13/05/2026
Ada anak laki-laki yang rela kubur de pu nama sendiri di kaki gunung,
lalu berjalan masuk jauh kedalam jantung rimba: tempat dimana nyawa digantung setipis kabut pagi, tanpa pernah berjanji untuk kembali.
Ada juga yang tinggalkan de pu rumah tanpa menyelesaikan atap yang masih bocor, dan menggantikan pagar kayu di kebun mereka yang mulai lapuk dan rusak.
Ada juga yang tinggalkan anak-anak yang masih kecil, saat masih belajar menyebut nama bapaknya, meninggalkan istri-istri tidur sendiri memeluk dinginnya ranjang dan kabar yang tra pernah pasti, sambil menahan tangis di balik senyum.
Ada juga yang rela meninggalkan masa depan yang sebenarnya masih bisa d**g nikmati dengan tenang.
Pendidikan, karier, kenyamanan, bahkan hidup; semuanya d**g lempar ke dalam api perjuangan.
Rela tukar meja makan, papeda dan ikan kuah hangat dengan akar pahit.
Tukar empuk nya kasur dengan daun-daun.
Tukar tempat tidur deng tanah basah yang setiap malam berbau mesiu dan kematian.
Tukar atap rumah deng langit yang bocor oleh hujan dan peluru.
Tukar ijazah, jabatan, dan kehidupan yang “aman”, serta semua kepastian hidup dengan satu kemungkinan: mati tanpa kuburan dan nisan di tikungan jalan sunyi yang jauh di dalam perut hutan.
Semua itu d**g lakukan bukan untuk emas.
Bukan juga kursi atau jabatan.
Bukan p**a demi nama besar yang akan ditulis, dikenang atau dipajang pada dinding sejarah bangsa ini.
"Tetapi semua itu d**g lakukan demi satu matahari yang belum terbit, yaitu: PAPUA MERDEKA."
... Selamat malam PAGAR HIDUP. Penjaga Tanah Adat & Manusia Papua. 🌹
🔥