Geography Online Community

Geography Online Community

Share

Dalam era globalisasi sekarang ini, sudah patutnya setiap individu mengetahui setiap fenomena alam dan hal lainnya yang berkaitan dengan geografi.

Geography Online Community, disingkat GOC, adalah wadah komunikasi dan informasi berbasis online yang membahas segala hal yang berhubungan dengan geografi yang dapat diakses oleh semua kalangan. Maka, diciptakanlah Geography Online Community (GOC) ini. Setiap hari, GOC akan mempublikasikan info dan hal-hal menarik seputar geografi, tidak hanya yang ada di Indonesia, namun juga di dunia mengingat g

02/04/2015

Hello, GOCenese!

We apologize for not posting any informations for so long. We are currently negotiating about to merge this page Geography Online Community into Kelompok Studi Geografi (Geography Study Club - www.facebook.com/ksgunj). The decision will be announced at April, 7th 2015. Please kindly like the page to keep in touch. Thank you.

Contact us at [email protected] and twitter.com/ksgeografi_unj

Kelompok Studi Geografi UNJ Organisasi penalaran ilmiah tentang geografi di Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta.

Photos 02/02/2015

Hai, GOCenese!

Ternyata telah banyak ditemukan sejumlah planet yang memiliki kemiripan dengan si planet biru, Bumi. Postingan berikut ini membahas salah satu planet tersebut yang ditemukan pada tahun 2013 dan merupakan salah satu planet baru terindikasi memiliki sifat kebumian.

***Kepler 78B, Kembaran Bumi yang 'Terkutuk'***

Massa juga kepadatan materi planet ini mirip dengan Bumi -- terdiri dari batuan dan besi. Ia ditemukan mengorbit di sebuah bintang yang jaraknya 400 tahun cahaya dari tempat kita berada. Namun, planet yang dinamakan Kepler 78b itu sama sekali tidak bisa menopang kehidupan. Saking panasnya.

Jaraknya yang terlalu dekat dengan bintang induknya -- seperseratus dari jarak antara Bumi dan Matahari, masih jadi misteri di kalangan para ilmuwan. Rincian planet tersebut dan temuan yang dihasilkan dua tim peneliti dijelaskan secara detil dalam jurnal sains, Nature.

Secara teoritis, para astronom menduga, posisi planet ini terkunci dari bintang induknya. Itu berarti, satu sisinya secara permanen menghadap bintangnya, sementara sisi lain berada di baliknya. Sisi 'siang' Kepler 78b -- yang menghadap bintangnya - punya suhu membara, antara 2.000 sampai 2.800 derajat Celcius. Terlalu panas bagi makhluk hidup.

"Saya pikir aman untuk mengatakan bahwa permukaan 'sisi siang' planet itu meleleh jadi cair," kata Josh Winn, profesor fisika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti dimuat BBC, 30 Oktober 2013.

Namun, ia menambahkan tak ada yang bisa memperkirakan apakah kondisi di 'sisi malam' juga serupa cair. "Kami belum mengetahui suhu di sisi malam dan seberapa jauh permukaan cair berada di sana," tambah dia.

Kembaran Bumi yang panas itu masuk dalam golongan planet 'periode ultra-pendek (ultrashort period) yang baru belakangan diidentifikasi oleh teleskop luar angkasa Kepler -- yang kini tak lagi berfungsi. Rotasi Kepler 78b terhadap bintang dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam. Namun, berdasarkan teori teranyar tentang pembentukan planet, Kepler 78b tak mungkin terbentuk sebegitu dekatnya dengan bintang induknya, kemungkinan ia bergerak ke posisinya saat ini.

Sementara, Dimitar Sasselov, penulis makalah dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics mengatakan, "Kepler 78b akan segera menemui akhir hidupnya, tercemplung selamanya dalam bintangnya."

"Ia tak mungkin terbentuk di sana, sebab, tak mungkin sebuah planet tercipta dari dalam bintang. Mungkin saja ia terbentuk di lokasi yang jauh dan bermigrasi ke sana. Menuju kematian. Planet ini adalah teka-teki."

Orbit dan ukuran Kepler 78b ditentukan dengan cara menganalisa cahaya yang dilepaskan oleh bintang. Hasilnya, Kepler 78b besarnya 1,2 kali ukuran Bumi. Massanya 1,7 kali planet manusia. Dari pengukuran yang sama, para astronom memperkirakan kepadatan planet adalah 5,3 gram per centimeter kubik, beda tipis dengan Bumi yang 5,5 gram per centimeter kubik. Ini adalah bukti bahwa komposisi Kepler 78b terdiri dari batuan.

Dr Winn mengatakan fakta bahwa dua tim independen ilmuwan sampai pada kesimpulan yang sama tentang dunia alien ini, menambahkan keyakinan soal pengukuran.

Dan, menurut tim, Kepler- 78b mungkin sebuah dunia yang terkutuk. Gelombang gravitasi menunjukkan, ia semakin dekat dengan bintangnya. Dia akhirnya akan bergerak begitu dekat, hingga gravitasi bintang akan mencabiknya, Kepler-78b segera menghilang dalam waktu 3 miliar tahun.

Sumber bacaan: Liputan6 News dan Discovery News
Sumber gambar: NASA

Photos 26/01/2015

Hai, GOCenese!

Sekarang sudah tahun 2015, dan teknologi sudah merambah ke segala bidang, tak terkecuali energi. Saat ini, masih banyak negara yang menerapkan konsep pemakaian energi tak terbarukan untuk kebutuhan bahan bakar maupun ketenagalistrikan. Postingan GOC kali ini membahas tentang konsep energi yang dapat diterapkan tanpa menggunakan bahan bakar fosil untuk menggerakkan generator listriknya.

*****Si OTEC, Listrik dari Laut*****

Konversi energi termal lautan (Inggris: Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC) adalah metode untuk menghasilkan energi listrik menggunakan perbedaan temperatur yang berada di antara laut dalam dan perairan dekat permukaan untuk menjalankan mesin kalor. Seperti pada umumnya mesin kalor, efisiensi dan energi terbesar dihasilkan oleh perbedaan temperatur yang paling besar. Perbedaan temperatur antara laut dalam dan perairan permukaan umumnya semakin besar jika semakin dekat ke ekuator. Pada awalnya, tantangan perancangan OTEC adalah untuk menghasilkan energi yang sebesar-besarnya secara efisien dengan perbedaan temperatur yang sekecil-kecilnya.

Permukaan laut dipanaskan secara terus menerus dengan bantuan sinar matahari, dan lautan menutupi hampir 70% area permukaan bumi. Perbedaan temperatur ini menyimpan banyak energi matahari yang berpotensial bagi umat manusia untuk dipergunakan. Jika hal ini bisa dilakukan dengan cost effective dan dalam skala yang besar, OTEC mampu menyediakan sumber energi terbaharukan yang diperlukan untuk menutupi berbagai masalah energi.

Siklus kalor yang sesuai dengan OTEC adalah siklus Rankine, menggunakan turbin bertekanan rendah. Sistem dapat berupa siklus tertutup ataupun terbuka. Siklus tertutup menggunakan cairan khusus yang umumnya bekerja sebagai refrigeran, misalnya ammonia. Siklus terbuka menggunakan air yang dipanaskan sebagai cairan yang bekerja di dalam siklusnya.

Prinsip Kerja Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC)?

Secara sederhana dapat disebutkan bahwa OTEC bekerja dengan memanfaatkan perbedaan temperatur untuk membangkitkan tenaga listrik dengan cara memanfaatkannya untuk menguapkan Ammonia atau Freon. Tekanan uap yang timbul kemudian dipergunakan untuk memutar turbin.

Adapun prinsip kerja dari OTEC secara umum adalah:

1. Konversi energi panas laut atau OTEC menggunakan perbedaan temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin, minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25°C) agar bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

2. Laut menyerap panas yang berasal dari matahari. Panas matahari membuat permukaan air laut lebih panas dibandingkan air di dasar laut. Hal ini menyebabkan air laut bersirkulasi dari dasar ke permukaan. Sirkulasi air laut ini juga dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik.

3. Dalam beroperasinya OTEC, pipa-pipa akan ditempatkan di laut yang berfungsi untuk menyedot panas laut dan mengalirkannya ke dalam tangki pemanas guna mendidihkan fluida kerja. Umumnya digunakan ammonia sebagai fluida kerja karena mudah menguap. Dari uap fluida tersebut selanjutnya akan digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Selanjutnya, uap fluida dialirkan ke ruang kondensor. Didinginkan dengan memanfaatkan air laut bersuhu 5 derajat Celcius. Air hasil pendinginan kemudian dikeluarkan kembali ke laut. Begitu siklus seterusnya. (Zaiki, 2009)

Kekurangan dan Kelebihan?

Kelebihan:
• Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
• Tidak membutuhkan bahan bakar.
• Biaya operasi rendah.
• Produksi listrik stabil.
• Dapat dikombinasikan dengan fungsi lainnya: menghasilkan air pendingin, produksi air minum, suplai air untuk aquaculture, ekstraksi mineral, dan produksi hidrogen secara elektrolisis.

Kekurangan:
• Belum ada analisa mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
• Jika menggunakan amonia sebagai bahan yang diuapkan menimbulkan potensi bahaya kebocoran.
• Efisiensi total masih rendah sekitar 1%-3%.

*****
Sudah saatnya semakin berkembang zaman kita memanfaatkan lingkungan kita semaksimal mungkin dengan dampak seminimal mungkin. :)

Sumber bacaan: MajalahEnergi.com
Sumber gambar: majarimagazine.com

Photos 14/01/2015

Good evening, GOCenese!

The article typed below describes about what happens to our Planet Blue when the inhabitants celebrate Independence Day or even the New Year in every single year with a hazardous materials. It looks so pretty when it flies through the wind and embellishes the sky with colourful light. Do you know what are we talking about? Check below.

***ENVIRONMENT HATES FIREWORKS***

Fireworks consist of a wide range of products with a highly variable composition. The available data on fireworks (safety, environmental effects) are often incomplete. This applies also to consumption figures, which can only be estimated. Every year, some 1,450 tonnes of fireworks are set off in Switzerland. About 1000 tonnes of this consists of materials such as tubes, structural parts and packagings (cardboard, wood, plastic), and 360 tonnes of the pyrotechnic components. These consist of approx. 240 tonnes of black powder (gunpowder) and 120 tonnes of chemicals to produce effects. These effects mixtures contain metallic compounds that may have an impact on the environment or human health.

Fireworks are an environmental disaster. All those pretty colors come from somewhere, right? Reds are the product of strontium and lithium; copper burns blue and releases dioxins, which cause cancer; magnesium, titanium and aluminum make white sparks; sodium chloride is used for orange-yellow; boric acid for green; and potassium and rubidium produce purple. And, get this, radioactive barium produces sparkly greens.

After the fireworks display at the Stockholm Water Festival in 1996, levels of arsenic were twice the norm, and mercury, cadmium, lead, copper, zinc and chromium were as much as 500 times above normal.

The gunpowder alone — used for combustion — leaves behind potassium carbonate, potassium sulphate and sulphide, plus unreacted sulphur and levels of fine particulates that cause asthma, cancer and other respiratory problems. Oh, and this makes the air often exceed local and national air quality standards.

All this not only pollutes the air, but it also leaves deposits on soil, crops and water. High on the list of fireworks fallout, especially for water, is perchlorate. Perchlorate affects the thyroid gland and is well-known for health risks for humans and wildlife. An EPA study of an Oklahoma lake found that within 14 hours of a fireworks display, perchlorate levels were 1,000 times higher than usual. It took up to 80 days for those levels to return to normal.

In a 2002 article, Gar Smith estimated that “in the U.S., fireworks shows may have generated 90 tons of sky-borne lead pollution — a flagrant (and pungent) violation of the Clean Air Act” and notes that “fireworks displays … may even violate Agenda 21 of the U.N. Earth Summit agreement.”

Fireworks by Grucci, the self-proclaimed First Family of Fireworks based in New York, used 140 tons of sand, enough lumber to build a single-family house, and 135 miles of wire for a New Year's event at the Washington Monument. All these resources and pollution are merely the result of detonating fireworks. Now consider the environmental costs of production and transportation!

Lead, radioactive barium, perchlorate, fine particulates, dioxins, lumber … As much as you may love ‘em, firework displays are not worth the costs. It may be time for a revival of the Main Street parade — or, at least, laser shows — to replace fireworks.

***

“Stop firing the sky with fireworks. What if the sky fire you back with fireworks you just fired?” – Team GOC.

The article taken from Mother Nature Network - mnn.com (with some modification)
The picture taken from Kailua Fireworks

Photos 01/01/2015

SELAMAT TAHUN BARU 2015 GOCENESE!

Berikut adalah sekuel keempat yang merupakan sekuel terakhir dari postingan-postingan sebelumnya. Postingan berikut menjelaskan tentang proyeksi PBB terhadap 7 miliar penduduk Bumi yang akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

***BAGIAN EMPAT: DAYA DUKUNG ALAM TERHADAP PENDUDUK DUNIA***

Implikasi terhadap bertambah banyaknya penduduk Bumi tidak hanya berdampak terhadap masalah pangan, sandang, papan, dan kesehatan, namun juga terhadap komposisi penduduk tua di Bumi yang menua ini.

Dunia menua begitu cepat sehingga sebagian besar negara tidak siap menopang pembengkakan jumlah manusia lanjut usia, demikian laporan terbaru dunia yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Hasil studi itu merefleksikan bahwa negara-negara dunia tidak bekerja cukup cepat untuk mengatasi pertumbuhan jumlah orang tua yang lebih cepat dibanding sebelumnya. Pada tahun 2050, untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, jumlah penduduk tua diatas 60 tahun akan melebihi jumlah anak-anak berumur 15 tahun.

PBB mengatakan bahwa penuaan adalah sebuah isu dunia. Yang mungkin mengejutkan, laporan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara di mana terjadi penuaan terjadi paling cepat adalah negara-negara berkembang seperti Yordania, Laos, Mongolia, Nikaragua dan Vietnam, di mana jumlah orang yang lebih tua akan menjadi tiga kali lipat pada tahun 2050.

Global AgeWatch Index (www.globalagewatch.org) yang didirikan oleh kelompok pembela hak-hak orang tua HelpAge International dan Dana Kependudukan PBB sebagai upaya mengatasi lemahnya data internasional mengenai pertambahan dan dampak dari penuaan global. Indeks itu dikeluarkan bersamaan dengan peringatan Hari Internasional untuk Orang Tua.

Laporan ini menjadi gambaran yang cocok mengenai bertambahnya kompleksitas masalah. Pada satu sisi, fakta bahwa manusia hidup lebih lama adalah bukti kemajuan dalam perawatan kesehatan dan gizi, dan para pembela menekankan bahwa orang tua tidak seharusnya dilihat sebagai beban tapi sebagai sumber daya.
Pada sisi lainnya, banyak negara yang masih lemah dalam membangun dasar perlindungan sosial untuk menyediakan pemasukan, perawatan kesehatan dan perumahan untuk para warga senior mereka.

Afghanistan sebagai contoh, tidak menawarkan uang pensiun bagi mereka yang tidak bekerja di pemerintahan. Harapan hidup mencapai 59 tahun untuk laki-laki dan 61 bagi perempuan. Sebagai perbandingan, menurut data PBB, rata-rata harapan hidup di dunia, untuk laki-laki adalah 68 dan perempuan adalah 72 tahun.

Banyak pemerintahan yang menolak menangani masalah ini karena dipandang terlalu rumit, negatif dan mahal – yang mana sebetulnya itu tidak benar, kata Silvia Stefanoni, kepala eksekutif HelpAge International. Jepang dan Jerman, kata dia, termasuk diantara negara dengan proporsi jumlah orang tua tertinggi di dunia, tapi tetap mempunyai ekonomi yang stabil.

“Tak ada bukti bahwa populasi yang menua adalah populasi yang merusak secara ekonomi,“ kata dia.

Kesejahteraan itu sendiri tidak menjadi jaminan bagi orang tua. Kekuatan ekonomi baru dunia yang tergabung dalam BRICS – singkatan dari Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan – menempati peringkat rendah dalam indeks dibandingkan negara yang lebih miskin seperti Uruguay dan Panama.

Tapi bagaimanapun, laporan itu menemukan bahwa negara-negara kaya secara umum lebih baik dalam menangani masalah penuaan populasi dibanding yang lebih miskin. Swedia, negara di mana sistem pensiunnya telah berusia 100 tahun, masuk dalam daftar tertinggi berkat dukungan sosial, pendidikan dan cakupan dana kesehatan. Disusul kemudian oleh Norwegia, Jerman, Belanda dan Kanada. Amerika Serikat ada di peringkat ke-delapan.

Selesai.

Sumber bacaan: Deutsche Welle.
Sumber gambar: Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations

Photos 29/12/2014

Dear GOCenese, berikut adalah sekuel ketiga dari postingan yang sebelum-sebelumnya.

***BAGIAN TIGA: DAYA DUKUNG ALAM TERHADAP PENDUDUK DUNIA***

Ketimpangan antara si kaya dan si miskin, atau antara negara maju dan negara berkembang, menimbulkan penderitaan banyak orang. Kekayaan bagi yang satu merupakan kemiskinan bagi yang lain. Selama ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi tidak diselesaikan, kemiskinan akan terus terjadi di muka Bumi.

Ancaman bagi Dunia Ketiga tidak hanya kemiskinan, tetapi juga bahaya penyakit. Berbagai penyakit, ditambah dengan krisis ekologis, perang saudara, dan kelaparan, menciptakan persoalan serius.

Namun ada yang tidak ingin melebih-lebihkan bahaya penyakit karena percaya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Berbagai rekayasa teknologi diyakini akan membantu manusia dalam mengatasi kebutuhannya, termasuk mengobati penyakit.

Tanpa bermaksud mengurangi kepercayaan terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, masalah ledakan penduduk merupakan persoalan serius. Dalam kenyataannya, sekurang-kurangnya sampai sekarang, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan belum mampu mengatasi persoalan kelangkaan pangan dan gangguan penyakit, terutama di negara-negara berkembang.

Proyeksi PBB tentang ledakan penduduk Bumi selama 36 tahun mendatang perlu mendapat perhatian serius karena membawa implikasi terhadap masalah penyediaan pangan, sandang, papan dan kebutuhan kesehatan.

Bersambung.....

Sumber bacaan: Uni Sosial Demokrat.
Sumber gambar: PopulationLabs.com

Photos 26/12/2014

Sudah baca postingan GOC yang kemarin? Nah kalo belum, wajib baca yang sebelumnya ya biar tahu kejelasan tentang info yang diberikan di bawah ini.

***BAGIAN DUA: DAYA DUKUNG ALAM TERHADAP PENDUDUK DUNIA***

Proyeksi pertumbuhan penduduk Bumi tersebut mengundang keprihatinan tertentu, lebih-lebih karena daya dukung alam semakin terbatas. Krisis ekologi yang berlangsung serius memperlihatkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Dengan penduduk 7,2 miliar orang saat ini saja, daya dukung alam sudah kelihatan kedodoran. Lebih merisaukan lagi masalah kemiskinan yang sulit ditangani. Sedikitnya 500 juta orang kini bergulat dengan masalah kerawanan pangan, sedangkan 250 juta lainnya menghadapi kelaparan, dan sekitar 30 juta anak setiap tahun meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit.

Ribuan orang, terutama kaum perempuan dan anak- anak, meninggal setiap hari akibat kelangkaan pangan dan penyakit di seluruh dunia. Kematian ribuan orang setiap hari tersebut merupakan dampak kegagalan dunia memerangi kemiskinan.

Hanya sekitar sepertiga penduduk Bumi, yang kebanyakan tinggal di negara-negara maju, yang berkecukupan pangan, dan kesehatan terjamin. Sisanya menderita kelangkaan pangan, rawan penyakit, dan banyak meninggal dalam usia yang sangat muda.

Maka segera terbayang tantangan yang dihadapi dunia dalam memberi makan kepada 9,1 miliar penduduknya tahun 2050. Namun tidak sedikit yang tetap optimistis menghadapi ledakan penduduk Bumi. Sekiranya keadilan bisa ditegakkan, dan distribusi kekayaan Bumi merata, ancaman kemiskinan dapat dihindari.

Daya dukung alam diyakini akan mencukupi kebutuhan manusia, tetapi tidak pernah cukup bagi sebuah kerakusan. Kemiskinan bukan karena masalah kelangkaan sumber kehidupan, tetapi lebih karena ketimpangan penguasaan sumber dan kekayaan alam.

Bersambung.....

Sumber bacaan: Uni Sosial Demokrat.
Sumber gambar: PopulationLabs.com

Photos 25/12/2014

Kali ini GOC akan posting tentang . :)

Geografi penduduk merupakan salah satu cabang ilmu geografi yang mempelajari geografi dari komponen antroposfernya, yaitu hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya (ruang dan penyebaran) dalam kajian sosial.

Postingan berikut ini merupakan suatu informasi yang disajikan dalam bentuk sekuel, apabila GOCenese telah membaca sekuel satu maka harus membaca sekuel selanjutnya agar dapat memahami kelanjutan dan kesimpulan dari informasi yang telah disajikan.

***BAGIAN SATU: DAYA DUKUNG ALAM TERHADAP PENDUDUK DUNIA***

Ledakan penduduk Bumi akan terjadi dalam setengah abad mendatang, khususnya di negara-negara miskin dan berkembang. Jumlah penduduk Bumi tahun 2050, atau 36 tahun dari sekarang, menurut proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menjadi 9,1 miliar jiwa. Bandingkan dengan penduduk Bumi sekarang yang berjumlah 7,2 miliar jiwa.

Pertambahan penduduk 1,9 miliar jiwa dalam 36 tahun mendatang hampir sama dengan gabungan penduduk China, Amerika Serikat, dan Indonesia saat ini. Pada tahun itu, gabungan penduduk ketiga negara tersebut bahkan akan menjadi sekitar 50 persen penduduk Bumi.

Angka pertumbuhan di dunia negara maju cenderung stagnan bahkan menurun. Penduduk di dunia maju kini total 1,2 miliar jiwa. Penduduk di sejumlah negara maju seperti di Jerman, Italia, Jepang, Rusia, dan beberapa negara pecahan Uni Soviet akan menurun pada tahun 2050. Tanda-tanda penurunan sudah mulai terlihat sekarang ini. Sebagai pengecualian hanyalah Amerika Serikat karena generasi pertama kaum imigrannya cenderung memiliki anak banyak.

Lonjakan pertambahan penduduk akan berlangsung di negara-negara berkembang dari 5,3 miliar menjadi 9,1 miliar tahun 2050. Hasil studi PBB memperkirakan pertumbuhan penduduk pada tahun 2005 sampai 2050 akan meningkat tiga kali lipat di Afganistan, Burkina Faso, Burundi, Chad, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Timor Timur, Guinea-Bissau, Liberia, Mali, Niger, dan Uganda.

Bersambung.....

Sumber bacaan: Uni Sosial Demokrat.
Sumber gambar: PopulationLabs.com

Photos 24/12/2014



Yayy, thanks God it's Wednesday!

This post informs about an unique geology phenomenon which occurs in archipelago-state, Indonesia. Well, check this out!

***BLEDUK KUWU - MUD VOLCANOES IN CENTRAL JAVA***

Bleduk Kuwu is a crater of mud in Wirosari area in Grobogan Region, Purwodadi, Central Java. Every two or three minutes, the placid water of Bleduk Kuwu erupts in an explosion of mud, followed by a plume of white steam. For local people, “bledug” means explosion and “kuwu” or “kuwur” means to be scattered. The place has been a tourist destination for decades.

Located several minutes by car from Blok Cepu mining site, Bledug Kuwu is somehow identical to the mudflow in Sidoarjo, East Java. If Sidoarjo's mudflow has displaced nearby residents and brought misery to the people, Bledug Kuwu has helped local people earn money. People living near this site make money by selling salt to visitors. The salt is harvested from volcanic sediment that is dried in an open field.

Visitors can watch the geyser from a distance of between 10 meters and 20 meters. The eruptions of water and mud shift positions from time to time, but there are two spots where the geyser regularly erupts. The locals call the one in the east Mbah (Grandpa) Jokotua and the one in the west Mbah (Grandma) Rodenok.

Legend has it that the explosion comes from a tunnel that connects the site to the mystical "Laut Selatan" or Indian Ocean. The tunnel is a passage for a mystical knight, Joko Linglung, and allows him to move between Laut Selatan and the Medang Kamulan Kingdom, the area of which includes today's Grobogan.

The natural phenomenon is caused by the release of gas, usually methane, from inside the earth bed.

This article taken at AmusingPlanet.com

Mobile uploads 22/12/2014

Masih ingat tentang "Bahan Bakar Fosil, Masa Depan?" tidak?

Seperti biasa, para GOCenese yang menjawab pertanyaan yang diberikan dalam postingan tersebut dengan jawaban yang memuaskan (menurut admin) akan mendapatkan hadiah. Nah, berikut pemenangnya.

Pemenang adalah Ridho Pratama dan Pemenang Nauval Adam (dengan akumulasi Likes post terbanyak perbulan)
Selamat bagi pemenang!
Yang belum menang, nantikan dan ikuti berikutnya
Terima kasih telah berpartisipasi di dan

Note:
Periode pengambilan hadiah yaitu 22-26 Desember di Sekret BEMJ Geografi, dengan menghubungi CP yang tertera di Poster

Salam, Lestari bumiku!

Photos 21/12/2014

TAHUKAH KAMU?

Kenapa ya musim berbeda-beda? Kenapa kadang panas, kadang turun salju, kadang hujan, kadang kering? Sumbu rotasi bumi dengan kemiringan sebesar 23,5° saat mengelilingi matahari (revolusi) menyebabkan perbedaan pancaran sinar matahari yang diterima oleh berbagai tempat di bumi. Akibatnya terjadi perbedaan lamanya siang, malam dan pergantian musim.

Pancaran sinar matahari akan membentuk sudut 90° pada daerah tropic of capricorn. Pada kondisi ini belahan bumi utara (BBU) akan mengalami musim dingin (winter) sedangkan belaham bumi selatan (BBS) mengalami musim panas (summer). Lamanya waktu siang di BBS lebih besar dibanding di BBU. Makin ke utara, waktu malam akan semakin lama, puncaknya di kutub utara yang gelap sepanjang hari, sedangkan kutub selatan terang sepanjang hari. Dan pada tanggal 20,21, 22 atau 23 Desember bertepatan dengan fenomena tersebut.

Fenomena ini lebih dikenal sebagai December Solstice. Pada BBU, fenomena ini mengakibatkan waktu malam semakin lama dan waktu siang begitu cepat tenggelam, dan merupakan hari terpendek sepanjang tahun. Sedangkan di BBS, hal ini disebut sebagai Summer Solstice, dan berbanding terbalik dengan fenomena yang ada di BBU. Di BBS, fenomena ini mengakibatkan terjadinya hari terpanjang sepanjang tahun.

Sumber: www.timeanddate.com

Photos 11/12/2014



Sorry this post should be posted yesterday, that's why it's called Late TWED.

HAPPY INTERNATIONAL MOUNTAIN DAY!
2014 Theme: "Mountain Farming"

Presents by Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) for the citizen of planet Earth.

****
Covering around 27 percent of the earth’s land surface, mountains play a critical role in moving the world towards sustainable economic growth. They not only provide sustenance and wellbeing to 720 million mountain people around the world, but indirectly benefit billions more living downstream.

In particular, mountains provide freshwater, energy and food – resources that will be increasingly scarce in coming decades. However, mountains also have a high incidence of poverty and are extremely vulnerable to climate change, deforestation, land degradation and natural disasters.

The challenge is to identify new and sustainable opportunities that can bring benefits to both highland and lowland communities and help to eradicate poverty without contributing to the degradation of fragile mountain ecosystems.
Mountain Farming

This year, the celebration of this Day aims to highlight Mountain Farming. Here we have an opportunity to raise awareness about how mountain agriculture, which is predominantly family farming, has been a model for sustainable development for centuries.

Family farming in mountain regions is undergoing rapid transformation due to population growth, economic globalization, urbanization and the migration of men and youth to urban areas.
At the same time, these changes can provide opportunities for local development. People who reside in mountain areas can diversify their income by engaging activities such as tourism, high value mountain products and handicrafts. An enabling policy environment that includes tailored investments could improve farmers’ access to resources and increase their capacity to generate income.

Commitment and will to advance this cause were strengthened during the International Year of Mountains in 2002, and mountains have gained an increasingly high profile on agendas at all levels.

The Year also led to the adoption of resolution 57/245, in which the General Assembly designated 11 December as International Mountain Day, and encouraged the international community to organize events at all levels on that day to highlight the importance of sustainable mountain development.

Check this out: fil:///C:/Users/rezadaulay/Downloads/Documents/IMD%202014%20FS%20EN%20WEB.pdf

MOUNTAIN FARMING: FEEDING PEOPLE, NURTURING THE PLANET!

Want your business to be the top-listed Government Service in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Jakarta
13220