27/05/2026
SERUAN AKSI
Aliansi SELAMATKAN TANAH AIR (SETARA)
Tolak PSN, Militerisme dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Papua
Tanah Papua hari ini berada dalam situasi yang semakin genting. Di tengah masifnya ekspansi investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam, dan proyek-proyek Indonesia yang mengatasnamakan pembangunan, tapi rakyat Papua justru terus mengalami peminggiran (marginalisasi), perampasan ruang hidup, intimidasi politik, pelanggaran HAM, serta penghancuran identitas sosial-budaya sebagai bangsa yang hidup dan tumbuh bersama alamnya di Papua.
Film dokumenter “Pesta Babi” sesungguhnya memperlihatkan secara gamblang bagaimana wajah kolonialisme modern (zaman ini) yang dijalankan rezim oligarki Indonesia bekerja di tanah Papua. Film ini bukan sekadar karya sinema, melainkan cermin realitas sosial, politik, ekonomi yang selama puluhan tahun dialami bangsa Papua.
Penggusuran tanah adat, masuknya militer mengawal investasi berskala raksasa dalam wujud Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti di Merauke dan lain tempat di tanah Papua, penghancuran hutan, intimidasi terhadap masyarakat adat, hingga pembungkaman ruang demokrasi, merupakan fakta yang memperlihatkan bahwa Papua masih hidup di bawah bayang-bayang kolonialisme modern.
Bagi rakyat Papua, hutan bukan sekadar komoditas ekonomi. Hutan adalah mama kehidupan, ruang spiritual dan kosmologi, sumber identitas budaya, tempat leluhur, dan ruang keberlangsungan generasi masa depan. Ketika hutan dihancurkan demi proyek perkebunan tebu, sawit, food estate, tambang, maupun proyek strategis nasional lainnya, maka yang dihancurkan bukan hanya pohon dan tanah, tetapi juga sejarah, budaya, dan masa depan rakyat bangsa Papua.
Dalam prakteknya, kolonialisme modern di Papua dijalankan melalui aliansi antara negara, militer, oligarki, elit lokal, dan korporasi nasional maupun internasional. Papua dijadikan ladang eksploitasi ekonomi, sementara masyarakat pribumi Papua terus mengalami marginalisasi di tanahnya sendiri.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana pembangunan dijalankan tanpa persetujuan bebas rakyat, tanpa penghormatan terhadap masyarakat adat, dan tanpa keadilan sosial.
Kami memandang bahwa situasi di tanah Papua bukan sekadar persoalan pembangunan yang keliru, tetapi persoalan politik kolonisasi, pendudukan dan eksploitasi sumber daya alam yang bersifat sistemik. Oleh karena itu, perjuangan rakyat Papua tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme, militerisme, kapitalisme ekstraktif, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia serta alam Papua.
Menyikapi situasi ini, maka kami SETARA mengajak seluruh rakyat Papua yang berada di Jayapura untuk dapat berpartisipasi dalam rencana aksi yang akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal: Jumat, 29 Mei 2026
Pukul: 08.00 – Papua Merdeka
Bentuk Aksi: Mimbar Bebas
Titik Aksi: Lingkaran Abepura, Jayapura.
Demikian Seruan aksi ini kami buat, atas perhatian dan partisipasi seluruh rakyat Papua yang mencintai Tanah Air, Kemerdekaan dan Perdamaian, bersama-sama di jalan perjuangan pembebasan nasional Papua dengan seretak kami lantangkan suara: Hancurkan Imperialisme, Hapuskan Kolonialisme dan Lawan Militerisme.
Papua Merdeka!
Korlap: Stenly Dambujani
Wakorlap: Lovivi
____
Tanah Air, Kemerdekaan, dan Perdamaian!