11/10/2026
GERUNG DAN SOFISME
Rocky Gerung dalam podcast di kanal YouTube Bagus Muljadi pada 10 Oktober 2026 (direkam 23 September 2026), mengemukakan beberapa pernyataan kontroversial pada bagian mulai sekitar menit 30:31 berjudul “Pendidikan atau makanan: mana yang lebih utama?”
Dalam bagian itu, Rocky menyampaikan dilema anggaran: kalau dana pendidikan (termasuk gaji guru) dipenuhi penuh, maka program nutrisi seperti MBG bisa kekurangan dana. Ia memakai analogi bahwa guru bisa “berpikir bagus untuk mendidik”, tetapi otak anak yang dididik sudah “shrinking 30%” karena hak nutrisi anak “diambil buat gaji”.
Dia menyatakan bahwa gaji guru tu diambil dari nutrisi anak, sehingga MBG gak masalah mengambil gaji guru.
Istilah “shrinking” atau menyusutnya volume otak adalah analogi biologis yang maksudnya tanpa asupan protein dan kalori yang memadai, mesin biologis untuk berpikir pada anak tidak dapat bekerja optimal, membuat materi ajar setinggi apa pun sulit diserap. Artinya Gerung percaya bahwa program makan-makan itu lebih baik daripada memberikan alokasi dana pendidikan secara full. Pemotongan dana pendidikan untuk gaji guru demi MBG bagi Gerung adalah tidak masalah.
____
Gerung memang pernah blak-blakan pasang badan membela program makan gratisan itu. Dia bahkan sampai bilang pada awal Oktober 2026, di mana ia terekam mengatakan kalimat bernada peringatan seperti, "Anda gak pilih MBG sekarang, 15 tahun mendatang anak akan stunting. Saat acara serah terima jabatan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) pada 6 Oktober 2026), dia bilang, “MBG (Makan Bergizi Gratis) dan koperasi itu kan janji kampanye. Bagaimana dibatalkan? Kalau dibatalkan berarti presiden enggak akan ada yang dia kerjain, kan. Enak aja dia enggak akan kerjain."
Para pengkritik mengatakan kelakuan “menjilat kekuasaan” si Gerung semakin lama semakin kelihatan, apalagi sejak dia jadi pejabat. Cara berpikirnya, menurut pengamat yang mengkritiknya, adalah mirip cara berpikir kaum Sofis.
Kaum sofis di Yunani kuno (abad ke-5 SM), seperti Protagoras dan Gorgias, dikenal sebagai guru retorika dan argumentasi dan ahli debat. Mereka mahir memakai bahasa, logika, dan silat lidah untuk membujuk, memenangkan debat, atau menunjukkan bahwa “kebenaran” bisa relatif tergantung sudut pandang (“man is the measure of all things” versi Protagoras). Mereka lebih menekankan persuasif dan kemampuan berargumen untuk menang debat ketimbang mengejar kebenaran objektif. Plato dan Socrates adalah tokoh yang paling keras mengkritik mereka karena dianggap mengutamakan kemenangan dan tipu daya intelektual.
Keterampilan kaum sofis sangat berguna bagi politisi. Di demokrasi Athena, kemampuan kaum sofis dimanfaatkan oleh politisi dan pejabat untuk mempertahankan kekuasaannya.
Rocky Gerung menunjukkan pola serupa dalam beberapa aspek, seperti keahlian retorika dan permainan kata, sering memutarbalik atau mendefinisikan ulang istilah agar mendukung argumennya, gaya debat yang agresif, penuh pertanyaan memancing, provokatif, dan kadang lebih bertujuan “memenangkan” perdebatan daripada membangun konsensus kebenaran, demi membela kepentingan yang dia dukung.
Dalam karya sastra, ada kritik dari Shakespeare untuk orang-orang seperti itu:
“Orang-orang pintar telah menjadi dungu, tak lagi tahu bagaimana menggunakan akalnya.” ( — The Fool, William Shakespeare, King Lear, Act I, Scene IV)
(source: Podcast Chronicle Bagus Mulyadi, Kompas, Detik, CNN).
Penulis Triwibowo Budi Santoso