Centre for Islamic Economic Thought - CIET

Centre for Islamic Economic Thought - CIET

Share

Pusat pembelajaran pemikiran ekonomi Islam

19/02/2026

โžก๏ธ Untuk penjelasan lebih lanjut, ikuti program Tentang Nafkah dengan mendaftarkan diri Anda melalui: bit.ly/rediscovering03



Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 16/02/2026

๐—ง๐—˜๐—ก๐—ง๐—”๐—ก๐—š ๐—ก๐—”๐—™๐—ž๐—”๐—›:
๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ, ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐—ถ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ

Di tengah dunia yang menilai kerja dari angka gaji dan status sosial, kita sering lupa bertanya: untuk apa sebenarnya kita bekerja? Program lanjutan โ€œRediscovering the Right Livelihoodโ€ bersama Dr. Rizky Febrian kali ini mengajak kita kembali menelusuri makna nafkah dalam Islam โ€” bukan sekadar kewajiban material, tetapi amanah spiritual yang membentuk keluarga dan peradaban. Berangkat dari bimbingan al-Qurโ€™an dan Sunnah, serta pandangan ulama berwibawa, program ini membahas tujuh tema penting: tujuan utama bekerja, dasar kewajiban nafkah, siapa yang berhak menerimanya, konsep dan batas minimalnya, cara menentukan kadarnya, dinamika wanita bekerja antara perspektif klasik dan realitas kontemporer, hingga tantangan nafkah dalam krisis ekonomi.

Di saat banyak keluarga diuji oleh tekanan finansial dan kekeliruan peran, pembahasan ini menjadi ruang refleksi dan penjernihanโ€”agar kerja kembali bernilai ibadah, nafkah menjadi jalan keberkahan, dan tanggung jawab ekonomi dipahami sebagai bentuk cinta, keadilan, dan ketundukan kepada Allah.

โžก๏ธ Yuk, daftar sekarang melalui: bit.ly/rediscovering03

Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 11/02/2026

Semoga catatan ini bermanfaat dan menjadi pengingat, agar kita terus mengejar fajarโ€”bukan semata demi rezeki, tetapi demi makna dan keberkahan.




Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 26/01/2026

Mari bersama kita dalami makna kerja dan rezeki dalam Islam!

Ikuti program โ€œMengejar Fajar: Menjemput Rezeki dengan Menyempurnakan Ikhtiarโ€
bersama Dr. Rizky Febrian.

Daftarkan diri Anda sekarang dan mulailah perjalanan menata kerja sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas.

โžก๏ธ bit.ly/mengejar-fajar

23/01/2026

Bangun pagi, mengejar target, mencari nafkah, menunaikan tanggung jawabโ€”semua dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun mengapa banyak orang tetap merasa hampa, gelisah, dan kehilangan arah? Apakah bekerja memang sekadar soal bertahan hidup dan mengumpulkan angka, atau ada makna yang lebih dalam yang perlahan kita lupakan?

Ketika bekerja kehilangan makna, ia mudah berubah menjadi beban. Nafkah direduksi menjadi kewajiban ekonomi semata, terpisah dari nilai ibadah dan amanah. Rezeki diukur dari besar-kecilnya hasil, bukan dari halal dan keberkahannya. Akibatnya, kegelisahan batin tumbuh, etika kerja melemah, dan tanggung jawab terhadap keluarga maupun diri sendiri menjadi rapuh. Kerja yang seharusnya memuliakan justru menjauhkan manusia dari nilai spiritual dan ketenangan jiwa.

Islam menawarkan cara pandang yang utuh dan menenangkan tentang kerja dan rezeki. Melalui niat yang lurus, bekerja tidak lagi sekadar aktivitas duniawi, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah. Nafkah dipahami sebagai tanggung jawab moral dan spiritual, jalan menjaga kehormatan diri dan keluarga. Rezeki yang halal dan penuh keberkahan diletakkan di atas sekadar banyaknya hasil. Dengan kerangka ini, kerja kembali pada fitrahnya: sarana memakmurkan kehidupan sekaligus jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Mari bersama kita dalami makna kerja dan rezeki dalam Islam!

Ikuti program โ€œMengejar Fajar: Menjemput Rezeki dengan Menyempurnakan Ikhtiarโ€
bersama Rizky Febrian, PhD

โžก๏ธ Daftarkan diri Anda sekarang dan mulailah perjalanan menata kerja sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas.
[bit.ly/mengejar-fajar]

Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 03/11/2025

Pemikiran al-Maqrฤซzฤซ mengajarkan kita bahwa ekonomi bukan hanya urusan angka dan kebijakan, tetapi cermin dari moralitas dan pandangan hidup.

Selama nilai uang tidak diiringi oleh nilai keadilan, maka kesejahteraan hanya akan menjadi ilusi.

Al-Maqrฤซzฤซ membuktikan, pena seorang yang jujur bisa lebih kuat daripada kekuasaan yang besarโ€”karena ia menulis bukan hanya tentang uang, inflasi dan ekonomi, tetapi tentang makna keadilan itu sendiri.




Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 28/10/2025

๐—”๐—Ÿ-๐— ๐—”๐—ค๐—ฅ๐—œ๐—ญ๐—œ: ๐—™๐—ฅ๐—ข๐—  ๐— ๐—ข๐—ก๐—˜๐—ง๐—”๐—ฅ๐—ฌ ๐—ฃ๐—›๐—œ๐—Ÿ๐—ข๐—ฆ๐—ข๐—ฃ๐—›๐—ฌ ๐—ง๐—ข ๐—˜๐—–๐—ข๐—ก๐—ข๐— ๐—œ๐—– ๐—ฅ๐—˜๐—™๐—ข๐—ฅ๐— 

Ketika dunia kembali bergulat dengan ketimpangan ekonomi akibat inflasi, gagasan al-Maqrฤซzฤซ menjadi cermin berharga: Kini, keadilan moneter adalah fondasi keseimbangan masyarakat. Menegakkannya bukan hanya tugas ekonom, tetapi amanah peradaban.

Ingin memahami lebih dalam bagaimana pandangan Islam menata kembali keadilan ekonomi dan nilai uang?

โžก๏ธ Mari bergabung bersama kami di: bit.ly/SPEI07




Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 22/10/2025

๐—•๐—ฅ๐—˜๐—”๐—ž๐—œ๐—ก๐—š ๐—•๐—”๐—ฅ๐—ฅ๐—œ๐—˜๐—ฅ๐—ฆ, ๐—•๐—จ๐—œ๐—Ÿ๐——๐—œ๐—ก๐—š ๐—™๐—จ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—˜๐—ฆ

The Centre for Islamic Economic Thought (CIET โ€“ Yogyakarta) feels deeply honored and fortunate to have attended the NAMA SUMMIT 2025, organized by NAMA Foundation (), carrying the theme โ€œBreaking Barriers: Expanding Access to Quality Education for Allโ€ on 18โ€“19th October 2025.

Our institution was represented by Dr. Rizky Febrian (), the Founding Director of CIET, who is fully responsible for the projects and initiatives we undertake.

Throughout the summit, many important themes were discussed, including education scholarships, education financing, beyond financial aid, university privilege, the role of stakeholders and shareholders, international and cross-border education, scholarship and admission readiness, and much more. The program was attended by a wide range of participants โ€” professionals, academics, NGO practitioners, shareholders, students, researchers, and representatives from both government and private sectors โ€” from dozens of countries.

Moreover, the event was conducted with great precision, professionalism, and elegance, leaving a strong impression of seriousness and meticulous organization. The presentation and discussion sessions were highly engaging and dynamic, not only because of the expertise of the speakers in their respective fields, but also due to the insightful and critical questions raised by participants, which contributed meaningfully to addressing the challenges discussed.

Finally, we would like to express our sincere gratitude to the organizers and all parties who made this important and impactful event a success. May all these efforts and initiatives help us truly break the barriers and expand access to quality education for allโ€”a vision and spirit that we at CIET are equally committed to pursuing.



Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 22/08/2025

Semoga kita semua senantiasa mendapat rahmat-Nya dan termasuk golongan yang diampuni dosa-dosanya ๐Ÿคฒ

Sumber: buku Adab Menyara Hidup, hal. 14



Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 01/08/2025

๐Œ๐„๐๐„๐Œ๐”๐Š๐€๐ ๐Š๐„๐Œ๐๐€๐‹๐ˆ ๐Œ๐€๐Š๐๐€ ๐’๐„๐‰๐€๐“๐ˆ ๐„๐Š๐Ž๐๐Ž๐Œ๐ˆ

๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช?

Di tengah dunia yang hiruk-pikuk oleh angka, pasar, dan pertumbuhan tak berujung, kita sering lupa bahwa ekonomi bukanlah sekadar transaksi atau laba-rugi. Kita lupa bahwa ekonomi dalam akar katanya dan dalam makna terdalamnya, adalah ilmu tentang mengurus rumah: rumah kita, rumah keluarga, bahkan rumah besar bernama bumi.

Namun, bagaimana jika justru sistem ekonomi hari ini merusak rumah itu? Meretakkan keluarga, menghancurkan ekosistem, dan menjadikan harta sebagai tujuan, bukan amanah?

Inilah yang dibahas dalam modul ke-5 program Rediscovering fase ke-2 (tentang Harta), yang membuka mata kita pada makna ekonomi dalam tradisi Islam. Istilah al-iqtiแนฃฤd tidak sekadar berarti hemat, tapi merupakan cara pandang hidup tentang bagaimana manusia mencari nafkah dan membelanjakan harta secara bijak (สฟilm al-iktisฤb wa al-infฤq), memanfaatkan karunia Allah di bumi (faแธl Allฤh fฤซ al-arแธ) tanpa serakah dan tanpa merusak.

Dalam tradisi ini, ekonomi sejati adalah ekologi spiritualโ€”selaras, seimbang, dan berkeadaban. Maka, ekonomi yang merusak rumah tangga atau bumi bukanlah ekonomi, melainkan pengkhianatan terhadap maknanya yang suci.

Solusinya? Kita diajak menelusuri kembali hikmah dari para ulama terdahulu. Salah satunya adalah karya monumental "Iแนฃlฤแธฅ al-Mฤl" (Pemulihan Harta) oleh Ibn Abฤซ al-Dunyฤ (w. 281 H), yang secara khusus mengangkat nilai agung qaแนฃd (keseimbangan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan) dalam penggunaan harta, makanan, dan pakaian.

Inilah saatnya kita memulihkan pemahaman kita tentang ekonomi. Bukan sekadar mencari, tapi memperbaiki. Bukan sekadar mengumpulkan, tapi menata. Bukan sekadar kaya, tapi bijaksana.

Selamat menyelami!
Modul ini bukan hanya pengetahuan, tapi ajakan untuk pulangโ€”kepada rumah, kepada keseimbangan, dan kepada makna.


Photos from Centre for Islamic Economic Thought - CIET's post 25/07/2025

[Episode ke-4]

๐—ง๐—จ๐—๐—จ๐—”๐—ก ๐—›๐—”๐—ฅ๐—ง๐—” ๐——๐—”๐—ก ๐—•๐—˜๐—ฅ๐—›๐—”๐—ฅ๐—ง๐—”

Pernahkah kita bertanya dalam hatiโ€”untuk apa sebenarnya kita mencari harta? Apakah sekadar memenuhi perut yang lapar, membayar tagihan yang menumpuk, atau mengokohkan status sosial di mata manusia? Atauโ€ฆ mungkinkah ada tujuan yang lebih agung, lebih hakiki, lebih abadi?

Dalam episode ini, kita diajak merenungi kembali makna memiliki dan tujuan berharta. Di tengah dunia yang berlari cepat, yang menuntut kerja tanpa jeda, kita kerap lupa bahwa usaha mencari rezeki bukan hanya soal bertahan hidup. Ia sejatinya bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan hakiki di akhirat. Bekerja dan berusaha adalah kewajiban bagi setiap insanโ€”bukan untuk menumpuk dunia, tetapi untuk menunaikan amanah diri dan menyiapkan bekal pulang ke sisi Ilahi.

Namun terkadang, kita tergoda memilih jalan pintas. Kita meminta, sebelum benar-benar berusaha. Padahal dalam pandangan Islam, meminta bukanlah langkah pertama seorang hamba, tetapi yang terakhirโ€”saat seluruh pintu telah diketuk, dan seluruh daya telah habis dicoba. Nabi SAW bersabda: "Meminta adalah upaya terakhir seorang hamba." Maka selama tangan masih mampu bergerak dan kaki masih bisa melangkah, bekerjalahโ€”karena di sanalah letak kehormatan.

Lihatlah teladan dari Sufyฤn al-Thawrฤซ RHM, seorang tokoh zuhud yang harum namanya sepanjang zaman. Meski dikenal sebagai ahli ibadah dan zuhud, beliau tetap memiliki harta yang cukup agar tak perlu bergantung pada orang lain. Dalam ketenangan dunia, ia tetap menapaki jalan akhirat. Bahkan, beliau menyarankan agar setiap Muslim berusaha menjadi kayaโ€”bukan demi kemewahan dunia, tetapi agar mampu menjaga kehormatan diri, memberi kepada yang membutuhkan, dan tidak menjadi beban bagi sesama.

Lebih dari itu, jika seseorang memikul beban hutang di pundaknya, maka bekerja (kasb) dengan sungguh-sungguh untuk melunasinya menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar. Melunasi hutang bukan hanya anjuran, tetapi fardu โ€˜ainโ€”kewajiban individu yang tidak dapat diwakilkan kepada ahli waris atau orang lain. Rasulullah SAW bersabda: โ€œHutang itu wajib dibayar.โ€ (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Want your business to be the top-listed Government Service in Yogyakarta City?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Yogyakarta City
55283