Story of life

Story of life

Share

tolong hargai karya kami dengan like dan komenan jangan jadi dark readers ya... biglofyuuuu...

buat cerita kehidupan yang real dan nyata di dunia... be happy fun to reading yaaa... makasih yang udah mau kasih jempolnya..

10/12/2025

"Sayang!" sapa Raffi di luar gerbang begitu semringah.

"Ngapain lu dateng jam segini?" sahut Tesya ketus.

"Kamu masih marah, Yang? Aku bisa jelasin semua kok," ucap Raffi berusaha membela diri.

"Apa yang harus lu jelasin Raffi?" tanya Tesya dengan senyum sinisnya.

"Aku beneran nggak pernah ada hubungan apapun sama Nayra, Tes. Kamu harus percaya!" ucap Raffi pelan dengan wajah memelas.

"Terus? Kenapa lu takut kalo Nayra bicara panjang lebar?" tanya Tesya mengeluarkan unek - uneknya.

"Tesya, sebenarnya aku emang sempet deket sama dia. Tapi, hanya itu. Kita nggak sampai jadian karena aku nggak ngerasa ada something apapun. Eh, dianya malah yang terlanjur nyaman dan ngejar terus," jawab Raffi panjang lebar.

Tesya diam mendengarkam. Dia tampak malas untuk menyela pembicaraan ini.

"Ayolah, Tesya! Masak kayak gini aja jadi masalah sih?" Raffi tampak sangat putus asa melihat wajah datar Tesya.

"Jadi lu php in dia gitu?" tanya Tesya setelah jeda diam lumayan lama.

"Nggak gitu," jawab Raffi bingung menjelaskannya.

"Kenapa? Lu pernah make dia? Terus lu nggak cocok dan akhirnya buang dia gitu?" tanya Tesya memperjelas lebih detail.

"Ya ampun! Kok bisa pikiran kamu sampai situ sih, Tes!" Raffi menganga tak percaya, dia tak menyangka Tesya bisa menebak setepat itu.

"Kita bukan anak kecil lagi, apalagi aku udah lama nakal juga. Kenapa sih pakai bohong dan nggak jujur sejak awal?" Mata Tesya mulai berkaca - kaca.

"Bukan gitu maksud aku, Tesya tolong sini d**g biar enak kalo ngomong. Aku bisa jelasin semuanya!" tangan Raffi menggapai - gapai di balik gerbang.

"Udahlah, Raf. Gue capek."

Setelah mengatakan hal itu Tesya langsung masuk ke dalam meninggalkan Raffi sendirian di luar. Raffi sungguh menyesalkan hal kemarin yang terjadi.

Entah kenapa hal yang seharusnya indah malah membuat luka seperti ini. Takdir memang tidak pernah ada yang tahu

Bab terbaru udah apdate di Fizzo ya guys! buruan baca di sana yukk pencariannya (Story of ladypunk) Tesya. Happy reading ❤️❤️❤️

28/05/2025

Buruan cus kesana yaaa... Dan semoga setelah bukunya Tesya selesai bisa segera nyusul sesil dan Alfian aminkan yang panjaang gaesss...



Photos from Story of life's post 28/05/2025

Ehem ehem ada yang kangen Tesya nggak ya? Cuman mau ngabarin di fizzo Tesya udah tayang sampe bab 90 an loh... Dan ceritanya lebih panjang dan lebih rapi buruan mampir yuk...!

15/03/2025

Unrequited love
Part 4

Sore itu aku berdiri di sebuah rumah yang lumayan megah. Di antar oleh ojek online tentunya, aku hendak mengerjakan tugas kelompok bersama Andrean.

Hatiku masih dag dig dug nggak karuan, bahkan aku tak mampu untuk melangkah ke seberang menuju rumahnya.

Drrtt ... Drrttt ....

Saat asyik melamun memandangi rumah berpagar coklat tersebut aku di kejutkan dengan hapeku yang terus bergetar.

Andrean calling ...

"Halo," jawabku segera mengangkat telpon itu.

"Lu sampai mana?" tanya Andrean tanpa basa - basi.

"Udah di depan rumah lu," jawabku singkat.

"Kenapa nggak tekan bel tolol?!" gertaknya kesal sekali.

Aku tak menjawab dan dia langsung mematikan telponnya. Tak lama kemudian tampak seseorang membuka gerbang rumahnya. Aku segera menyebrang jalan untuk menghampirinya.

"Neng Naira? Temennya Mas Andrean?" sapa

10/05/2024

Unriquited love
part 3

Aku berjalan riang menuju kelas. Sangat tidak sabar untuk bertemu sahabatku tercinta. Saking senangnya aku berjalan melompat dan bernyanyi nggak jelas. Saat di tikungan menuju tangga aku menabrak seseorang.

Duk!

"Awh! kalo jalan pake Matt---"

"Lu yang matanya di pake! Udah suara cempereng, jalan pake mata ketutup lagi! Aneh." Debat seorang cowok yang aku sangat kenal suaranya. Tenggorokanku terasa tercekat. Bahkan membalas hinaanya aku nggak mampu.

Dia melengos pergi melewatiku begitu saja, apa ini? Kenapa awal pagiku yang harusnya cerah ceria jadi berantakan seperti ini?

Argh! Sial! aku menggerutu sepanjang perjalanan ke kelasku.

"Kenapa?" tanya sahabatku yang paling peka dan pengertian.

"Gue nabrak Andrean, dan--" aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Aku terlalu syok dan malu.

"Udah, nggak usah di terusin. Gue dah paham ama sikap lo yang ceroboh," Sheila mencibirku tanpa menatapku.

Sialan! lagi-lagi bloonku kelihatan di mata dia. Emang dia siapa sih? Tadi sok perhatian kek ibu peri, sekarang jahatnya kayak ibu tiri.

"Lu mau bengong terus gitu, apa segera bahas tugas ini?" tanya Sheila lagi membuyarkan lamunanku.

sebenarnya, semangatku sudah hilang menguap. Tapi, kalo nggak belajar aku jadi tambah bodoh. Belajarpun entah bakal masuk pikiran apa nggak.

"tulis aja apa-apa yang penting. Gue lagi badmood," ucapku seraya meletakan kepalaku ke meja karena lemas.

Sheila menghela nafas gusar.

" Tenang istirahat nanti ku traktir Bakso di kantin," ucapku tanpa menatap Sheila.

"Oke!" Dia lalu bersemangat mengerjakan poin-poin tugas yang di rasa penting dan berguna.

Ku rasa memang itu tugas seorang teman.

*****

16/05/2023

Unrequited love
Part 2

"Baiklah, Bapak harap kalian bisa kompak mengerjakan tugas kelompok ini dan bisa mengumpulkan dengan nilai bagus minggu depan."

Aku masih termangu, mimpi apa aku? Bisa sekelompok dengan Andrean?

Aku meliriknya di seberang nampak dia anteng saja. Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Semua siswa membereskan barangnya termasuk aku. Saat aku sedang sibuk menghitung barangku apa sudah masuk semua atau belum tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

"Nanti sore kita kerjain tugasnya. Lu udah tau nomer gue kan?"

Aku menelan salivaku berat, "iya."

"Oke," ucapnya singkat lalu berlalu pergi.

Ah, iya kenapa aku gak basa basi ajak dia pulang bareng? Bodohnya aku!

****

"Wih, kayaknya ada yang seneng nih." Sapa Sheila di depan sekolahan dia sedang menunggu jemputan.

"Gue mimpi gak sih Shel? Nanti gue harus gimana?" Tanyaku bingung sendiri.

"Ya jangan perlihatkan sisi bloon lu lah, agak cool dan misterius gitu. Dan, jangan sampe lu cuma diem aja pas lagi bagi tugas ma dia!"

Aku merenungi ucapan Sheila, apa bisa? Selama ini tugasku kan di kerjain Sheila sama Leo. Sekarang Leo lagi ada perlombaan sepak bola tingkat nasional. Terus, gimana d**g?

****

semalaman aku gak bisa tidur dan memikirkan soal tugas yang akan aku kerjakan bareng sama Andrean. Baru kali ini aku sadar kalo otak aku emang ngepres banget, ah sial!

"Kenapa nih, anak perawan bangun tidur bukannya seger malah kusut banget mukanya?" sapa Mamaku saat aku hendak sarapan pagi itu.

"Nggak papa, lagi banyak tugas, Mah. pusing banget!" ujarku mengeluh.

Mama nggak menanggapi dan hanya tersenyum aja. kan, ngeledek aja bisanya!

Sejak kapan aku jadi mikirin tugas sekolah seperti ini? pasti Mama juga heran denganku.

"Aku berangkat dulu ya, Mah!" ucapku buru-buru.

"enggak di habisin dulu sarapannya?" tanya Mamaku heran.

Aku menggeleng sebagai jawaban, aku harus bergegas ke sekolah bertemu Sheila dan membicarakan tugas yang akan ku kerjakan bersama Andrean. Setidaknya setelah aku mengcopi paste jawaban Sheila bodohku gak kelihatan terlalu.

Hah, padahal aku cantik. Kenapa otakku ngepres ya? aku tersenyum geli, sepanjang jalan karena pemikiranku yang terlalu pede.

Biarlah! Namanya juga menghibur diri!

*****

09/04/2023

Mau lanjut cerbung ini ya siap???

30/11/2022

Unrequited love
Part 1

Pagi itu seperti biasa aku berangkat sekolah dengan senyum mengembang. Aku selalu semangat pergi bersekolah, ya untuk apa lagi kalau bukan melihat dia si cowok manis idamanku.

"Naira!" Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilku.

"Hay," balasku melambaikan tangan pada Sheila teman baikku.

"Aduh, capek banget." Dia bernafas ngos-Ngosan setelah lari mengejarku. Aku terkekeh melihatnya.

Kami melanjutkan perjalanan ke kelas bersama.

"Andrean tuh!" Sheila menunjuk Andrean yang baru saja datang. Aku segera merapikan rambut dan seragamku. Tapi, seperti biasa jangankan melihat. Dia masuk melewati kami begitu saja.

Tak patah semangat aku mengejarnya. Saat sudah sampai di sisinya aku menyapanya. "Hay," sapaku riang.

Dia hanya menolehku dengan acuh, aku sudah biasa dengan sikap dinginnya. Sekali lagi aku coba mengajaknya mengobrol.

"Hari ini ada tugas loh, udah ngerjain?"

Dia tak menjawabku, hanya mengangguk kemudian berjalan ke kelas lebih dulu meninggalkanku.

"Cie elah, semangat banget mepetinnya!" Tiba-tiba Sheila sudah di sebelahku dan meledekku.

"Pokoknya aku gak mau nyerah! Aku bakal terus berusaha deketin dia, kalo sampai dia bisa jadi pacar aku, kamu bakal aku traktir bakso sepuas kamu! Inget itu Shel!" Ungkapku kesal kemudian mlengos dan masuk ke kelas juga.

Aku mendengar Sheila terkikik geli di belakangku. Biarlah, di kata bucin juga aku gak perduli. Aku udah terlalu jatuh cinta sama si kulkas 7 pintu Andrean itu!

****

25/09/2021

Rasa yang tepat di waktu yang salah.

Part 1.

Ini kesekian kalinya Alena bertengkar dengan suaminya hanya karena masalah sepele. Riyan suaminya adalah sosok yang sangat egois, meskipun Alena sudah mengalah. Tetap saja selalu ada pertengkaran.

"Sekarang terserah kamu aja, aku udah capek." Alena berkata seperti itu dan hendak pergi menghindarinya. Semakin di ladeni semakin nggak akan selesai.

Bukan Alena yang pergi tapi justru Rian yang membanting pintu dan keluar rumah. Alena sungguh lelah, dia menghembuskan nafas panjang.

6 tahun bersama, dia sudah sampai pada titik jemu karena suaminya tak kunjung berubah.

"Aku harus gimana supaya kamu sadar, Mas?" Lirih Alena pelan. Menatap sendu kepergian suaminya yang sudah di jemput temannya untuk pergi.

Sudah setahun ini Alena mulai diam dan tak terlalu banyak protes, walaupun Riyan malas kerja, s**a kelayaban, masih mabuk-mabuk'an hingga teler. Alena diam. Dia sudah lelah mengomel. Hingga suaminya memutuskan untuk kerja jauhpun Alena hanya diam dan patuh walaupun tidak di tinggali uang.

Dia hanya bisa merutuki nasib buruknya tanpa punya keberanian mengungkap kekecewaannya.

*

3 bulan kemudian.

"Aku udah nggak punya uang, Mas. Kapan mau kirim?"tanya Alena di telepon saat itu.

"Nanti, kalo udah gajian langsung aku transfer," ucap Riyan enteng.

"Ya ud---." Tutt tuttt tuttt. Telepon di matikan sepihak. Hal seperti ini sudah biasa mau bagaimana lagi.

Alena memutuskan mencari kerja saja. Dia tidak bisa berpangku tangan menunggu transferan suaminya. Dia butuh uang untuk hidupnya dan juga anaknya. Dia harus berjuang sendiri.

*

Alena sudah bekerja di sebuah stand minuman ternama dengan sistem shif. Dia sangat menikmati kerjaannya yang menurutnya sesuai dengan pasiionnya.

Dia sedang jaga saat itu dan suasana stand sangat sepi. Dia asyik berselancar di dunia maya, sampai tak menyadari ada pembeli yang memanggilnya.

"Mbakk," teriak pembeli itu.

"Eh, iya. Maaf, mas." Pembeli itu tersenyum menatap Alena.

Setelah mencatat pesanan pembeli itu. Alena segera membuatkannya agar cepat selesai dan pelanggan lain tidak terlalu panjang antriannya.

"Terima kasih," ucap pria itu. Alena hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

"Udah lama?" tanya pria itu lagi. Selagi keadaan kedai yang sepi, pria itu mencoba memanfaatkan keadaan dengan mengajak Alena berkenalan.

Demi tidak di bilang pedagang yang sombong, Alena harus menjawab ramah setiap pertanyaan pria itu.

"Lumayan," jawab singkat Alena.

"Aku boleh sering kesini kan? Kenalin, namaku Adrian." Dia mengacungkan tangan hendak bersalaman dengan Alena.

"Alena," jawabku singkat dengan mengulas senyum tipis.

Ku rasa berteman bukan hal yang buruk, apalagi sejak tadi ku perhatikan dia terlihat baik.

apakah dia akan menjadi anugrah atau justru musibah untukku? entahlah aku hanya mengikuti alur tuhan saja.

*****

23/09/2021

Rasa yang tepat di waktu yang salah.

Prolog.

"Ku mohon, jangan tinggalkan aku." Adrian menangis tersedu-sedu mencoba menahan Alena yang hendak pergi.

"Waktu kita udah habis, Kak. Kita harus selesain hubungan ini sebelum semakin jauh," ujar Alena menepis tangan Adrian yang menggenggamnya.

"Ku mohon,Len. Hanya sampai dia pulang. Aku janji bakal kubur semua kenangan bersama kita kalau dia udah pulang. Ini masih ada 1 bulan. Tolong kasih kesempatan kita buat bareng-bareng sampai saat itu." Adrian masih bersikukuh ingin mempertahankan Alena.

Alena menatap manik mata Adrian sampai terdalamnya. Mencari kesungguhan dalam niatnya untuk bersama.

Apa yang di harapkan pria lajang ini dengan bersamanya? Dia sudah tak lagi muda, dia punya anak bahkan punya suami. Hubungan ini jelas sangat salah walaupun dia bahagia bersamanya.

"Kamu bisa cari cewek muda yang lebih dari aku, kak. Tolong jangan buang waktumu hanya demi menunggu aku yang tak pasti." Alena kembali mencoba membuka mata Adrian untul melihat kenyataan yang ada.

"Aku nggak butuh wanita lain! Bagiku kamu lebih dari segalanya, kamu memberi kebahagiaan yang belom pernah aku rasain." Adrian menggemggam jemari Alena kuat.

Ada kilat kesedihan tergambar jelas di sana. Adrian pria baik, dia pria terbaik yang pernah di kenal bahkan suaminya kalah jauh.

Alena bimbang dengan keputusannya. apa dia sudah membuat kesalahan besar?







Next or not?

28/08/2021

Wildest dream
Part 44

"Maaf udah buat repot pagi tadi, Al," ucapku menyesal.

Dia tersenyum menanggapiku dan mengusap lembut jemariku. "Nggak apa-apa wajar kan ibu hamil begitu?"

Tak ku jawab pertanyaannya dan malah mengaduk isi buburku hingga tercampur.

"Aku ngerasa gak enak badan aja," keluhku lagi. Mendorong mangkuk bubur karena tak berselera makan sama sekali.

"Ya udah istirahat gih! Jangan capek-capek. Aku berangkat dulu." Dia beranjak dan mencium keningku.

Aku memandang sendu kepergiannya tanpa berniat mengantarnya sampai depan rumah.

Aku benar-benar lelah.

*

"Bagaimana? Sudah buat keputusan?" Tanya Rendy tiba-tiba di ujung pintu rumahku.

Aku mengernyit tak s**a melihat kedatangannya. Dia tak menghiraukan ekspresiku. Dia langsung menghampiriku dan menciumiku dengan ganasnya, aku sudah mengelak sekuat tenagaku. Aku berusaha mendorongnya sekuat tenaga sampai nafasku terengah-engah.

"Kau gila!" Teriakku padanya. Aku hampir ingin menangis lagi tapi coba ku tahan.

"Iya, aku gila. Gila karenamu!" Dia balas membentakku dan langsung menyerbuku kembali.

Aku hanya bisa menangis di perlakukan sedemikian rupa olehnya. Mengelakpun tak sanggup aku benar-benar bodoh.

"Kenapa semenjak hamil kamu jadi makin seksi, hem?" tanyanya mengendus leherku sembari meraba aset depanku.

"Pakaianmu juga seksi banget, ah. Aku hampir gila karenamu sil."

Dia membalik tubuhku agar berhadapan dengannya.

"Jangan bilang tadi pagi kamu habis melayani Alfian!"

"Dia emang suamiku, Ren. sudah seharusnya dia berhak atas semua di diri ini." jawabku dengan bangga akan suamiku sendiri. "Kamu yang harusnya malu! Kamu nggak ada hak untuk menikmati semua ini!" tukasku tajam.

Dia memandangku dengan tajam, tampak tak terima dengan ucapanku.

"Oke. Kalo kamu bilang gitu, nggak apa-apa " dia mundur dan mengambil tasnya yang tadi dia tinggal.

lalu kembali lagi, dan mengeluarkan sebuah borgol bulu berwarna pink lembut.
"Apa yang kau mau dengan barang itu?" tanyaku panik.

"Aku mau menghukum gadis kecilku, karena dia sudah berani memuji pria lain di depanku."

aku menelan ludahku dengan berat. dia mendekat. Akupun memberontak.

Dan pagi itu, aku kembali hina dengan menjadi budak seks Rendy.

*****

13/06/2021

Wildest dream
Part 43

[Tinggalin Alfian, Sil. Aku siap buat jadi penggantinya. Kalo gak bakal ku buat hancur hidupnya.]

Seulas pesan itu ku baca dengan getir. Dia memang sosiopat sialan.
Bagaimana aku harus meninggalkan orang yang selalu menjadi cinta pertamaku dari dulu?

Aku menatap kosong halaman belakangku yang ku jadikan kebun bunga.

"Sayang, aku pulang." Teriak Alfian dari depan.

Aku mendengar, tapi enggan beranjak. Aku ingin duduk diam disini. Aku ingin mendebat jiwaku yang salah. Aku masih berdosa.

"Di sini kamu rupanya?" Alfian sudah berada di sampingku. Dia duduk dan langsung menarikku dalam pelukannya.

"Kenapa? Diem aja," ucapnya mengusap lembut rambutku.

"Aku lelah," kataku pendek.

Dia langsung meneliti wajahku dengan khawatir. "Kan aku udah bilang jangan kerja berat-berat selagi aku pergi, Sil! Pasti gak di dengerin." Dia mengomel panjang lebar.

"Aku nggak ngapa-ngapain selama kamu pergi," jawabku lirih dengan mata masih menatap kosong ke depan.

"Kenapa? Ada masalah?" Tanyanya khawatir.

"Aku nggak apa-apa, Al." Aku mencoba tersenyum dan memeluknya. Lalu bersandar rapat di dadanya.

Belum saatnya dia tahu kebenaran ini. Terlalu menyakitkan aku saja nggak sanggup membayangkan.

"Istirahat kedalam aja kalo gitu, mau ku gend**g?"

Aku terkekeh mendengar penawarannya. "Gandeng aja, Al. Aku kasihan lihat kamu nanti."

Dia balas tersenyum, dan segera mengulurkan tangan untuk menggandengku. Oh, Tuhan. Bagaimana aku bisa meninggalkan suami sebaik dia.

Aku ingin menangis tapi gak di hadapannya. Aku harus menyimpannya untuk nanti.

*

"Aku nggak akan pergi lagi,Sil," katanya disela makan malam kita.

"Kenapa?" Tanyaku singkat.

"Aku takut lihat perubahan kamu yang kayak tadi," ucapnya lalu meminum seteguk gelas.

"Aku nggak bisa bayangin kalo aku pergi lebih lama dari kemarin, kamu bisa--,"

"Nggak usah di terusin! Aku emang lagi nggak enak aja," sahutku cepat.

Aku nggak mau denger dia bahas soal yang bikin sentimental. Aku ingin bahagia dengannya. Setidaknya untuk saat ini saja kita sudah terlalu lama susah. Aku ingin bahagia walau sebentar saja.

Ting ....

Muncul notifikasi pesan di aplikasi chatkku.
Beberapa foto. Foto-fotoku yang tengah di tindih dia dan beberapa tanpa busana.

Aku hampir saja menjerit, ku tutup rapat-rapat mulutku. Tak mau sampai Alfian bangun. Tubuhku bergetar menatap foto itu. Asli aku ketakutan.

Ting ....

[Aku nggak akan main-main untuk kali ini, aku kasih tenggat waktu buat kamu menyelesaikan ini semua dan aku akan menyimpan rapat rahasia ini. Atau kamu yang akan tau akibatnya!]

Aku menatap deretan kata dalam pesan tersebut dengan rasa mual yang berlebihan. Tak ku balas pesannya dan langsung saja ki hapus.

Aku berlari ke kamar mandi dengan tergesa, tubuhku bergetar, aku mengeluarkan semua yang tadi ku makan beserta semua beban yang ku pendam sendiri.

"Sil! Kamu nggak apa-apa?" Panik Alfian dari luar kamar mandi.

"I'm Fine, Al!" Lirihku sekuat tenaga.

Aku ingin menangis rasanya. Tapi air mataku tak sanggup keluar.

Setelah membasuh wajahku. Aku keluar dan mendapati Alfian masih menunggu dengan wajah cemas. Aku langsung menghambur dalam pelukannya, kemudian dia mengusap lembut punggungku.

Aku semakin terisak dalam pelukannya. Dia nggak bertanya apa-apa. Itu yang buat aku semakin menyayanginya. Bagaimana aku harus jujur dengan kondisi seburuk ini?

*****

Maaf baru bisa edit soalnya aku di real sibukkk banget nanti bakal langsung lanjut bab selanjutnya deh.

Want your business to be the top-listed Government Service in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jakarta