Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat senantiasa membuka pintu bagi generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat budaya hingga proses pelestariannya. Beberapa waktu lalu, atmosfer penuh binar keingintahuan begitu terasa di lingkungan kedhaton. Melalui surat yang diterima Kawedanan Hageng Panitrapura, Keraton Yogyakarta menerima kunjungan edukatif dan audiensi dari tim literasi serta perwakilan siswa kelas 6 SD Marsudirini Yogyakarta.
Kunjungan kali ini terasa istimewa karena membawa misi literasi yang mendalam, yakni pengump**an bahan data dan wawancara untuk penyusunan buku bertajuk “Wartawan Cilik”. Kehadiran 8 siswa bersama guru pembimbing ini menjadi bukti nyata bahwa gairah menulis dan pemahaman akan budaya dapat dipupuk sejak usia sekolah dasar.
Guna memberikan ruang dialek yang dinamis, Keraton Yogyakarta mempertemukan para jurnalis cilik ini dengan salah satu Abdi Dalem muda yang berlangsung begitu hangat dan interaktif.
Di hadapan para siswa, Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno berkesempatan membagikan kisah pengabdian, filosofi hidup, hingga bagaimana menyeimbangkan tugas pelestarian budaya di tengah laju modernitas zaman. Pertanyaan demi pertanyaan kritis mengalir dari catatan para siswa—mulai dari keseharian di dalam benteng cepuri hingga makna loyalitas akan budaya.
Melihat antusiasme anak-anak yang mencatat setiap detail penuturan dengan takzim, Keraton Yogyakarta tentu saja menaruh harapan besar. Semoga rintisan buku “Wartawan Cilik” ini kelak menjadi karya penanda bahwa anak-anak tidak pernah lupa pada akar budayanya.
Bagi Keraton Yogyakarta, wawancara ini tentu saja bukan sekadar pemenuhan tugas akademis. Lebih dari itu, ini adalah momen penting dalam transfer pengetahuan dan penanaman nilai-nilai budaya kepada anak-anak sebagai generasi penerus di masa depan.
Kraton Jogja
Laman resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
X : @KratonJogja
YouTube : Kraton Jogja
TikTok : @kratonjogja.id
Instagram : @kratonjogja & @kratonjogja.event
30/05/2026
Iringan tari Beksan Nyakrakusuma menggunakan gamelan pelog pathet barang yang dibuka dengan Lagon Wetah, kemudian masuk ke pembacaan kandha 1. Selanjutnya gendhing yang dimainkan meliputi Ladrang Kongas, Kawin Sekar Asmarandana Slobog, pembacaan kandha 2, Ketawang Puspa Warna, pembacaan kandha 3, Ada-Ada Jugag, pembacaan kandha 4, Kawin Jemparing, Plajaran Mataraman, Ada-Ada Jugag, pembacaan kandha 5, Kawin Narik Curiga, Ayak-Ayak Pelog Barang Mawi Kombangan, Plajaran Mataraman, Ketawang Sri Malela, Lagon Jugag.
•••
The music of Beksan Nyakrakusuma uses gamelan pelog pathet barang, opening with Lagon Wetah, followed by the recitation of kandha 1. The next gendhing includes Ladrang Kongas, Kawin Sekar Asmarandana Slobog, kandha 2 recitation, Ketawang Puspa Warna, kandha 3 recitation, Ada-Ada Jugag, kandha 4 recitation, Kawin Jemparing, Plajaran Mataraman, Ada-Ada Jugag, kandha 5 recitation, Kawin Narik Curiga, Ayak-Ayak Pelog Barang Mawi Kombangan, Plajaran Mataraman, Ketawang Sri Malela, and Lagon Jugag.
Photo: Kawedanan Tandha Yekti
Source: MRy. Susilomadya
29/05/2026
FIGUR | ꦩꦤꦸꦁꦱ
Ageng wonten ing kampung Ratmakan boten tebih saking Kraton, Arry Widiatmoko rikala timuripun asring ameng-ameng ing salebeting Kraton, dherekaken bapakipun mresani Garebeg lan ringgit wacucal ing Karaton. Matahun-tahun piyambakipun aktif nindakaken kegiatan wonten ing Pametri Wiji, pakempalan ingkang nggadhahi kawigatosan ing tosan aji, paling sepuh ing Ngayogyakarta, ingkang lajeng ndudut manah gadhah krenteg majeng dados Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Niyating ngabdi suwahu, lajeng manggihaken margi. Kawisuda dados Abdi Dalem Kawedanan Puraraksa ing warsa 2025 kanthi Paring Dalem nama Mas Jajar Widiyatmosuwito, ngayah-ayahi jagi regol Gadhung Mlati. Sapunika kaliyan kanca sanesipun saking Kawedanan Puraraksa, piyambakipun majeng dados peranganing Bregada Jager. Kagem piyambakipun sedaya punika ndhatengken kathahing hikmah, utaminipun salebeting ngasah landheping raos sarta ngatos-atos ing pangandikan. “Kula panjenengan wonten ing ngriki kakersakaken obah sembah, sinau mapanaken diri pribadi sarta paring kurmat ing sesami salebeting lampah ing ngagesang” aturipun.
•••
Tumbuh di kampung Ratmakan yang tak jauh dari keraton, Arry Widiatmoko kecil sering bermain-main di lingkungan keraton, diajak ayahnya menonton upacara Garebeg dan pertunjukan wayang kulit di istana. Bertahun-tahun, Ia aktif berkegiatan di Pametri Wiji, komunitas pemerhati tosan aji tertua di Yogyakarta, membuatnya membulatkan tekad menjadi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Niat pengabdiannya akhirnya menemukan jalan. Ia diwisuda sebagai Abdi Dalem Kawedanan Puraraksa pada 2025 dengan nama Paring Dalem Mas Jajar Widiyatmosuwito, bertugas menjaga Regol Gadhung Mlati. Terbaru, bersama rekan-rekannya yang lain di Kawedanan Puraraksa, Ia menjadi bagian dari Bregada Jager. Baginya, pengabdian ini mendatangkan banyak hikmah terutama dalam mengasah ketajaman rasa dan kehati-hatian dalam bertutur kata. “Kita di sini dituntut obah sembah, belajar menempatkan diri sendiri dan menghormati sesama dalam setiap perilaku” ujarnya.
28/05/2026
Beksan Nyakrakusuma mengalir dalam tiga fragmen utama:
1. Maju beksa, dengan diiringi gamelan, para penari dari sisi kanan dan kiri melakukan gerak tayungan menuju tengah arena, diikuti dengan ndhadhap, sembahan sila, sembahan jengkeng, dan jogedan impur.
2. Beksan pokok, pada tahap ini, dinamika tarian meningkat melalui gerak engkrang dan trisig. Menonjolkan kemahiran olah senjata, mulai membidik, enjer jemparing, ngembat-ngembat jemparing hingga perang jemparing (memanah).
3. Mundur beksa atau fragmen akhir, dimana para penari kembali ke posisi awal melalui perpaduan gerak impur dan jengkeng. Kemudian diakhiri dengan penari tayungan mundur ke posisi awal yaitu rakit.
Secara menyeluruh, tarian ini merangkum 19 ragam gerak ikonik; sembahan, udhar asta, tayungan, ndhadhap, jengkeng, sabetan, impur, nyandhak, capeng, engkrang, samberan, ngembat jemparing, enjer jemparing, ngancap trisig, nggurdha, perang jemparing, perang keris, pendhapan, dan ombak banyu
•••
Beksan Nyakrakusuma flows in three main segments:
1. Maju beksa, accompanied by gamelan, dancers from the right and left sides perform tayungan movements toward the center of the performance arena, followed by ndhadhap, sembahan sila, sembahan jengkeng, and jogedan impur.
2. Beksan pokok, in this section, the dance dynamics intensify through engkrang and trisig movements. It highlights weapon-handling skills, beginning with aiming, enjer jemparing, ngembat-ngembat jemparing, and ending with perang jemparing (archery combat).
Mundur beksa, in the final segment, the dancers return to their starting positions through a combination of impur and jengkeng movements. It concludes with the tayungan dancers returning to the starting position, known as rakit.
3. Overall, this dance encompasses 19 iconic movement forms: sembahan, udhar asta, tayungan, ndhadhap, jengkeng, sabetan, impur, nyandhak, capeng, engkrang, samberan, ngembat jemparing, enjer jemparing, ngancap trisig, nggurdha, perang jemparing, perang keris, pendhapan, and ombak banyu.
© Kawedanan Tandha Yekti
Source: Sri Sadono. 1988. Tugas Akhir Studi Analisis Bentuk Beksan Nyakrakusuma Gaya Yogyakarta.
27/05/2026
Sahabat, Sesuai Dhawuh Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10, Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959/2026 yang jatuh pada hari ini Rabu (27/05) digelar dengan sederhana, dan berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta.
Tak jauh berbeda dengan masa pandemi Covid-19, pada Garebeg kali ini tidak gunungan yang keluar dari Kedhaton maupun iring-iringan prajurit, namun sejumlah 4000 buah ubarampe pareden dibagikan kepada seluruh Abdi Dalem di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Prosesi pembagian diawali dengan doa bersama sekitar pukul 09.00 WIB dipimpin oleh Kanca Kaji. Usai doa bersama, ubarampe pareden kemudian dibagikan oleh GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, dan KPH Notonegoro kepada perwakilan Abdi Dalem untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan.
Turut hadir p**a dalam pembagian ubarampe pareden di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti pagi (27/05) tadi Wayah Dalem, RM. Manteyyo Kuncoro Suryonegoro.
© Kawedanan Tandha Yekti
24/05/2026
Beksan Nyakrakusuma mengalunkan narasi peperangan agung antara Raja Nyakrakusuma dengan Raja Mandrakusuma dari Kerajaan Nusakencana. Jalan ceritanya pun mengambil dari Roman Panji, yang memvisualisasikan pengembaraan batin Raden Panji dari Kahuripan yang menjelma sebagai Raja Nyakrakusuma demi menjemput belahan jiwanya, Dewi Angraeni dari Daha, yang kini bersalin rupa menjadi Raja Mandrakusuma. Di atas panggung pengabdian, keduanya dipertemukan dalam palagan pertempuran sengit yang tak menyisakan menang maupun kalah, melainkan sebuah harmoni perlawanan yang mempertemukan kembali dua jiwa dalam balutan kemegahan prajurit Mataram.
•••
Beksan Nyakrakusuma enacts the narrative of a great war between King Nyakrakusuma and King Mandrakusuma from the Kingdom of Nusakencana. Its storyline is drawn from the Roman Panji, which visualizes the inner journey of Raden Panji of Kahuripan, who takes the form of King Nyakrakusuma in order to seek his soul’s counterpart, Dewi Angraeni of Daha, who appears as King Mandrakusuma.
On the stage of devotion, the two are brought together in a fierce battlefield that leaves neither victory nor defeat, but rather a harmony of resistance that reunites two souls, wrapped in the grandeur of Mataram warriors.
© Kawedanan Tandha Yekti
Source:
Sri Sadono 1988. Tugas Akhir Studi Analisis Bentuk Beksan Nyakrakusuma Gaya Yogyakarta
21/05/2026
Sabtu (16/05), Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jakarta menjelma semesta rasa. Tak kurang dari seribu pasang mata hadir membawa antusiasme yang meluap, memenuhi ruang dengan kehangatan dan bersiap menyambut konser yang dipersembahkan oleh Keraton Yogyakarta.
Bertajuk “Gregah Nusa”, konser ini tak sekadar pementasan musik biasa, melainkan sebuah seruan agung—sebuah harmonisasi budaya sekaligus momentum pengingat akan sejarah bangsa yang turut dihadirkan lewat Pameran Temporer “Gregah Nusa” menyongsong Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026 lalu.
Di bawah lambaian tongkat MB Manggalawaditro, Yogyakarta Royal Orchestra mulai menenun nada. Delapan komposisi lagu mengalir indah, menghadirkan rajutan keberagaman. Dalam komposisi yang magis, kemegahan musik orkestra modern kembali bersanding indah dengan keluhuran instrumen tradisi.
Kemegahan konser “Gregah Nusa” kian paripurna dengan hadirnya tiga solois: Helarius Daru Indrajaya, MJ Cokrowaditro, dan R. Dwityayama Dharmasakti. Melalui olah rasa yang mendalam, mereka berkolaborasi secara harmonis dengan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir, mengalunkan melodi-melodi yang begitu hidup di atas panggung.
Hadir membersamai malam yang hangat tersebut, Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 bersama GKR Hemas, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Bendara, KPH Wironegoro, Wayah Dalem, hingga Ketua DPD RI.
Pada akhirnya, semoga persembahan “Gregah Nusa” kali ini dapat menjadi salah satu medium pelestarian budaya yang melintasi sekat zaman sekaligus pengingat akan sejarah bangsa Indonesia.
Matur nuwun atas apresiasinya Sahabat, sampai jumpa pada pementasan berikutnya 🙏🏼
20/05/2026
Sahabat, Keraton Yogyakarta akan kembali menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar momentum peringatan Iduladha 1447H/2026 mendatang, pada Rabu (27/05) namun dengan prosesi yang lebih sederhana sesuai dengan Dhawuh Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10.
Meski digelar sederhana, prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959/2026 esok tetap menjadi simbol pemberian sedekah dari raja pada kawula, dengan pembagian ubarampe pareden kepada seluruh Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta.
Sesuai Dhawuh Dalem, tidak ada gunungan yang keluar dari keraton sehingga ditiadakan iring-iringan prajurit. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Dengan demikian, rangkaian upacara yang mengawali Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959 seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik juga turut ditiadakan.
TAMANAN | ꦠꦩꦤꦤ꧀
Sahabat, Mei 2026 kali ini Keraton Yogyakarta kembali menghadirkan rubrik ramah anak Tamanan Seri ke-58: Panduan Bermain Gobag Sodor
Gobag Sodor merupakan warisan permainan rakyat yang sangat digemari, terutama di tanah Jawa. Nama permainan ini mengandung makna filosofis; Gobag berarti bergerak dengan leluasa, dan Sodor yang berarti tombak, mencerminkan ketangkasan gerak maju-mundur layaknya prajurit yang sedang berlatih. Meskipun zaman terus berganti, Gobag Sodor tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya yang mengajarkan nilai ketangkasan dan kekompakan kepada anak-anak lintas generasi.
Simak panduan bermain Gobag Sodor selengkapnya melalui kanal YouTube Kraton Jogja dan laman kratonjogja.id
Selamat bermain!
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the business
Website
Address
Rotowijayan
Yogyakarta City
Opening Hours
| Tuesday | 08:30 - 14:30 |
| Wednesday | 08:30 - 14:30 |
| Thursday | 08:30 - 14:30 |
| Friday | 08:30 - 14:30 |
| Saturday | 08:30 - 14:30 |
| Sunday | 08:30 - 14:30 |
