Negara Ngayogyokato Hadiningrat

Negara Ngayogyokato Hadiningrat

Share

Negara Ngayogyokato Hadiningrat menetapkan dinten megeng atau awal puasa, 1 Poso tahun Jimaikir 1946 (tahun Jawa), bertepatan dengan Selasa Wage 9 Juli 201

Tahun 1755-1950, dan Pembentukan Daerah Otonomi Khusus Yogyakarta Tahun 1950
Sejarah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Tahun 1755-1950, dan Pembentukan Daerah Otonomi Khusus Yogyakarta Tahun 1950

Nama Yogyakarta ialah perubahan bentuk dari Yodyakarta. Yodyakarta berasal dari kata Ayodya & Karta. Ayodya diambil dari nama kerajaan dlm kisah Ramayana, sementara karta berarti ramai. Dengan ditand

Photos 06/09/2014

Piagam 19 Agustus 1945

Piagam 19 Agustus 1945, adalah sebuah piagam yang diberikan oleh presiden pertama Republik Indonesia, Presiden Sukarno, kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII. Piagam ini merupakan bentuk penghargaan atas bergabungnya Kesultanan Ngayogyakarta dengan Republik Indonesia.

Piagam ini terbagi 2, yaitu untuk Sri Sultan Hamengku Buwono dan untuk KGPAA Paku Alam VIII yang berisi sebagai berikut :

—————————————————————————————————————————————————————————-

Piagam Kedudukan Sri Paduka Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono IX

Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan:

Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panotogomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX Ing Ngayogyakarta Hadiningrat, pada kedudukannya,

Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian daripada Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945

Presiden Republik Indonesia

Ir. Sukarno

—————————————————————————————————————————————————————————-

Piagam Kedudukan Sri Paduka Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII

Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan:

Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII Ingkang Kaping VIII, pada kedudukannya,

Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Gusti akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Paku Alaman sebagai bagian daripada Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945

Presiden Republik Indonesia

Ir. Sukarno

—————————————————————————————————————————————————————————-

Maka berdasarkan piagam tersebut, kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII, telah ditetapkan sebagai penguasa dwitunggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini merupakan fakta sejarah, dan merupakan bagian dari keistimewaan Yogyakarta. Dimana pemerintahan daerah berada di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono dan KGPAA Paku Alam. Hal ini yang menjadikan Yogyakarta sebagai daerah yang istimewa, karena berbeda dengan daerah lain yang memiliki kepala daerah berdasarkan pemungutan suara, Yogyakarta memiliki penguasa tetap yang diangkat dari keluarga kerajaan.

Menanggapi sikap hormat Presiden Sukarno kepada Daerah Istimewa Yogyakarta, maka Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII, memutuskan untuk bersikap kooperatif dengan mengeluarkan Amanat 5 September 1945.

Sumber:keistimewaanyogyakarta.wordpress.com

Photos from Negara Ngayogyokato Hadiningrat's post 06/09/2014

Menyibak Akar Keistimewaan Daerah Istimewa Jogjakarta

Sehari sesudah Soekarno dan Muhamad Hatta memproklamirkan bangsa ini pada 17 Agustus 1945, spirit keistimewaan DIJ mulai tumbuh. Ibarat akar sebatang pohon, keistimewaan DIJ terus tumbuh menjalar dari waktu ke waktu. Sebagaimana pohon, akar itulah yang menyangga sebatang pohon tetap kokoh berdiri. Tak berlebihan, jika kemudian banyak kalangan mengatakan keistimewaan DIJ merupakan benteng terakhir dari tegak dan bertahannya NKRI. Tanpa penggabungan diri Kasultanan Jogjakarta dan Paku Alaman, sangat mungkin terjadi enclave atau ada negara di dalam negara. Artinya, tak akan ada Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Seperti diketahui, peradaban bangsa ini terbentuk oleh serangkaian evolusi zaman kerajaan demi kerajaan. Sebelum tahun 1945, Kasultanan Jogjakarta yang berdiri pada 1755 Masehi juga merupakan kerajaan besar dan merdeka pewaris kejayaan Mataram Islam. Campur tangan pihak kolonialisme Belanda, Jepang dan Inggris adalah bagian dari perjuangan para raja Mataram dan kawulonya. Kesan tunduk raja kepada kolonialisme di zaman itu, bukan berarti seratus persen terjajah. Tetapi, merupakan bentuk perlawanan non fisik agar tak jatuh banyak korban jiwa.



Sampai pada masa Sultan HB IX, Kasultanan Jogjakarta adalah bumi merdiko. Sultan HB IX yang naik tahta pada 18 Maret 1940 harus menghadapi pergantian zaman pendudukan Belanda ke Jepang. Tahun 1942, Belanda kalah perang melawan Jepang. Dari tangan Belanda, Nusantara kembali jatuh di tangan penjajahan Jepang. Sementara, Sultan HB IX menolak tawaran pihak Belanda untuk mengungsi ke Australia guna menghindari pendudukan Jepang. Sultan HB IX kukuh memilih tetap bersama rakyatnya dan mengambil langkah langkah penting.



Sultan HB IX segera membenahi struktur pemerintahannya. Kekuasaan yang diberikan oleh Belanda kepada patih Danurejo, diambil-alih. Lalu dengan berbagai perubahan, Sultan HB IX kembali dilantik oleh Jepang pada 1 Agustus 1942. Diberi wewenang penuh mengurusi pemerintahan kerajaan. Jepang menyebut pemerintahan kerajaan Kasultanan Jogjakarta sebagai daerah istimewa. Dalam istilah Jepang, daerah istimewa disebut kochi. Inikah awal mula lahirnya konsep keistimewaan DIJ?



Benteng Terakhir NKRI

Pada perkembangannya, kepengurusan daerah istimewa atau kochi Kasultanan Jogjakarta diberikan oleh Kepala Pemerintahan Militer yang dijabat Kepala Staf Tentara Jepang, Gunseikan. Sultan mendapat kewenangan lebih luas, sehingga pada 1944 kekuasaan yang semula dipegang oleh Pepatih Dalem dipecah menjadi enam jawatan. Pada 1945, jawatan itu dipecah lagi menjadi tujuh jawatan.



Jawatan jawatan itu, oleh Sultan HB IX disebut paniradya. Pejabat kepalanya disebut paniradyapati. Jepang menyebut paniradyapati sebagai kyokuco. Pani berarti tangan dan radya berarti negari atau pemerintahan. Paniradya berarti lembaga pemerintahan di bawah Sultan. Nah, munculnya wacana lembaga pararadya dalam konsep monarkhi konstitusional pada kemelut RUUK DIJ, sudah pasti akan ditolak. Pasalnya, lembaga itu akan menempatkan jabatan Sultan sebagai raja merosot menjadi hanya setingkat patih atau lebih rendah dari gubernur atau kepala daerah.

Berada di bawah pendudukan Jepang, Nusantara semakin tertindas dan sengsara. Namun di Jogjakarta, penderitaan tak separah di tempat lain. Banyak kalangan sejarawan mencatat, kemampuan Sultan HB IX dalam mengayomi rakyatnya telah banyak menyelamatkan nyawa kawulonya. Tak hanya itu, Sultan HB IX bahkan berhasil mendapatkan bantuan Jepang untuk membangun irigasi yang kini terkenal disebut Selokan Mataram.



Sampai pada 18 Agustus 1945, sehari setelah gema proklamasi kemederkaan RI, Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII segera mengirim ucapan selamat dan dukungan kepada proklamator Soekarno-Hatta dan kepada ketua BPUPKI, DR KRT Rajiman Wedyodiningrat. Soekarno segera menanggapi dukungan Sultan HB IX dengan mengirimkan Piagam Penetapan Kedudukan Jogjakarta. Ditanda-tangani oleh Soekarno selaku presiden RI di Jakarta, pada 19 Agustus 1945. Intinya, piagam itu menetapkan Sultan HB IX pada kedudukannya, dengan kepercayaan, bahwa Sultan HB IX akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Jogjakarta sebagai bagian NKRI.



Menyusul kemudian Maklumat 5 September 1945, yang dibuat secara terpisah oleh Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII. Isinya, Jogjakarta yang berbentuk kerajaan merupakan daerah istimewa dan bagian dari NKRI. Segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Sultan HB IX. Hubungan pemerintahan Jogjakarta dengan pemerintahan NKRI bersifat langsung dan Sultan HB IX bertanggung-jawab kepada presiden RI.



Ketika Badan Komite Nasional Daerah Jogjakarta terbentuk pada 29 Oktober 1945, sehari berikutnya Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII yang menyadari pentingnya kesatuan dan persatuan kembali mengukuhkan integrasi Jogjakarta kepada NKRI dengan membuat secara bersama-sama, Maklumat 30 Oktober 1945. Keistimewaan Jogjakarta pun semakin dipertegas dengan Maklumat No 6/1948 dan Maklumat No 10/1948, yang menyatakan daerah Istimewa Jogjakarta sebagai bekas daerah swapraja sebagaimana diamanatkan UUD 1945.



Keistimewaan DIJ juga kian diperkuat lagi dengan UU No 3/1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta dan jabatan gubernur yang bersifat melekat pada Sultan yang bertahta. Keistimewaan DIJ dengan berbagai landasan yuridis tersebut, bukan sekedar penghargaan kosong tanpa peran. Sejarah di awal terbentuknya NKRI sungguh menampakkan peran besar Sultan HB IX dan rakyatnya dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Ini tampak ketika ibukota negara berpindah ke Jogjakarta karena alasan keamanan pada 3 Januari 1946, yang ternyata kemudian disusul oleh kedatangan Belanda pada 19 Desember 1948. Soekarno-Hatta terpaksa menyingkir lagi ke Bukit Tinggi, Sumatra Barat.



Kedatangan Belanda itu mengoyak kemerdekaan RI. Pada saat genting inilah Sultan HB IX beserta rakyat Jogjakarta tampil sebagai benteng terakhir dari tegaknya NKRI. Selama Belanda berusaha menanamkan kukunya, Sultan HB IX melakukan berbagai strategi gerilya. Tak bergeming dengan tawaran Belanda yang akan menjadikan beliau sebagai raja se-Jawa. Sebaliknya, Sultan HB IX justru menyusun rencana untuk mengadakan serangan terhadap Belanda, yang kemudian terkenal dengan Serangan Umum 1 Maret.



Berbagai langkah Sultan HB IX membuahkan hasil. Belanda kemudian hengkang dari Jogjakarta pada 29 Juni 1949. Peristiwa ini kemudian dikenang dalam Peringatan Jogja Kembali. Lalu, pada 30 Juni 1949, Sultan HB IX membacakan kembali teks proklamasi kemerdekaan RI sebagai wujud kesetiaan kepada NKRI dan pengobaran semangat. Proklamasi kedua itu juga merupakan langkah Sultan HB IX agar kedaulatan RI tetap diakui dunia internasional. Realitas sejarah inilah yang sungguh menempatkan Jogjakarta sebagai benteng terakhir NKRI di awal kelahirannya dan di saat-saat paling gawat. Sementara itu, Soekarno-Hatta baru kembali ke Jogjakarta pada saat keadaan sudah aman pada 6 Juli 1949.

Sumber: derapkaki.multiply.com

06/09/2014

Yogyakarta, 5 September 69 tahun yang lalu.

Setelah menerima Piagam 19 Agustus 1945 dari Presiden Sukarno, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII, memutuskan untuk menanggapi sikap penghargaan dari Presiden Sukarno dengan mengeluarkan amanat 5 September 1945, sebagai bukti pernyataan yang sah bahwa daerah yang saat itu masih terdiri dari Kesultanan Ngayogyakarta dan Paku Alaman kini telah menjadi bagian dari Republik Indonesia dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Photos 04/09/2014

Waiki apik ...
JVMP : Jogjakarta Video Mapping Project FKY26
5 September 2014 jam 19:30 WIB di Gedung BNI 46 - Titik 0 KM Yogyakarta

Photos 04/09/2014

Puisi di Jantung Tamansari adalah program seksi sastra Festival Kesenian Yogyakarta. Kegiatan ini bakal dilangsungkan 4-6 September 2014 di Plaza Pasad Ngasem

Photos 04/09/2014

UNDANGAN PERINGATAN AMANAT 5 SEPTEMBER 1945

Jumat 5 September 2014 jam 19.00-24.00 di Alun-Alun Sewandanan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.

Rangkaian acara:
★TARIAN KOLOSAL KEPRAJURITAN RAKYAT PANJIDUR KRIDATAMA.
★MUSIK BORDES PERKUSI.
★SRAGAM ABG - GAMELAN BOCAH PARDIMAN JOYONEGORO DKK.
★MONOLOG 5 SEPTEMBER SUSILO "DEN BAGUSE NGARSA" NUGROHO.
★PUNCAK ACARA PENTAS WAYANG REPULIK DALANG CATUR "BENYEK" KUNCORO.

Salam Budaya
Ariyanti Luhur Tri Setyarini, SH
Kepala Bidang Sejarah Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan DIY

Photos 04/09/2014

FKY 26 "Kota Yogyakarta"

3-6 September 2014 | 19.00 - 22.00 WIB | Plengkung Gading & nDalem ngGamelan

Photos 30/08/2014

Ikuti dan saksikan.... memperingati Hari Lahir UU Keistimewaan DIY, Dinas Kebudayaan DIY bersama Sekber Keistimewaan DIY mempersembahkan Penampilan Bregada Rakyat DIY, 31 Agustus 2014 pk 15.00 route Start Kepatihan - finish Alun2 Utara Yk

28/08/2014

Dalam rangka menyambut HARI KEISTIMEWAAN DIY yg jatuh setiap tanggal 31 Agustus akan diadakan serangkaian acara:

1). ZIARAH ke makam Raja-Raja Mataram Kotagede Kamis 28 Agustus 2014 jam 16.00. Untuk pria busana pranakan, wanita kemben.

2). SHOLAWATAN MATARAM Kamis 28 Agustus 2014 jam 20.00 - 22.00 di paseban sor ringin parkiran makam Raja-Raja Mataram Kotagede. Bersama group Sholawatan Abdi Dalem Makam Kotagede & Joged Sholawatan Mataram.

3). SEMINAR hari Sabtu 30 Agustus 2014 jam 09.00 - 13.00 di Ruang Parangkusumo Lt.II ROS IN HOTEL Ringroad Selatan Yogyakarta. Tema "Refleksi & Harapan Masyarakat Atas Implementasi Program Keistimewaan DIY". Pembicara Drs. Ichsanuri (aspek kelembagaan), Ir. Revianto Budi Santosa MArch. (aspek tata ruang), Gunawan SIP (aspek pertanahan), Ons Untoro (aspek kebudayaan).

4). PARADE BREGADA RAKYAT DIY Minggu 31 Agustus 2014 start jam 15.00 dari Kantor Gubernur DIY Kompleks Kepatihan Malioboro finish Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5). PENTAS WAYANG REPUBLIK bersama ki dalang Catur "Benyek" Kuncoro, Jumat 5 Sept 2014 jam 19.00 Alun-Alun Sewandanan Pakualaman Yogyakarta.

Demikian informasi sekaligus undangan ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Salam Budaya - Salam Yogya Istimewa.

Panitia
Raden Wedono Hasto Prakosa
08122743726

Photos 28/08/2014

Pohon cahaya di arena FKY 26
Yang belum ke sini ditunggu sampai tgl 9 September 2014 di Plasa Pasar Ngasem Yogyakarta.
jalan jalan di FKY,mantapp acaranya.

Photos 28/08/2014

Bersih itu indah dan nyaman.
Lokasi: Titik Nol Yogyakarta

Want your business to be the top-listed Government Service in Yogyakarta City?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Ngayogyokato Hadiningrat (Yogyakarta) No7YK
Yogyakarta City
55222