Yayasan Pusaka

Yayasan Pusaka

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Yayasan Pusaka, Social service, Jalan B 6 B, Kompleks Rawa Bambu Satu, Pasar Minggu, Jakarta.

Investasi Rp 200 Triliun 31/08/2012

Investasi Rp 200 Triliun
Dorong Investasi yang Serap Bahan Baku Lokal

Jumat, 21 Agustus 2012

Jakarta, Kompas - Tujuh proyek investasi asing senilai Rp 200 triliun segera masuk untuk menggairahkan perekonomian Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal optimistis dengan masuknya ketujuh proyek investasi tersebut target investasi tahun ini bisa tercapai.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Chatib Basri, di Jakarta, Kamis (30/8), menegaskan, ketujuh proyek itu adalah pembangunan pabrik kosmetik, industri kimia, proyek rel kereta api dan smelter, industri semen, rel kereta api Borneo (Kalimantan), dan dua proyek pembangkit listrik.

”Kami terus mempromosikan Indonesia supaya banyak investor yang tertarik,” katanya.

Chatib mengatakan, ketujuh proyek ini menjadi prioritas BKPM agar segera direalisasikan. Menurut dia, ketujuh proyek tersebut serius. ”Ini berbeda dengan proyek yang sering digembar-gemborkan pemerintah. Sekarang lagi proses. Mudah-mudahan segera tuntas,” katanya.

Chatib juga mengatakan, dengan jumlah penduduk yang banyak akan membuat Indonesia dilirik investor. Potensi tersebut harus dipromosikan sekaligus dijelaskan tentang tantangan dan hambatan yang ada.

Hingga semester I-2012, realisasi investasi Rp 148,1 triliun, naik 28,1 persen dibandingkan periode sama tahun 2011. Angka tersebut terdiri dari investasi dalam negeri Rp 40,5 triliun dan investasi asing Rp 107,6 triliun. Tahun ini total target investasi BKPM Rp 390 triliun.

Sebelumnya pengamat ekonomi Indef, Aviliani, mengatakan, tingginya investasi asing yang masuk ke RI seiring dengan naiknya impor bahan baku dan barang modal. Investasi asing yang masuk seharusnya lebih banyak menyerap bahan baku lokal sehingga devisa tidak tergerogoti untuk mengimpor.

Dari data BPS, impor pada semester I-2012 didominasi impor bahan baku/penolong yang mencapai 70,3 miliar dollar AS (tahunan naik 11,8 persen), dan impor barang modal 19,4 miliar dollar AS (naik 34,9 persen). Dari ketiga golongan penggunaan barang, impor barang modal tertinggi adalah kapal terbang dan bagiannya (naik 73,7 persen), kendaraan bermotor dan bagiannya (naik 45,3 persen), barang dari besi/baja (naik 43,3 persen), dan mesin serta peralatan mekanik (naik 25,4 persen). (ENY)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/08/31/05282814/investasi.rp.200.triliun

Investasi Rp 200 Triliun Jakarta, Kompas - Tujuh proyek investasi asing senilai Rp 200 triliun segera masuk untuk menggairahkan perekonomian Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal optimistis dengan masuknya ketujuh proyek investasi tersebut target investasi tahun ini bisa tercapai.

Pertambangan dan Kekerasan 15/08/2012

Pertambangan dan Kekerasan
Oleh Arianto Sangaji

KOMPAS, 15 Agustus 2012

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) dalam laporan tahun 2012 mengenai indeks peraturan yang menghambat investasi asing langsung (FDI) cukup menarik.

Pengukurannya memakai skala antara 0 (sangat terbuka) dan 1 (sangat tertutup) untuk melukiskan negara paling terbuka dan paling tertutup bagi FDI. Dalam sektor pertambangan (termasuk minyak dan gas), skor Indonesia lumayan terbuka (0,073), lebih baik daripada negara anggota G-20 yang kaya mineral seperti Australia (0,80), Amerika Serikat (0,100), dan Kanada (0,150). Artinya, di industri pertambangan, Indonesia adalah negeri paling liberal dibanding negeri-negeri kapitalis paling maju sekalipun.

Indeks tersebut sebenarnya menunjukkan manifestasi permukaan dari sukses penerapan kebijakan neoliberal di sektor ini. Prinsip neoliberalisme adalah penghilangan risiko sirkulasi kapital secara global. Dari segi komersial, maka sistem perpajakan, asuransi, dan instrumen keuangan lainnya harus tidak berisiko bagi arus kapital. Tetapi, paling pokok adalah risiko politik, yakni jaminan akses terhadap tanah dan mineral di dalamnya dan kontrol terhadap tenaga kerja; dua soal kunci dalam proses produksi industri ini.

Fungsi negara, yakni negara neoliberal, adalah memastikan risiko-risiko itu ditiadakan atau ditekan serendah mungkin. Indonesia sukses menekan risiko-risiko itu, yang memungkinkan korporasi transnasional pertambangan leluasa beroperasi.

Imperialisme baru

Kita tahu, kekhususan industri pertambangan adalah kapital yang ditanam di sektor ini tidak bisa bergerak, semenjak deposit mineral terkonsentrasi di tempat dan di dalam teritori tertentu. Implikasinya, industri pertambangan mensyaratkan akses pasti dan eksklusif terhadap tanah dan mineral yang terkandung di dalamnya untuk dikonversi sebagai alat produksi.

Kondisi yang diperlukan agar ekstraksi mineral dapat dilakukan adalah memberlakukan hubungan kepemilikan kapitalistik atas tanah dan mineral. Caranya, liberalisasi hak atas tanah dan mineral melalui mekanisme sewa tanah, di mana negara mengeruk distribusi keuntungan dari pajak, termasuk royalti.

Kendati UUD 1945 menegaskan kedaulatan nasional negara atas tanah dan sumber daya alam, fakta menonjolnya: penguasaan transnasional kapital di sektor ini memperlihatkan bahwa kedaulatan nasional atas mineral tidak mutlak, tetapi dapat dinegosiasikan. Biarpun negara tetap/masih eksis, kapitalisme global secara efektif telah menjungkirbalikkan kedaulatan sebuah negara, di mana kapitalis transnasional mendeterminasi proses pembuatan kebijakan mengenai sirkulasi kapital di permukaan bumi melalui aneka mekanisme global dari sistem hubungan antarnegara. Inilah ciri dari imperialisme baru.

Sejak kapital pertambangan tersentralisasi di tangan fraksi kelas kapitalis transnasional, liberalisasi hak atas tanah dan mineral sebenarnya cermin adidaya kelas ini. Mereka menekan pemerintah menjauh dari kebijakan reforma agraria dan mempromosikan kebijakan monopoli tanah dan mineral di tangan kelas ini, sekaligus merendahkan sewa tanah—termasuk royalti murah—sehingga mengeruk surplus lebih besar. Kesulitan Pemerintah Indonesia melakukan negosiasi ulang kontrak karya dengan perusahaan transnasional merupakan contoh empirik betapa loyonya kekuasaan sebuah negara nasional di hadapan fraksi kelas kapitalis transnasional.

Ia menjadi soal karena industri pertambangan beroperasi bukan di wilayah hampa hak milik. Ada jutaan petani dengan sistem kepemilikan atas tanah yang tidak atau belum berkembang menurut hubungan kapitalistik. Liberalisasi hak atas tanah dan mineral bermakna sederhana: rampas dan hancurkan hubungan kepemilikan non-kapitalis atas tanah dan dengan demikian menghancurkan perekonomian pedesaan berbasis pertanian.

Situasi kian buruk semenjak kebijakan-kebijakan liberal diserahkan kepada para kepala daerah dengan kewenangan memberikan izin usaha pertambangan berskala menengah-kecil. Perampasan tanah secara paksa dan berdarah-darah untuk mengeruk mineral kian meluas.

Implikasi kedua, dalam hubungan ketenagakerjaan, sekalipun rezim neoliberal melalui strategi fleksibilitas secara fundamental melemahkan keseluruhan kelas pekerja, kontrol terhadap buruh industri pertambangan berlipat-lipat dibanding industri lain. Eksploitasi tenaga kerja pertambangan selalu dibarengi kontrol negara yang ekstra ketat guna mencegah resistensi buruh yang keras. Pemogokan buruh PT Freeport beberapa waktu adalah contohnya, di mana resistensi besar-besaran buruh dibalas dengan serangan aparat keamanan yang mematikan.

Kekerasan sistemik

Dengan melihat aspek keamanan akses atas tanah dan tenaga kerja dalam industri pertambangan, maka kekerasan yang kerap terjadi berakar pada keharusan mengenyahkan risiko ekspansi global kapital. Dengan kata lain, kekerasan bukan semata karena aparat keamanan melibatkan diri dalam konflik, tetapi bersifat endogen, yakni tumbuh dari dalam sistem yang berorientasi pada akumulasi tanpa batas ini.

Filosof Slavoj Zizek menyebutnya sebagai kekerasan sistemik (systemic violence): tidak saja berkenaan dengan kekerasan fisik langsung, tetapi mengambil bentuk kekerasan lebih halus dan tidak kasatmata dalam wujud hubungan dominasi dan eksploitasi di bawah kapitalisme. Tanpa menyoal aspek mendasar ini, maka tindakan kekerasan dalam sengketa tanah dan buruh dalam industri ini akan terus berputar, seperti ”arisan”: pindah dari satu p**au ke p**au lain, di negeri yang kaya mineral ini.

Arianto Sangaji Kandidat PhD di York University, Toronto

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/08/15/03004041/pertambangan.dan.kekerasan

Pertambangan dan Kekerasan Oleh Arianto Sangaji

Antara Kemiskinan dan Papua Tipu Papua 10/08/2012

OTONOMI KHUSUS
Antara Kemiskinan dan Papua Tipu Papua
Maruli Tobing

Kompas, 10 Agustus 2012

Tanah Papua berlimpah emas, perak, gas alam, minyak bumi, dan berbagai sumber daya mineral. Di sinilah tersimpan cadangan emas terbesar dan cadangan tembaga urutan kedua di dunia.

Belum lagi puluhan juta hektar hutan tropis yang terhampar luas, benteng umat manusia dalam menghadapi bencana pemanasan global mendatang.

Kekayaan alam Papua yang menakjubkan membuat silau Freeport McMoRan, British Petroleum, dan korporasi lainnya. Ironisnya, Papua dan Papua Barat adalah provinsi termiskin di Republik Indonesia. Bahkan, sebagian penduduk asli Papua masih hidup seperti di zaman batu.

Papua yang tidak pernah berhenti bergolak sejak PBB mengembalikannya kepada Indonesia, 1 Mei 1963, kini mirip api dalam sekam. Kemiskinan beranak-pinak dan suara menuntut merdeka makin keras terdengar hingga ke gedung PBB.

Tetap miskin

Khawatir peristiwa lepasnya Timor Timur akan berulang kembali, pemerintah era reformasi mengambil jalan tengah dengan memberi otonomi khusus kepada Papua melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001.

Genderang pembangunan kemudian ditabuh mengatasi ketertinggalan Papua selama ini. Dana otonomi khusus mengucur deras dan pejabat daerah ataupun pusat hilir-mudik Jakarta-Jayapura untuk urusan proyek dan uang.

Hingga saat ini, dana otonomi khusus yang dialirkan ke Papua dan Papua Barat lebih dari Rp 32 triliun. Ini belum termasuk dana-dana lainnya. Angka tersebut cukup fantastis mengingat jumlah penduduk asli Papua hanya sekitar 2 juta dari 3,6 juta penduduk di dua provinsi. Jumlah penduduk Provinsi Papua 2.851.999 jiwa dan Papua Barat 760.442 jiwa. (Sensus Penduduk 2010)

Sebelas tahun otonomi khusus berjalan, urutan Papua dan Papua Barat tetap tidak bergeser sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Statistik memang menunjukkan penurunan angka kemiskinan, dari 41 persen tahun 2001 menjadi 31,98 persen tahun 2011.

Namun, penurunan angka kemiskinan itu berjalan lamban, rata-rata di bawah satu persen setiap tahun. Dengan kata lain, untuk mencapai tingkat kemiskinan nasional saat ini (sekitar 14 persen), Papua dan Papua Barat membutuhkan waktu 15 tahun lagi. Itu pun jika diasumsikan dana otonomi khusus tidak dihentikan.

Ironisnya, penurunan angka kemiskinan itu bukan pada pop**asi penduduk asli, melainkan kelompok warga pendatang. Contohnya, kehidupan warga transmigran yang awalnya melarat kini jauh lebih baik dibandingkan dengan penduduk lokal.

Diperkirakan, hampir separuh penduduk asli Papua hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan bahkan telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan mereka. Mirip seperti tumor ganas, dibutuhkan operasi besar mencabut akar permasalahannya.

Upaya setengah-setengah seperti dilakukan selama ini hanyalah tambal sulam. Data terbaru BPS Papua mencerminkan hal ini, yakni jumlah penduduk miskin justru bertambah 21.800 orang dalam setahun terakhir, dari 944.790 jiwa pada Maret 2011 menjadi 966.590 jiwa pada Maret 2012.

Lantas, apa sesungguhnya yang terjadi di Papua?

Antara kaki lima dan kios

Lina Amsasiu (45), ibu tiga anak, setiap malam berjualan buah pinang di emperan toko elektronik di Jalan Irian, Kota Jayapura. Belasan tahun ia melakoni pekerjaan ini. Selama itu p**a tidak ada perubahan nasib kecuali raut wajahnya yang tampak letih dan kusut.

Dari berjualan pinang hingga pukul 24.00, penghasilannya rata-rata Rp 60.000 per hari. Pada musim hujan harga anjlok menjadi sekitar Rp 20.000. ”Saya harus berjualan agar anak saya tidak putus sekolah dan kelaparan. Penghasilan suami saya sebagai buruh hanya cukup untuk biaya hidup selama dua pekan,’’ ujarnya.

Lina tidak sendiri. Ribuan ibu rumah tangga asli Papua bernasib sama. Mereka berjualan buah pinang, buah-buahan, sayur-mayur, dan ikan di kaki lima Kota Jayapura ataupun kota-kota kabupaten lainnya. Tidak ada ruang yang layak bagi mereka mencari nafkah karena semua kios di pasar telah dikuasai para pendatang.

”Dulu saya berjualan di kaki lima Pasar Hamadi. Beberapa kali diusir petugas pasar karena dianggap mengganggu kenyamanan pemilik kios,’’ ujar Sance Mambraw (50) yang juga berjualan pinang di Jalan Irian.

Pemerintah Kota Jayapura sebenarnya telah menyediakan tempat berjualan bagi ibu-ibu tersebut di atas sebidang lahan di Jalan Percetakan Negara. Di atas lahan tersebut dipasang atap dan lantai disemen, kemudian diberi nama Pasar Mama-mama (Pasar Ibu-ibu).

Lokasinya sangat strategis di pusat pertokoan, tetapi bukan untuk berjualan sayur-mayur, buah pinang, dan ikan. ”Orang yang belanja sangat sepi di pasar ini karena jauh dari permukiman dan tidak ada tempat parkir kendaraan. Kami lebih banyak rugi daripada untung berjualan di sini,’’ kata sejumlah ibu pedagang sayur. Mereka memutuskan akan pindah ke tempat lain.

Akhir April lalu, ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Pedagang Asli Papua berunjuk rasa di Kantor Gubernur Papua. Mereka menagih janji pemerintah daerah yang akan membangun pasar permanen bagi orang asli Papua. Dalam orasinya, mereka mengecam elite politik Papua yang gemar membohongi ibu-ibu pedagang, terutama menjelang pilkada.

Kesenjangan yang mencolok antara pendatang yang berjualan di kios-kios dan ibu-ibu Papua yang duduk menunggu dagangan di lantai kaki lima di bawah terik matahari dan guyuran hujan merupakan salah satu sumber kerawanan.

Dalam kompetisi yang tidak seimbang, kios tidak lagi dilihat sebagai tempat berjualan, tetapi sebagai bentuk dominasi ekonomi dan penindasan terhadap ibu-ibu pedagang asli Papua. Maka, kios-kios tersebut selalu menjadi sasaran amuk massa setiap terjadi benturan sosial di dalam atau di luar pasar.

Pungutan yang membebani

Pendidikan adalah harapan satu-satunya yang dapat mengubah nasib warga miskin di Papua. Harapan inilah yang membuat ibu-ibu pedagang tersebut bertahan belasan tahun berjualan di kaki lima. Pendidikan gratis hanyalah ilusi karena dalam birokrasi yang korup tidak ada pelayanan yang gratis.

”Tahun lalu, uang pendaftaran anak saya di salah satu SMA negeri Rp 1,5 juta. Belum lagi uang sumbangan pembangunan gedung Rp 500.000, SPP Rp 50.000 per bulan, uang ulangan Rp 150.000, buku, dan lain sebagainya,” kata Lina.

Ia menambahkan, setelah naik kelas, ada lagi pungutan uang pendaftaran ulang sebesar Rp 500.000. Semua pengeluaran tersebut belum termasuk ongkos angkutan umum ke sekolah Rp 5.000 per hari dan jajan Rp 3.000

”Saya membayar Rp 300.000 untuk pendaftaran anak saya di SMA Merdeka. Uang pendaftaran ulang Rp 300.000, SPP Rp 100.000 per bulan, dan uang ulangan Rp 150.000. Sebelum uang ulangan lunas, siswa tidak diizinkan mengikuti ulangan,’’ ujar Sance Mambraw.

Pungutan terhadap siswa tidak hanya terjadi di SMA, tetapi juga sejak di bangku SD. Deasy Yakoo, juga penjual buah pinang di Jalan Irian, mengatakan, tahun lalu ia dipungut Rp 600.000 untuk pendaftaran anaknya di SD Inpres Surabesi, Kota Jayapura, uang buku Rp 300.000, dan uang sekolah Rp 25.000 per bulan.

”Otonomi khusus atau bukan, tetap sama. Kami tidak tahu apa manfaatnya dan tidak pernah dibantu pemerintah,’’ ujarnya. Padahal, Kantor Gubernur dan DPRD Papua hanya beberapa ratus meter dari lokasi ibu-ibu ini berjualan di kaki lima.

Bisa dibayangkan bagaimana pendidikan di daerah terpencil yang jauh dari pengawasan. Pemerintah memang membangun banyak sekolah, tetapi tidak menyediakan buku pelajaran. Lebih celaka lagi, sebagian besar guru di daerah terpencil meninggalkan tugasnya dan tidak kembali lagi. Akibatnya, banyak anak lulus SD atau SMP tidak bisa baca-tulis.

Elite politik Papua

”Apa sesungguhnya yang terjadi adalah Papua tipu Papua,’’ kata Timotius Murib, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP). Ia menambahkan, elite Papua di jajaran birokrasi ataupun di dunia politik telah menyelewengkan niat baik pemerintah pusat membangun daerah ini. Akibatnya, dana otonomi khusus yang begitu besar tidak menyentuh masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.

Menurut Timotius Murib, tergiur oleh besarnya anggaran di setiap kabupaten, para elite tersebut berlomba-lomba mengusulkan pemekaran daerahnya menjadi kabupaten baru. Agar usul tersebut disetujui, mereka ”menodong’’ pemerintah pusat dengan dalih ”demi terlaksananya otonomi khusus dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat’’.

Akibatnya, lahir kabupaten-kabupaten baru. Bahkan, daerah yang tidak layak dan penduduknya hanya beberapa ribu jiwa berubah status menjadi kabupaten.

Sebagai perbandingan, sebelum otonomi khusus diberlakukan pada akhir tahun 2001, daerah ini dibagi dalam sembilan kabupaten/kota, sementara sekarang menjadi 40 kabupaten/kota. Jumlah tersebut akan bertambah lagi karena saat ini Komisi A DPR Papua sedang mempelajari 29 berkas pengajuan pemekaran kabupaten. ”MRP secara tegas menolak rencana pembentukan kabupaten baru,” kata Timotius Murib.

Fakta menunjukkan, kata Ketua MRP, mayoritas penduduk di kabupaten baru tersebut tetap miskin dan tidak tersentuh pembangunan. Sebaliknya, bupati dan kepala-kepala dinas bergelimang uang dan harta.

Menurut Timotius Murib, elite Papua seperti ini cenderung bermuka dua demi ambisi politiknya agar tetap berkuasa. Dalam menghadapi kritik dan protes masyarakat, misalnya, mereka akan menyalahkan kebijakan pemerintah pusat dan peraturan yang saling bertentangan. Sementara berhadapan dengan Jakarta digunakan isu ancaman disintegrasi, aktivitas M (merdeka), dan gangguan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

”Papua terus memanas akibat ulah mereka. Pemerintah pusat seharusnya tidak perlu ragu bertindak demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat Papua,” ujarnya.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/08/10/02293665/antara.kemiskinan.dan.papua.tipu.papua

Antara Kemiskinan dan Papua Tipu Papua Maruli Tobing

Untuk Keadilan: Presiden segera Membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk Papua – Yayasan Pu 02/07/2012

Artikel Baru: Untuk Keadilan: Presiden segera Membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk Papua
02/07/2012
“Para tentara ini menangkap Yunia dengan dokumen tentang OPM dan dibawa ke pos induk di Sorendiweri (Yunia dalam keadaan haml). Yunia ditahan di Sorindiweri hingga ia dibawa ke Waforesyor untuk diperkosa lalu ditembak mati. Setelah ditembak mati ia diinjak di perutnya sehingga anak kecil dalam perut keluar. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1967, saat itu Yunia baru hami anak pertamanya dalam kandungan 8 bulan.”

Kutipan diatas adalah salah satu cerita saksi korban pelanggaran HAM di Biak Papua, yang didokumentasikan oleh Tim riset ICTJ dan Elsham, yang dilaporkan dan dipublikasikan dalam buku Masa Lalu yang Tak Berlalu: Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Tanah Papua Sebeum dan Sesudah Reformasi.

Sumber: http://pusaka.or.id/2012/07/untuk-keadilan-presiden-segera-membentuk-komisi-kebenaran-dan-rekonsiliasi-untuk-papua.html

Untuk Keadilan: Presiden segera Membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk Papua – Yayasan Pu “Para tentara ini menangkap Yunia dengan dokumen tentang OPM dan dibawa ke pos induk di Sorendiweri (Yunia dalam keadaan haml). Yunia ditahan di Sorindiweri hingga ia dibawa ke Waforesyor untuk diperkosa lalu ditembak mati. Setelah ditembak mati ia diinjak di perutnya sehingga anak kecil dalam perut...

Tanah dan Orang Papua 30/06/2012

Tanah dan Orang Papua

28/06/2012

Dear sahabat, Pusaka memposting beberapa makalah yang disampaikan oleh beberapa orang narasumber antara lain Saldi Isra, Noer Fauzi, Arimbi Heroe Putri, Martua Sirait, dan Emil Kleden dalam kegiatan simposium Masyarakat Adat “Mempersoalkan Keberadaan Masyarakat Adat Sebagai Subyek Hukum”, diadakan oleh HuMa dan Epsitema Institute 27 Juni 2012. Silahkan berkunjung ke website kami dan klik di di galeri dokumen website Pusaka. Semoga bermanfaat

http://pusaka.or.id/wp-content/files/Makalah_HUMA-SALDI_ISRA.pdf

Building a socialist-feminist economy in Venezuela | Links International Journal of Socialist Renewa 23/04/2012

Wawancara Lidice Navas: Membangun Ekonomi Feminis Sosialis: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=5222&type=13

Building a socialist-feminist economy in Venezuela | Links International Journal of Socialist Renewa June 30, 2010 -- The Bullet -- A long-time revolutionary activist, Lidice Navas is an important socialist-feminist leader within the United Socialist Party of Venezuela (PSUV) and a candidate for the Latin American parliament, among her many other responsibilities. We met her at the Women’s Developm...

Want your business to be the top-listed Government Service in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan B 6 B, Kompleks Rawa Bambu Satu, Pasar Minggu
Jakarta
12520