Sekolah gratis untuk kaum miskin kota jogja Meski begitu, istilah tersebut justru terasa sangat asing dari kehidupan kami. Komunitas kami terus berkembang.
Setiap Anak Memiliki HAK : Itulah semangat awal kami, suatu istilah yang sangat sederhana namun bermakna luas, menyangkut kepada makna kehidupan kami. Maka, tidak berlebihan ketika istilah tersebut akhirnya mampu menjadi tonggak lahirnya visi sederhana kami. Setiap anak dibelahan dunia manapun berhak atas hak-haknya, mulai dari Hak untuk hidup, Hak perlindungan, Hak tumbuh kembang dan Hak Partisip
asi. Maka tidak terkecuali bagi putra-putri kami yang notabene berasal dari golongan Kaum Miskin Kota, dari keluarga marginal, PSK, pemulung, pengamen, anak jalanan-pun berhak atas HAK tersebut. Apa yang kami maksud dengan HAK tersebut kami implementasikan sebagai hak untuk memperoleh pendidikan. Karena pendidikan-lah yang sanggup memanusiakan manusia. Maka, dengan segenap semangat memanusiakan manusia, kami mengusahakan pendidikan tersebut dengan sebaik-baiknya. Tentunya demi makna “Setiap Anak Memiliki HAK”
Sekolah Gajahwong adalah sekolah yang dibangun dari semangat masyarakat miskin kota yang mencoba membangun sebuah tatanan masyarakat yang “ideal”. Berawal dari tahun 2001 satu-persatu masyarakat miskin kota yang tidak memiliki identitas serta tempat tinggal dan dengan pekerjaan sebagai PSK, Pemulung, pengamen, penjual koran mulai membangun gubuk-gubuk dibantaran sungai Gajahwong. Tahun 2006, karena kebutuhan tempat tinggal maka jumlah penghuni di wilayah kami menjadi semakin padat dan perlahan-lahan menjadi semakin dekat dengan mata pencaharian. Maka kami mulai bangkit, kami mulai menata lingkungan, struktur dan faktor-faktor pendukung agar arah kami semakin dekat menuju tatanan masyarakat yang “ideal” selayaknya masyarakat pada umumnya. Kami mulai belajar mandiri dan melepaskan pekerjaan lama kami (pemulung, pengamen, PSK) yang dipandang sebagai pekerjaan yang tidak baik_red (baca : sampah masyarakat). Kami mulai membangun kebun-kebun organik untuk kebutuhan konsumsi dan meski kecil kami berusaha andil dalam pemenuhan pasar sayuran. Kami mulai membangun peternakan ayam, melakukan pelatihan-pelatihan dan seterusnya. Luas wilayah ternyata tak sebanding dengan besarnya jumlah masyarakat miskin kota. Selama 10 tahun lebih kami telah berusaha bangkit dan berusaha agar bisa mengfasilitasi kebutuhan masyarakat miskin kota semaksimal mungkin. Seiring dengan semua dialektika dan proses yang kami lalui, tak luput generasi kamipun satu persatu terlahir bersamaan dengan rasa was-was kami “Jangan sampai generasi kami bernasib sama dengan kami”. Kami mencoba mengevaluasi tentang segala hal yang telah kami usahakan. Tetapi bagaimanapun juga kami tetaplah sebuah masyarakat yang tertinggal. Maka kami berkesimpulan bahwa untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang “ideal” tersebut kami harus memulainya dari PENDIDIKAN. Kami percaya, bahwa pendidikanlah yang akan membuat kami tahu kenapa takdir kami seperti ini, melalui pendidikan kami menjadi tahu apa yang harus kami lakukan, dan melalui pendidikan tentunya generasi kami tidak bernasib sama seperti kami. Semangat membangun pendidikan ini kami usahakan dengan sangat. Kami bertekad untuk memulai dari yang paling dasar yaitu Pendidikan Anak Usia Dini. Ini menjadi penting karena Pendidikan Anak Usia Dini adalah sebagai pondasi dasar untuk menanamkan nilai-nilai baik / positif kepada generasi kami. Sebagai pokok dasar pembangunan masyarakat, sebagai titik tolak memutus mata rantai suatu pola yang selama ini kami jalankan. Sangat bersyukur kita telah memiliki sekolah sederhana dengan segenap aktivitas kesehariannya. Sebuah sekolah yang kami bangun secara mandiri dan bersama-sama (gotong royong), setiap hari kami mengambil pasir di sungai, kami cetak menjadi batako, dan perlahan-lahan kami membangunnya, dan menjadi lebih bersyukur karena berita ini telah sampai kepada anda karena kami sangat berharap kita semua bisa bersama-sama membangun semangat pendidikan ini.