Sejarah dan Wawasan Umum Indonesia

Sejarah dan Wawasan Umum Indonesia

Share

Berbagi Informasi Sejarah dan Wawasan Umum Indonesia. Untuk Informasi Umum dan Artikel lainnya, silahkan mengunjungi laman dibawah ini:

Sejarah dan Wawasan Umum tentang Indonesia dan Dunia untuk menambah khazanah pikir dan wawasan informasi, memperkaya diri dengan literasi

[5 Mei] Selamat Ulang Tahun Marx! / Diskursus Singkat Intisari Pemikiran Karl Marx 06/05/2020

Selamat Ulang Tahun Marx (5 Mei 1818-15 mei 2020)

[5 Mei] Selamat Ulang Tahun Marx! / Diskursus Singkat Intisari Pemikiran Karl Marx Berdasarkan kriteria kuantitatif murni, dilihat dari banyaknya pengikut yang mengklaim diri sebagai seorang marxis, Marx memiliki pengaruh yang amat luas dibandingkan pendiri-pendiri agama atau tokoh-tokoh politik lainya. Bukan hanya karena saya pernah kebetulan mempelajarinya dan bukan hanya karena...

31/12/2019

Selamat Hari Natal 24-25 Desember 2019 dan Tahun Baru 1 Januari 2020 untuk semua umat Nasrani diseluruh dunia.

23/06/2018

PEMILU 1971

Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Soekarno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan Pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971.

Sebagai pejabat presiden, Soeharto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Soekarno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama. Pada prakteknya, Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971, yang berarti setelah 4 tahun Soeharto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno.

UU yang diadakan adalah UU tentang Pemilu dan susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR.menyelesaikan UU No. 15 Tahun.1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun.

Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa para pejebat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Sedangkan pada Pemilu 1955 pejabat negara, termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa ikut menjadi calon partai secara formal. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu, yaitu Golkar. Jadi sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu.

# bersambung di komentar

Rujukan: KPU.go.id (21 Februari 2008) "Pemilu 1971".

Pranala: hariansejarah.id

20/06/2018

Berdoa untuk danau Toba dan tragedi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tujuan Pelabuhan Simanindo, Kec. Simanindo, Kab. Samosir dari Pelabuhan Tigaras, Kec. Dolok Pardamean, Kab. Simalungun, Sumatera Utara yang terjadi pada hari Senin sore (18 Juni 2018) yang diperkirakan berpenumpang lebih dari 190 orang.

Semoga upaya evakuasi Tim Tanggap Bencana berhasil dan semoga semua keluarga yang terkena bencana tetap sabar dan diberi kekuatan untuk menghadapi situasi yang terjadi.***

Hingga hari ini (20 Juni 2018) masih sekitar 20 orang yang ditemukan dengan korban selamat sekitar 18 orang dan meninggal 2 orang dan masih terus diperkirakan bertambah. Semoga semua korban diberi kekuatan untuk tetap bertahan hingga tim penyelamat bisa menemukan setiap korban.

# Alam memberkati jiwa-jiwa yang kuat dan menghadapi.

14/06/2018

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 2018, 1 SYAWAL 1439 H

'Wahai jiwa, tak perlu berputus asa sebab harapan telah datang'
'Harapan bagi seluruh jiwa, telah sampai dari kegaiban'
'Tak perlu bersedih, meskipun dirimu telah kehilangan Maryam'
'Sebab cahaya Isa telah datang mengitari'
'Wahai jiwa, tak perlu bersedih dalam kegelapan penjara ini'
'Sebab Raja telah mengeluarkan Yusuf dari penjara'
'Sebagaimana Ya'qub telah keluar dari hijab ketersembunyiannya'
'Dan juga Zukaikha telah merobek tirai Yusuf'
'Duhai yang puasamu dari singgasana yang tinggi'
'Berbahagialah, berbahagialah, sebab Eid telah datang' / Jalan Cinta Sang Sufi (ajaran-ajaran spiritual Jalaluddin Rumi)
Penulis : William C.Chittick

*Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri / (Jalaluddin Rumi) / Penyair; Ahli Sufi, lahir di Balkh (sekarang Samarkand) pada 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau 30 September 1207 Masehi dan meninggal pada 1273 M.

12/06/2018

Sejarah Singkat Terminologi "Mudik"

*
Kata mudik lebih dekat pada pengertian pergi ke "udik", juga dapat ditelusuri dari kata bentukan dari kata dasar udik: memudik yang bermakna berlayar mudik (ke hulu), dan memudikkan yang bermakna menjalankan perahu ke arah hulu. Mengingat udik berada di daerah atau wilayah hulu yang jauh di pegunungan atau pedalaman, maka kata "udik" mengacu pada suatu daerah atau wilayah yang berada di kawasan pedalaman, pedusunan, pedesaan atau perkampungan. Sampai di sini, sesungguhnya kata "udik" masih berkonotasi netral. Ketika seseorang dikatakan sebagai orang udik, artinya orang itu berasal dari daerah hulu atau daerah pedalaman. Pernyataan orang udik sama sekali tidak berkonotasi negatif.

**
Sampai tahun 1970-an, kata mudik belum dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman. Bahkan, mudik tidak ada kaitannya dengan hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Ketika itu, mudik dan lebaran adalah dua peristiwa yang tidak ada hubungannya. Setidak-tidaknya, jika kita dapat mencermati sejumlah karya sastra yang bercerita tentang lebaran atau yang secara eksplisit menggunakan judul: lebaran, maka kita akan sia-sia saja mencari kata mudik di sana. Jadi, sampai tahun 1970-an.

Fenomena mudik yang lalu dikaitkan dengan lebaran, terjadi pada awal pertengahan dasawarsa 1970-an ketika Jakarta tampil sebagai kota besar satu-satunya di Indonesia yang mengalami kemajuan luar biasa. Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966—1977) berhasil disulap menjadi kota metropolitan. Tanpa disadari, sistem pemerintahan sentralistik yang diterapkan penguasa Orde Baru memperoleh legitimasi sosiologis ketika ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air. Jakarta seketika menjadi pusat orientasi sosial, budaya, politik, dan pemerintahan yang mengundang masyarakat luar Jakarta (pedesaan, kota lain, dll) untuk berkegiatan ekonomi di Jakarta setidak-tidaknya menjadi pekerja industri di kota Jakarta.

Lebaran yang ditetapkan pemerintah sebagai jeda produktif ekonomi (libur) dimamfaatkan para pekerja untuk "pulang sebentar" ke kampung untuk berlebaran bersama keluarga di kampung. Fenomena ini mulai menguat semenjak itu terutama dikalangan masyarakat pekerja di Jakarta dan mulai menyebar dimasyarakat pulau Jawa. Pertumbuhan industri secara nasional membuat kota-kota besar di Luar Jakarta menjadi pusat daya tarik pekerja untuk melakukan urbanisasi ke kota yang akhirnya menguatkan fenomena "mudik".

29/05/2018

[29 mei 2018] Selamat Hari Trisuci Waisak 2562 BE

"Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia"

*
Waisak atau Waisaka (Pali; Sanskrit: Vaiśākha वैशाख) merupakan hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta. Di beberapa tempat disebut juga sebagai "hari Buddha".

Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu :

1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M. Pangeran Sidharta adalah Putra dari seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang.bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi).

2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodh Gaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M. Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari Usia Tua, Sakit dan Mati. Kemudian pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak, Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar SANG BUDDHA.

3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara.pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M. SANG BUDDHA Wafat atau Parinibbana di Kusinara. Semua Makhluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para Anggota Sangha.

Tiga peristiwa ini dinamakan "Trisuci Waisak". Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists-WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei. Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno. ***

pranala: dhammacakka.org

26/05/2018

[Saran Baca]

"1984" by George Orwell

"Siapa yang mengendalikan masa kini, akan menguasai masa lalu. Siapa yang mengendalikan masa lalu akan menguasai masa depan". / G. Orwell, "1984"

Buku berjudul "1984" karangan George Orwell, seorang penulis dan satrawan Inggris kelahiran India (1903-1950). Ia terkenal berkat dua buku fenomenalnya yaitu Nineteen Eighty-Four (1984) dan Animal Farm.

Buku "1984" adalah novel yang ditulisnya pada 1948 dan terbit 1949 dan langsung melejit di kalangan pembaca serta penggiat literasi Inggris dan dunia berkat kuatnya cerita dalam novel ini.

Secara garis besar novel "1984" berkisah tentang bagaimana sebuah pemerintahan negara/dunia mampu mengontrol hingga hal yang paling "remeh-temeh" sekalipun dari warga penduduknya. Dalam hal ini, hal yang paling kuat dikisahkan oleh Orwell adalah bagaimana kekuasaan mampu membentuk kesadaran setiap orang dengan sistem yang tanpa cela. Konsep totalitarianisme negara sangat baik dikisahkannya dalam novel ini dengan tingkat imajinasi yang luar biasa. Bahkan banyak teknologi dan sistem yang diceritakan oleh Orwell didalam buku ini saat masa ditulisnya belumlah ada yang kini justru banyak kita pakai. Menarik bukan? :)

Novel ini sangat baik mengisi waktu luang dan menumbuhkan sikap imajinasi yang sehat serta sikap kritis yang baik. Namun, disebabkan buku ini termasuk buku klasik banyak terminologi bahasa yang jarang kita dengar namun justru itu menambah rasa penasaran.

Buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia terbitan Bentang Pustaka.

Salam literasi. :)

25/05/2018

[26 mei 1936] Lahirnya Pemikir dan Budayawan Indonesia, FRANZ MAGNIS-SUSENO

"Cara untuk menentang pikiran yang dianggap salah bukanlah dengan membungkamkannya secara paksa, melainkan melalui konfrontasi dalam dialog atau debat yang tetap menjamin kebebasan setiap peserta untuk membela pendapatnya." (Franz Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, 1987)

*
Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ (nama asli: Franz Graf von Magnis atau nama lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis), lahir di Eckersdorf, Silesia, Polandia (kini Bożków, Nowa Ruda , Polandia) pada 26 Mei 1936; umur 82 tahun) adalah seorang rohaniawan Katolik dan budayawan Indonesia. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Beliau juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sebagai seorang pastur Serikat Yesus, Ia memiliki panggilan akrab Romo Magnis.

Karya-karya:
-Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (1999)
-Menalar Tuhan (2006)
-Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral
-Dasar Kenegaraan Modern (1988)
-Filsafat sebagai Ilmu Kritis (1991)
-Bukuku Kakiku (2004)
-Dalam Bayang-Bayang Lenin (2003)
-Javanese Ethics and World-View, The
Javanese Idea of the Good Life (1981)
-Berfilsafat dari Konteks (1991)
-Pijar-pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke
Filsafat Perempuan, dari Adam Müller ke Postmodernisme (2005)
-Menjadi Manusia: Belajar dari
Aristoteles (2009)
-Wayang dan Panggilan Manusia (1991)
-Kuasa & Moral (1986)
-Dari Mao ke Marcuse – Percikan
Filsafat Marxis Pasca-Lenin (2013)
-Dilema Usaha Manusia Rasional (1982)
-13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani
Sampai Abad ke 19
-Berebut Jiwa Bangsa (2009)
-Filsafat Kebudayaan Politik: Butir-butir Pemikiran kritis (2009)
-Mencari Sosok Demokrasi: Sebuah
Telaah Filosofis (1995)
-Mencari Makna Kebangsaan (1998)
-12 Tokoh Etika Abad ke-20 (2000)
-Model Pendekatan Etika

Pranala: TokohIndonesia.com

Want your business to be the top-listed Government Service in Medan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Medan