20/08/2026
Nurfadhilah: Dari Pengabdian Menuju Kepemimpinan di KUA
Tujuh tahun mengabdi di Toraja Utara menjadi perjalanan berharga bagi Nurfadhilah Haris. Dari KUA Rantebua hingga KUA Kecamatan Sanggalangi, ia belajar tentang masyarakat, keberagaman, toleransi, serta pentingnya membangun kerja bersama.
Kini, amanah baru menantinya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Kepercayaan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya sekaligus ruang baginya untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Amanah tersebut secara resmi diterimanya melalui pelantikan yang dilaksanakan pada Kamis, 20 Agustus 2026, di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Nuri No. 53, Makassar.
Bagi Nurfadhilah, kepemimpinan bukan tentang harus mampu melakukan semuanya sendiri. Kepemimpinan justru tumbuh dari keberanian mengambil tanggung jawab, kemauan untuk terus belajar, mendengarkan pengalaman orang lain, serta kemampuan mengajak tim bergerak bersama.
“Kalau diberi amanah, berarti ada kepercayaan. Kita harus berani menjalankannya,” ungkap Nurfadhilah.
Baginya, pengalaman tujuh tahun di Toraja Utara merupakan bekal yang sangat berarti. Berada di tengah masyarakat dengan latar belakang keyakinan yang beragam membuatnya belajar bahwa pelayanan publik membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, menjaga toleransi, dan menghadirkan pelayanan yang manusiawi.
“Walaupun kita berbeda keyakinan, alhamdulillah toleransinya tinggi. Selama tujuh tahun di sana, saya merasakan kerukunan itu. Itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya,” tuturnya.
Pelantikan tersebut membawa perasaan yang beragam. Ada kebahagiaan karena memperoleh kepercayaan, sekaligus rasa haru karena harus meninggalkan lingkungan yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdian selama bertahun-tahun.
Namun, bagi Nurfadhilah, setiap amanah memiliki waktunya untuk dijalani dan setiap perjalanan pengabdian memiliki ruang untuk berkembang.
Ia melangkah ke ruang kepemimpinan bukan dengan keyakinan bahwa dirinya telah mengetahui seluruh jawaban, melainkan dengan kesiapan untuk terus belajar, mendengar, dan memperbaiki apa yang sudah ada.
“Menurut saya, kita tidak harus langsung tahu semuanya. Kita belajar sambil berjalan, belajar dari yang sudah berpengalaman, kemudian memperbaiki apa yang sudah ada dan menambahkan hal-hal yang bisa membuatnya lebih baik,” katanya.
Bagi Nurfadhilah, kesempatan memimpin juga menjadi gambaran bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk mengambil peran strategis dalam pelayanan publik. Kepemimpinan bukan tentang membuktikan bahwa perempuan harus bekerja sendiri atau mengetahui segala hal, tetapi tentang keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan belajar, dan kemampuan menggerakkan orang lain untuk bekerja bersama.
Di titik inilah perjalanan Nurfadhilah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang pergantian jabatan. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana pengalaman pengabdian dapat membuka ruang bagi perempuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pelayanan publik.
Tujuh tahun di Toraja Utara telah memberinya pengalaman tentang masyarakat, keberagaman, toleransi, dan kerja bersama. Kini, pengalaman itu menjadi bagian dari bekal untuk menjalankan amanah sebagai Kepala KUA.
Dari Toraja Utara, Nurfadhilah membawa pengalaman. Ke ruang kepemimpinan, ia membawa kepercayaan. Dan melalui amanah barunya sebagai Kepala KUA, ia berkomitmen menghadirkan pelayanan yang dekat dengan masyarakat, tumbuh bersama tim, serta terus bergerak menuju pelayanan yang lebih baik.
Selamat mengemban amanah baru, Nurfadhilah Haris. Semoga langkah baru ini membawa keberkahan, keteladanan, dan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Sorotan