28/04/2026
Pimpinan Badan Bahasa dan Sekda DIY Dorong Bahasa sebagai Agenda Strategis
Yogyakarta. Di ruang pertemuan Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis, 24 April 2026, pembicaraan tentang bahasa mengemuka bukan sebagai perkara tata kalimat semata, melainkan sebagai urusan strategis negara. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama jajaran pejabat eselon II serta kepala balai bahasa se-Jawa bertemu dengan Sekretaris Daerah DIY untuk membahas arah kebijakan kebahasaan nasional dan peran daerah dalam menjaganya.
Isu yang dibicarakan cukup luas: penguatan bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan, pelestarian bahasa daerah, hingga penerapan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai ukuran kompetensi kebahasaan. Namun, benang merah dari seluruh agenda itu satu: bahasa diposisikan sebagai instrumen kedaulatan.
Audiensi ini menjadi kelanjutan atas Penghargaan Adibahasa yang diterima Gubernur DIY tahun lalu. Dalam forum itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan pentingnya Yogyakarta untuk mengambil peran lebih besar sebagai teladan dalam pengutamaan bahasa negara dan pelestarian bahasa daerah.
Menurut Hafidz, keberhasilan suatu daerah tidak hanya diukur dari capaian ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga dari kesadaran kolektif menjaga identitas kebangsaannya. Karena itu, ia mendorong pembentukan Tim Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.4-7446-SJ Tahun 2025. Tim ini diharapkan menjadi perangkat kebijakan yang memastikan penggunaan bahasa Indonesia secara tertib di ruang publik ataupun administrasi pemerintahan.
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Daerah DIY yang dinilai aktif dalam pelestarian dan pelindungan bahasa daerah, terutama bahasa Jawa. Bagi Badan Bahasa, komitmen daerah terhadap bahasa ibu menjadi fondasi penting dalam menjaga keragaman linguistik Indonesia.
Momentum itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan agenda internasional. Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Dora Amalia, menyampaikan rencana pelaksanaan AsiaLex 2026 pada 9–11 September 2026 di Yogyakarta. Forum leksikografi internasional itu dipastikan akan menghadirkan ratusan peserta dari berbagai benua.
Bagi Yogyakarta, penyelenggaraan AsiaLex bukan sekadar agenda akademik. Forum ini dipandang sebagai pengakuan atas posisi kota tersebut dalam peta pengembangan ilmu kebahasaan di kawasan Asia.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menanggapi pertemuan itu dengan menempatkan bahasa sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas nasional. Menurut dia, bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus berjalan beriringan.
“Bahasa Indonesia dan bahasa daerah menjadi tantangan yang harus dikuasai dan dipertahankan penuturnya karena merupakan identitas bangsa Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan pandangan bahwa pelestarian bahasa bukan sekadar urusan budaya, melainkan strategi menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Dalam kesempatan yang sama, Ni Made menyambut gembira capaian DIY yang menempati posisi tertinggi nasional dalam Indeks Pembangunan Kebahasaan. Baginya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan bahasa dapat diukur, direncanakan, dan dijadikan indikator keberhasilan daerah.
Namun ia mengingatkan, prestasi itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan berkelanjutan. Sinergi antarinstansi, penguatan pendidikan bahasa, serta pembinaan masyarakat menjadi langkah penting agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai simbol administratif.
Ia juga memberi sinyal dukungan terhadap AsiaLex 2026. Menurut dia, konferensi itu berpotensi memperkuat citra Yogyakarta sebagai simpul kebahasaan nasional sekaligus ruang diplomasi budaya di tingkat internasional. Rencana tersebut, kata dia, akan disampaikan kepada Gubernur DIY untuk mendapatkan arahan strategis.
Dari audiensi itu, satu hal menjadi terang: bahasa kini diposisikan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan arena kebijakan publik. Di Yogyakarta, percakapan tentang bahasa telah bergerak dari ruang kelas ke meja pemerintahan—dan dari isu lokal ke panggung global.
28/04/2026
Kunjungan Kerja di DIY, Badan Bahasa Perkuat Agenda Strategis Kebahasaan
Yogyakarta — Kunjungan kerja Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa beserta jajaran pejabat eselon II ke Daerah Istimewa Yogyakarta pada 24–26 April 2026 menegaskan bahwa bahasa kini ditempatkan sebagai agenda strategis negara.
Selama tiga hari kunjungan, sejumlah agenda penting digelar sebagai bagian dari penguatan kebijakan kebahasaan nasional di daerah. Kegiatan tersebut meliputi audiensi dengan Sekretaris Daerah Provinsi DIY, serah terima jabatan Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY, pembinaan bahasa di Radio Republik Indonesia, hingga forum akademik dan pelatihan guru.
Salah satu agenda utama adalah serah terima jabatan Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY dari Anang Santosa kepada Umar Solikhan. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan menjadi momentum penguatan peran Balai Bahasa dalam pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa di wilayah Yogyakarta.
Selain itu, Kepala Badan Bahasa bersama Sekretaris Badan Bahasa turut menyaksikan penandatanganan pelaksanaan kerja sama antara Balai Bahasa Provinsi DIY dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi antara lembaga kebahasaan dan perguruan tinggi dalam pengembangan bahasa dan sastra.
Di sektor media, pembinaan bahasa dilakukan di Radio Republik Indonesia Yogyakarta sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas penggunaan bahasa Indonesia di ruang siar. Media dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra menutup kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama Bahasa Jawa di Kulon Progo. Program tersebut menjadi bagian dari revitalisasi bahasa daerah melalui peningkatan kompetensi guru sebagai penggerak utama pembelajaran bahasa Jawa di sekolah.
Pada kesempatan lain, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, serta Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana, menyosialisasikan berbagai program kebahasaan dan kesastraan melalui Teras Siniar Balai Bahasa Provinsi DIY bersama HISKI UGM dan HISKI UNY. Sekretaris Badan Bahasa juga turut memperkuat infomasi berbagai program Bantuan Pemerintah melalui siniar tersebut.
Rangkaian kunjungan kerja ini memperlihatkan bahwa pembangunan bahasa tidak hanya bergerak di ranah akademik, tetapi juga menjangkau pemerintahan, media, pendidikan, dan jejaring kelembagaan. Bahasa diposisikan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi identitas dan kebudayaan bangsa.
28/04/2026
Tongkat Estafet Kepemimpinan di Balai Bahasa DIY: Dua Jabatan Strategis Resmi Berganti
Yogyakarta — Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menandai babak baru kepemimpinannya melalui serah terima dua jabatan strategis, yakni Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY serta Kepala Subbagian Umum. Pergantian tersebut digelar dalam rangkaian kunjungan kerja Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Yogyakarta, disaksikan para pejabat pusat, akademisi, budayawan, dan mitra strategis.
Pada kesempatan itu, jabatan Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY resmi diserahterimakan dari Anang Santosa kepada Umar Solikhan. Anang memasuki masa purnatugas per 1 April 2026, menutup perjalanan pengabdiannya sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan kebahasaan di Yogyakarta.
Umar Solikhan, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, dipercaya melanjutkan kepemimpinan di Yogyakarta. Penugasan ini menandai kesinambungan kebijakan kebahasaan nasional di salah satu wilayah yang dikenal kuat dalam tradisi pendidikan dan budaya.
Selain pergantian kepala balai, serah terima jabatan juga berlangsung pada posisi Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi DIY. Jabatan tersebut diserahterimakan dari Linda Candra Ariyani kepada Wuri Rohayati.
Linda Candra Ariyani selanjutnya menempati jabatan fungsional sebagai Arsiparis Ahli Muda, sementara Wuri Rohayati sebelumnya menduduki jabatan fungsional Widyabasa Ahli Pertama. Pergantian ini dinilai sebagai bagian dari penyegaran organisasi sekaligus penguatan tata kelola kelembagaan.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Hafidz Muksin, Sekretaris Badan Bahasa, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, serta seluruh kepala balai dan kantor bahasa se-Jawa.
Hadir p**a Ketua Dewan Pendidikan DIY, perwakilan Kraton Yogyakarta, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya dan Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, para sastrawan, serta insan media massa.
Dalam sambutannya, pimpinan Badan Bahasa menegaskan bahwa pergantian jabatan bukan sekadar proses administratif, melainkan bagian dari kesinambungan institusi dalam menjawab tantangan pembangunan bahasa dan sastra di Indonesia.
Apresiasi khusus diberikan kepada Anang Santosa dan Linda Candra Ariyani atas dedikasi serta kontribusi mereka dalam memperkuat peran Balai Bahasa DIY. Di sisi lain, kehadiran Umar Solikhan dan Wuri Rohayati diharapkan membawa energi baru dalam pengembangan program kebahasaan, penguatan manajemen kelembagaan, serta perluasan jejaring kerja sama.
Momentum ini menjadi penegas bahwa Balai Bahasa DIY terus bergerak sebagai institusi strategis, tidak hanya dalam pengutamaan bahasa Indonesia dan pelindungan bahasa daerah, tetapi juga dalam membangun tata kelola organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.
28/04/2026
Sosialisasi Pengutamaan Bahasa Negara pada Satuan Pendidikan Terfasilitasi Layanan Pembinaan Bahasa
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaksanakan Sosialisasi Pengutamaan Bahasa Negara pada Satuan Pendidikan Terfasilitasi Layanan Pembinaan Bahasa di Wilayah DIY pada 23 April 2026 di The Jogja Hotel and Conference Center, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi lembaga sasaran pembinaan tentang konsep pengutamaan bahasa negara di lanskap dan dokumen resmi lembaga serta meningkatkan kualitas sikap bahasa (kebanggaan, kesetiaan, dan kesadaran akan norma berbahasa) pemangku kepentingan lembaga sasaran pembinaan. Sasaran utama kegiatan ini adalah 50 perwakilan dari 25 satuan pendidikan yang menjadi sasaran pembinaan sejak 2025 yang terdiri atas 2 SD, 5 SMP, 6 MTs, 5 SMA, 6 SMK, dan 1 MA di DIY.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pembinaan SMA, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY (Tukiman, S.Pd., M.T.) dengan didampingi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY (Drs. Umar Solikhan, M.Hum.), Kepala Subbagian Tata Usaha (Wuri Rohayati, S.S.), dan Ketua Tim Kerja Pembinaan Bahasa dan Sastra (Mulyanto, M.Hum.). Pada kesempatan itu, Kabid Pembinaan SMA berpesan agar guru harus terus belajar. Menurutnya, fungsi guru tidak akan tergantikan kecerdasan artifisial karena guru mempunyai kecerdasan emosional.
Narasumber yang turut hadir untuk memberikan materi penguatan tentang sikap berbahasa adalah Joko Sugiarto, praktisi pembinaan bahasa. Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama oleh para perwakilan satuan pendidikan untuk mengutamakan bahasa Indonesia di ruang publik serta dokumen lembaga.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian kegiatan Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY. Pembinaan lembaga ini dilakukan secara berfokus, berkelanjutan, dan terukur. Berfokus di sini berarti bahwa pembinaan dilaksanakan terhadap objek penggunaan bahasa yang berada di lanskap atau ruang publik dan dokumen resmi lembaga strategis pada lembaga pemerintah dan lembaga swasta berbadan hukum. Berkelanjutan berarti bahwa program dilaksanakan multitahun (2025—2029) hingga lembaga dikatakan berhasil mencapai standar ketuntasan peningkatan kualitas penggunaan bahasa Indonesia. Sementara itu, terukur berarti bahwa penilaian objek lanskap dan dokumen lembaga dilakukan dengan jelas menggunakan alat ukur/instrumen yang sistematis.
Untuk mencapai target tersebut, pembinaan ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu koordinasi, sosialisasi, pemantauan dan analisis objek bahasa, pendampingan/fasilitasi kebahasaan, serta evaluasi dan apresiasi. Pada dasarnya, program ini dilaksanakan untuk mewujudkan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik, baik pada objek lanskap maupun dokumen resmi sebagai bagian dari penguatan identitas nasional dan profesionalitas kelembagaan.
28/04/2026
Rabu siang (22/4) terasa berbeda. Puluhan guru utama berkumpul untuk mengikuti Bimbingan Teknis Laksita Basa Jawa yang digelar Balai Bahasa Provinsi DIY. Dengan penuh semangat, mereka menyimak pemaparan narasumber tentang “Penulisan Aksara Jawa,” sebuah topik yang mengajak peserta menelusuri jejak sejarah sekaligus tantangan modern dalam menjaga warisan budaya tulis Jawa.
Dalam penjelasannya, narasumber menguraikan perjalanan panjang aksara Jawa yang berakar dari aksara Pallawa, berkembang seiring media tulis, hingga memiliki variasi bentuk di berbagai daerah. Ia menekankan pentingnya memahami fonologi dan morfologi dalam menulis aksara Jawa, serta memperkenalkan pedoman tradisional dan versi prasaja yang lebih sederhana. Menariknya, kini aksara Jawa juga hadir dalam bentuk digital melalui pengembangan fonta yang dapat diakses secara daring, membuka peluang baru bagi generasi muda untuk belajar dan melestarikan aksara ini.
Kegiatan bimtek ini menegaskan bahwa menulis aksara Jawa bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sebuah proses pembiasaan yang membutuhkan pemahaman mendalam. Meski berbeda dengan alfabet Latin yang lebih umum digunakan, aksara Jawa menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mampu menularkan semangat dan pengetahuan kepada siswa, sehingga aksara Jawa tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari identitas kebahasaan bangsa di era digital.
21/04/2026
Biro OSDM Kemendikdasmen Lakukan Pendampingan Penataan UPT di Balai Bahasa Provinsi DIY
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima kunjungan tim dari Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (OSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Sekretariat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada Kamis, 16 April 2026. Kunjungan ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan fungsi berdasarkan klasifikasi unit pelaksana teknis (UPT). Hasil evaluasi tersebut menjadi bagian dari persiapan usulan penataan UPT di lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Perwakilan Biro OSDM menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46 tentang kriteria dan klasifikasi UPT yang dilaksanakan setiap tahun. Saat ini terdapat empat UPT yang diusulkan untuk naik status menjadi eselon III atau Balai Bahasa. Nilai hasil pengump**an data ini akan menjadi dasar penentuan status suatu lembaga sebagai kantor atau balai.
Dalam pertemuan tersebut, tim dari Biro OSDM dan Sekretariat Badan melakukan pengecekan data dukung penataan UPT berdasarkan variabel yang telah dikumpulkan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY. Seluruh peserta diimbau untuk segera menindaklanjuti hasil peninjauan data dalam waktu sekitar satu minggu ke depan.
21/04/2026
Merajut Sejarah dalam Benang Fiksi: Siniar Balai Bahasa Provinsi DIY Hadirkan Penulis Budi Sardjono
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar program siniar (podcast) sebagai bagian dari upaya memasyarakatkan karya sastra dan budaya kepada masyarakat luas. Siniar kali ini menghadirkan Budi Sardjono, seorang penulis produktif yang dikenal lewat karya-karyanya yang memadukan kisah sejarah berbalut fiksi.
Acara yang berlangsung di halaman Balai Bahasa Provinsi DIY pada Rabu, 15 April 2026 ini dipandu oleh Ratun Untoro, M.Hum., Widyabasa dari Balai Bahasa Provinsi DIY sebagai moderator. Suasana diskusi yang hangat dan santai membuat jalannya siniar terasa akrab sekaligus berbobot.
Dalam siniar tersebut, Budi Sardjono berbagi kisah inspiratif di balik proses kreatifnya, sekaligus membedah beberapa buku karyanya, yaitu Cundrik, Kemben Emas, dan Seribu Tusuk Konde. Ketiga buku tersebut dikenal memiliki kekhasan tersendiri karena mengangkat peristiwa dan nilai-nilai sejarah yang dikemas dalam bingkai cerita fiksi yang menarik dan mudah dicerna oleh berbagai kalangan pembaca.
Budi Sardjono mengungkapkan bahwa penulisan karya-karyanya tidak lepas dari riset mendalam terhadap sumber-sumber sejarah, terutama yang berkaitan dengan budaya Jawa. Menurutnya, fiksi sejarah merupakan salah satu cara efektif untuk mendekatkan pembaca dengan warisan budaya bangsa tanpa kehilangan daya tarik naratif.
Ratun Untoro, M.Hum., memandu jalannya diskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggali lebih dalam motivasi dan latar belakang penulisan, teknik penggabungan fakta sejarah dengan imajinasi kreatif, serta pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis melalui karya-karyanya.
Melalui program siniar ini, Balai Bahasa Provinsi DIY berharap dapat terus mendorong minat baca dan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra Indonesia, khususnya karya-karya yang menggali kekayaan sejarah dan budaya lokal. Program siniar Balai Bahasa Provinsi DIY dapat diakses oleh masyarakat umum melalui berbagai platform digital.
21/04/2026
Sosialisasi Pembinaan Lembaga Pemerintah dan Lembaga Swasta dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaksanakan Sosialisasi Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara pada Lembaga Pemerintah dan Lembaga Swasta di Wilayah DIY pada 20 April 2026 di The Jogja Hotel and Conference Center, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi lembaga sasaran pembinaan tentang konsep pengutamaan bahasa negara di lanskap dan dokumen resmi lembaga serta meningkatkan kualitas sikap bahasa (kebanggaan, kesetiaan, dan kesadaran akan norma berbahasa) pemangku kepentingan lembaga sasaran pembinaan. Sasaran utama kegiatan ini adalah 25 perwakilan dari 25 lembaga yang menjadi sasaran pembinaan sejak 2025 yang terdiri atas 15 lembaga pemerintah dan 10 lembaga swasta di DIY.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah DIY (Ni Made Dwipanti Indrayanti) dengan didampingi oleh Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi DIY (Wuri Rohayati), Ketua Tim Kerja Pembinaan Bahasa dan Sastra (Mulyanto), dan Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra (Ratun Untoro). Pada kesempatan itu, Sekda DIY berpesan untuk mengutamakan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa negara dan bahasa pemersatu bangsa, khususnya di ruang publik. Narasumber yang turut hadir untuk memberikan materi penguatan tentang sikap berbahasa adalah Joko Sugiarto, praktisi pembinaan bahasa. Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama oleh Sekda DIY dan para perwakilan lembaga untuk mengutamakan bahasa Indonesia di ruang publik serta dokumen lembaga.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian kegiatan Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY. Pembinaan lembaga ini dilakukan secara berfokus, berkelanjutan, dan terukur. Berfokus di sini berarti bahwa pembinaan dilaksanakan terhadap objek penggunaan bahasa yang berada di lanskap atau ruang publik dan dokumen resmi lembaga strategis pada lembaga pemerintah dan lembaga swasta berbadan hukum. Berkelanjutan berarti bahwa program dilaksanakan multitahun (2025—2029) hingga lembaga dikatakan berhasil mencapai standar ketuntasan peningkatan kualitas penggunaan bahasa Indonesia. Sementara itu, terukur berarti bahwa penilaian objek lanskap dan dokumen lembaga dilakukan dengan jelas menggunakan alat ukur/instrumen yang sistematis.
Untuk mencapai target tersebut, pembinaan ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu koordinasi, sosialisasi, pemantauan dan analisis objek bahasa, pendampingan/fasilitasi kebahasaan, serta evaluasi dan apresiasi. Pada dasarnya, program ini dilaksanakan untuk mewujudkan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik, baik pada objek lanskap maupun dokumen resmi sebagai bagian dari penguatan identitas nasional dan profesionalitas kelembagaan.
17/04/2026
Tangis Peserta Pecah Kala dalam Pra-pembekalan Finalis Duta Bahasa
Yogyakarta- Pemilihan duta bahasa 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY hari ini selasa 14 april 2026 telah memasuki tahap pra-pembekalan bagi para finalis Duta Bahasa. Dalam tahap pra-pembekalan kali ini para peserta akan mendapat materi mengenai masalah kesehatan mental dan tata cara berpakaian adat Jawa khususnya adat Yogyakarta.
Materi tentang masalah kesehatan mental diberikan oleh Teguh Prasetyo Nur Sahid selaku public speaking and self development trainer dari lembaga Kuncoro Leadership. Beliau menekankan pentingnya memahami masalah kesehatan mental agar para peserta dapat memitigasi risiko masalah kesehatan mental. Baginya pemahaman akan kondisi diri sangatlah penting, dan bahkan jika diperlukan melakukan konsultasi pada psikolog demi menjaga kondisi mental yang sehat.
Dalam sesi pemaparan kali ini, Teguh mengajak para peserta untuk mendalami apa yang menjadi masalah pokok bagi kesehatan mental para peserta. Para peserta diajak untuk menyelami hal-hal yang menjadi luka batin mereka, kemudian menuliskannya kedalam kertas. Hal ini dilakukan agar para peserta memahami secara eksplisit apa yang menjadi masalah kesehatan mental mereka. Setelah para peserta memahami apa pokok masalah kesehatan mental mereka, Teguh meminta mereka membayangkan, melepaskan dan meluapkan segala emosi terkait dengan luka batin yang telah ditulis tadi. Tangis para peserta pecah dan momen tersebut menjadi momen haru yang menguatkan batin peserta.
Pada sesi kedua dalam pra-pembekalan kali ini, para finalis mendapatkan materi mengenai tata busana adat Jawa, khususnya gaya Yogyakarta atau gagrag Ngayogyakarta. Dalam sesi ini, peserta dikenalkan dengan berbagai unsur busana tradisional seperti jarik, stagen, lontong, epek timang, surjan, blangkon, dan cenela.
Pemateri terlebih dahulu menjelaskan fungsi serta filosofi dari masing-masing bagian busana tersebut. Setelah itu, peserta diberikan contoh peragaan cara miru atau melipat jarik dibagian depan pada sesuai pakem yaitu laki-laki sebesar 3 jari dan prempuan 2 jari sebanyak 5 atau 7. Para finalis tampak antusias saat diminta untuk memperhatikan setiap detail dalam proses pemakaian.
Selanjutnya, peserta diajak untuk mempraktikkan secara langsung dengan menirukan peragaan yang telah dicontohkan. Suasana menjadi semakin interaktif ketika para peserta mulai mencoba miru jarik tersebut secara mandiri, didampingi oleh pemateri.
Sebagai penutup sesi, ditampilkan contoh busana adat Jawa gagrag Ngayogyakarta yang lengkap. Para finalis kemudian diminta untuk mengenakan busana yang telah mereka bawa masing-masing dan menirukan tata cara berpakaian yang benar. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan peserta, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah.
Pra-pembekalan ini diharapkan mampu membekali para finalis tidak hanya dari segi kemampuan komunikasi, tetapi juga pemahaman budaya dan kesiapan mental dalam menjalankan peran sebagai Duta Bahasa.
17/04/2026
Mahasiswa Sastra Indonesia UNJ Kunjungi Balai Bahasa DIY
Mahasiswa program studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), melaksanakan kuliah kerja lapangan (KKL) di Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa, 14 April 2026, pukul 09.00–11.00 WIB.
Kunjungan ini bertujuan menjalin kerja sama antara UNJ dan Balai Bahasa Provinsi DIY. Narasumber Nanik Sumarsih, S.Pd., M.A., memaparkan profil lembaga, mulai dari sejarah, struktur organisasi, hingga layanan yang tersedia, seperti UKBI, BIPA, dan layanan ahli bahasa. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketepatan penggunaan bahasa Indonesia di tengah derasnya pengaruh bahasa asing melalui pedoman pemerkayaan istilah.
Sementara itu, narasumber Dr. Ratun Untoro, M.Hum., menyampaikan materi revitalisasi dan pelindungan bahasa daerah. Ia menekankan pentingnya upaya pelindungan bahasa daerah di tengah pengaruh budaya asing yang semakin kuat agar tetap lestari di masyarakat.
Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing Sigit Widiatmoko, S.S., M.Hum., dan Sigit Pramono, S.S., M.Hum., Acara berlangsung dengan lancar hingga penutupan.
17/03/2026
Koordinasi Program Peningkatan Kemahiran Berbahasa bagi Tenaga Administrasi pada Pemerintah Daerah di DIY
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan koordinasi ke lembaga pemerintahan di lima kabupaten/kota di DIY dalam rangka persiapan kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa bagi Tenaga Administrasi. Koordinasi ini dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari Kota Yogyakarta pada 10 Maret 2026, dilanjutkan ke Kabupaten Sleman pada 11 Maret 2026, dan Kabupaten Bantul pada 12 Maret 2026.
Tim Balai Bahasa DIY yang turun langsung dalam kegiatan ini terdiri atas Wahyu Sekar Sari, S.S., Fahma Ainurrizka, S.S., Muhamad Haris Ardani, S.Pd., dan Amanat.
Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan pelatihan yang akan diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan pada tiap-tiap instansi. Harapannya program berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat optimal bagi para tenaga administrasi di lingkungan pemerintahan DIY.