19/10/2026
MEKETUNGAN SEBAGAI TANDA IOSAN USABA PUSEH DESA ADAT GUMUNG TELAH DIMULAI
MEKETUNGAN : Suara Sakral dari Lesung, Persiapan Jelang Upacara ngusaba puseh desa adat gumung
Di kala saat senja mulai terdengar alunan ritmis yang khas dari jantung desa. Ini bukanlah melodi gamelan untuk hiburan, melainkan suara penuh makna dari ketungan dan lu yang beradu, menandai dimulainya tradisi Ngoncangโsebuah praktik menumbuk beras secara berirama, yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut nebuk beras.
Tradisi Ngoncang adalah warisan budaya agraris yang dihormati, jauh lebih dalam maknanya daripada sekadar menyiapkan beras untuk persembahan. Ia adalah ritual purifikasi, komunikasi spiritual, dan penegasan kembali ikatan komunitas, yang wajib dilaksanakan oleh dehaa desa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari persiapan sebuah Yadnya atau upacara keagamaan besar.
Irama Pemanggil Berkah
Para dehaa desa, berkumpul mengelilingi Ketungan (lesung panjang) yang terbuat dari batang kayu. Dengan menggunakan lu (pemukul kayu berbentuk bulat memanjang), mereka memukul beras di dalam lesung secara bergantian dan teratur. Bunyi yang dihasilkan, berpadu menjadi irama yang unik dan sakral.
Dipercayai, irama ini memiliki kekuatan untuk:
โข Menyucikan Alam dan Diri: Suara keras dan berirama tersebut diyakini mampu mengusir aura negatif dan kekuatan jahat (Bhuta Kala) yang mungkin mengganggu kesucian upacara. Ia berfungsi sebagai semacam pembersihan niskala (non-fisik) di lingkungan pura puseh sebelum energi sakral upacara dibentangkan.
โข Menghormati Dewi Sri: Menumbuk beras adalah bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Dewi Sri, Dewi Kemakmuran. Beras yang ditumbuk akan diolah menjadi tepung beras, bahan utama untuk berbagai jenis banten (persembahan) yang akan dipersembahkan dalam upacara, menjadikannya persembahan yang murni dan berkah.
โข Memanggil Energi Leluhur: Irama Ngoncang juga dianggap sebagai cara berkomunikasi dengan roh leluhur. Suara yang dihasilkan adalah doa yang disampaikan melalui alunan nada, memohon restu agar upacara keagamaan dapat berjalan lancar, sidha sidaning don (tercapai segala tujuan).
Puncak Keseimbangan Komunal
Di samping nilai spiritualnya, Ngoncang merepresentasikan semangat Gotong Royong dan Tri Hita Karana. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok, mempererat ikatan persaudaraan (Palemahan) dan kebersamaan, memastikan setiap orang berkontribusi dalam persiapan upacara (hubungan Pawongan). Selain itu, ia mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga keselarasan dengan alam (Parhyangan).
Meskipun modernisasi telah membuat tradisi nebuk beras ini semakin langka, di banyak desa adat, terutama menjelang hari-hari suci seperti Piodalan besar di Pura, atau bahkan saat Pengerupukan menjelang Nyepi, suara sakral dari Ngoncang kembali terdengar. Ia adalah pengantar yang hikmat, membisikkan janji kesiapan spiritual dan material sebuah komunitas, sebelum tirai upacara keagamaan Hindu Bali yang agung dibuka.