04/08/2026
Pukul 09.45 pagi tadi, Abah Halil berpulang.
Di luar, dunia berjalan dengan kebisingannya yang biasa. Bangsa ini terus meraba-raba arah, berjalan dalam kabut panjang penuh tanda tanya, seolah kehilangan kompas moral di antara ambisi kekuasaan dan riuhnya pasar kata-kata.
Dan di tengah ketidakpastian itu, Abah memilih sunyi. Semasa hidupnya, ia adalah seorang penghulu yang kerap mendamaikan dua hati di pelaminan, sekaligus guru ngaji yang tahu betul bagaimana cara menertawakan dunia yang kian kehilangan akal sehat. Gurauannya di serambi surau maupun ketegasannya di meja akad bukan sekadar rutinitas, melainkan cermin tajam untuk menelanjangi kepalsuan zaman—cara jenaka seorang alim merajut kerukunan dan menuntun sesama agar tak ikut gila di tengah hiruk-pikuk keramaian.
Kini, ia berangkat meninggalkan panggung fana ini, tepat saat orang-orang masih sibuk memperdebatkan nasib, tanpa pernah benar-benar tahu ke mana angin sejarah hendak membawa kita. Abah telah usai dengan perjalanannya, meninggalkan kita di stasiun kemelut ini—tempat di mana petuah tulus, gelak tawa, dan keteduhan seorang guru sekaligus pencatat ikrar suci kian langka dicari.
Selamat jalan, Abah Halil. Pulanglah ke keheningan yang sejati. Biarlah kami yang tertinggal ini terus menatap nanar, merindukan suaramu di antara remang-remang zaman.
berat