14/05/2026
Keluarga Besar Penyuluh Agama Hindu Indonesia Kementerian Agama Republik Indonesia mengucapkan Selamat Memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus bagi seluruh Sahabat Kristiani.
Peristiwa Kenaikan bukanlah sebuah akhir, melainkan wujud nyata dari sebuah pengharapan yang utuh. Momen suci ini mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan senantiasa menyertai, mengangkat semangat kita, dan memampukan kita untuk terus melangkah.
Semoga makna Kenaikan-Nya senantiasa menginspirasi kita semua untuk menjadi pembawa damai, terus melayani dengan tulus, dan menebar kebaikan di tengah keberagaman bangsa tercinta.
Yesus Kristus
03/05/2026
Ketua Pokjaluh Agama Hindu Indonesia, Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu) mengisi Binrohtal Polri, Kamis, 30 April 2026
02/05/2026
Pendidikan bukan sekadar proses mengisi wadah yang kosong, tetapi menyalakan api pemikiran. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026! Mari terus beradaptasi, berinovasi, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi.
24/04/2026
Perbuatan-Kewajiban-Nirphala
Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag. M.Sos.
Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang
karmaṇy evādhikāras te
mā phaleṣu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr
mā te saṅgo’stv akarmaṇi
“Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan p**a hanya berdiam diri tanpa kerja” (Gita II.47).
Sloka ini begitu familiar diera Mahabharata tayang di TV swasta di tahun 1990-an. Jalanan menjadi sepi karena tontonan Mahabharata yang bukan hanya membuat penasaran namun diselingi dengan kata-kata bijak yang kerap kali keluar terutama dari tokoh seperti Yudistira dan Krishna. Mahabharata adalah kisah abadi yang selalu hidup dari masa-kemasa, dari berbagai lintas generasi seolah terbius dengan keindahan kisah ini. Ia tidak dapat dipisahkan dengan wejangan Krshna yang kemudian menjadi Bhagavad Gita.
Penempatan sloka Gita II.47 ini pada awal penanyangan Mahabharata seolah memberikan pesan tentang kerja yang ideal. Kerja ideal itu didasari pada sebuah pemahaman betapa pentingnya motif kerja-karma, yang tak pernah salah mencari tuannya kembali p**ang dalam bentuk phala-hasil dari perbuatan. Secara keseluruhan kisah Mahabharata sarat dengan muatan karmaphala, bagimana perbuatan baik dan buruk yang diperankan tokoh Pandawa dan Korawa dan akibat yang dihasilkan. Tak satupun dari tokoh-tokoh itu tidak dapat terlibat dalam pertempuran baik dan buruk, bahkan ketika Balarama memutuskan untuk tidak berperang hatinya tetap berada pada Korawa dimana Duryodana sebagai muridnya menjadi pertimbangan, dan hal itu p**a yang menyebabkan ia dikatakan pengecut.
Manusia selalu berharap akan hasil yang sesuai dengan keinginannya, walau dalam kenyataan hasil tak seperti harapan. Inilah mengapa sloka diatas lebih mementikan kerja dari pada berorientasi pada hasil dari kerja karmaṇy evādhikāras te. Bukan berarti bahwa mengerjakan sesuatu tanpa tujuan, sebab tujuan merupakan dasar dari pelaksanaan kerja yang mendorong seseorang untuk giat melaksnakannya. Namun ketika bekerja hendaklah tidak menjadikan hasil sebagai motif yang mengikat “mā phaleṣu kadācana”.
Hal ini sama dengan cita-cita tujuan yang harus tertanam didalam diri. Cita-cita itu harus kuat agar mendorong motivasi yang keras guna meraihnya. Namun jangan lupa bahwa dibalik cita-cita yang kuat, usaha yang keras untuk meraihnya ada sebuah misteri yang tidak dapat diketahui yaitu masa depan yang selamnya gelap seperti sebuah buku tulis kosong yang entah harus ditulis apa. Jadi pada intinya hati kita jualah yang menentukan lembaran-lembaran hidup ini dengan kerja maksimal namun hasil jangan sekali-kali dilihat sebagai suatu keharusan dalam kerja “mā karma-phala-hetur bhūr”.
Kesulitan mewujudkan kerja yang tulus ikhlas nirphala (tanpa mengharapkan hasil) memang menjadi persoalan mendasar dalam etos kerja manusia. Segala sesuatu diukur berdasarkan materi sebagai tolak ukur sebuah pencapaian. Hingga pada akhirnya ketika seseorang tidak lagi dapat mengerjakan sesuatu karena sakit atau bahkan meninggal seolah tak bisa lepas dari motif-pamrih akan hasil. Latihan melepas ikatan melalui yadnyapun seolah menuai jalan buntu dipicu oleh ambisi dan motif pamer yang merambah antara selfi dan eksistensi diri atau tirta yatra menemukan kesucian melepas ikatan. Hal yang memang sulit untuk dilakukan, disatu sisi berkerja merupakan kewajiban, pahala dari kerja yang begitu mengikat, namun semua itu harus dikesampingkan.
Pada akhirnya dibalik berbagai gejolak motif kerja Gita berpesan: jangan p**a hanya berdiam diri tanpa kerja “mā te saṅgo’stv akarmaṇi”.
Apa yang menjadi topik sloka ini adalah sebuah pemahaman mendasar tentang etos kerja yang menguntungkan bagi kesehatan mental dan jiwa. Melebur ambisi dan kesombongan yang membuat pikiran kita menjadi sehat. Bekerja keras secara maksimal namun jangan terikat hasil, jangan p**a menjadi apatis dengan berhenti bekerja. Untuk sampai pada pemahaman ini praktek kerja diikuti pengendalian diri sebagai ukurannya, jadi dalam bekerjapun Yoga itu terjadi. Diri ini merupakan laboratorium hidup dan kita bertugas mengamati anasir-anasir halus didasar hati kita yang gelombangnya fluktuatif. Dalam pemahaman yang lebih mendalam Gita II.48 berpesan:
yoga-sthaḥ kuru karmāṇi
saṅgaṁ tyaktvā dhanañjaya
siddhy-asiddhyoḥ samo bhūtvā
samatvaṁ yoga ucyate
Pusatkan pikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan hasilnya, Wahai Dananjaya (Arjuna), tetaplah teguh baik dalam keberhasilan maupun kegagalan, sebab keseimbangan jiwa itulah disebut yoga.
Jadi keseimbangan jiwa itulah yang merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa kita bekerja keras dengan mengabaikan hasil sebagai motif. Semua itu bertujuan agar seseorang “sehat” dalam bekerja. Artinya ketika kita terjerumus dalam motif hasil hal itu tidak sehat bagi pikiran dan jiwa karena hasil itu dijelaskan sebagai ikatan yang menjauhkan diri dari kebabasan rohani. Namun tanpa kerja seseorang juga tak akan mampu bebas dari ikatan, untuk itu seimbang dalam bekerja dipahami sebagai bekerja giat tapi tidak terikat.
Ibarat seniman yang satu penabuh gong, lainya penabuh kendang, bekerja keras untuk menghasilkan suara gamelan yang harmonis. Masing-masing berusaha dalam disiplin masing-masing untuk sebuah karya musik yang harmoni. Demikianlah disatu sisi motif yang tulus ikhlas harus menjadi landasan dalam bekerja sebagai gongnya, dan disisi lainnya kerja keras harus terwujud tanpa mengaharapkan hasil sebagai kendangnya. Bila keduanya seimbang dan harmoni akan menghasilkan irama serasi. Jadi kesimp**an dari sloka-sloka ini hendaknya dibuat oleh seorang pelaku karma yoga, dan kita semua adalah pelaku itu, jadi yang harus mewujudkan kesimp**an itu adalah kita. Bila mampu mewujudkan kerja yang sempurna dikatakan sama dengan yoga- yogaḥ karmasu kauśalam.
Om Santih Santih Santih Om.
23/04/2026
Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang I Gede Adnyana, S.Ag.,M.Sos. menjadi narasumber dalam Dharma Thula bersama semeton pegawai Kemendagri & BNPP, pada hari Kamis, 23 April 2026, dengan topik Tirta Yatra Jejak Pasupata di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, yang diikuti lebih dari 700 peserta dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali dan Lampung.
Dalam diskusi ini dipaparkan tentang sejarah Hindu Kutai dari dengan temuan tujuh Yupa dan dua tiang batu yang masih tertinggal dilokasi situs Lesong Batu.
21/04/2026
Selamat Memperingati Hari Kartini
21/04/2026
Hindu Aluk Todolo, ada yang tau? Banyak yg gak tau ini.. ayo disimak..! ✔️😶🌫️
13/04/2026
Menyebrangi Samudra Kehidupan
Mengarungi Samsara Menembus Badai Dosa Dengan Perahu Ilmu Pengetahuan
Dewi Yunairi, S.Fil., M.Ag
Penyuluh Agama Kabupaten Pringsewu-Lampung
09/04/2026
Penyuluh Agama Hindu bersinergi dengan semua instansi dan lembaga