Smb Chotipañño Vihara Siddharta

Smb Chotipañño Vihara Siddharta

Share

Di dalam kelompok terdapat kebijaksanaan yang terang

23/08/2024

Halo adik-adik, namo buddhaya 🙏
Yuk ikut kegiatan SMB Chotipanno minggu ini!

Minggu, 25 agustus 2024

🥳🎉Sunday School🎉🥳

Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chotipanno

✨PENGISI MINGGU INI ✨

Cooking Class ( nasi kepal)
Pukul 09.15-11.00
• di Vihara Siddharta

*Bahan yang wajib di bawa masing masing anak : *
1. nasi
2. bon nori / nori mama s**a
*Vihara Menyediakan*
1. Telur dan wortel dadu orak arik
2. Minyak wijen
3. Piring plastik
4. Sarung tangan plastik
5. Kecap asin

Sampai bertemu di cooking class adik adik 👋🏻👋🏻

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia

Whatever has the nature of arising has the nature of ceasing.
-Buddha-

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*➕Kebajikan 📤 SHARE info ini

17/06/2015

Namo Buddhaya 🌷 salam bahagia dalam Buddha, Dhamma dan Sangha, 🌸HADIRILAH. PERINGATAN TRISUCI WAISAK.
HARI. : MINGGU.
Tanggal : 21 JUNI 2015.
Tempat : Vihara Siddharta, jl. Manunggal V no.09 Perigi baru, Pondok Aren Tangerang Selatan
Dimulai dengan Pindapata pada pukul 08.00 dilanjutkan Puja Bakti Waisak pada pukul 09.00, kemudian Dhamadesana akan diisi oleh YM BHANTE KAMSAI SUMANO MAHATHERA, dan dilanjutkan Sangha Dana yang akan dihadiri oleh kurang lebih 50 Anggota Bhikku Sangha (termasuk smanera) .. marilah kita gunakan kesempatan baik di bulan Waisak ini untuk lebih banyak menanam Parami kebajikan, agar kita semakin berkah dan berlimpah kebahagiaan, karena karma adalah pemilik diri sendiri,..
Demikianlah info waisak dari Vihara Siddharta, semoga anda semua dapat hadir dan berpartisipasi dalam acara Waisak ini. Mohon dibantu serbarkan broadcast ini kepada rekan sedhama yang lain. Terimakasih, anumodana, 🌷
Contact Person:
1. ROMO. NANDA 08161190283, 02197501190, Pin. 53F7E687,
2. EVIE 081283384104
3. ERNA 081385179002
4. LISA 087774345042

Mobile uploads 14/02/2015

Sabbe Sankhara Anicca, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran

Photos 20/06/2014

MARAPASA SUTTA
(Kekuatan dan Kekuasaan Mara)
Menarik untuk menyimak sejauh mana kekuatan dan kekuasaan Mara, Sang Dewa Kematian ini. Berikut adalah uraian dalam Marapasa Sutta (Kekuatan Mara) dari Samyutta Nikaya # # , 115.

“Terdapat bentukan, O para bhikkhu, yang dapat dilihat melalui mata – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu menikmati bentukan ini, menerima bentukan ini, dan tetap melekat pada bentukan ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh bentukan-bentukan yang dapat dilihat melalui mata. Dia telah pergi ke perkemahan Mara, dia telah berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.

“Terdapat suara yang dapat didengar melalui telinga …

“Terdapat aroma yang dapat diketahui melalui hidung …

“Terdapat rasa yang dapat dicicipi melalui lidah …

“Terdapat sensasi sentuhan yang dapat dirasakan melalui tubuh …

“Terdapat buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu menikmati buah pikiran ini, menerima buah pikiran ini, dan tetap melekat pada buah pikiran ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan intelektual. Dia telah pergi ke perkemahan Mara, dia telah berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.

“Sekarang, terdapat bentukan yang dapat dilihat melalui mata – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu tidak menikmati bentukan ini, tidak menerima bentukan ini, dan tidak melekat pada bentukan ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbebas dari bentukan-bentukan yang dapat dilihat melalui mata. Dia tidak pergi ke perkemahan Mara, dia tidak berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat tidak akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.

“Terdapat suara yang dapat didengar melalui telinga …

“Terdapat aroma yang dapat diketahui melalui hidung …

“Terdapat rasa yang dapat dicicipi melalui lidah …

“Terdapat sensasi sentuhan yang dapat dirasakan melalui tubuh …

“Terdapat buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan – yang disetujui, yang menyenangkan, yang menarik, yang menawan, yang memupuk keinginan, yang memikat. Apabila seorang bhikkhu tidak menikmati buah pikiran ini, tidak menerima buah pikiran ini, dan tidak melekat pada buah pikiran ini, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang terbebas dari buah pikiran yang dapat diketahui melalui kecerdasan intelektual. Dia tidak pergi ke perkemahan Mara, dia tidak berada di bawah kekuasaan Mara. Si jahat tidak akan dapat memperlakukannya ses**a hatinya.
Sumber: http://jatakakatha.wordpress.com/category/sutta/

Photos 16/06/2014

SOMA SUTTA
(Sutta Tentang Bhikkhuni Soma Bertemu Mara)
Dikisahkan Mara mencoba menggagalkan konsentrasi bhikkhuni Soma dengan mempertanyakan kemampuan seorang wanita dalam hal pencapaian kesucian. Bhikkhuni Soma membalas pertanyaan Mara dengan tegas dan bijaksana sebagaimana yang tertera dalam Soma Sutta dari Samyutta Nikaya V, 2.

Dikisahkan pada suatu pagi, bhikkhuni Soma memakai jubahnya, mengambil mangkuknya, dan pergi menuju Savatthi untuk berpindapatta. Ketika beliau selesai berpindapatta di Savatthi dan telah selesai menyantap dana makanan, dia pun pergi ke Hutan Si Buta untuk menghabiskan hari itu. Setelah pergi jauh ke dalam hutan, ia duduk di bawah pohon untuk bermeditasi.

Kemudian Mara Si Jahat, ingin membangkitkan rasa takut bhikkhuni Soma dan ingin menggagalkan konsentrasinya. Mara pun mendekatinya dan berkata:
“Apa yang ingin dicapai oleh para pencari (kebenaran)

adalah sebuah tempat yang sulit dicapai.

Wanita tidak akan dapat mencapainya

karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk itu.”

Lalu dalam pikiran bhikkhuni Soma terlintas: “Siapakah gerangan yang telah mengatakan ayat ini – manusia atau bukan?” Kemudian dia mengetahui: “Ini adalah Mara Si Jahat, yang telah membacakan ayat ini, yang ingin membangkitkan rasa takut dan ingin menggagalkan konsentrasiku.”

Kemudian, setelah mengerti bahwa si penanya adalah Mara Si Jahat, bhikkhuni Soma menjawab Mara dalam ayat berikut ini:

“Apa bedanya dengan menjadi seorang wanita

Yang telah memusatkan pikirannya dengan baik

Ketika pengetahuan ini mengalami kemajuan

Ia akan melihat dengan jelas dan benar ke dalam Dhamma.

Sesungguhnya barangsiapa yang timbul pertanyaan:

‘Apakah aku seorang pria atau wanita?’

Atau ‘Apakah aku benar-benar sesuatu?’

Kepada merekalah Mara cocok untuk berbincang!”

Kemudian Mara Si Jahat merasa malu dan kesal sambil berkata, “Bhikkhuni Soma telah mengetahui jati diriku” – dan akhirnya lenyap dari sana.

Dari sutta ini perlu digarisbawahi bahwa untuk mencapai kesucian tidaklah penting menjadi seorang pria atau wanita. Tetapi yang penting adalah kemampuan seseorang untuk maju dalam dhamma.

Sumber: http://jatakakatha.wordpress.com/category/sutta/

Photos 13/06/2014

SELA SUTTA
(Sutta tentang Bikkhuni Sela bertemu Mara)
Dikisahkan pada suatu pagi, bhikkhuni Sela memakai jubahnya,
mengambil mangkuknya, dan pergi menuju Savatthi untuk berpindapatta. Ketika beliau selesai berpindapatta di Savatthi dan telah selesai menyantap dana makanan, dia pun pergi ke Hutan Si Buta untuk menghabiskan hari itu. Setelah pergi jauh ke dalam hutan, ia duduk di bawah pohon untuk bermeditasi.

Kemudian Mara Si Jahat, ingin membangkitkan rasa takut bhikkhuni Sela dan ingin menggagalkan konsentrasinya. Mara pun mendekatinya dan berkata:

“Oleh siapakah boneka ini diciptakan?

Dimanakah gerangan si pencipta boneka ini?

Kapankah boneka ini diciptakan?

Kapankah boneka ini akan lenyap?”

Lalu dalam pikiran bhikkhuni Sela terlintas: “Siapakah gerangan yang telah mengatakan ayat ini – manusia atau bukan?” Kemudian dia mengetahui: “Ini adalah Mara Si Jahat, yang telah membacakan ayat ini, yang ingin membangkitkan rasa takut dan ingin menggagalkan konsentrasiku.”

Kemudian, setelah mengerti bahwa si penanya adalah Mara Si Jahat, bhikkhuni Sela menjawab Mara dalam ayat berikut ini:



“Boneka ini tidak dibuat dengan sendirinya,

Pun penderitaan ini tidak disebabkan oleh makhluk lain.

Oleh ketergantungan pada suatu sebab maka boneka ini ada,

Dan bersama dengan hilangnya sebab itu maka lenyaplah boneka ini.

Sepertihalnya sebuah benih yang ditanam di sebuah ladang,

Tumbuh berkat kesuburan dan kelembaban tanah.

Dengan cara yang sama p**a unsur-unsur, sifat-sifat, dan indera-indera ini;

Oleh ketergantungan pada suatu sebab maka mereka timbul,

Dan bersama dengan hilangnya sebab itu maka lenyaplah mereka.”

Kemudian Mara Si Jahat merasa malu dan kesal sambil berkata, “Bhikkhuni Sela telah mengetahui jati diriku” – dan akhirnya lenyap dari sana.

Sumber: http://jatakakatha.wordpress.com/category/sutta/

Photos 12/06/2014

SEEKOR IKAN YANG MEMBAWA KEBERUNTUNGAN
(Jataka 75)

Pada suatu waktu, Bodhisattva telah lahir sebagai seekor ikan di sebuah kolam di India bagian utara. Ada banyak jenis ikan, baik yang besar atau yang kecil yang hidup di kolam itu bersama Bodhisattva.

Suatu saat musim kemarau datang berkepanjangan. Musim hujan tidak datang seperti biasanya. Tanaman para petani mati, dan banyak kolam, danau, serta sungai mengering.

Ikan-ikan dan kura-kura mengubur diri mereka dalam lumpur, sebagai cara untuk tetap basah dan untuk menyelamatkan diri mereka. Burung-burung gagak sangat senang akan keadaan itu. Burung-burung itu tinggal hanya membenamkan paruh mereka ke dalam lumpur, mengeluarkan ikan-ikan kecil yang ketakutan, dan burung-burung pun berpesta makan ikan.

Penderitaan dan rasa sakit serta kematian yang dialami oleh ikan-ikan itu menyentuh hati Bodhisattva yang merasa kasihan, dan membuatanya merasa simpati serta membuat dirinya penuh rasa cinta kasih. Ia menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan ikan-ikan itu. Tetapi hal itu akan menimbulkan keajaiban.

Kebenarannya adalah bahwa ia seorang yang tidak bersalah, karena tidak pernah sekalipun ia mengambil nyawa makhluk lain. Ia dapat menggunakan kekuatan kebenaran atas perbuatan baiknya untuk membuat hujan jatuh dari angkasa, dan membebaskan teman-temannya dari penderitaan dan kematian.

Ia mengeluarkan dirinya dari benaman lumpur hitam. Ia merupakan seekor ikan yang besar, dan dirinya terlumuri lumpur hitam yang sehitam kayu eboni yang dipernis. Ia membuka matanya, yang bersinar seperti batu rubi, memandang angkasa dan memanggil Pajjuna sang dewa hujan. Ia berseru,"Oh sahabatku Pajjuna, dewa Hujan, saya prihatin atas sahabat-sahabat saya. Mengapa kamu menahan hujan dari saya, yang melaksanakan perbuatan baik yang murni, dan menyebabkan saya mengalami penderitaan karena bersimpati pada ikan-ikan ini?"

"Saya terlahir sebagai ikan, yang umumnya memakan ikan-ikan lainnya. Walaupun jenis kami kanibal, tetapi sejak saya lahir, saya tidak pernah memakan seekor ikan pun. Sebenarnyalah saya tidak pernah mengambil nyawa makhluk lain. Kebenaran yang melekat padaku ini membuatku mempunyai hak untuk berkata kepadamu. Buatlah hujan turun! Bebaskanlah penderitaan semua sahabat-sahabatku!"

Ia berkata seperti seorang majikan memberi tugas kepada pelayannya, dan ia melanjutkan, memerintah Pajjuna, sang dewa hujan yang agung, "Buatlah hujan turun dari awan yang mendung. Jangan biarkan para gagak-gagak untuk mengetahui persembunyian kami! Biarkan mereka mengalami penderitaan akibat perbuatan buruk mereka. Pada saat yang sama, bebaskan saya dari penderitaan, karena saya telah hidup dalam perbuatan benar yang sejati."

Seketika itu juga, hujan turun dari angkasa dengan sangat derasnya sehingga membebaskan banyak makhluk dari ketakutan dan kematian. Ikan, kura-kura, bahkan manusia. Kebenaran sejati akan membebaskan penderitaan banyak makhluk.

Sumber: http://dasaparamita.blogspot.com/2009/03/menceritakan-kisah-seekor-ikan-yang.html

Photos 10/06/2014

Hai adik-adik dan kawan-kawan, udah pernah ke Candi Borobudur blom? mungkin ada yang udah ada yang belom kali yaa... >.<
Tapi ada juga orang yang udah ke Candi Borobudur tapi blom tahu sejarah dan profil candi ini lohhh, jadi yuk kita simak artikel di bawah ini!

Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur

Photos from Smb Chotipañño Vihara Siddharta's post 10/06/2014

Haiiiii udah pada lunch???

07/06/2014

Halo..halo Selamat siang kawan-kawan dan adik-adik!
Lagi Pada ngapain nih? Sekarang kita nonton yuk! tentang The Horse and The Jackals, simak ceritanya baik-baik yaa...

Photos 07/06/2014

KISAH DEVADATTA
Suatu hari beberapa bhikkhu sedang bercakap-cakap diantara mereka sendiri, kemudian Sang Buddha tiba dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka menjawab bahwa mereka sedang berbicara tentang Devadatta dan kemudian mereka melanjutkan, “Bhante, Devadatta adalah sungguh seorang yang tidak mempunyai moralitas, ia juga sangat serakah. Ia berusaha memperoleh keterkenalan dan keberuntungan dengan mengambil kepercayaan Ajatasattu dengan cara tidak jujur. Ia juga berusaha meyakinkan Ajatasattu bahwa dengan membebaskan diri dari ayahnya, ia akan menjadi raja besar. Hasutan Devadatta dapat mempengaruhi Ajatasattu, sehingga Ajatasattu membunuh ayahnya, raja yang mulia, Bimbisara. Devadatta juga telah mencoba tiga kali untuk membunuh-Mu, Guru kami yang mulia. Devadatta adalah benar-benar sangat jahat dan tidak dapat diperbaiki.”

Setelah mendengarkan para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan pada mereka bahwa Devadatta telah mencoba membunuhnya tidak hanya pada kehidupan sekarang tetapi juga pada kehidupan yang lampau. Sang Buddha kemudian menceritakan cerita tentang pemburu rusa.

“Saat itu, ketika Raja Brahmadatta berkuasa di Baranasi, Buddha yang sekarang ini hidup sebagai seekor rusa, dan Devadatta saat itu adalah seorang pemburu rusa. Suatu hari, pemburu rusa melihat jejak kaki rusa di bawah sebatang pohon. Kemudian ia mengambil sebatang bambu pada pohon tersebut dan menunggu dengan tombak yang diarahkan ke rusa. Rusa tersebut datang tetapi ia datang dengan hati-hati. Pemburu rusa melihatnya ragu-ragu, dan melempari beberapa buah-buahan untuk membujuknya. Tetapi hal itu membuat rusa waspada. Ia terlihat lebih hati-hati dan mengetahui ada pemburu rusa pada dahan pohon. Rusa itu pura-pura tidak melihat pemburu tersebut dan berbalik dengan lambat. Dari jarak tertentu, rusa berseru: “Oh pohon, kamu selalu menjatuhkan buah-buahmu secara vertikal, tetapi hari ini kamu telah menentang hukum alam dan telah menjatuhkan buah-buahmu secara miring. Sejak kamu menentang hukum alam dari pohon, saya akan meninggalkanmu untuk berpindah ke pohon lain.”

Melihat rusa tersebut berbalik pergi, pemburu melempar tombaknya ke tanah dan berkata, “Ya, kamu sekarang dapat berpindah, untuk hari ini saya telah salah perhitungan.” Rusa yang sebagai calon Buddha tersebut menjawab, “O, pemburu, kamu benar-benar salah perhitungan hari ini, tetapi perbuatan (kamma) burukmu tidak akan keliru, hal itu akan selalu mengikutimu.” Jadi, Devadatta tidak saja mencoba membunuhku sekarang tetapi juga dimasa lalu, tetapi ia tidak pernah berhasil.”

Kemudian Sang Buddha melanjutkan, “Para bhikkhu! Seperti tanaman menjalar mengelilingi pohon tempat ia berada, demikian juga ia yang tidak mempunyai moral, akan dikuasai oleh nafsu keinginan, akhirnya akan terlempar ke alam neraka (niraya).”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 162 berikut:

Orang yang berkelakuan buruk
adalah seperti tanaman menjalar maluva yang melilit pohon sala.
Ia akan terjerumus sendiri,
seperti apa yang diharapkan musuh terhadap dirinya.

Photos from Smb Chotipañño Vihara Siddharta's post 06/06/2014

Hai adik-adik!
Nah ini nih sebagian karya kalian selama tahun 2013!
Bagus bagus dan kreatif ya!
Makanya selama sekolah minggu kalian buat karya yang bagus-bagus dan kreatif supaya di tempel di mading kayak gini yaaa

Want your business to be the top-listed Government Service in Tangerang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jalan Manunggal 5, Perigi Baru, Kec. Pondok Aren
Tangerang
15228

Opening Hours

09:00 - 11:00