Guenanank

Guenanank

Share

A Wordsmith
A Wordinary Man
*Alumni Jomblo

08/08/2017

Tujuh

Suatu waktu aku ingin menjelaskan diriku kepada diriku sendiri, dan perkara ini menohokku dengan sebuah kejutan, ada teka teki waktu yang harus aku jawab.

Aku sering bertemu dengan berbagai macam kasus yang diderita kaum wanita karena perlakuan kaum pria. Tapi tidak untuk wanita unik dihadapanku, ia masih memiliki harapan, pelacur bukan berarti melacur.

Perempuan ini adalah mutiara kecil, dia masih belum bisa berfikir panjang tentang arti kehormatan dimana kebebasan menjadi impian.

Ketika aku merasa ada harapan untuk terus berjuang, ada saja masalah baru dan yang ini sudah berlebihan, apa yang terjadi dengan dunia ini? Apa ini yang dimaksud dengan emansipasi wanita? Atau malah emansipasi pria.

08/06/2017

Spanduk Puasa Berbiji Delima

Sangat menyenangkan melihat spanduk-spanduk "Hormatilah orang yang berpuasa". Tapi lebih menyenangkan lagi jika ucapan di ruang publik itu dibikin dan dipasang justru oleh saudara-saudara kita kaum Kristiani, umat Buddha, penganut Hindu dan lain-lain.

Gantian secara indah. Biar orang-orang Islamlah nanti yang membentang spanduk selamat atas perayaan Natal, Paskah, Waisak, Galungan, Sedekah Bumi dan beragam ritus lainnya.

Betapa nikmatnya suasana begitu, mungkin senikmat buka puasa ala Turki dengan Roti Pide yang berhiaskan wijen, yang bentuknya bundar tipis seperti pizza tanpa topping.

Agak sedikit menggelikan jika akhirnya mengetahui bahwa pemasang ucapan "Hormatilah orang yang berpuasa" adalah orang yang berpuasa itu sendiri. Beribadah kok pengin dipuji. Beribadah kok pengin dihormati.

Sangat indah juga andai selama bulan penuh berkah ini iklan-iklan media massa banyak yang memberi anjuran menu yang sederhana namun sehat buat berbuka.

Hidangan itu tak harus Mezza atau Houmous dan berbagai menu daging panggang khas Lebanon. Banyak makanan tradisional dari berbagai penjuru Nusantara yang sederhana namun bergizi tinggi.

Tapi akan lebih indah lagi jika selama bulan puasa ini tak ada lagi iklan-iklan tentang obat-obat maupun suplemen yang harus diminum sebelum puasa agar yang berpuasa tetap bugar dan fit.

Iklan-iklan seperti itu seolah ingin mengatakan bahwa puasa tidak menyehatkan. Puasa bikin sakit. Karena itu perlu suplemen. Padahal, bagi yang yakin, puasa itu sendiri sudah langkah yang amat sangat menyehatkan.

Juga alangkah indahnya jika selama puasa kita tak saja menahan diri dari keinginan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari rasa khawatir terhadap masa depan kita.

Begini: Bagi saya, paling gampang adalah menghina Tuhan. Tak harus dengan menginjak-injak Kitab Suci-nya. Tak harus sampai meledek utusan-Nya. Khawatir besok tak bisa makan saja bagi saya itu sudah merupakan penghinaan luar biasa terhadap Tuhan.

Ah, betapa lezatnya hidup tanpa rasa khawatir. Mungkin rasanya selezat berbuka dengan cendol kalau kata orang Sunda atau dawet kata orang Jawa.

Tentu saja berbuka dengan kolak singkong juga tak kalah nikmatnya meski akhir-akhir ini saya pengin ketawa sendiri setiap mau menyantap kolak singkong. Kenapa? Ya karena ternyata singkong kita pun diimpor dari Cina dan Vietnam.

Entahlah kalau bahan-bahan untuk cendol atau dawet....

Saya berharap Es Pisang Ijo yang khas Sulawesi Selatan itu pisangnya belum diimpor entah dari mana.

Tapi saya kira perkaranya bukan soal berbuka makanan impor atau tidak. Soal intinya adalah bagaimana kita berpuasa tanpa minta dihormati. Biarlah orang menghormati kita lantaran kelakuan kita akibat berpuasa memang pada akhirnya pantas dihormati.

Soal intinya adalah bagaimana kita berpuasa sehingga kelak tak pernah khawatir lagi terhadap hari depan, karena kita tak ingin menghina Tuhan sehina-dinanya menghina.

Tak ada salahnya berbuka menu impor, seperti Gullac dari Turki, yang mengandung biji delima. Toh kini banyak yang yakin biji delima baik buat kesehatan.

07/05/2017

Insan Shiddiq

Engkau pandai berkata-kata, sementara rumahmu akan roboh. Engkau berputar-putar ditempat yang sama seperti unta yang memutari kilang kisaran, mungkin engkau telah dikutuk oleh seorang waliyullah, karena itu matamu telah buta.
Engkau telah lupa kepada Allah, kemudian Allah pun lupa kepadamu, karena itu engkau tersesat jalan, padahal pandanganmu dulu tertumpu pada titian yang membawamu ke induk rahmatNya, karena engkau terlalu banyak memikirkan masalah-masalah yang bercabang sehingga sayap konsentrasimu buntu tidak berdaya lagi untuk terbang.
Engkau tinggal bagai sekerat daging yang menerawang diantara bumi dan langit, antara dunia dan akhirat, sayang sekali engkau telah lupa dengan apa yang telah kau rasakan, maka demikianlah sekarang nasib yang kini dtetapkanmu, sekarang engkau memerlukan seorang Insan Shiddiq yang benar jalannya dan ikhlas niatnya kepada Allah untuk menarikmu keluar dari lembah nista ini...

Subhanallah

Photos 18/04/2017

Meretas masa lalu melalui hisapan kretek

Fajar dan senja yang masing masing memiliki keindahan dan eksotisme tersendiri. Jika fajar hadir membawa kehangatan, maka akupun bisa menikmati romantis suasana melalui senja yang perlahan menggelayut manja. Tapi, akan menjadi sangat tidak sopan apabila kemudian aku berniat untuk membandingkan kedua nya.

Masa lalu, memang seperti luka yang akan mengering, gatal untuk di sentuh kembali. Tak jarang p**a menuntut lebih dari itu. Menjadi bahan pembanding dengan masa masa yang sedang dijalani. Dan kali ini ia menyeruak melalui asap rokok yang ku hembuskan. Suara gemeritik bara api yang melahap campuran cengkeh dan tembakau perlahan menghanyutkanku kembali ke masa itu.

ah.. aku rindu kamu..

20/02/2017

Flu Nasional

Sepanjang hari ini, Senin 20 Pebruari 2017, udara Kebayoran Lama sangatlah nyesss. Jika angin bertiup, ia tak sekedar menyapu kulit dan membungkus tubuh, tapi langsung menelusup di antara sel-sel, bahkan saya rasakan ada yang menggerombol di antara tulang dan daging. Bahkan, masyaallah (!), ada juga yang menyentuh seputar jantung hati nurani saya, sehingga seluruh sukma dan jiwa terasa nyesss-nyesss.

Tatkala senja tiba-pun, saya yakin angin itu tidak berdiri sendiri, ada faktor Y faktor X yang menunggangi punggungnya atau setidaknya mempengaruhi sepak terjangnya. Dengan kata lain angin itu mengalami suatu keterpengaruhan oleh makhluk-makhluk tertentu. Ifrit misalnya... wedewww...

Dan ketika hari semakin merunduk ke haribaan malam, saya memperoleh keyakinan bahwa angin nyesss ini tidaklah hanya di Kebayoran Lama, melainkan berlangsung nasional di seantero negeri.

Saya mandi (tumben :p) dan alangkah dinginnya! Di sana-sini terasa gatal karena kulit saya memang sensitif terhadap keterpengaruhan dingin. Kencing hampir 5 menit sekali. Jaket tebal terasa seperti kaos biasa. Sedemikian rupa sehingga ketika tengah malam tiba, saya
memperoleh kesimp**an bahwa ini bukan sekedar angin jahat, sebab apa yang saya alami sesungguhnya adalah nervous mental. Seluruh jiwa dan akal sehat saya nyesss. Mata bathin saya melihat gamblang bahwa yang melindungi saya sebenarnya adalah atmosfir influenza nonmedis, suatu nyesss intelektual dan politis.

Sungguh aneh. Soalnya kan saya sama sekali bukanlah pegawai negeri, gak punya NIP, gak punya pakaian seragam, dan gak terletak pada bagian manapun dari hierarki birokrasi.

Lebih aneh lagi, karena para tetangga yang pegawai negeri di sekitar saya malah tak tampak mengalami keterpengaruhan flu nasional. Saya yang seandainya tidur melulu di atas dipan rumah selama satu repelita berturut-turut, gak akan dipecat oleh siapapun, kok malah sedemikian serius mengalami nyesss nasional.

Akhirnya sesudah bertapa nyari wangsit gajebo sambil menggigil, saya bermonolog, mewawancarai diri saya sendiri. Terutama hati nurani dan akal sehat saya. Dengan tekhnik interogasi tertentu saya jajaki seberapa jauh ia mengalami keterpengaruhan atau jangan-jangan keterlibatan dalam sesuatu hal yang bertentangan dengan hakikat dan tugasnya.

Saya menemukan bahwa nurani dan akal sehat itu sungguh-sungguh hampir pingsan oleh keterpengaruhan terhadap isu keterpengaruhan. Demamnya makin menjadi-jadi karena ia juga ternyata amat terpengaruh oleh litsus yang saya selenggarakan.

"Bos...!" hati nurani saya berkata dengan gemetar. "Saya sangat terpengaruh oleh keterpengaruhan yang Bos pengaruhkan pada potensi keterpengaruhan saya. Padahal karena keterpengaruhan itu lantas saya sedemikian terpengaruh oleh ketakutan atas keterpengaruhan. Saya akhirnya dipengaruhi secara total oleh keterpengaruhan saya bahwa lama-lama saya akan terpengaruh untuk sama sekali menjadi keterpengaruhan itu sendiri...."

"Kamu ini ngomong apa?!?!" saya membentaknya.

Sementara itu akal sehat saya mogok bicara. Membisu terhadap semua pertanyaan. Paling banter dia menjawab no comment.

"Omongan saya mbulet ya bos?!?!" kata hati nurani saya lanjut, "Ampunilah saya..."

"Dengar!" bentak saya lagi, "Kamu tidak saya larang untuk terpengaruh oleh kepentingan saya. Bahkan kamu wajib terpengaruh oleh garis halauan saya. Yang terlarang adalah, jangan sampai ada ucapan, pemikiran atau sebersit gagasan pun yang mencerminkan keterpengaruhan
oleh aspirasi G30S!!!"

"Wah maaf ya bos...!" Itu relatif dan kriterianya sangat tak menentu dan bisa sangat subjektif, tergantung siapa yang memegang peluit. Kalau hal itu diterapkan sungguh-sungguh di segala level dan konteks, ada berapa juta orang terjaring oleh litsus bos...?!?!?"

"Jangan mbacot kamu!!!" saya hampir memekik di telinga hati nurani saya. "Kalau sekali lagi kamu ngemeng seenak udelmu, kamu akan saya pecat, kamu akan terlantar seperti jutaan sobat-sobatmu!"

Pucatlah hati nurani saya.

Tapi mendadak terdengar suara tertawa akal sehat saya yang sejak tadi bungkam : "Tapi saya gak dimutasi kan Bos?!?!?" ujarnya. "Soal keterpengaruhan ini kan gak ada urusannya dengan akal sehat, gak ada hubungannya dengan epistimologi, makna kata, kebenaran kata atau hakikat kata. Ini kan masalah politik. Akal sehat dilarang ikut campur, sebab sudah ada aparatnya sendiri... iya kan bos?"

"Shut Up!" terpaksa saya bentak dia pake bahasa linggis. Sok intelektual dia!

Want your business to be the top-listed Government Service in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jakarta
11560

Opening Hours

Monday 12:00 - 00:00
Tuesday 12:00 - 00:00
Wednesday 12:00 - 00:00
Thursday 12:00 - 00:00
Friday 12:00 - 00:00
Saturday 12:00 - 00:00
Sunday 12:00 - 00:00