20/09/2026
Perdana Masuk Kharisma Event Nusantara (KEN), Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 tahun 2026 Resmi Dibuka
Ribuan penonton padati Alun-alun Trenggalek, Minggu (20/9/2026). Tujuan mereka untuk melihat pembukaan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 tahun 2026. Sedikit berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini festival Jaranan kebanggaan masyarakat Trenggalek itu masuk menjadi bagian Kharisma Event Nusantara (KEN).
Dengan masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) maka Festival Jaranan Trenggalek Terbuka akan mendapatkan dukungan promosi nasional dan internasional yang luas. Harapannya tentu peningkatan kunjungan wisatawan, serta dorongan perputaran ekonomi lokal.
Sedikit lebih lama, gelaran FJTT ke-30 akan berlangsung selama 7 hari, sejak Minggu (20/9) hingga Sabtu (26/9) nanti. Sementara itu untuk festivalnya sendiri terbagi kedalam beberapa kategori. Pertama Kategori Turonggo Yakso bocah dengan jumlah 17 peserta. Kemudian Kategori Turonggo Yakso Remaja dengan jumlah 17 peserta. Kemudian Kategori Turonggo Yakso SLTA dan Umum sebanyak 9 peserta. Kemudian yang terakhir kategori Non Yakso SLTA dan Umum sebanyak 15 peserta.
Memperjuangkan FJTT masuk kedalam Kharisma Event Nusantara 2026 melalui program aspirasinya, Novita Hardini, SE., ME., anggota DPR-RI Dapil VII Jatim mengapresiasi terselenggaranya Festival Jaranan Trenggalek Terbuka ke-30 tahun 2026. Menurutnya ini tahun pertama FJTT masuk dalam KEN 2026 dan program ini merupakan perjuangan besar seluruh budayawan dan pelaku-pelaku seni jaranan yang dirangkum melalui jaring aspirasi Program DPR-RI di Komisi VII yang bermitra dengan Kementerian Pariwisata.
Masih menurut anggota Komisi VII DPR RI itu, "jaranan bukan sekedar sebuah pertunjukan. Di dalam semua geraknya ada sebuah cerita, di dalam setiap iramanya ada perjalanan dan di dalam setiap pertunjukannya ada semangat masyarakat untuk menjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," ucapnya.
Novita percaya Trenggalek memiliki potensi budaya yang sangat besar. Festival jaranan menurutnya tidak hanya tentang siapa yang tampil dan siapa yang akan menjadi juara, tapi lebih dari itu festival ini menunjukkan tentang kebersamaan, persaudaraan, pertemuan dan juga tentang filosofi nilai luhur yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi melalui gerak tari yang ada.
"Untuk seniman dan seluruh pelaku seni jaranan yang hadir dan yang berpartisipasi saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena menjaga tradisi ini tetap hidup. Kepada pemerintah kabupaten Trenggalek mari kita jadikan jaranan sebagai kebanggaan bersama. Mari kita rawat budayanya, kita dukung para senimannya dan kita beri ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk meneruskannya. Selamat datang di Trenggalek, dukung Trenggalek untuk siap menjadi rumah jaranan dunia," ajak Novita Hardini dalam pembukaan FJTT ke-30 ini.
Sementara itu Penjabat Sekda Trenggalek, ST. Triadi Admono, yang hadir mewakili Bupati Trenggalek dalam pembukaan FJTT ke-30, menegaskan bawasannya 30 tahun itu merupakan waktu yang panjang. Banyak seni tari jaranan tidak hanya Turonggo Yakso sebagai ciri khas jaranan di Kabupaten Trenggalek, kemudian ada Centerewr, Pegon dan tarian jaranan lainnya. Di FJTT, berbagai seni tari jaranan ini tidak dibanding bandingkan satu sama lain, melainkan justru sebagai suatu keberagaman yang pantas untuk dipelihara dan dilestarikan.
"ini merupakan suatu kebanggan bagi Kabupaten Trenggalek karena tidak mudah untuk menyelenggarakan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka selama 30 tahun. Ini budaya yang harus kita jaga," tegasnya.
Kemudian Asisten Deputi Strategi Event, Kementrian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno yang hadir dalam pembukaan FJTT menambahkan, "masuknya FJTT ke-30 dalam KEN merupakan pengakuan dari konsistensi yang telah dibangun cukup panjang selama 30 tahun," katanya.
Kami melihat ini posisi yang strategis karena bagi Kementrian Pariwisata, FJTT merupakan contoh event berbasis budaya yang menjadi alasan orang datang sekarang. Event itu menjadi salah satu penggerak dan daya tarik wisata yang berbeda destinasi dan budaya. Semua negara punya destinasi semua negara mempunyai budaya, akan tetapi event wisata, event budaya itu diselenggarakan hari ini orang datang hari ini.
"September dan Oktober itu musim Low Season bagi pariwisata. Tapi karena ada event ini orang datang. Even FJTT ini menarik wisatawan dan pergerakan wisatawan mancanegara kedepannya. Event berbasis budaya ini menjadi alasan orang datang sekarang bukan di musim liburan. Dan jaranan ini memberi Trenggalek indentitas yang khas dan unik. Dan ini tidak mudah ditiru destinasi lain," tandasnya.
Sementara itu Reza Jaya atau erat disapa Joyo, Ketua penyelenggara FJTT ke-30 tahun 2026, mengatakan festival jaranan yang digelar bukan sekedar pertunjukan, melainkan ruang untuk bertemu, ruang untuk belajar sekaligus sharing dalam merawat ingatan dan jati diri dari budaya yang ada. Harapan kami, kata Joyo dalam pembukaan festival ini "bagaimana seni jaranan di Kabupaten Trenggalek dapat terus berkembang, naik kelas dan memiliki ruang yang semakin luas lagi. Kami berharap kesenian ini bisa terus hidup, terus berkembang dan terus lestari," tandasnya.
Dalam even ini panitia penyelenggara FJTT ke-30, tidak hanya menggelar festival lomba tari jaranan saja, melainkan beberapa kegiatan lain seperti kegiatan pra event yang dimana ada kegiatan Samboja (Sambang Bolo Jaranan) yang ditujukan untuk ajang silaturrahmi, dikusi, berlati dan sharing bersama dengan kelompok-kelompok jaranan yang ada di Kabupaten Trenggalek.
Kemudian ular-ular bersama pendahulu penyelenggara FJTT. Mendengarkan petuah cerita perjalanan FJTT yang telah berjalan dan bertahan selama 30 tahun. (Prokopim TGX)