
Kepemimpinan Hasta Brata model Jawa berdasarkan kearifan lokal itu layak dikampanyekan lebih bergema untuk para pemimpin sekarang yang umumnya; rakus, tamak, korup, badut, dan transaksional. Monggo Mas Jokowi dan Pak JK.
(FS Swantoro).
http://cps-sss.org/index.php/news/our-stand/89-kepemimpinan-hasta-brata-yang-merakyat
Kepemimpinan (Hasta Brata) Yang Merakyat
Supports the democratisation process of the country. Offers profile, staff, list of publications and political risks news.